
Hampir setiap hari, Alice berangkat ke sekolah bareng Airon, terkadang dia juga akan diantar Darren. Hari ini gadis itu mendapat giliran diantar oleh laki-laki nomor dua terpopuler di sekolah.
Berbeda dari Airon, Darren bersedia mengantarkan Alice tepat di depan pintu gerbang sekolah. Dia tidak memedulikan tatapan aneh yang ditujukan padanya.
"Udah, nggak usah dipeduliin. Anggap aja mereka patung," ujar Darren saat memarkirkan motor di parkiran khusus murid SMA.
"Tapi aku nggak enak hati, Kak. Bagaimana kalo mereka menyebarkan gosip miring tentang kita?" Alice berdiri di samping Darren yang sedang memarkirkan motor sport kesayangannya.
"Ya, aku terima dengan lapang dada. Apakah Alice keberatan kalo berpacaran denganku?" tanya Darren dengan nada menggoda, membuat wajah Alice merona seketika.
"Ih, Kak Darren. Jangan menggodaku deh. Aku laporin Tante Joan, tahu rasa loh!" protes gadis itu, seraya mengerucutkan bibir ke depan.
Darren melangkah maju menghampiri Alice. Dia mengacak-acak rambut gadis itu lalu mencubit hidung dengan gemas. "Sudah berani mengadu nih ceritanya."
Alice tidak menjawab, dia masih tidak nyaman dengan perkataan yang keluar dari mulut laki-laki tampan di depannya.
Darren menatap wajah cantik Alice. Pandangan laki-laki itu enggan beralih dari mata dan tahi lalat yang ada di sudut mata, gadis itu terlihat cantik seperti Dewi Aprodhite. Di lihat dari sudut manapun tetap terlihat cantik meski hanya menggunakan riasan tipis.
"Ayo masuk, bel sekolah sebentar lagi berbunyi. Jangan sampai kena hukum guru, nanti Pak Evan datang menemui Om Calvin dan melaporkanmu." Darren menepuk pergelangan tangan Alice hingga tubuh itu tertarik ke depan.
Mereka berjalan bersisiran, melewati taman sekolah, berbelok ke kiri lalu melangkah terus ke depan. Hingga berada di ruangan paling ujung Alice dan Darren berpisah.
"Kak Darren," ucap Alice sebelum mereka berpisah.
"Ada apa?"
"Aku pulang sekolah ada janji mau pergi nganterin Elva ke mall. Jadi, aku nggak nebeng Kakak," ucap Alice.
Laki-laki itu tersenyum, melihat wajah Alice saat sedang gugup membuatnya semakin menggemaskan. "Nggak masalah. Namun sebelum itu, kamu telepon Tante Joan dulu. Ya udah, aku ke kelas. Bye!" Darren melambaikan tangan ke udara, lalu pergi meninggalkan Alice.
Laki-laki itu masuk ke dalam kelas. Di sana ternyata sudah ada Airon dan teman-teman kelas yang lain. Darren duduk di bangku kosong di samping sepupunya.
"Pulang sekolah jadi ngerjain PR di rumah loe, Ron?" tanya Darren pada Airon dan Joko.
"Jadi. Udah mau deadline juga nih. Mesti ngebut kita," timpal Joko.
"Eh... Tunggu dulu. Sejak kapan kalian baikan? Setahu gue, kemarin masih marahan tapi kenapa udah akur." Darren mengeluarkan alat tulis dari dalam tas, lalu meletakannya di atas meja.
"Gue capek harus marahan mulu. Secara nggak sadar, gue udah terikat dengan sepupu loe ini, Ren. Bayangin aja, kita udah sahabatan dari SMP. Terus tiba-tiba aja musuhan. Nggak bisa ngobrol leluasa, minta contekan atau ngintip jawaban PR, mana bisa gue lakukan tanpa bantuan Airon."
"Baguslah, kalo kalian semua sadar. Hidup di dunia itu cuma sementara. Emang sebaiknya perbanyak kawan daripada lawan," ucap Darren.
Airon memutar bola mata malas. "Sok bijak loe!" ucapnya sinis.
***
Siang hari tiba. Bel sekolah pun berbunyi, semua murid SMA Merah Putih berhamburan keluar ruang kelas. Mereka berlomba-lomba menggapai pintu gerbang sekolah disertai tawa dan canda menyambut berakhirkan pembelajaran hari ini.
Alice dan Elva berada di parkiran sekolah. Sesuai kesepakatan, gadis kecil itu akan mengantarkan sahabatnya ke sebuah mall, membeli hadiah untuk Kakaknya yang baru saja melahirkan. Karena dia kesulitan mencari kado yang pas, akhirnya Elva meminta bantuan Alice untuk menemaninya.
"Ice, loe betah tinggal di rumah keluarga Tan?" tanya Elva.
"Betah, Va. Meskipun sikap Kak Airon dingin dan selalu cari gara-gara ke gue tapi untungnya orang tua laki-laki itu memperlakukan gue seperti anaknya sendiri. Kak Darren juga sering bantuin ngerjain PR. Loe tahu sendiri, otak gue butek (keruh) mirip lumpur yang ada di rawa-rawa."
Elva tertawa mendengar kejujuran sahabatnya itu. "Loe sih, kebanyakan mikirin cinta akhirnya lupa dengan tugas sebagai seorang murid SMA."
"Bukankah loe juga sama!" sindir Alice.
Kediaman Daniel Tan
Sementara itu, Airon, Darren dan Joko berada di dalam kamar. Ketiga murid remaja itu tengah duduk di lantai dengan alas karpet bulu warna biru langit. Di atas meja makan tersedia cemilan dan minuman dingin yang sengaja dibuatkan oleh Bi Diah untuk menemani mereka selama mengerjakan tugas sekolah.
Joko bosan melihat tumpukan kertas HVS bertebaran di lantai. Dia merebahkan tubuh di atas ranjang, meraba tas ransel lalu mengeluarkan ponselnya.
"Ron... Airon..." teriak Joko seraya bangkit dan turun dari ranjang. "Loe masih ingat murid ini nggak?" Laki-laki itu menunjukan sebuah video yang diambil beberapa bulan lalu saat diadakan malam keakraban SMA Merah Putih dalam rangka penerimaan murid baru.
Airon melirik ke arah ponsel yang digenggam oleh Joko. "Ehm, masih. Kenapa?" jawab laki-laki itu sekadarnya.
"Gue perhatiin, setelah malam itu, dia jadi semakin giat ngedeketin loe. Udah mirip anak anjing yang ngebuntutin majikannya. Ke mana pun loe pergi, pasti dia ikut."
"Emang loe nggak tertarik sedikit pun?" tanya Joko tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel miliknya. "Kalo gue perhatiin, dia punya paras cantik, didukung wajah oriental mirip loe dan Darren, hidung mancung, kulit bersih dan satu hal yang ngebuat gadis itu terlihat lebih menawan adalah tahi lalat di sudut matanya," ujar Joko.
"Wajah cantik tapi nggak punya prestasi apa pun sama aja boong. Coba loe bayangin, ketika kita bahas masalah pelajaran, dia cuma bengong mirip sapi ompong, ya nggak bakal nyambung!" Airon mendengus kesal karena sejak tadi Joko mengganggu konsentrasi, padahal dia sedang mengetik tugas kelompok di laptop.
"Gadis seperti dia nggak pantas dijadiin pacar," timpal Airon. Jemarinya masih sibuk menari di atas tombol keyboard.
"Lantas, pantasnya dijadiin apa dong?" tanya Joko penasaran.
Airon meraih minuman dingin di atas meja, kemudian membuka tutup botolnya lalu menegak hingga tersisa setengah. "Cuma gue jadiin hiburan aja. Lumayan, dapat wadah gratis untuk menumpahkan kekesalan akibat nasib sial yang menimpa gue semenjak kenal gadis itu."
"Widih, sadis banget loe, Ron!" ucap Joko disertai tawa yang menggema memenuhi ruang kamar.
"Loe keterlaluan, Ron!" teriak Darren. Laki-laki itu bangkit, melangkah meninggalkan kamar Airon. Dia sudah muak mendengar ejekan dan hinaan yang dilontarkan oleh sepupunya.
"Bodo amat. Emang gue pikirin!" Airon semakin mengeraskan suaranya.
Mata Darren membulat, tatkala melihat Alice berdiri mematung di depan pintu kamar Airon.
"Alice..."
Bersambung
.
.
.