
Gila ya !
Saat tubuhku begitu lelah dan sempat delirium di bandara karena melakukan perjalanan jauh 3 benua berawal dari Winconsin, Amerika Serikat lalu transit di Perth dan berakhir di Jakarta, aku di suguhkan oleh pemandangan yang paling enggak suka dan paling aku hindari.
Mantan pacar yang kuberi gelar brengcek lagi dorong anaknya yang masih bayi pakai stroller di pinggir jalan. Jalan yang tak terlalu lebar dan hanya muat satu mobil. Lebih tepatnya ini jalan komplek perumahanku.
Aku menggeret koper dengan lunglai karena capek dan tak ingin menyapa. Tapi istrinya yang tak lain adalah tetanggaku sekaligus sahabatku menyapa dengan riang. Suaranya terdengar ramah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Gak inget dulu selingkuh ama mantan brengcek????
"Yel, kamu Yellow kan? Kamu baru pulang?"
Aku yang pada dasarnya membenci penghianat menanggapi sarkas.
"Lo nanya apa cuma basa-basi doang??"
Si Maya, istri dari mantanku yang brengcek kicep. Aku dari dulu memang enggak ada niatan untuk mau memaafkannya. Siapa suruh dia nikung pacar sahabat Sendiri. Masih mending kalau rumahnya beda RT atau Komplek, lah ini rumahnya di depan mata.
Inilah yang membuatku kabur jauh-jauh ke Amerika. Entah kenapa orangtuaku juga tetep bertahan tinggal di sini. Aku pernah memaksa mereka pindah, tapi dengan alasan nyaman dan karena rumah ini penuh kenangan yang membuat orangtuaku bertahan
Seakan tidak peduli dengan apa yang menimpaku, Orangtua ku hanya menasehati ku untuk sabar dan ikhlas bahwa Arman itu bukan jodohku melainkan jodoh Maya, tetangga depan rumah yang merangkap sahabatku dari SD.
Tak tampak ganasnya orang batak toba yang emosay liat anak gadisnya di mainin, di selingkuhin apalagi ama anak tetangganya sendiri. Kami sudah lama tinggal di Jakarta, bahkan aku lahir disini. Anggap saja darah Batak orangtuaku tidak begitu kental karena telah lama tinggal di Jakarta.
Orangtuaku enak bilang harus ikhlas. Emangnya jagain jodoh orang selama 3 tahun itu gampang?? Padahal semua orang juga tahu aku berpacaran dengan Arman, bahkan kami sudah berencana untuk mengajukan KPR agar pas nikah nanti enggak bingung mau tinggal dimana. Seandainya itu terjadi dan aku tahu Arman berselingkuh dengan Maya, bagaimana nasib rumah yang masih kredit? Masa putus ada harta gono gini? Kan ngaco banget !
Ayahku yang seorang pegawai pajak di Jakarta masih di kantor saat aku sampai rumah. Mama juga masih mengajar Di Sekolah SMA swasta terkenal di Jakarta Pusat.
Aku memang sengaja pulang dari tanah rantauku di Amerika tanpa mengabari mereka. Itung-itung kejutan karena aku tidak pernah pulang selama merantau.
Selain aku rindu rumah kepulanganku kali ini karena pekerjaan. Temanku Adelia, menawarkan sebuah pekerjaan. Meski tak menjanjikan gaji yang menggiurkan dan hanya karyawan outsourcing, aku menerima tawaran dia yang salarynya sesuai UMR Jekartah.
Banyak orang yang rela di gaji di bawah UMR, padahal kualifikasi yang menjadi syarat mutlak yang dicantumkan sangat banyak. Mulai dari fresh graduate, IPK harus di atas 3, berpenampilan menarik, able to English, pekerja keras dan mampu bekerja di bawah tekanan. Alih-alih mendapat bayaran sepadan, mereka harus ikhlas tenaga di peras habis-habisan dengan gaji di bawah UMR.
Aku menerima tawaran Adelia, hanya sebagai batu loncatan. Nanti kalau aku sudah ketemu job yang cocok aku tidak akan memperpanjang kontrak kerja.
Mama dan Ayah sering sekali menyuruhku menikah dan jangan lama-lama tinggal di USA. Aku anak satu-satunya milik mereka. Dan diusia ku yang sudah 27 tahun aku harus segera mencari pendamping.
Tidak menutup fakta bahwa aku masih mau single dan trauma akan hubungan seperti toxic yang aku jalani bersama Arman si mantan brengcek. Aku enggan memiliki kekasih atau pria yang akan aku nikahi.
Mama dan Ayah juga mewanti-wanti jika lebih baik aku menikah dengan pria batak agar darah batak kami tidak terjaga. Beliau dengan terang-terangan menolak pria Amerika jika aku kemungkinan punya pacar saat bekerja di Amerika.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Aku berkali-kali menyuruh si Eko buat memfotokopi dan membantuku mengelompokkan file. Aku masih sibuk berkirim email. Gini banget ya kerja di Jakarta, udah kerja dapat gaji hampir nyrempet UMR, kerjanya sampek titik darah penghabisan.
"Ko, buruan lo ambil file di mejanya Moza ya, mau gue periksa nih,!" Perintahku pada si Eko, OB kantor yang suka rangkap-rangkap jabatan.
"Ehm, enggak bisa Mbak, soalnya saya mau ke Lapas" Jawab Eko gugup.
"Mau ngapain ke Lapas? Kamu mau jenguk napi?"
"Bukan Mbak, mau anterin makan siang buat pacarnya Pak Reno yang kerja di Lapas."
"Enak aja si Reno nyuruh-nyuruh lo nganter makan siang buat pacarnya yang enggak kerja disini !"
"Tapi Mbak.."
Manjur juga ancamanku, terbukti sekarang Eko begidik ngeri membayangkan jika dia kena omel Bu Inez, menager HR yang wajahnya garang macam Cek Gu Besar di Tadika Mesra.
"Ok, siap Mbak" Antara takut sama Bu Inez dan Reno, Eko akhirnya enggak jadi pergi dan tetep bantuin aku.
Ya enak aja si Renno, OB kantor ini OB punya dia kali ya sampai harus disuruh kemana-mana.
.
.
.
.
Keruwetan jam kantor sudah aku lewati. Hampir satu tahun aku bekerja disini. Bukannya aku nyaman, aku bertahan karena belum menemukan pekerjaan yang cocok. Aktifitas menjemukan saat dulu hidup di Amerika kembali terulang. Bekerja di pagi hari dan kembali saat sore hari. Hidupku begitu menjemukan tanpa warna.
Membelah keramaina Kota Milwaukee yang berada di Negara Bagian Winconsin. Setelah sebelumnya aku tinggal di Connecticult. Ketika perusahan yang bergerak di bidang migas diakuisisi aku pindah ke Wonconsin meakipun gajiku tidak sebesar saat bekerja di perusahaan migas.
Adelia Renata, temanku sejak SMP yang tahu luar dalam diriku bahkan ikut menyaksikan adegan mantap-mantap Arman dengan Maya saat aku bertandang ke kosannya menghampiriku untuk segera pulang.
Kata Adelia lebih aman pulang berdua daripada sendiri-sendiri .Lagian juga kita searah.
"Setelah lo putus sama Arman, lo enggak punya pacar lagi?" Tanya Adel seraya menyemil keripik di halte Busway.
"Males gue. Mau kerja dulu aja. Gue masih penasaran ama misteri gaji di Jekartahh" Jawabku enteng dengan pelafalan Jekarta khas bahasa Jaksel.
"Lo itu udah jomblo karatan. Nyari pacar dong. Enggak malu pulang dari Amerika enggak bawa apa-apa"
"Gue masih trauma"
"Lo enggak bisa move on??"
"Move on ama trauma tuh beda Del. Lagian lucu banget gue nggak bisa move on. Dianya aja udah punya anak" Kilahku. To be honnest, banyak yang bilang aku enggak bisa move on dari Arman dan itu membuat si mantan brengsek seakan diatas angin. Tapi aku masih trauma mencari pacar. Walaupun sebenarnya aku sudah berada di ambang batas siaga kena cap enggak laku.
Kalau jaman sekarang enggak laku same of enggak goodlooking. Anak SMP aja koleksi mantannya udah banyak, aku masih lempeng dan berada di jalur yang benar.
"Tuh liat, banyak ekspatriat yang kerja disini. Kemaren gue dapet proyek bossnya orang Kanada, orangnya handsome banget. Gue tahu nomer whatsapp nya. Gue kasih ke lo ya. Biasanya dia nongkrong tuh di starbucks." Cerocos Adel yang menawariku kesempatan mengenal laki-laki baru. Ekspatriat pula.
"Tiga tahun gue lihat bule, enggak ada yang buat gie tertarik" Balasku malas. Kalau aku suka sama stranger guy, udah aku bawa dong satu kemaren.
"Mendingan lo install aplikasi jodoh yang lagi ngetrend. Banyak nih" Jari-jari lincah milik Adel yang memfollow akun gosip Lambe Turah dan Korea Diapatch ini membuka Appstore.
Aku melirik sekilas. Dia menginstall salah satu aplikasi.
"Eh bisnya udah dateng tuh. Buruan kita pulang !"
🌹🌹🌹🌹🌹
Intronya segini dulu buat karya baru. Astogeee bahasanya.....kacau balauu
Note : Tidak ada laki-laki ganteng baik tajir se galaksi ya disini.
Tulung, jangan mengharap ekspektasi yang lebih
Ok, good night.....