
Flash back on...
Tiga hari lalu, di tengah keheningan malam, Tuan Calvin merasakan dadanya terasa sesak, mual dan muntah disertai nyeri otot. Sebenarnya dia mengalami gejala itu beberapa hari yang lalu tetapi tidak pernah digubris. Pria itu tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.
Namun untuk malam ini, dia sudah tidak sanggup menahannya lagi. Pria itu berjalan tertatih-tatih, berpegangan pada kursi dan lemari.
"Alice..." Dengan suara lirih, dia memanggil putrinya yang berada di kamar sebelah.
Namun tidak ada respon dari putrinya. Dengan tenaga yang tersisa, dia terus berjalan hingga sampai di depan pintu kayu bercat putih.
"Alice," panggil Ayah Calvin dengan suara lirih.
Dari dalam kamar, gadis kecil itu terbangun merasakan kantung kemihnya penuh dan di saat bersamaan dia mendengar suara Ayahnya dari luar.
Alice mengerjapkan mata, duduk di tepian ranjang lalu berjalan. Alangkah terkejutnya dia tatkala melihat Ayahnya tergeletak di lantai dengan wajah pucat dan tangan kananya menyentuh dada.
"Ayah, apa yang terjadi?" tanya Alice cemas. Dia meletakan kepala Ayahnya di pangkuan.
"Dada Ayah sakit sekali, Nak. Bisakah kamu membawa Ayah ke rumah sakit?"
"Bisa, Yah. Alice telepon taxi dulu." Kemudian gadis kecil itu bangkit lalu berlari masuk ke dalam kamar. Meraih benda pipih di atas meja belajar kemudian menelepon taxi.
Setengah berlalu, kini Alice dan Ayahnya sudah berada di ruang IGD rumah sakit, tempat biasa Tuan Calvin melakukan pemeriksaan pada ginjalnya.
"Tuan Calvin, nampaknya kondisi ginjal Anda semakin memburuk. Melakukan pencucian darah saja rasanya tidak cukup membantu. Saran saya, sebaiknya lakukan operasi pencangkokan ginjal," ujar Dokter Putra.
"Apakah separah itu Dokter?" tanya Alice. Gadis kecil itu beringsut duduk di sisi ranjang. Matanya berkaca-kaca menatap Dokter Putra.
"Benar, jika tetap melakukan cuci darah, saya rasa itu akan sia-sia belaka. Lagipula, peluang bertahan hidup bagi pasien pasca melakukan cangkok ginjal sekitar 10 hingga 12 tahun dan tingkat keberhasilan mencapai 90%," lanjut pria berkaca mata itu.
"Lantas, kalau saya bersedia melakukan operasi, apakah ada pendonor yang bersedia mengorbankan satu ginjalnya untukku?"
"Kami akan berusaha mencari pendonor untuk Anda secepatnya. Namun, untuk sementara waktu sebaiknya Tuan Calvin di rawat di rumah sakit hingga operasi dilakukan."
"Baiklah, kalau begitu saya setuju."
Flash back off...
Hari keempat di rumah sakit. Seorang gadis kecil duduk di sisi ranjang di sebuah kamar rawat inap kelas 1. Dia baru saja selesai menyuapi Ayahnya.
"Ayah, minum dulu." Gadis itu menyodorkan gelas bening berisi air putih.
Pria itu menuruti perintah Alice. Dia meraih gelas tersebut lalu meneguknya hingga tandas.
Mata Ayah Calvin memincing, menatap putrinya penuh selidik. Sikap putrinya beberapa hari ini aneh, gelisah dan sering termenung di saat malam hari.
"Kamu ada masalah apa?" tanyanya seraya meletakan gelas di atas nakas.
Gadis kecil itu menggelengkan kepala. "Aku baik-baik aja, Yah. Udah, nggak usah mencemaskan aku. Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Ayah."
"Ice udah kangen banget masakan Ayah." Gadis kecil itu memeluk erat Ayahnya seolah dia enggan melepaskan pelukan itu walau hanya sebentar saja.
"Ice, jangan peluk Ayah terlalu erat, Nak," ujar pria itu. Dia merasakan dadanya semakin sesak tatkala Alice mengeratkan pelukan.
"Aduh, maaf, Yah. Ice terlalu bersemangat hingga melupakan kondisi Ayah." Alice melonggarkan pelukan, lalu beranjak dan duduk di sofa berwarna merah maroon.
Saat tengah asyik berbincang, terdengar suara ketukan pintu, membuat Alice dan Ayahnya terdiam.
Saat pintu terbuka lebar, seorang pria berkacamata, tinggi 170 cm, berkumis lebat dan berambut ikal berdiri di ambang pintu. Dia merupakan kepala sekolah, sekaligus pemilik restoran tempat Ayah Calvin bekerja.
"Selamat siang," sapa Pak Evan.
"Pak Kepala Sekolah!" pekik Alice.
Alice bergegas membantu Ayahnya. Gadis kecil itu meletakan bantal di belakang punggung lalu meletakan kursi di dekat ranjang.
"Pak Evan. Mari, silakan duduk."
"Maaf, saya baru tahu kalau Pak Calvin sedang di rawat di rumah sakit." Pria berambut ikal itu masuk ke dalam ruangan lalu menyerahkan parcel buah-buahan pada Alice.
"Tidak apa-apa, Pak. Seharusnya saya menghubungi Bapak, meminta izin untuk cuti beberapa hari." Terdengar penuh penyesalan dari setiap kalimat yang terucap dari mulut Ayah Calvin.
"Sudah hampir seminggu saya tidak blusukan ke restoran dan baru tahu bahwa Pak Calvin di rawat di rumah sakit."
"Pantas saja, Bu Mela kelimpungan mencari keberadaan Alice, ternyata kamu menemai Ayahmu di sini." Pak Evan membenarkan posisi kacamatanya yang bertengger di hidung.
"Benar, Pak, semenjak Ayah di rawat, saya bolos sekolah," ucap Alice lirih, hampir tidak terdengar. Gadis kecil itu menundukan kepala seraya meremas jemari di atas pangkuan.
"Meskipun kamu sibuk merawat Ayahmu tapi setidaknya beri kabar pada ketua kelas atau teman terdekat, agar Bu Mela tahu ke mana perginya kamu."
"Ini semua salah saya, Pak Evan. Sebagai orang tua seharusnya lebih mementingkan pendidikan Alice," ujar Ayah Calvin.
Pria itu menangkup tangan ke dada lalu berkata, "saya mohon, Pak. Tolong jangan cabut beasiswa Alice. Gadis ini tidak bersalah. Kalau mau, Bapak bisa potong gaji saya bulan depan asalkan berikan kesempatan untuk Alice sekolah lagi."
"Pak Calvin tenang saja, saya tidak akan mencabut beasiswa Alice. Asalkan putri Bapak memberi kabar pada wali kelas."
"Baik, Pak. Nanti saya akan menghubungi Bu Mela."
Kemudian gadis kecil itu bangkit, mengambil ponselnya di dalam tas. Lalu menghubungi Bu Mela.
***
Empat hari yang sangat membosankan berada di rumah sakit dengan kondisi punggung tangan tertusuk jarum infus membuat Ayah Calvin mengeluh. Dia terbiasa beraktivitas di luar ruangan, memasak berbagai aneka jenis makanan untuk disajikan kepada pelanggan. Namun kini, pria itu harus terbaring di atas ranjang membuat seluruh tubuhnya kaku-kaku.
"Tuan Calvin, apa yang Anda rasakan saat ini?" tanya Dokter saat melakukan visit pada pasien di bangsal Teratai.
"Sudah lebih membaik, Dokter. Saya sudah mulai bosan berada di sini. Kira-kira, kapan operasi itu dilakukan?" tanya Ayah Calvin.
"Operasi Anda dijadwalkan besok lusa. Hari ini kita akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi tubuh, Tuan." Dokter yang bertanggung jawab terhadap Ayah Calvin meletakan stetoskop di atas dada.
"Kondisi fisik Anda dalam keadaan sehat. Jika hasil tes darah dan rontgen tidak ada masalah, sudah bisa dipastikan besok lusa Tuan bisa melakukan operasi cangkok ginjal."
Terlihat rona kebahagiaan di wajah Ayah Calvin dan Alice. Akhirnya penantian mereka selama beberapa hari berbuah manis. Besok lusa harapan untuk memiliki ginjal sehat akan terkabulkan.
Bersambung
.
.
.