
Happy reading 🤗
SMA Merah Putih merupakan salah satu sekolah paling populer nomor dua di Jakarta. Banyak lulusan SMA tersebut diterima di perguruan tinggi terbaik di Indonesia seperti Yogyakarta, Bandung, Bogor, Depok, Malang dan masih banyak lagi melalui jalur beasiswa.
Rata-rata dari para alumni merupakan siswa berprestasi selama menimba ilmu di sana. Sudah banyak ratusan piala dan medali disumbangkan untuk sekolah bahkan nampaknya mereka berlomba-lomba mengukir prestasi agar bisa dikenang oleh para junior jadi tak heran jika SMA Merah Putih dijuluki Gudangnya Para Juara.
Hampir seluruh murid SMA bekerja keras mengharumkan nama sekolah dalam setiap perlombaan maupun kejuaraan yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Budaya di tingkat kabupaten, provinsi, nasional dan internasional.
Dalam tujuh hari kedepan, SMA Merah Putih akan mengirimkan dua tim mewakili sekolah dalam lomba cerdas cermat di tingkat nasional. Tim pertama beranggotakan Airon sebagai ketua, Desi dan Joko sementara tim kedua diketuai Zacky, Leona dan Samuel.
Sejak dua bulan lalu, pihak sekolah sudah membekali keenam murid tersebut dengan segudang mata pelajaran yang akan dilombakan. Setiap pulang sekolah dua orang guru akan bergantian memberikan pelajaran tambahan hingga sore menjelang.
Kabar diutusnya Airon dalam lomba cerdas cermat sampai ke telinga Alice, gadis kecil itu begitu antusias saat mendapatkan kabar idolanya akan mewakili sekolah. Hampir setiap pagi ia meluangkan waktu untuk berdo'a agar Airon bisa memenangkan perlombaan.
Hari ini seperti biasa, Alice mengayuh sepeda kesayangan menuju sekolah. Tiga puluh menit berlalu dan kini ia tiba di sekolah. Alice melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah.
Suasana sekolah sudah mulai ramai, terdapat beberapa siswa berlalu lalang dan ada sebagian dari mereka memperhatikannya. Gadis kecil itu memperhatikan penampilannya dari atas hingga ujung sepatu namun semua dalam keadaan biasa-biasa saja tidak ada yang mencolok.
Alice berjalan masuk ke dalam kelas 1B, keadaan kelas masih sepi hanya terdapat lima orang murid duduk di kursi masing-masing.
"Elva tumben jam segini belum sampai sekolah," gumam Alice.
Lima menit berlalu namun Elva belum juga datang, akhirnya ia memutuskan menunggu gadis itu di depan mading sekolah. Sepanjang perjalanan menuju mading, kehadiran Alice berhasil mencuri perhatian tiap murid yang melewatinya. Lama kelamaan membuatnya merasa risih.
Kenapa mereka menatap gue dengan tatapan aneh? Emang ada yang salah?
Tak lama kemudian, Elva datang dan menyapa gadis itu.
"Ice, loe ngapain di sini?" tanya Elva menyentuh pundak Alice.
"Gue nungguin loe, tumben datang siang!"
"Iya, gue harus bantuin nyokap cuci piring dulu maklum anak cewek sematang wayang jadi harus rajin bantu-bantu," ucap Elva tersenyum.
Mereka berjalan ke ruang kelas dan tatapan semua murid masih memperhatikan Alice.
"Va, dari tadi gue perhatiin mereka terus ngeliatin, emang ada yang salah?" tanya Alice setengah berbisik.
"Mana gue tahu, kan baru sampai sekolah!" ucap Elva mengangkat kedua bahu.
"Udah, nggak usah dipikirin lebih baik ke kelas sebentar lagi bel masuk sekolah."
Akhirnya Alice dan Elva masuk ke dalam kelas dan bel sekolah pun berbunyi.
Seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian batik memasuki ruang kelas. Suasana kelas semula riuh mendadak berubah sepi.
"Halo, selamat pagi!" sapa Pak Burhan guru Fisika terkenal killer se-SMA.
"Selamat pagi, Pak!" balas semua murid serempak.
"Tolong kumpulkan PR kalian, setelah itu buka buku paket halaman lima. Hari ini kita akan belajar Hukum Newton.
Kemudian Pak Burhan memberikan materi seputar Hukum Newton hingga bel istirahat berbunyi.
Elva mengajak Alice ke kantin. Kantin merupakan salah satu tempat favorit semua murid saat jam istirahat karena di sana mereka bisa mengisi perut sebelum melanjutkan belajar di kelas bahkan ada sebagian yang memanfaatkan waktu istirahat untuk sekedar mengobrol bersama sahabat di kantin.
"Loe udah tahu belom kalo dia masih sering ngompol?"
"Iya udah. Ih, nggak nyangka ya tampang cakep tapi hobi nyompol."
"Gue juga! Lebih baik jadi fans fanatik Kak Darren atau Kak Zacky, walaupun kurang populer tapi mereka nggak punya aib masa kecil."
Sayup-sayup Alice mendengar beberapa murid bergosip namun ia tidak terlalu jelas siapa yang menjadi bahan gunjingan mereka kali ini. Gadis kecil itu melanjutkan menyantap semangkuk bakso sementara Elva memesan mie ayam bakso kesukaannya.
Di saat bersamaan, Airon dan Joko masuk ke dalam kantin. Ia mendengar sekelompok murid duduk di bangku plastik dan tampak asyik membicarakan seseorang.
"Serius loe, dia kelas tiga SD masih ngompol?"
"Bener, gue dengar katanya gitu!"
"Ih, untung gue nggak terlalu ngefans jadi saat tahu aibnya bisa dengan mudah berpindah haluan!"
'Siapa yang sedang mereka omongin?' tanya Airon dalam hati.
"Ron, kenapa tatapan mata mereka mengarah ke loe semua?" Joko mengarahkan pandangan ke sekeliling kantin sekolah.
"Gue nggak tahu!" ucap Airon seraya mengangkat kedua pundak.
Setelah perut terasa kenyang, akhirnya Airon kembali ke ruang kelas. Ia dan Joko berjalan dan saat kakinya hampir mencampai ambang pintu tiba-tiba Desi berteriak histeris memanggil pria jangkung itu.
"Ron!" panggil Desi dari jarak dua puluh langkah.
"Gawat!" lanjutnya seraya mengatur napas. Dari perpustakaan hingga ruang kelas ia berlari sekuat tenaga hingga menabrak beberapa guru yang berjalan di depannya.
"Loe kenapa Des?"
"Ron, semua murid sekolah kita sedang ngomongin loe katanya---"
"Apa?" tanya Joko penasaran.
"Katanya, loe masih ngompol padahal saat itu udah kelas tiga SD!"
"What?" Joko membelalakan mata dan mulutnya terbuka lebar.
"Serius loe? Gosip dari mana itu!"
Sial, pasti cewek aneh itu yang udah nyebarin aib gue! Mulutnya bukan hanya ember bocor melainkan tukang bual. Bisa-bisanya menyebarkan fitnah kalau gue masih ngompol saat kelas tiga SD padahal kenyataannya itu terjadi sewaktu kelas satu SD!
Airon melengos meninggalkan Joko dan Desi yang masih mematung di depan pintu, mereka berdua saling menatap satu sama lain.
***
Keesokan harinya aib masa kecil Airon sudah menduduki peringkat pertama bahan gosip seluruh murid SMA Merah Putih. Bahkan satu per satu fans fanatik Airon keluar dari club yang sudah dibentuk selama dua tahun belakangan, keadaan ini membuat mentalnya jatuh.
Konsentrasinya buyar dan semua materi pelajaran tidak ada satupun yang ia cerna hingga membuat Airon kena tegur kepala sekolah dan Pak Burhan selaku guru penanggung jawab.
Pria paruh baya itu sengaja meminta Airon untuk tinggal lebih lama pasca pelajaran tambahan. Ia ingin berbicara dengannya hanya empat mata.
"Airon, Bapak perhatikan akhir-akhir ini konsentrasimu terbagi, ada apa sebenarnya?" tanya Pak Burhan guru Fisika.
"Tidak ada, Pak!" ucap Airon berbohong.
"Jika ada masalah, sebaiknya kamu lupakan dulu sejenak dan fokuslah pada perlombaan. Ingat, dua hari yang akan datang sekolah kita akan mengikuti perlombaan, jangan sampai membuat kami kecewa!" Pak Burhan menepuk pundak Airon dan berjalan menuju ruang guru.
Airon termangu dan menatap kepergian Pak Burhan hingga tubuh pria baya itu menghilang di balik pintu ruang guru.
to be continued...