Alice's Love Story

Alice's Love Story
Setelah Kejadian Itu



Happy reading 🍃


"Selamat pagi, Alice," sapa Joan, ketika melihat putri dari sahabatnya berada di dapur. Gadis kecil itu sudah berpakaian rapi dengan seragam putih dan abu, ciri khas murid SMA.


"Selamat pagi, Tante." Alice meletakan tas di atas kursi makan, lalu mendekati meja pantry.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" Dia berdiri seraya memperhatikan Joan dan Bi Diah menyiapkan sarapan.


"Tolong letakan ini di atas meja, Nak."


Alice meletakan empat piring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi. Aromanya menggiurkan, membuat siapa saja yang menghidu akan tergoda mencicipi makanan tersebut. Lalu gadis itu menata gelas, sendok dan garpu sesuai tempat duduk.


Setelah semua selesai, Bi Diah kembali melanjutkan pekerjaannya. Di dapur, hanya tersisa Joan dan Alice. Gadis itu membantu wanita di sampingnya mencuci piring.


"Tante minta maaf atas kejadian tadi malam, tidak seharusnya Ai berkata kasar. Kamu pasti tersinggung dengan ucapannya." Joan membuka pembicaraan.


Dengan senyuman manis tersungging di bibir, gadis itu mencoba tersenyum di hadapan Joan, seraya berkata, "nggak masalah, Tante. Aku bisa memaklumi. Kak Ai tipe laki-laki yang sulit bergaul dengan orang baru jadi wajar kalau dia keberatan kalo ada penghuni baru di rumah ini." Alice mengeringkan peralatan masak yang sudah dibilas oleh Joan.


"Namun, Tante tetap merasa bersalah padamu."


"Tante nggak usah merasa bersalah, aku sudah ngelupain masalah tadi malam kok."


Tepat pukul enam pagi, semua anggota keluarga berkumpul di ruang makan. Lima piring nasi goreng dan empat gelas susu putih sudah tersedia di meja makan.


"Selamat makan," ucap mereka hampir bersamaan.


"Kalian kan satu sekolah, bagaimana kalo Alice berangkat bareng Airon!" ujar Joan seraya memperhatikan raut wajah anak semata wayangnya.


Airon menghembuskan napas secara kasar. Dia mendelik ke arah Alice. "Loe baru semalam tinggal di sini udah nyusahin gue, gimana kalo bertahun-tahun!"


"Airon!" ucap Joan dan Daniel bersamaan.


Airon memutar bola mata malas. Laki-laki itu mendorong piring kosong ke depan, lalu meneguk susu hingga kosong. "Oke, aku akan berangkat ke sekolah bersama gadis ini tapi beberapa meter sebelum gerbang sekolah, dia harus turun!"


"Terserah Mami dan Papi setuju atau nggak dengan keputusan, Ai. Kalo setuju, kita berangkat sekarang, kalo nggak setuju..."


Alice melirik sekilas ke arah laki-laki itu. "Aku setuju!" ucap gadis kecil itu singkat.


Usai sarapan, Alice dan Airon berpamitan. Mereka mencium punggung tangan Joan dan Tuan Daniel secara bergantian. Meskipun sikap Airon dingin, acuh dan terkadang menjengkelkan tapi dia masih memiliki rasa hormat pada orang yang lebih tua darinya.


"Tante, aku berangkat sekolah dulu."


"Hati-hati di jalan. Jangan lupa, sepulang sekolah langsung ke sini. Akan ada Bi Diah yang membukakan pintu untukmu."


"Hei, buruan! Kita hampir terlambat!" seru Airon. Laki-laki itu sudah bertengger di atas motor kesayangannya.


Motor sport warna merah itu melaju sedang di jalan raya. Airon memilih mencari jalan tikus agar bisa sampai tepat waktu. Selain menghindari kemacetan akibat padatnya penduduk di Ibu Kota, laki-laki itu juga berusaha meminimalisir ditangkap oleh polisi. Sebab, dia masih belum cukup umur untuk mempunyai lisensi mengemudi.


Jemari Alice berpegangan pada sisi sweater yang dipakai Airon. Dia terpaksa melakukannya karena posisi jok tempat gadis itu duduk lebih tinggi dari pada jok di depannya sehingga keseimbangan Alice kurang stabil dan dia membutuhkan pegangan agar tidak terlempar ke bahu jalan.


Diam-diam, Airon mengagumi kecantikan wajah Alice dari kaca spion. Tanpa di sadari, sudut bibir laki-laki itu terangkat.


"Ingat, beberapa meter sebelum tiba gerbang sekolah, loe udah turun. Gue nggak mau ada gosip lagi beredar di sekolah!" ucap Airon.


"Iya, aku tahu, Kak. Tanpa diulangi dua kali, aku masih mengingatnya."


"Gue ada janji dengan teman kelompok, ngerjain makalah Bahasa Indonesia, loe pulang sendiri."


"Ya, aku bisa minta antar temanku. Kakak nggak perlu cemas," ujar Alice malas.


Suasana kembali hening. Airon fokus dengan jalanan di depan sana. Alice mencuri padang dari kaca spion. Meskipun wajah tampan laki-laki itu tertutupi kaca helm visor warna pelangi tapi gadis itu masih bisa melukiskan bagaimana paras rupawan sang pujaan hati dengan mata terpejam sekali pun.


Kak, walau kamu pernah melukai hatiku dan membuat air mata ini bercucuran tapi entah kenapa aku nggak bisa membencimu. Semakin hari, rasa suka ini berubah menjadi cinta. Harapanku hanya satu, semoga kelak kamu akan membalas cintaku dan kita bisa menjadi sepasang kekasih yang paling bahagia di dunia ini.


***


Jam istirahat pun tiba. Seluruh murid SMA Merah Putih menghambur ke luar kelas. Mereka menyerbu kantin dan seketika bangunan yang terletak di belakang sekolah berubah menjadi lautan manusia.


Di antara puluhan meja yang berjejer, satu di antaranya ada Airon dan teman kelasnya. Kedua laki-laki itu duduk sambil menunggu pesanan datang.


"Ron, gue mau tanya sesuatu tapi loe jangan kesinggung," murid laki-laki itu menarik kursi, mengikis jarak di antara mereka.


"Tanya apa?" jawab Airon acuh. Dia sibuk membuka lembaran buku paket membaca kembali materi yang baru saja diberikan oleh guru.


"Beberapa kali gue lihat murid kelas 1B itu keluar masuk rumah loe. Kalo boleh tahu, apakah gadis itu tinggal bersama kalian?" bisiknya. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain menguping pembicaraan mereka.


Airon mendelik, tangannya masih sibuk membolak balikan lembaran buku paket tebal terdiri dari puluhan lembar halaman.


Laki-laki itu tersenyum smirk. "Kebetulan aja dia main ke rumah. Loe jangan asal ngomong, nanti akan tersebar gosip miring tentang gue!"


Teman sekelas Airon menelan saliva susah payah. Dia merinding seketika menatap senyuman aneh dan tatapan tajam dari laki-laki yang duduk di sampingnya. "G-gue hanya memastikan aja, Ron. Sumpah deh, nggak punya pikiran negatif kok tentang loe dan gadis itu," ujar laki-laki itu tergagap.


"Bagus! Gue nggak mau dengar gosip apa-apa di sekolah ini. Kalo sampai terjadi, loe orang pertama yang akan gue cari!" Airon menutup buku dengan keras hingga menimbulkan suara nyaring, ditambah sorotan mata tajam. Membuat bulu kudu teman Airon merinding seketika.


Tanpa memedulikan temannya, Airon berjalan ke luar bangunan kantin. Sambil menenteng buku paket, dia terus melangkah tanpa menghiraukan lingkungan sekitar.


"Buset dah, gue nggak nyangka tatapan mata Airon setajam itu. Sekali lirik aja udah membuat nyali gue menciut."


Bersambung