
"Ice, apakah ada hal yang ingin kamu jelaskan pada Ayah?" tanya Ayah Calvin saat mereka sudah tiba di rumah. Dengan tatapan penuh selidik, pria setengah baya itu menunggu jawaban putrinya.
Alice meremas jari di atas pangkuan. Dia terdiam sejenak, mencari jawaban yang tepat untuk memberikan penjelasan tanpa membuat hati ayahnya marah.
"Alice Berliana Wijaya!" ucap Ayah Calvin, meninggikan satu oktaf suaranya.
"Maaf, aku nggak bermaksud membohongi Ayah. Aku punya alasan kenapa pulang ke rumah tanpa memberitahu terlebih dulu." Alice menundukan wajah, dengan mata berkaca-kaca.
"Jelaskan pada Ayah yang sebenarnya!" Ayah Calvin menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun. Dia tidak menyangka anak semata wayang yang dibesarkan penuh cinta dan kasih sayang tega berbohong meski mempunyai alasan tersendiri tetapi pria itu tetap merasa dikhianati oleh orang tercinta.
"Aku nggak bisa tinggal satu rumah dengan Kak Airon."
Ayah Calvin semakin menatap tajam ke arah Alice. "Kenapa? Bukankah selama ini hubungan kalian baik-baik saja. Apakah ada suatu hal yang disembunyikan olehmu?"
"Ayah, sebenarnya aku menyukai Kak Airon bahkan pernah mengutarakan isi hati pada lelaki itu. Namun, dia menolakku mentah-mentah. Kata Kak Airon, aku nggak pantas bersanding dengannya karena aku gadis biasa tanpa memiliki prestasi apapun."
Pria berwajah oriental itu terdiam. Dia terkejut dengan penuturan yang diucapkan oleh Alice. Jantung Ayah Calvin seperti berhenti berdetak.
"Aku sakit hati, Ayah. Ini pengalaman pertamaku mencintai lawan jenis tetapi mengapa dia menolak dan menghinaku," ucap Alice dengan bibir gemetar. Pandangan gadis itu terus tertunduk.
"Kenapa kamu tidak jujur. Andai Ayah tahu, pasti kemarin akan mengizinkanmu pulang ke rumah. Meskipun aku akan kahwatir karena kamu tinggal sendirian di rumah, tetapi Ayah lebih tenang jika kamu berada di sini daripada harus tinggal di rumah Om Daniel."
Air mata gadis itu mengalir yang diartikan bahwa hati Alice benar-benar sakit karena cintanya sudah ditolak. Pengalaman pertama mencintai lelaki lain, dia harus kecewa akibat cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Apakah kamu begitu menyukai Airon?"
"Iya, sangat. Bahkan bisa dikatakan aku mencintai laki-laki itu, Ayah. Cinta pada pandangan pertama dan dia juga merupakan cinta pertamaku," ucap Alice di sela suara isak tangis yang menggema memenuhi isi ruangan.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Ayah minta maaf karena tidak tahu isi hatimu yang sesungguhnya." Tangan pria itu mengusap lembut punggung Alice. Suara tangisan gadis itu semakin menjadi-jadi, tetapi Ayah Calvin tetap sabar. Dia tetap memeluk tubuh mungil permata hati yang paling berharga dalam hidupnya.
"Ayah, aku benar-benar mencintai Kak Airon tapi mengapa dia bersikap jahat padaku. Apa aku salah karena mencintainya?"
Ayah Calvin menjauhkan tubuh Alice. Dia mengusut air mata yang mengalir di wajah cantik sang anak. "Rasa cinta itu merupakan fitrah bagi setiap manusia di bumi ini. Jika kamu mencintai Airon, itu wajar. Namun, apabila dia menolak dan memintamu menjauh, sebagai seorang gadis harus memiliki harga diri agar tidak diinjak oleh orang lain. Saran Ayah, sebaiknya belajar melupakannya. Fokuslah belajar dan buatlah dia menyesal karena sudah menolakmu," ucap Ayah Calvin panjang lebar.
Alice menganggukan kepala. "Baik, aku akan mencoba melupakan Kak Airon dan mulai fokus belajar."
"Sekarang, lebih baik kamu istirahat. Nanti sore, tolong bantu Ayah menyiapkan makan malam."
***
Alice mengayuh sepeda ke sekolah. Hari ini dia harus berangkat lebih awal karena di sekolah akan diadakan upacara bendera, yang diadakan setiap hari senin. Peluh membanjiri kening, sesekali jemari lentik gadis itu mengusap cairan tersebut menggunakan tangan.
"Sungguh melelahkan!" gerutu Alice disela aktivitasnya mengayuh sepeda yang dibelikan oleh Ayah Calvin sebagai kado atas keberhasilan karena gadis itu bisa masuk SMA favorit bermodalkan nilai ijazah yang pas-pasan. "Demi Ayah, aku harus semangat!"
Tak berselang lama, gadis itu tiba di depan gerbang sekolah. Dia memarkirkan sepeda kesayangan di parkiran khusus murid SMA Merah Putih.
"Hei!" ucap Elva ketika dia berpapasan dengan sahabatnya di parkiran sekolah.
Elva memastikan motor bebek miliknya terkunci, kemudian menghampiri Alice. Gadis berambut panjang dengan poni di dahi memperhatikan wajah sahabatnya. "Tumben loe bersikap ramah, kesambet setan apa? Atau, loe baru aja jadian dengan Kak Airon?"
"Ngawur loe!" Tangan Alice terangkat ke udara, kemudian memukul keras pundak Elva. Sahabatnya itu merintih kesakitan dengan apa yang dilakukan Alice.
Masih di parkiran sekolah, kedua sahabat itu berdiri saling berhadapan. Meskipun baru satu hari tidak bertemu, tetapi Elva sudah sangat kepo dengan cerita Alice selama liburan sekolah.
"Kenapa sikap loe berubah?" tanya Elva penuh selidik.
"Dasar kepo! Emang nggak ada pertanyaan lain selain membahas kehidupan gue!"
"Tumben loe sensi, sedang PMS?"
Ketika Alice hendak membalas pertanyaan Elva, suara motor sport dari arah belakang menghentikan perbincangan kedua sahabat itu. Mereka seketika terdiam.
"Kalian kenapa masih di sini?" ucap Darren terdengar samar-samar. Alice dan Elva menatap ke arah laki-laki itu.
"Aku menemani sahabatku yang cantik ini, Kak. Dia merindukan sosok calon imam dalam rumahnya kelak," goda Elva tanpa memperhatikan wajah Alice yang semakin memerah layaknya kepiting rebus.
Darren refleks tertawa, laki-laki itu berjalan menghampiri Alice yang tengah menundukan pandangan.
"Rupanya gadis cantik di hadapanku ini sudah mulai melabuhkan hatinya untuk sepupuku." Darren mengerlingkan sebelah mata.
Airon menatap sinis ke arah Elva dan Darren secara bergantian. Kedua orang itu tertawa cekikikan tak menghiraukan situasi sekitar.
"Hati-hati, jangan sampai perkataan kalian didengar murid lain, nanti malah menyebarkan berita hoax yang akan merugikan kami berdua!" ucap Alice. Gadis itu berjalan tanpa melirik ke arah Airon.
Darren menatap Elva penuh selidik. Namun, laki-laki itu hanya melihat bahu gadis itu terangkat sebagai sebuah jawaban.
Sikap acuh Alice membuat Elva dan Darren penasaran. Tidak menyangka gadis yang memiliki hobi dibidang tarik suara itu akan bersikap cuek saat bertemu sang idola. Padahal, beberapa hari lalu sorot matanya masih berbinar-binar manakala bertemu Airon. Namun, kini sikap gadis itu berubah drastis.
"Sampai jumpa lagi!" Elva berjalan tergesa-gesa, mengejar sahabatnya yang berjalan menjauh di depan sana.
Selepas kepergian dua gadis belia berusia enam belas tahun, Darren mendekati Airon. "Ron, loe tahu kenapa sikap Alice berubah?"
"Gue nggak tahu! Kalo loe penasaran, cari tahu sendiri!" ujar Airon ketus.
"Loe serius, nggak tahu?"
Tiba-tiba saja Airon berdiri tegap di depan sepupunya. Laki-laki itu menatap lekat wajah Darren. "Loe lihat, apakah saat ini gue sedang berbohong!"
Darren menggelengkan kepala. Di sana terlihat sepupunya itu berkata jujur. Meski dia ragu tetapi tidak ada alasan untuk mencurigai Airon.
TBC