Alice's Love Story

Alice's Love Story
Operasi



Beberapa hari kemudian...


Hari ini merupakan hari yang sangat dinantikan oleh Ayah Calvin dan juga Alice. Sesuai agenda, pria separuh baya itu dijadwalkan akan melakukan operasi donor ginjal.


Sejak semalam, Suster dan Dokter yang bergabung dalam tim mempersiapkan semua kebutuhan selama operasi nanti, termasuk memastikan kondisi tubuh pasien dalam keadaan sehat serta siap untuk dioperasi.


Tepat pukul sembilan pagi, tiga orang perawat perempuan berseragam putih mendorong brankar Ayah Calvin menuju ruang operasi. Alice, selaku satu-satunya keluarga pasien sudah berada di rumah sakit sejak kemarin siang. Bahkan, gadis itu meminta izin pada guru mata pelajaran agar bisa pulang lebih awal untuk menemani sang Ayah.


Alice berjalan di sisi brankar, menggenggam tangan pria separuh baya yang tengah terbaring lemah di atas sana seraya berkata, "Ayah percayalah, operasi kali ini akan berhasil. Jadi, semangat ya!" Gadis itu mengepalkan tangan ke dada sembari tersenyum manis. Meskipun di dalam dirinya timbul kekhawatiran tapi dia berusaha menyembunyikannya dari pria yang berbalut baju pasien rumah sakit.


Pria separuh baya itu terkekeh, melihat perubahan raut wajah sang anak. "Seharusnya kata-kata itu kamu tujukan untukmu sendiri, Nak. Ayah tahu, saat ini kamu cemas kan?" tanya Ayah Calvin. Dia merasakan telapak tangan gadis bermata sipit itu dingin.


"Ayah..." ujar Alice dengan bibir gemetar.


"Tenanglah, Sayang. Semua akan berjalan sesuai harapan kita." Tangan pria itu mengusap lembut telapak tangan Alice.


Tiba di depan pintu operasi, seorang perawat menahan tubuh Alice untuk tidak ikut masuk ke dalam ruangan. "Maaf, Nona, sebaiknya Anda tunggu saja di sana. Serahkan semua pada kami," ucap perawat itu sebelum menutup pintu ruangan.


"Selama Ayahmu dioperasi, sebaiknya kita tunggu di sana," ujar Elva seraya memapah tubuh sahabatnya duduk di kursi yang tersedia di sepanjang koridor rumah sakit.


Elva, seorang gadis manis berkulit sawo matang merupakan sahabat terbaik Alice. Karena teman sebangku, memiliki hobi yang sama dibidang musik membuat mereka memutuskan untuk menjadi sahabat. Setiap mengalami kesusahan, salah satu dari mereka pasti akan menghibur dan membantu yang lain.


Itulah mengapa, hari ini gadis itu meminta izin pada orang tua dan wali kelas untuk menemani Alice. Karena dia tahu, di saat seperti ini dukungan dari orang terdekat sangat dibutuhkan.


Apalagi Alice hanya tinggal berdua dengan Ayahnya, dan beliau akan menjalani operasi pencangkokan ginjal. Jadi, sebagai seorang sahabat, dia memutuskan menemani gadis itu hingga operasi selesai.


"Terima kasih, Va, karena sudah mau menemaniku selama operasi Ayah berlangsung."


"Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang sahabat."


Tak berselang lama, dari radius sepuluh meter, sepasang suami istri berpakaian semi formal berjalan sedikit berlari menghampiri Alice yang tengah duduk di kursi pengunjung.


"Alice..." ujar Joan. "Bagaimana operasi Ayahmu?" tanya wanita itu langsung menghampiri Alice di kursi pengunjung.


"Ayah baru masuk ruang operasi, Tante," ujar Alice dengan raut wajah khawatir.


"Tidak perlu cemas, Dokter dan tenaga medis lainnya akan berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan Ayahmu." Tuan Daniel menepuk pundak putri dari sahabatnya. Lalu dia memilih duduk di kursi yang agak jauh dari istri serta dua anak gadis belia yang berusia lebih muda dari putranya.


Dalam diam, pria separuh baya itu berdo'a, memohon pada Sang Pencipta agar memberikan kelancaran serta keselamatan bagi Ayah Calvin. Seorang laki-laki yang begitu berjasa dalam hidupnya semasa sekolah dulu.


Seorang dokter yang bertanggung jawab terhadap Ayah Calvin keluar ruangan. "Keluarga pasien," ucapnya setelah pintu ruang operasi terbuka. Masih dengan pakaian operasi, pria itu berkata, "operasi berjalan lancar. Namun, untuk sementara waktu pasien masih belum sadarkan diri akibat obat bius yang kami berikan. Selama beberapa hari ke depan, pasien akan tetap dirawat di rumah sakit untuk memantau tanda-tanda komplikasi pasca operasi."


"Syukurlah, operasinya berjalan dengan lancar," ujar Joan dan Tuan Daniel hampir bersamaan.


Tubuh Alice merosot setelah mendengar kabar baik itu. Untung saja Tuan Daniel gesit, sehingga pria jangkung menjulang tinggi itu berhasil menopang tubuh putri sahabatnya. Lalu dia memapah gadis itu duduk di kursi.


"Lalu, berapa lama lagi kami bisa menemuinya, Dokter?" tanya Tuan Daniel.


"Dalam beberapa waktu kedepan, Tuan. Kami akan memindahkan pasien di ruang perawatan. Kalau begitu, saya permisi dulu." Kemudian Dokter itu menghilang bersamaan dengan tertutupnya pintu ruanga operasi.


Di dalam ruang rawat inap, Alice, ditemani orang tua Airon dan sahabatnya, Elva, tengah menunggu dengan cemas di sofa panjang yang terletak di sudut ruangan.


"Kenapa Ayah belum juga sadarkan diri?" tanya Alice dengan cemas. Sebab, sudah hampir satu jam semenjak dipindahkan ke ruangan rawat inap, pria itu belum sadarkan diri.


"Sabar, Ice. Mungkin sebentar lagi Ayahmu akan sadar." Elva mencoba menenangkan sahabatnya. Manakala melihat kegelisahan terpancar dari wajah cantik sahabatnya itu. Beberapa kali, gadis itu kedapatan tengah meremas jemari lentik di atas pangkuan.


"Yang dikatakan sahabatmu benar, Sayang. Kita coba menunggu sebentar lagi." Joan membawa kepala Alice dalam pelukan. Wanita berwajah oriental itu mengusap seraya memberikan ciuman lembut di puncak kepala Alice dengan penuh kasih sayang.


Perlahan, kedua mata Ayah Calvin berbuka, memindai lingkungan sekitarnya, mencoba untuk beradaptasi. Saat bola matanya terbuka sempurna, dia bisa melihat dengan jelas wajah permata hati yang begitu berharga dalam hidupnya.


"Ice..." ucap pria itu dengan lirih.


Alice segera menghambur, memeluk tubuh Ayahnya. Air mata yang dipendam sejak tadi, kini sulit dibendung lagi. Dia menangis dalam pelukan Ayah Calvin.


"Ice takut, Ayah akan pergi meninggalkanku sama seperti Bunda dulu," ujar gadis itu di sela isak tangisnya.


Dengan senyum yang dipaksa, pria itu berkata, "Ayah kan sudah berjanji padamu, akan selalu berada di sisimu hingga kamu benar-benar sudah menemukan pria baik dan berhati malaikat, yang bersedia menggantikan posisiku."


Gadis itu mengerucutkan bibir ke depan, seraya berkata, "meskipun Ice sudah menemukan pria itu, tapi Ayah harus tetap berada di sisiku. Selamanya!"


"Putrimu benar, Vin. Kamu harus sehat dan panjang umur, agar bisa menyaksikan bagaimana cucu-cucumu tumbuh dewasa. Menyaksikan tumbuh kembang serta bermain bersama mereka, merupakan sebuah kebahagiaan terbesar bagi seorang Kakek."


Ayah Calvine menoleh ke arah sumber suara. Di sana dia melihat sahabat dan istrinya duduk manis sembari tersenyum ke arahnya. "Daniel, terima kasih. Kamu dan Joan sudah bersedia menemani putriku selama operasi berlangsung." Pria itu menangkup kedua tangan ke dada.


Tuan Daniel beranjak, lalu berdiri di sisi ranjang. "Sama-sama, Kawan! Selamat datang kembali di dunia yang baru, dengan ginjal yang baru pula."


TBC