AS SOON AS POSSIBLE

AS SOON AS POSSIBLE
I am GLAD to SEE YOU AGAIN.



Kalau bingung enggak dapet kerjaan nikah aja Yel...!!wkwkwkwkwk !


🌿🌿🌿🌿🌿


Gosip tentang wacana perusahaan akan mengurangi sejumlah karyawan demi efisiensi dan kinerja perusahaan berhembus kencang melalui mulut-mulut penggibah yang biasa berkeliaran di ranah para cungpret.


Aku yang berjiwa jongos tentu saja sudah menduga akan di depak dari perusahaan. Selain statusku yang hanya karyawan outsourcing, aku juga merasa mendepakku darisini tidak berpengaruh apa-apa bagi keberlangsungan perusahaan ini.


Banyak di antara karyawan kasta terendah ketar-ketir jika namanya masuk ke dalam daftar PHK. Eko yang hanya OB pun sudah pusing mau nglamar kerja dimana lagi. Meskipun gajinya belum menyentuh UMR Jakarta dan kerjanya juga nyata, memeras keringat habis-habisan sebagai dedikasi terbaiknya, kalau namanya sudah masuk ke dalam daftar pegawai yang akan di kick perusahaan, emang kita bisa apa? Selain nerima?


Setelah menginstall aplikasi jobstreet yang mendapat nilai 4,6 bintang di playstore dan di review satu juta orang ini, aku segera berselancar mencari pekerjaan.


Rata-rata user yang memasang job vacancy sebagai staff marketing produk. Dengan iming-iming bonus besar, tunjangan, jenjang karir dan beberapa fasilitas. Tapi gaji yang di tawarkan belum menyentuh UMR Jakarta padahal syarat yang harus di penuhi lumayan banyak. Dari fresh graduate, usia antara 21 hingga 27, IPK min tiga koma, berpenampilan menarik of course, belum menikah dan mampu bekerja di bawah tekanan.


Aku mendadak deja vu begitu menjadi job seeker yang melanglang buana menjelajah berbagai aplikasi dan situs. Bekal yang aku bawa dari rumah sama sekali belum aku sentuh hanya untuk mencari pekerjaan. Padahal jam istirahat akan habis sebentar lagi.


Aku menghempaskan punggung di sandaran kursi kerjaku. Gini amat nasib jongos.


Ponsel yang masih dalam keadaan standby menyala, menandakan ada yang menelpon dan itu adalah Mamaku.


"Hallo Ma..." Sapaku ketika panggilan sudah tersambung.


"Lagi istirahat kah Yel??" Tanya Mama dari seberang.


"Iya Ma." Jawabku seraya memainkan pulpen.


"Mama minta tolong samamu. Nanti bisakah kau mampir ke pajak. Belikan Mama bumbu rawon itu lho. Rasa-rasa kepengennya mama makan rawon"


"Ok, Ma. Bumbu rawonnya mau berapa bungkus?"


"Ah dua aja. Adakah duit kau?"


Mama yang tidak mudah di bohongi pun tahu finansial anaknya yang diambang batas siaga. Saldo di ATM tinggal beberapa. Buat jajan ke Mc D mungkin hamsyong.


"Ada kok Ma" Jawabku


"Aduh Mama lupa, sekalian kau beli pula ya tulang sapi kalau ada nanti buat kaldu biar mantap. Jangan lupa ya Yel...."


Setelah selesai menelpon aku segera mengecek aplikasi mobile banking untuk mengecek saldo. Ternyata masih aman jika dibuat untuk berbelanja barang titipan Mama.


Langit mendung ketika aku memasuki areal supermarket. Aku melihat di banner promo depan lobby jika hari ini ada diskon beberapa bahan pangan. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berbelanja. Dan aku juga berharap nanti Mama mau mengganti uangku.


Aku mendekat ke arah freezer box tempat penyipanan Daging dengan membawa keranjang belanjaan warna merah. Memilih tulang sapi pesanan Mama. Setelah aku mendapatkannya, aku memasukkan ke keranjang dan menutup freezer box. Namun ketika berbalik badan aku terantuk dada seseorang hingga membuatku mendongak.


"Yerro...."


Siapa lagi orang yang memanggilku begitu kalau bukan...


"Hyuga..."


Pria asli Jepang itu tersenyum menemukanku sedang berbelanja setelah lebih dari dua minggu ini kita hilang kontak. Dia terlihat keren dengan busana casual yang di kenakannya.


"What are you doing?" Nah kan? Goblok banget pertanyaanya. Dia kesini belanja lah. Masa mau berenang???


"Aku sedang berbelanja. Kamu juga ?" Dia berbalik tanya. Dua minggu kita tidak bertemu bahasa Indonesia nya lumayan lancar walaupun aksen Jepangnya masih kentara.


"Iya, aku sedang belanja." Jawabku gugup. Aku sebenarnya mati-matian belagak biasa aja. Tapi entah kenapa pesona pria Jepang ini memiliki daya magnet tersendiri.


"Kamu sendirian?"


"Iya, aku sendiri"


Sejurus kemudian Hyuga memindai penampilanku dari atas ke bawah. Alisnya mengernyit kemudian tersenyum kembali.


"Apakah kamu dari pulang bekerja?"


Oh, mungkin dia nampak aku masih memakai seragam cungpret kebesaranku berwarna abu-abu kombinasi putih, dengan bawahan celana hitam dan sepatu kets. Aku tadi terburu-buru hingga lupa berganti pakaian sebelum pulang kerja.


"Iya, Hyuga. Aku baru pulang dari bekerja dan mampir untuk berbelanja..."


Dia mengangguk paham dengan kalimat yang aku ucapkan.


"Kalau begitu aku mau ke kasir dulu Ya. Aku audah selesai berbelanja" Entah kenapa dorongan untuk menghindar dari Hyuga sangat Kuat. Aku hanya tak ingin hanyut dalam pesonanya yang mungkin akan menjerumuskan ku dan pada akhirnya aku sakit hati lagi. Dia tidak akan pernah cocok denganku.


"Tunggu sebentar,Yello" Cegahnya dengan memanggil namaku dengan pelafalan L yang susah payah.


"Iya Hyuga..." Aku siap dengan segala yang terjadi.


"Aku juga mau ke kasir. Kita sama-sama ya?"


Okey, kali ini aku memang tidak bisa menghindar dari Hyuga. Tapi setelah aku membayar di kasir, aku harus kabur ninggalin Mas Jepang.


Aku mengantri lebih dulu daripada dirinya. Antrian ini lumayan panjang dan membuat kakiku sedikit pegal. Padahal ini mendekati tanggal tua, namun daya beli masyarakat maaih saja terlihat tinggi.


Sekilas aku melihat belanjaan Hyuga terdiri dari mie instant, daging, beberapa botol saus dan kecap. Ada bawang bombay paprika. Dia sebenarnya Di Jakarta tinggal ama siapa sih? Kalau tinggal sama keluarganya misalnya, dia mana mungkin beli kebutuhan dapur? Kalau dia sendiri, mungkin sih belanja ginian. Aku yang perempuan tulen kalah sama dia yang laki-laki. Belanjaannya tentang ranah dapur lebih komplit daripada aku yang seharusnya bisa memasak.


Lamunanku tentang Hyuga terhenti saat ada seorang pria yang akan menyerobot antrian saat aku bergeser maju. Hingga tubuhku agak terdorong ke belakang kepentok badan Hyuga yang wangi semriwing.


Hyuga dengan sikap menangkapku dengan kedua tangan memegang kedua lenganku.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya sedikit khawatir.


"Aku enggak apa-apa" Jawabku.


Hyuga seperti terpanggil untuk menanggapi social eksperimen yang terjadi. Dimana ada orang yang meyerobot antrian. Dan orang Jepang seperti Hyuga tentu gemas dengan perilaku tidak disiplin seperti ini.


"Maaf, jika anda mau ke kasir, anda harus antri dulu. Bisakah?" Tegur halus Hyuga disertai senyum tulusnya.


Bukannya segera mengakui kesalahan dan ambil posisi di belakang, mantan brengcek malah terpaku melihat korban yang diserobotnya.


"Maaf Yello, aku duluan boleh Ya. Soalnya aku buru-buru"Tanpa rasa bersalah dia malah mengumbar seribu alasan dan meminta aku memakluminya. Aku bukan wanita yang terlanjur baik da memaafkan kejadian ini begitu saja. Kek nya aku harus speak up.


"Gue juga buru-buru. Sono balik ngantri belakang !" Usirku. Sebenernya males banget sih ngomong banyak-banyak ama mantan laknat.


"Please Yel, tolongin gue ya?" Dia memohon dengan wajah memelas yang dulu sering ditunjukkannya padaku saat ingkar janji dan berbuat salah.


"Kamu kenal dia?" Tanya Hyuga yang mungkin penasaran kenapa aku bisa marah menghadapi pria ini dengan bahasa informal yang enggak dia mengerti.


"Oh, dia cuma tetangga depan rumah kok." Jawabku dengan mata sinis ke arah Arman.


"Tolong antri di belakang ya?"


Dengan raut wajah kesal Arman yang kalah adu bacot denganku bergeser ke belakang antrian. Dan aku maju selangkah mendekat ke arah kasir. Aku lega ada Hyuga yang pandai menilai situasi dan bisa menyikapi orang yang tidak patuh tata tertib. Aku menyeringai lebar setelah menghempaskan mantan laknat menuju antrian paling belakang.


Hyuga masih beediri di belakangku mengantri.


Mbak kasir dengan senyum ramahnya menscan belanjaanku Dan aku bersyukur jika belanjaanku tak melewati ambang batas.


Ketika aku akan menyerahkan kartu debit untuk di gesek di mesin EDC, Hyuga dengan sigap mencegahku dan memberikan kartu berwarna hitam berkilat dengan nama timbul berwarna gold.


Aku memang sedikit silau dengan kemampuan finansial Mas Jepang yang tidak diragukan lagi, tapi aku adalah orang yang tidak begitu saja menerima uluran tangan orang lain, apalagi pria asing.


"Hyuga, sorry kamu enggak harus membayar belanjaanku." Tolakku halus dengan tangan menginterupsi.


"Tidak apa-apa, se se sekalian aku yang bayar" Dia bukan gugup karena aku tolak tapi dia mengingat kosakata Indonesia.


Kartu sudah terlanjur di gesek, dan Hyuga yang membayar belanjaan Mama yang meskipun nilainya tak seberapa namun aku begitu tak enak. Tidak mungkin kan Hyuga akan macam-macam padaku dengan nominal bellanjaan yang kurang dari dua ratus ribu???? Open BO aja lebih dari satu juta. Opps !


Pikiranku sudah enggak waras !


Aku menunggu Hyuga yang sedang menotal belanjaan di kasir dan mengulang kembali menggesek kartu warna hitamnya dengan amat murah hati.


"Terima kasih Hyuga. Aku enggak akan lupa kebaikan kamu" Ucapku setelah kami berkumpul di luar supermarket dan memasuki areal Mall.


"Tidak apa-apa. Saya senang ketemu kamu lagi...." Entah kenapa Hyuga ini murah senyum hingga matanya melengkung berbentuk bulan sabit. Giginya berbaris rapi dan putih. Dia amat sangat menjaga kebersihan.


"A.. aku juga" Aku akui kesenanganku bertemu dengan dia hanya karena dia menegur penyerobot antrian yang ternyata mantan brengcek dan dia membayar semua belanjaanku.


Kami berdua berjalan menuju pintu keluar Mall, namun sayang, di luar hujan deras. Mulutnya ternganga dengan mengeluarkan kata 'aaaa' sebagai respons kegagalannya untuk keliar dari Mall.


Aku melihat siluet wajah Hyuga dari samping. Dia terlihat imut jika dilihat dari depan, namun nampak cool jika filihat dari samping. Rahangnya tegas, hidungnya mancung. Kayaknya first impression ku mengenai Hyuga salah.


"Bagaimana? Kamu saya antar pulang?"


Emang sih, selain aku enggak bawa payung. bateraiku juga abis walau hanya sekedar digunakan untuk memesan taksi online.


"Enggak apa-apa kok. Aku bisa pulang sendiri."


"Saya ada mobil bawa" Katanya membujuk walaupun dengan susunan kata yang kacau. Tapi aku maksud kok.


"Saya bisa order ojek online" Jawabku seraya mengintip pemandangan luar yang lumayan mencekam Hari sudah petang. kilat menyambar, angin lumayan kencang dan air seperti tercurah dari langit.


Mendadak kulitku merasakan dingin dan sialnya aku lupa bawa jaket.


"Kamu sini tunggu saya ya" Dia meletakkan ecobag berisi belanjaan dan berjalan mendekati outlet minuman.Beberapa menit kemudian dia datang kembali membawa dua gelas kopi.


Dan satu gelas di sodorkannya padaku.


"Kamu minum kopi ya? Biar hangat"


"Terima kasih"


Kedua tanganku yang mulai dingin menggenggam gelas yang terbuat dari plastik tebal itu dan rasa hangat menjalar di kedua tanganku. Aku menyeruput pelan-pelan.


Makasih Hyuga.


"Kamu disini sudah berapa lama?" Tanyaku berani. Aku tahu tidak semua orang asing mau dikulik secara pribadi mengenai kehidupannya. Mereka menganggap itu privasi.


"Saya satu tahun sudah disini"


"Kamu bekerja atau?" Eh aku malah nglunjak.


"Iya saya bekerja" Jawabnya mantap.


Ah, dia mulai terbuka.


"Dimana kalau aku boleh tahu?"


"Saya bekerja di di... Factory. Saya teknisi" Jawabnya gugup. Mungkin aku terlalu detail nanyanya. Ok, aku enggak akan nanya lagi. Walaupun aku sepertinya pernah lihat Hyuga sih seliweran di kantor.


Bisa jadi juga, karena aku tiba-tiba sering ingat Dia.


🌿🌿🌿🌿🌿


Peribahasa kata : Sedia payung sebelum hujan. Yekan Mas?



ayo dong like n komen yang buanyak..wkwkwkkwwk !.