
Happy reading
Malam ini Airon duduk di ayunan taman belakang rumah, ia baru saja selesai mengerjakan tugas yang diberikan Pak Burhan. Mami dan Papinya sedang menghadiri undangan perayaan pernikahan rekan bisnis di Bandung sehingga Airon hanya tinggal bertiga bersama Darren dan Bi Diah di rumah.
Airon termangu dengan tangan menopang dagu, berdiam diri sudah merupakan kebiasaan anak muda itu ketika dirundung masalah. Ia tidak berani bercerita kepada siapa pun termasuk mama, papa dan sepupunya, Darren.
Ia sesekali menarik dan menghela napas berat membayangkan tatapan aneh dari semua murid SMA sungguh membuatnya tak nyaman, apalagi mereka dengan tega menyebar aib masa lalu hingga martabatnya sebagai seorang idola sekolah sirna hanya dalam hitungan jam.
"Cewek itu udah buat reputasi gue hancur dan kini semua murid tahu jadi illfeel!" ucapnya sambil menurunkan tangan dan menyenderkan kepala serta pundaknya ke belakang ayunan yang terbuat dari rotan sintesis.
Ia menatap langit, di atas sana, bintang berkelap-kelip sungguh indah untuk dipandang.
"Ron, loe sedang apa?" tanya Darren, ia masih mengenakan baju basket.
Setiap Rabu dan Jum'at malam, Darren akan pergi latihan di sekolah bersama seniornya dan beberapa murid sekolah, mereka berlatih dari pukul enam sore hingga setengah delapan malam. Biasanya Airon ikut latihan bersama Darren namun karena jadwal perlombaan tinggal hitungan hari, maka ia diminta fokus dalam mempersiapkan mental serta materi untuk lomba nanti.
"Loe baru pulang! Gue lagi duduk aja, gimana tadi di lapangan?"
"Lancar. Loe ada salam dari Kakak senior!" ucap Darren seraya duduk di bangku taman di samping ayunan.
"Muka loe kusut banget, ada apa?"
"Nggak ada apa-apa," elak Airon.
"Soal aib loe?" tanya Darren penuh selidik.
"Bukan!"
"Terus?"
"Alah, udah sana mending loe mandi dan makan. Bi Diah udah nyiapin makanan!" Airon menarik Darren agar beranjak dari bangku.
"Kalo ada apa-apa, cerita aja nggak usah ditutup-tutupi!" ucap Darren sebelum meninggalkan Airon.
Kini Airon terpaku di tempatnya seorang diri menatap kepergian Darren.
***
Hari yang dinantikan pun tiba, dua tim perwakilan sekolah sudah bersiap. Airon dan teman-teman menunggu mini bus sekolah mengantarkan mereka ke sebuah hotel yang rencananya akan menjadi tempat diselenggarakan lomba cerdas cermat.
Tepat pukul delapan pagi, mini bus sekolah datang dan mereka masuk ke dalam dengan tertib.
"Ron, persiapan untuk lomba nanti udah beres kan!" tanya Joko sambil meletakan tas ransel miliknya di kursi yang kosong di belakang.
"Udah," ujar Airon singkat.
"Sip deh, kalau gitu gue dan Desi bisa tenang karena ada loe yang bisa diandalkan."
"Bener, gue yakin kali ini tim kita akan jadi juara," timpal Desi sambil mengepalkan tangan ke dada.
"Jangan terlalu banyak bermimpi, kalau jatuh sakitnya sampai ke ubun-ubun," celetuk Leona disertai tawa mengejek Samuel yang tak lain merupakan kekasih gadis kecil itu.
"Maksud loe apa? Nyindir tim gue!" tanya Desi sambil berkacak pinggang.
"Wo-wo-wo, take easy girl! Kita cuma ngingetin aja, jangan terlalu banyak bermimpi. Lihat realita yag ada, murid pintar di sekolah bukan cuma ketua tim loe tapi ketua tim kita nggak kalah pintar dari Airon."
"Betul tuh. So, jadi orang nggak boleh terlalu sombong, kalau kalah malunya sampai ke anak cucu."
Desi semakin dibuat marah oleh tingkah Leona dan Samuel. Wajah gadis itu sudah memerah, tangannya mengepal di samping dan rahangnya menonjol. Ia sudah bersiap melawan namun suara dari arah kursi depan di samping pak supir menghentikan niatannya.
"Simpan energi klian untuk menghadapi lomba besok. Boleh saling bersaing tapi ingat kedua tim ini sama-sama mewakili sekolah jadi jangan sampai saling menyakiti," ujar Pak Burhan mengingatkan anak muridnya.
"Pak Burhan, apakah kita udah boleh berangkat?" tanya supir mini bus bernama Pak Asep.
"Tunggu sebentar lagi, masih ada satu orang murid saya belum tiba. Mungkin sekitar lima menit lagi dia sampai sini."
"Baik, Pak."
"Ketua tim macam apa, tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk anggota tim," gerutu Desi sambil melipat tangan ke dada.
"Udah, nggak boleh diperpanjang lagi ketahuan Pak burhan bisa kena tegur."
Tak mau semakin larut dalam emosi, Desi mengambil earphone di dalam tas ransel. Ia menyalakan musik dengan volume maksimal hingga terdengar oleh Joko yang duduk di sampingnya.
"Apa? Gue sedang emosi jadi jangan ganggu!" ucap gadis kecil itu sambil mendelik ke arah samping.
Joko hanya memutar bola mata, "cewek kalau sedang datang bulan seperti banteng yang siap menyeruduk sang matador," gumamnya.
Tak berselang lama, Zacky tiba diantar oleh sang Papa menggunakan mobil. Ia langsung berlari mnghampiri mini bus berwarna silver yang terparkir di halaman parkir sekolah.
"Maafin saya, Pak datang terlambat," ujar Zacky. Ia berdiri di hadapan Pak Burhan.
"Lain kali saya tidak akan memaafkan murid tidak disiplin sepertimu. Beruntung hari ini kita berangkat ke lokasi, jika tidak sudah saya suruh kamu keliling lapangan basket sebanyak lima kali putaran."
"Cepat naik, semua teman-temanmu sudah menunggu di dalam."
Pria paruh baya itu langsung bergegas naik ke dalam mobil. Ia mengambil posisi duduk di samping Pak Asep yang bertugas menjadi supir, mengantarkan mereka menuju hotel.
"Zack, loe kenapa telat sih!" tanya Samuel ketika melihat sahabat sekaligus ketua tim lomba duduk di kursi penumpang.
"Iya, tadi ban mobil bokap gue pecah. Mau nggak mau mesti ke bengkel dan nunggu lama sekali."
"Untung aja jarak antara mobil gue dengan bengkel nggak terlalu jauh jadi bokap bisa jalan kaki."
"Ini minum dulu, loe pasti capek kan dari tadi ngoceh mulu mirip burung beo!" Leona memberikan satu botol air mineral yang diberikan Pak Burhan untuk anak muridnya.
"Thanks, Na, loe emang pengertian," tangan kanan Zacky terulur ke atas menerima botol air mineral berukuran 300 ml.
"Pastinya dong. Cewek gue emang perhatian, nggak sombong, cantik, pintar masak, pokoknya banyak nilai plus plus untuk dia," goda Samuel sambil mencolek dagu kekasihnya.
"Ya-ya-ya. Terserah loe aja deh, gue cuma jadi penonton dan sering jadi obat nyamuk," ucap Zacky sinis.
Murid laki-laki itu membuka seal pengaman botol air mineral kemudian meneguknya.
"Loe kelamaan jomblo sih jadi nggak bisa ngerasain gimana rasanya dimanjakan oleh pacar."
"Gue nggak punya waktu untuk pacaran, lebih baik pergi ke perpustakaan dan mengerjakan PR yang diberikan oleh guru."
"Cih, sombong banget sih! Loe tuh harus banyak menikmati masa SMA karena ketika kita udah lulus sekolah, semua kesempatan nggak akan datang untuk kedua kalinya."
"Gue, nggak peduli!" ujar Zacky sambil merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Bersambung
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak cinta untuk author ya Kak. Terima kasih. 😊