
Setelah Airon kembali ke dalam kelas, dia terus merasa gelisah. Bayangan wajah Alice ketika menangis membuat pemuda itu merasa bersalah karena sudah membentak gadis itu beberapa hari lalu.
Darren, sepupu Airon melihat keadaan saudaranya segera beringsut pindah ke kursi kosong di samping pemuda itu.
"Ron, ada masalah apa? Kelihatannya loe gelisah," tanya Darren seraya menepuk pundak pemuda itu.
"Nggak ada apa-apa." Airon mengambil buku paket pelajaran dari laci di bawah meja. Dia pura-pura mengerjakan soal untuk menyembunyikan kegelisahannya.
Darren menghela napas panjang melihat tingkah sepupunya, "gue cuma khawatir, loe menghadapi masalah besar. Kalau butuh teman curhat, cerita aja. Gue siap mendengarkan," ujar Darren. Dia beranjak dan pindah ke kursinya.
***
Airon melangkahkan kaki memasuki rumah. Tampak sepi, saat sore hari Mami dan Papi Airon memang tidak ada di rumah, mereka sibuk bekerja.
Papi Airon merupakan seorang karyawan kantor, menjabat sebagai seorang manajer personalia di salah satu perusahaan swasta di bidang makanan. Sementara Maminya memiliki toko butik di sebuah mall terbesar di Jakarta.
Setiap hari sepulang sekolah, keadaan rumah selalu sepi. Itulah mengapa Papi dan Mami Airon meminta Darren untuk tinggal bersama agar putra semata wayang mereka tidak kesepian.
Anak muda itu mengedarkan pandangan, dia mengerutkan kening tatkala tidak menemukan keberadaan Bi Diah di mana-mana.
"Aneh, ke mana Bi Diah, biasanya jam segini dia akan berada di dapur menyiapkan makan malam," gumamnya.
"Bi Diah, Ai pulang," ucap Airon. Dia berjalan ke arah taman belakang tetapi tidak menemukan wanita itu.
"Eh, Tuan Muda sudah pulang. Bibi pikir belum," ucap Bi Diah tepat berada di belakang Airon.
"Bibi dari mana? Kenapa membiarkan pintu tidak di kunci, untung saja tidak ada maling masuk." Pria bermata sipit itu duduk di kursi makan lalu menuang air ke dalam gelas kemudian meneguknya hingga tandas.
"Maaf, Tuan. Tadi Bibi sedang mencuci pakaian di belakang sambil mendengarkan musik dangdut menggunakan headset." Wanita paruh baya itu tersenyum malu.
"Lain kali jangan diulangi lagi, Bi. Bahaya!"
"Baik, Tuan. Bibi tidak akan mengulanginya lagi."
Airon bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah menuju kamar di lantai dua.
Begitu di dalam kamar, dia meletakan tas punggungnya dan kunci motor di atas meja belajar. Lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dia mengguyur tubuhnya di bawah shower. Entah mengapa seharian ini anak muda itu menjadi tidak fokus belajar, pikirannya menerawang dan dihantui rasa bersalah.
"Kenapa seharian ini gue jadi nggak fokus belajar? Padahal udah bisa move on akibat gagal dalam perlombaan kemarin," ujar Airon. Dia memandangi tubuhnya di depan cermin, tangannya terulur lalu tanpa sadar menuliskan sebuah nama.
"Sial! Kenapa gue nulis nama cewek itu!" umpat Airon.
"Argh!" Anak muda itu mengusap wajahnya secara kasar.
"Sebaiknya gue ganti baju. Setelah itu tidur. Tubuh ini rasanya lelah dan ingin beristirahat." Lalu Airon keluar kamar mandi, dia mencari piyama kemudian berbaring di atas ranjang.
Keesokan harinya, seperti biasa, Airon melajukan kendaraan roda duanya ke sebuah bangunan tua yang biasa digunakan oleh anak muda itu untuk menuntut ilmu.
Dia berjalan menuju gerbang sekolah dengan asa dan cita-cita tinggi setinggi bintang di angkasa. Semua murid perempuan sebagian masih berdiri di depan gerbang, mereka melirik ke arah idola sekolah yang kini pamornya mulai meredup akibat sebuah aib masa kecil.
Akan tetapi, Airon bersikap acuh. Dia tak memedulikan tatapan sinis, penuh kebencian dari beberapa pasang mata.
"Masih punya muka untuk sekolah di sini," ujar salah satu murid kelas 2 SMA.
Anak muda yang memakai celana abu-abu di bawah mata kaki itu tetap cuek, dia melenggang pergi tanpa menoleh ke sekumpulan murid itu.
Dia terus berjalan terus hingga tepat di ujung bangunan sekolah, Airon berbelok. Anak muda itu tertegun sejenak saat indera pendengarannya tak sengaja menguping pembicaraan Elva dengan ketua kelas 1B.
"Loe udah ke rumah Alice, Va?" tanya ketua kelas, bernama Sopyan. Saat melihat Elva masuk ke dalam kelas seorang diri. Biasanya, gadis kecil itu akan masuk kelas bersama sahabatnya, Alice.
"Udah," jawab Elva singkat.
"Terus..."
"Di rumah nggak ada siapa-siapa. Bahkan tetangga rumah Alice pun nggak tahu di mana dia." Gadis kecil itu meletakan tas punggungnya di kursi kosong yang biasa digunakan Alice.
"Serius loe?" tanya Sopyan.
"Seriuslah, untuk apa gue bohong. Hidup gue udah kebanyakan dosa, jadi ngapain nambah timbangan keburukan di dunia!" ucap Elva ketus.
"Ya elah, gue cuma nanya. Loe jangan marah gitu doang." Sopyan mengeluarkan kotak makan berukuran medium ke atas meja, lalu memberikan separuh bekalnya untuk gadis itu.
"Bekal itu sengaja gue kasih ke loe sebagai permintaan maaf atas kesalahan tadi. Jadi... Please, maafin gue ya." Sopyan memasang wajah memelas.
"Oke, kali ini dimaafin. Akan tetapi, di kemudian hari nggak boleh tuduh gue sebagai pembohong!"
"Siap, Bos!" Lalu Alice dan Sopyan menikmati bekal sarapan yang disediakan oleh Mamanya.
Diam-diam Airon menguping pembicaraan Elva dan Sopyan. Dia tertegun, hatinya semakin bergemuruh merasakan perasaan aneh menjalar dalam tubuhnya.
"Ya Tuhan, kenapa gue semakin ngerasa bersalah terhadap gadis itu," batin Airon.
"Gue nggak nyangka setelah kejadian tempo hari, loe akan ngilang bagai di telan bumi." Airon melangkah dengan gontai menuju ruang kelas.
Di dalam kelas, dia teringat kenangan saat Alice mengejar-ngejar dirinya.
Gadis mungil pemilik mata sipit dan berambut hitam legam itu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Alice seperti seekor anak kucing yang membuntuti majikannya.
Airon dibuat kesal oleh sikap gadis kecil itu. Menurutnya, Alice adalah sosok gadis agresif yang tak tahu malu. Dia secara terang-terangan mengejar cinta Airon, berusaha mendapatkan keinginannya tanpa memedulikan perasaan orang lain.
Namun kini, Airon merasa kehilangan Alice. Seorang gadis polos yang tulus mencintainya tanpa syarat apa pun. Diam-diam, dia merutuki kesalahannya karena sudah menyebabkan gadis itu tidak masuk sekolah.
Airon menghembuskan napas kasar, seraya berkata, "Alice, gue tahu loe pasti marah karena udah ngebantak di depan umum, tapi please, jangan buat semua orang kesusahan."
Kemudian Airon membuka buku tulis lalu merangkum materi dari buku paket. Jemarinya sibuk menuliskan huruf demi huruf dan menyalinnya ke sebuah buku tulis menggunakan tinta biru, warna kesukaannya. Dia mencoba fokus dengan materi di hadapannya tetapi bayangan wajah Alice selalu muncul menggangu pikiran.
"Alice... Loe emang nggak bisa ngebiarin hidup gue tenang walau cuma sedetik," gerutunya.
Bersambung
.
.
.