Alice's Love Story

Alice's Love Story
Maafkan Aku, Kak



Setelah memakan hari hampir satu minggu, kini perwakilan SMA Merah Putih sudah kembali dengan mengantongi gelar juara pertama tingkat nasional dalam lomba cerdas cermat. Kemenangan itu dipersembahkan oleh tim Zacky dkk. Berkat kerjasama tim, akhirnya mereka unggul dan menjadi nomor satu serta sukses mengharumkan nama sekolah.


Beberapa hari istirahat di rumah, Airon sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Hari ini ia dan Darren bersiap berangkat ke sekolah.


Di ruang makan sudah ada Papi, Mami, Airon dan Darren sedang bersiap menunggu hidangan tersaji di atas meja makan.


"Sayang, Mami perhatikan semenjak pulang dari hotel wajahmu murung. Ada apa?" tanya Joan sambil menata peralatan makan di atas meja.


"Hanya sedikit lelah karena terlalu banyak belajar."


"Nak, Papi tahu kamu kecewa atas hasil perlombaan kemarin tapi sebaiknya dilupakan saja. Segala sesuatu di dunia ini terkadang tidak bisa didapatkan sekaligus, ada campur tangan dari Sang Pencipta. Anggap saja kegagalan kemarin merupakan sebuah keberhasilan yang tertunda," ujar Papi Daniel.


"Yups, yang dikatakan Paman itu benar. Loe dan tim udah kasih hasil yang terbaik. Gue yakin, seluruh murid sekolah dan guru-guru bisa memakluminya."


"Semangat Ron!" Darren mengepalkan tangan ke dada, seraya memberikan semangat untuk sepupunya.


"Makanan udah siap. Mari Nyonya, Tuan Besar dan Tuan Muda dinikmati. Semoga kalian suka dengan masakan Bibi."


Setelah menata semua hidangan di atas meja dan mengucapkan kalimat terakhir, wanita paruh baya, berusia hampir 40 tahunan itu izin kembali ke dapur, mengerjakan pekerjaan rumah yang belum diselesaikan.


Setelah selesai menghabiskan semua hidangan, Airon dan Darren sudah bersiap dengan tas ransel yang digendong di punggung.


"Mi, Pi, Ai berangkat sekolah dulu," ucap Airon sambil mencium pipi kedua orang tuanya.


Murid laki-laki itu langsung menyalakan mesin roda dua kesayangannya yang terparkir di halaman rumah.


"Om dan Tante, Darren juga pamit dulu."


Kemudian kedua pria remaja itu melajukan kendaraan roda duanya, menuju sekolahan. Jarak rumah dengan sekolah cukup memakan waktu karena itulah Airon dan Darren harus bergegas berangkat sebelum jalanan ibu kota semakin ramai.


Sampai di sekolah, bel tanda masuk sekolah baru saja berbunyi. Kedua murid laki-laki itu berjalan bersisiran melewati taman sekolah yang ditumbuhi pepohonan hijau, bunga-bunga segar bermekaran, membuat suasana hati tenang seketika.


Tak berselang lama, seorang guru mata pelajaran Biologi masuk ke dalam ruangan dan memulai menjelaskan materi.


Jam pelajaran telah usia, kini tibalah saatnya jam istirahat. Di dalam kelas, Joko menatap sinis ke arah Airon, sementara pria remaja berusia 17 tahun itu sedang sibuk memasukan semua peralatan sekolah ke dalam tas ransel dan tak memedulikan tatapan sinis dari seorang murid yang dulu sangat dekat dengannya.


"Ron, loe mau ke kantin nggak?" tanya Darren.


"Nanti aja, kalo loe mau ke kantin pergi sendiri sana."


"Loh tumben, emang loe nggak mau beli makanan untuk ganjal perut?"


"Gue mau ke perpustakaan. Loe duluan aja."


Tanpa menunggu Darren membuka mulut, pria remaja itu langsung meninggalkan kelas. Ia berjalan melewati gedung aula, laboratorium dan kerumuman murid remaja perempuan yang sedang duduk di kursi depan kelas.


"Bukannya itu Airon ya? Kasihan banget dia popularitasnya hancur gara-gara gosip yang sedang beredar di sekolah. Selain itu, dia juga gagal mewakili sekolah kita di perlombaan cerdas cermat kemarin."


"Iya, mungkin karena gosip itu ngebuat mentalnya down dan dia gagal meraih juara pertama. Meskipun gelar juara pertama masih diambil oleh tim Zacky tapi itu merupakan kegagalan terbesar untuk Airon yang notabene merupakan idola sekolah plus satu-satunya murid laki-laki yang sangat diharapkan oleh seluruh guru dan murid-murid di sini."


Terdengar sayup-sayup bisikan para murid perempuan membicarakan Airon dan kegagalan murid remaja itu dalam ajang perlombaan cerdas cermat.


Namun, Airon tak memedulikan bisikan-bisikan itu, tatapan matanya masih fokus ke depan tanpa melirik ke sekeliling. Murid remaja itu seakan menutup mata dan telinga rapat-rapat agar tak memperburuk suasana hatinya yang sedang kalut akibat sebuah kegagalan pertama kali dalam hidupnya.


Saat tiba di depan bangunan tua bergaya Belanda, seorang gadis remaja berusia 16 tahun berdiri menunggu kedatangan orang yang dinanti sejak tadi.


"Mau apa loe nemuin gue?" tanya Airon ketus.


Mata pria remaja itu memancarkan kilatan amarah yang terpendam, tatapan matanya menusuk hingga membuat bulu kudu Alice merinding.


"Astaga, sepertinya Kak Airon marah besar tapi gue harus meminta maaf atas gosip yang sedang beredar. Meskipun gue nggak menyebarkannya tapi harus tetap minta maaf," batin Alice.


"Kak, Ice..."


Belum sempat Alice menyelesaikan kalimatnya, pria bertubuh jangkung dan bermata sipit itu langsung menghentikan gadis itu sambil berkata, "lebih baik loe pergi dan jangan pernah hadir dalam kehidupan gue lagi. Sumpah, hidup gue jadi sial semenjak kenal loe," ucap Airon sambil mengacak-acak rambutnya.


"Tapi, Kak..."


"Gue bilang pergi, ya pergi. Batu kalo dibilangin!" ucap Airon sedikit keras, membuat orang yang lalu lalang di depan ruang perpustakaan menoleh ke arah mereka.


Alice menundukan pandangan, kedua mata gadis kecil itu tertutup rapat, tubuhnya gemetar tatkala pria tampan idolanya berteriak kencang di hadapannya. Seumur-umur baru kali ini ia mendapatkan perlakuan kasar dari seseorang, bahkan Ayah Calvin saja tidak pernah membentaknya meskipun ia berbuat salah.


Dengan air mata berurai, gadis kecil itu berlari meninggalkan Airon yang masih membeku di tempat.


Pria remaja itu menatap kepergian Alice dengan tatapan nanar.


"Aneh, kenapa hati gue rasanya sakit melihat gadis itu menangis. Nggak mungkin kan gue jatuh cinta padanya!" gumam Airon.


Tak ingin terlalu larut dalam kegundahan, remaja pria itu berjalan masuk ke dalam perpustakaan.


"Halo, Bu," sapa Airon pada penjaga perpustakaan.


Tangannya meraih pena yang ada di atas meja, kemudian menuliskan namanya di daftar pengunjung perpustakaan. Dengan langkah panjang, ia masuk ke dalam mencari buku paket dan beberapa buku bacaan yang mau dipinjam.


Di tempat lain, Alice masih saja menangis. Ia membenamkan wajahnya di atas meja, suasana kelas sepi sehingga gadis kecil itu leluasa menumpahkan isi hatinya lewat tangisan tanpa harus malu didengar oleh teman sekelas.


"Kak Airon kenapa marah, padahal tadi gue cuma mau minta maaf," ucapnya di sela isak tangis.


Dari luar, nampak Elva berjalan masuk ke dalam ruang kelas. Gadis itu baru saja membeli beberapa camilan karena saat ia hendak ke kantin dan mau mengajak Alice tapi sahabatnya itu tak ada di ruangan.


Itulah mengapa ia memutuskan untuk membelikan makanan untuk sahabatnya. Elva berlari sambil menenteng sebungkus plastik berwarna hitam ke dalam ruang kelas.


"Ice, loe kenapa?" tanya gadis itu sambil meneliti wajah sahabatnya.


"Loe kenapa diam aja. Ayo cepat katakan, siapa yang udah buat loe nangis."


Sementara itu, Alice bergeming. Ia masih menangis sesegukan di pundak sahabatnya.


"Ya udah loe kalo mau nangis, nggak usah ditahan. Luapin aja kesedihan dan kekecewaan loe selama ini," Elva menepuk-nepuk punggung sahabatnya lembut.


Bersambung


.


.


.