Alice's Love Story

Alice's Love Story
Kesedihan Alice



Malam ini adalah malam pertama bagi Alice menikmati makan malam bersama kedua orang tua Airon. Joan dibantu Bi Diah membuat makanan spesial untuk menyambut kedatangan anggota baru. Tampak wanita itu tengah sibuk di dapur, bergelut dengan bumbu dan peralatan dapur.


Jemari lentik itu begitu sigap saat memanaskan margarin di atas wajan, menumis bumbu hingga harum, lalu memasukan udang ke dalamnya. Setelah berubah warna, dia menambahkan kecap manis, air jeruk nipis, air asam jawa, gula merah dan penyedap rasa. Tak berselang lama, udang asam manis buatan Joan siap dihidangkan.


"Bi, tolong kamu bawa piring ini ke meja makan," titah Joan pada asistennya.


Lalu, Joan melanjutkan kembali mengolah capcay, ayam goreng dan tidak lupa menu wajib andalan keluarga Tan yaitu tahu dan tempe.


Setelah berkutat selama kurang lebih satu jam, akhirnya semua masakan telah siap dinikmati. Tuan Daniel selaku kepala keluarga memimpin do'a, sebagai bentuk syukur karena diberikan kenikmatan dan rezeki oleh Tuhan.


"Selamat makan," ujar Tuan Danie, Joan dan Alice hampir bersamaan.


"Bagaimana, Sayang, masakan Tante enak?" tanya Joan membuka pembicaraan.


"Sangat lezat. Tante memang pandai memasak," puji gadis itu.


"Oh ya, ngomong-ngomong... Apakah di sekolah Ai bersikap baik padamu?" tanya Joan. Wanita itu menyuapkan sendok berisi nasi dan udang ke dalam mulut.


Hening, tidak ada jawaban apa pun. Alice bergeming, dia hanya terdiam dengan tatapan kosong.


Tuan Daniel melirik sekilas ke samping. Wajah gadis itu terlihat murung dan gelisah. Menurut pria itu, sepertinya Alice menyimpan sebuah rahasia yang enggan untuk diceritakan pada siapa pun.


Tuan Daniel berdehem, lalu menyentuh punggung tangan Joan. "Sudahlah, tidak perlu bertanya macam-macam. Biarkan Alice makan dengan nikmat."


Joan mengernyitkan kening, mulutnya kembali mengunyah makanan. Diliriknya Alice yang duduk tepat di sebelahnya. Sepertinya dia mulai menyadari, ada sesuatu hal yang terjadi diantara gadis itu dengan Airon. Menilik dari raut wajah gadis itu, dia bisa merasakan bahwa Alice enggan membahas persoalan yang berkaitan dengan Airon.


Joan tertawa melihat tatapan tajam suaminya. "Benar... Kamu benar sekali, Pi. Seharusnya aku membiarkan Alice menikmati makanan ini. Maafkan, Tante, ya, sudah membuatmu tak nyaman."


Alice menggeleng pelan. "Nggap masalah, Tante," ucapnya lirih.


Tak lama kemudian, terdengar deru mobil berhenti di pelataran. Dari arah dapur, Bi Diah berlari tergopoh-gopoh membukakan pintu.


"Selamat datang, Tuan Muda," sapa Bi Diah setelah pintu terbuka lebar.


"Apakah ada tamu?" tanya Airon. Dia meletakan tas dan paper bag warna coklat di atas meja.


"Benar, Tuan."


Airon cukup terkejut melihat siapa yang duduk bersama orang tuanya, menikmati hidangan makan malam. Pria itu memicingkan mata, menatap tajam ke arah Alice.


"Ai, Mami pikir kamu akan menginap bersama Darren berserta Om dan Tantemu."


"Tadinya begitu tapi aku berubah pikiran. Khawatir Mami dan Papi kesepian di rumah tanpa adanya aku dan Darren," jawab Airon tanpa mengalihkan padangannya. "Namun ternyata dugaanku salah, kalian sudah menemukan penggantiku rupanya."


Joan segera bangkit dari kursi, berjalan menghampiri putranya. "Tidak boleh bicara begitu. Ayo makan, Mami yakin kamu pasti belum makan, iya 'kan?"


Airon mengangguk dan menuruti perkataan sang Mami. Dia duduk di seberang Joan. Pria muda itu sibuk mengamati Alice tanpa berkedip. Berjuta pertanyaan memenuhi isi kepalanya tapi tak ada satu kalimat pun terucap.


Sementara itu, Alice yang sejak dari tadi terdiam mendongakan kepala seraya tersenyum ke arah Airon, lalu menundukan kembali pandagannya. Dia seolah-olah tak menyadari pria di hadapannya itu menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.


"Ai, mulai besok, kamu dan Alice akan berangkat ke sekolah bersama." Joan membuka pembicaraan, dia sungguh bosan berada di situasi hening seperti sekarang.


Airon meletakan senduk dan garpu bersamaan. Dia menatap ke arah Joan dan Tuan Daniel bergantian. "Maksud, Mami dan Papi, apa?"


Tuan Daniel kemudian menjawab, "untuk sementara waktu, Alice akan tinggal bersama kita selama Om Calvin dirawat di rumah sakit."


"Sudah beberapa hari ini dia tidak masuk sekolah dan itu membuat Om Calvin cemas. Kami tidak ingin menambah beban pikirannya."


"Benar, Ai. Mami tidak tega membiarkan tubuh mungil Alice digigiti nyamuk setiap malam."


Jawaban yang tiba-tiba itu membuat Airon mengepalkan tangan, rahangnya mengeras dan sekilas kilatan cahaya penuh kemarahan terpancar di mata sipit pria itu.


"Kenapa kalian nggak meminta pendapatku dulu?" tanya Airon kesal. "Bukankah setiap kali ada masalah menyangkut rumah ini, aku selalu dilibatkan tapi mengapa kali ini nggak?"


"Ai, Sayang. Mami dan Papi rasa untuk masalah ini tidak perlu melibatkanmu karena kami punya pemikiran tersendiri."


"Mami dan Papi tahu 'kan, aku tidak terbiasa tinggal satu atap dengan orang lain. Apalagi gadis itu adalah sumber bencanaku!"


"Airon!" teriak Joan dan Tuan Daniel hampir bersamaan.


"Apa Mami dan Papi tahu, semenjak mengenal gadis ini, aku sering tertimpa sial. Dan kalian tahu, akibat mulutnya itu, aku gagal mewakili sekolah dalam perlombaan cerdas cermat. Kini, semua murid SMA membenciku dan pamorku sebagai seorang idola musnah gara-gara dia!" Airon mengacungkan jari telunjuk ke arah Alice.


Air mata Alice tumpah, meluncur begitu saja tanpa meminta izin terlebih dulu. Matanya memerah, hidungnya terasa masam. Di depan mata, Airon tega menuduhnya padahal jelas-jelas bukan dia pelakunya. Bahkan, gadis itu pun tidak tahu mengapa aib masa lalu Airon bisa tersebar ke seluruh sekolahan.


Gadis itu bangkit dari kursi. Dengan berderai air mata, dia berkata, "aku minta maaf, kalau kehadiranku di sini malah menimbulkan masalah untuk Tante, Om dan Kak Ai."


"Asal Kak Ai tahu, aku nggak pernah menyebarkan aib apa pun di sekolahan. Untuk masalah kegagalan Kakak dalam perlombaan tempo hari, aku minta maaf."


Alice berlari menaiki anak tangga dengan perasaan hancur. Pria yang dicintai tega-teganya berkata kasar untuk kedua kalinya. Dan bodohnya lagi, dia masih menyimpan rasa itu dalam lubuk sanubarinya yang terdalam.


Gadis itu menenggelamkan kepala di bawah bantal. "Ayah... Lebih baik Ice tinggal di rumah sakit daripada di sini harus melihat tatapan sinis, hinaan dan tuduhan tak beralasan dari pria yang kucintai."


"Tuhan, mengapa aku harus jatuh cinta pada pria dingin dan bermulut tajam seperti dia. Kenapa Engkau pertemukan kami dan menumbuhkan rasa cinta ini di hatiku?" tanyanya di sela isak tangis.


"Lelah! Aku benar-benar lelah, Tuhan," ucapnya lirih.


Tangan gadis itu terulur ke samping, meraih sebuah bingkai foto berukuran sedang. Memandangi wajah mendiang Ibunya yang sudah lama meninggal. "Bunda, Ice kangen."


Bersambung


.


.


.