Alice's Love Story

Alice's Love Story
Perlombaan



Sesampainya di hotel, Airon dan kelima murid lainnya berkumpul di lobi. Mereka diberikan beberapa nasihat oleh Pak Burhan selaku guru penanggung jawab.


"Kita sudah sampai di hotel, nanti malam perlombaan sudah dimulai. Bapak harap kalian mempersiapkan mental untuk menghadapi lawan. Berikan yang terbaik untuk sekolah, jangan kecewakan kami," kelima murid itu membentuk lingkaran kecil dan Pak Burhan berdiri di tengah.


"Airon dan Zacky, kalian diberikan kepercayaan untuk mengatur anggota tim. Tolong jalankan tugas dengan baik," pria paruh baya itu menepuk pundak Airon dan Zacky secara bersamaan.


"Baik, Pak," jawab Airon dan Zacky hampir bersamaan.


"Meskipun kalian bersaing untuk mendapatkan juara pertama tapi bersainglah dengan sehat sebab tujuan kita sama yaitu mengharumkan nama sekolah. Jaga nama baik sekolah dan jangan sampai mencorengnya. Mengerti!" ucap pria itu tegas.


"Mengerti, Pak."


"Kalian bergabunglah dengan peserta lain, Bapak akan mengurus registrasi ke bagian pendaftaran."


Setelah mendapatkan nasihat dari pria itu, kelima perwakilan SMA Merah Putih berjalan menuju aula. Di sana seluruh perwakilan sekolah se-Indonesia berkumpul menantikan sambutan dari kepala panitia sekaligus upacara pembukaan perlombaan.


***


Malam hari pun tiba, setelah melalui undian akhirnya SMA Merah Putih mendapatkan urutan kedua untuk tampil dalam perlombaan.


Selama perlombaan, baik Airon maupun Joko dan Desi, mereka bekerja sama bahu membahu membantu teman sesama tim dalam menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh juri.


"Baiklah, kita akan break selama lima belas menit. Semua peserta bisa istirahat sejenak sambil merileksan kembali pikiran sebelum menuju babak final," ujar salah satu panitia yang bertugas menjaga kelancaran acara.


"Ron, gue mau ke toilet. Loe ikut nggak?" tanya Joko.


"Oke."


"Des, loe mau bareng kita?"


"Kalian duluan aja, gue mau telepon nyokap dulu takut ada hal penting."


"Ya udah, kita duluan ya."


Airon dan Joko jalan bersisiran, mereka menuju toilet yang berada di ujung gedung. Di sana ada enam orang peserta lomba sedang mengantri, diantaranya adalah Zacky dan Samuel.


"Zac, tuh saingan loe!" ujar Samuel sambil mengarahkan pandangannya ke arah Airon.


"Ngapain sih tuh si Sam ngarahin padangan ke arah kita!" dengus Joko kesal.


"Udah, nggak usah dibalas. Kita fokus aja dengan perlombaan," Airon berjalan menuju westafel. Ia mencuci tangan terlebih dulu menggunakan sabun dan membilasnya dengan air mengalir.


"Wah-wah, idol kita nampaknya sedang ada di atas awan. Tapi gue salut, loe bisa fokus sementara satu sekolahan lagi sibuk ngebahas aib masa lalu seorang Airon Tan. Sungguh ironis!" sindir Zacky.


Ia mencoba memprovokasi Airon agar konsentrasi murid laki-laki itu buyar dan Zacky memiliki peluang untuk menjadi pahlawan yang membawa kemenangan untuk SMA Merah Putih.


Wajah Airon sudah memerah, tangannya sudah mengepal di samping, rahang murid laki-laki menonjol keluar. Kemarahannya sudah berada di ubun-ubun.


Airon menarik napas kemudian menghembuskan secara perlahan, "lebih baik loe tutup mulut sebelum kesabaran gue habis!" ujar murid laki-laki ketus.


"Wow, ternyata loe bisa marah. Gue pikir cuma bisa ngompol di celana," ejek Zacky dengan tertawa terbahak-bahak.


Tak lama pintu terbuka, tampak sosok Joko dan Samuel berjalan menuju westafel.


"Zac, loe keterlaluan. Nyerang mental Airon disaat waktu break hampir habis. Loe sengaja kan membuyarkan konsentrasi sohib gue agar tim kita kalah. Benar-benar licik!" tuduh Joko sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah Zacky.


"Eh, loe nggak usah nunjuk-nunjuk ketua tim gue," Samuel menepis tangan Joko.


"Loe..."


"Udah Ko, jangan loe kotorin tangan itu cuma untuk ngebalas perbuatan mereka."


Airon pergi meninggalkan Samuel, Joko dan Zacky. Sementara murid laki-laki bertubuh cungkring itu tak ingin berdiam diri bersama dua orang musuh bubuyutan berusaha mengejar sang ketua tim. Namun Airon sudah berjalan sepuluh langkah di depan.


"Awas loe, gue nggak bakal tinggal diam kalo masih coba ngeganggu Airon," Joko sengaja menyenggol bahu Zacky sambil berlari mengejar Airon.


"Gue nggak takut!"


Pertanyaan pertama hingga ke sepuluh sukses dijawab oleh kedua tim, berhubung skor tim Bintang (Airon dkk) dan tim Bulan (tim lawan) imbang maka dari itu juri sepakat memberikan pertanyaan tambahan.


"Wah, sepanjang sejarah baru kali ini kita menyaksikan skor seimbang. Sesuai dengan keputusan juri, maka akan diberikan pertanyaan tambahan," ujar pembaca acara.


"Pertanyaannya seputar pengetahuan umum, tolong disimak baik-baik. Jika jawaban salah, maka akan diberikan kepada tim lain. Bagaimana, sudah siap?"


"Siap!" jawab kedua tim hampir bersamaan.


"Baik, pertanyaannya adalah..."


Tim Bulan dan Tim Bintang nampak fokus, mereka menajamkan telinga lebar-lebar, tangan sudah berada di depan bel, bersiap menekan bel tersebut apabila pembaca acara selesai membacakan pertanyaan.


"Pada tahun berapakah truck Tonka pertama dibuat?"


"A : 1945, B : 1947 dan C : 1949."


Di saat bersamaan, tiba-tiba saja sekelebat kejadian di toilet muncul dan mengganggu konsentrasi Airon. Tatapan matanya kosong dan ia pikiran murid laki-laki itu melayang meninggalkan tubuhnya beberapa saat.


Kedua tim terdiam beberapa saat, mereka berdiskusi dengan rekan sesama anggota.


"Des, loe tahu nggak jawabannya apa?" bisik Joko.


"Nggak," jawab Desi sambil menggelengkan kepala.


"Ron... Ron..." panggil Joko namun murid laki-laki itu bergeming.


"Airon, loe tahu nggak jawabannya apa?" Joko menyenggol bahu murid itu.


"Eh, iya Ko, kenapa?" tanya Airon balik.


"Jawabannya apa? Loe tahu nggak!"


Tak berselang lama, terdengar suara bel dibunyikan.


"Silakan Tim Bulan."


"Jawabannya adalah tahun 1947," ujar salah satu anggota tim lawan.


"Ya, jawabannya benar. Dengan ini, saya umumkan tim Bulan berhak maju ke babak final mewakili grup A lomba cerdas cermat."


Terlihat kekecewaan di wajah Airon, Desi dan Joko sebab peluang mereka untuk mewakili grup A maju ke babak final pupus.


"Ah sialan, padahal satu langkah lagi kita maju ke babak final!" Joko mengepalkan tangan dan meninju dinding. Sorot matanya menyala memancarkan kemarahan saat menyadari tim mereka kalah dalam perlombaan.


"Seharusnya Pak Burhan ngegantiin loe, andai tadi tim kita jawab duluan pasti kita maju ke babak selanjutnya!" Joko menatap sinis ke arah Airon.


"Maksud loe, apa Ko? Loe nyalahin gue!"


Jemari Airon mencengkram kuat kerah kemeja Joko, hingga urat-urat di tangan menonjol, alisnya saling tertaut dengan mata melotot tajam.


"Iya, gue nyalahin loe. Lagian kenapa ngelamun di saat perlombaan masih berlangsung."


"Berkat keegoisan loe, tim kita kalah, Ron. Kesempatan gue untuk jadi idola sekolah hancur!" Joko menghempaskan tangan Airon yang masih berada di kerah kemeja miliknya.


"Gue kecewa sama loe!"


Bersambung


.


.


.