Alice's Love Story

Alice's Love Story
Ke mana Alice?



Happy reading🍃


Cahaya matahari perlahan-lahan naik ke atas cakrawala, memperlihatkan pesonanya ke semua insan di bumi, memberikan kebahagiaan dan kehangatan bagi semua manusia.


Akan tetapi, tidak dengan Airon, dia masih bermalas-malasan di dalam kamar. Bahkan anak muda itu sudah lima belas menit bergelung di bawah selimut, menatap langit-langit kamar dengan pikiran menerawang jauh ke atas awan.


"Airon, bangun, Nak!" teriak Joan dari lantai satu.


Terdengar suara teriakan keras bagaikan gemuruh dari lantai satu. Seorang wanita setengah baya sedang menyiapkan sarapan untuk anak, suami dan keponakannya.


"Anak ini, sejak lima belas menit lalu belum juga menampakan batang hidungnya, padahal aku sudah berteriak kencang!" keluh Joan seraya mencuci buah-buahan lalu meletakannya di sebuah keranjang bertingkat yang terbuat dari stainless steel.


"Mungkin Tuan Muda sedang kurang enak badan, Nyonya. Sejak kemarin, saya perhatikan wajahnya murung dan napsu makan juga berkurang," ujar Bi Diah.


Joan menghela napas secara kasar, "anak itu murung akibat gagal mewakili sekolah dalam perlombaan cerdas cermat, Bi. Kamu tahu sendiri, menurutnya kegagalan itu merupakan sebuah aib bagi Airon."


"Iya, Nyonya, Tuan Muda kan tidak menyukai kegagalan."


"Nah, itu Bibi tahu. Jika memiliki sifat perfeksionis seperti Airon. Segala sesuatu harus sempurna, padahal di dunia ini tidak ada yang sempurna."


Sementara itu, Airon sedang bersiap di kamarnya. Setelah mendengar suara sang Mami, anak muda itu bergegas masuk ke kamar mandi lalu membersihkan diri di bawah shower.


Tiga puluh menit kemudian, Airon keluar dari kamar mandi lalu bersiap dengan seragam putih abu, yang merupakan seragam wajib bagi murid sekolah tingkah akhir.


"Airon, lekas sarapan. Kami menunggumu, Nak!"


"Jika kamu tidak lekas turun, bisa terlambat sampai sekolah."


Anak muda itu langsung menyambar tas yang tergeletak di atas meja belajar. Dia tidak ingin suara teriakan Mamanya menggema lagi di rumah itu.


"Mami nggak perlu teriak lagi, telingaku masih berfungsi dengan baik," seru Airon dari atas anak tangga.


"Kalau Mami nggak berteriak, kamu nggak akan turun dan sarapan bersama kami."


"Sudahlah, Mi, yang penting Ai udah turun. Ayo lekas sarapan!"


Selepas sarapan, Airon dan Darren berpamitan.


"Aku jalan dulu, Mi," ujar Airon sambil menyalakan kendaraan roda duanya.


Selang beberapa menit kemudian, dua anak muda itu sampai di sekolah. Mereka memarkirkan kendaraannya di parkiran khusus murid sekolah SMA Merah Putih.


Darren menghela napas panjang, "untung saja tidak telat." Anak muda itu mengusap dadanya.


"Loe tumben bangun telat, ada masalah apa?" tanya Darren.


"Gue cuma malas sekolah. Ingin bolos tapi kalo ketahuan Nyokap atau Bokap bisa diceramahi habis-habisan."


"Pasti loe masih belum bisa move on kan dari perlombaan lalu? Ron, segala sesuatu di dunia ini nggak bisa terus menerus sesuai keinginan kita. Ada kalanya berhasil dan gagal, sebab kita itu hanya manusia biasa nggak luput dari salah, khilaf dan dosa."


Airon hanya memutar bola matanya dengan malas, sambil menghela napas panjang, lalu berkata, "pagi-pagi jangan ceramah, telinga gue panas!" ucapnya sinis. Kemudian dia mempercepat langkah menuju ruang kelasnya.


Bel sekolah pun berbunyi, semua murid SMA Merah Putih bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing, menunggu guru mata pelajaran untuk memulai kegiatan belajar mengajar.


***


Di kantin sekolah


"Woi, Va, tumben loe sendirian!" seru Ikbal salah satu murid kenalan Elva di kelas 1D.


"Biasanya loe bareng Alice, ke mana sahabat loe itu?" tanyanya lagi.


"Loe udah coba telepon ke ponselnya?"


"Udah tapi nggak di jawab. Gue khawatir dia sakit akibat kejadian kemarin."


Murid laki-laki itu memincingkan mata, dia duduk di kursi tepat di samping Elva. "Loe cerita ke gue, ada masalah apa?" tanya Ikbal penasaran.


Merasa mulutnya telah mengatakan kalimat yang seharusnya tidak diucapkan, dia menggerakan bola matanya ke kanan dan ke kiri sambil berkata, "kepo loe. Ini urusan kaum Hawa dan kaum Adam dilarang ikut campur!" Elva menggeser kursinya menjauhi Ikbal.


Di saat Elva dan Ikbal terlibat perbincangan, dari jarak tidak begitu jauh, Airon mendengar obrolan mereka.


"Gadis itu nggak masuk sekolah? Mengapa kebetulan sekali, apakah dia marah karena kemarin gue membentaknya?" tanya Airon dalam hati.


Alah, ngapain gue mikirin gadis itu. Dia mau bolos sekolah, sakit atau bahkan berhenti sekolah, gue nggak peduli!


Jarum jam terus berputar, matahari kembali menampakan pesonanya. Tak terasa kini sudah hampir tiga hari Alice tidak masuk sekolah, bahkan wali kelas pun bertanya-tanya mengapa gadis kecil pemilik mata sipit itu absen selama tiga hari.


Hari ini jadwal Bu Mela mengajar di kelas 1B. Dia melihat absensi dan melihat selama tiga berturut-turut Alice tidak masuk sekolah. Wanita berusia kepala tiga itu mengerutkan dahi seraya merapikan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Elva, bisa kamu tolong maju ke depan. Ada hal yang ingin saya tanyakan?"


Merasa namanya dipanggil, Elva segera bergegas maju lalu berdiri di depan meja guru terletak di sudut ruangan.


"Va, kamu tahu ke mana Alice selama tiga hari ini?" tanya Bu Meta.


Elva menggeleng, seraya berkata, "tidak Bu. Sudah saya telepon tapi tidak diangkat. Pesan pun tidak dibalas."


Wanita itu terdiam, mencoba menerka-nerka masalah yang sedang melanda anak muridnya.


"Terakhir kali bertemu, dia mencerikan sesuatu padamu?" wanita itu memajukan tubuhnya ke depan.


"Ehm... Itu..." gadis remaja itu memelintir ujung seragam putihnya.


"Katakan, apa yang kamu ketahui?"


"Bu, terakhir kali kami bersama, Alice menangis karena dia merasa bersalah pada seseorang. Keesokan harinya sudah tidak masuk sekolah."


"Seseorang... Siapa?"


"Maaf, Bu, saya sudah janji pada Alice untuk merahasiakan ini dari orang lain." Gadis itu menundukan kepala.


"Baiklah, Ibu menghargai keputusanmu. Setelah pulang sekolah, kamu temani Ibu ke rumahnya."


"Baik, Bu."


Tak berselang lama, Bu Meta memulai kegiatan belajar mengajar.


"Kalian buka buku paket halaman tiga puluh. Di baca dalam hati, setelah itu baru tanyakan kepada Ibu jika ada hal yang belum dimengerti. Ibu beri waktu lima belas menit." Kemudian wanita itu meraba isi tas lalu mengeluarkan tumpukan kertas putih berupa lembar soal ulangan dan jawaban murid kelas satu.


Jemarinya sibuk mencoret, lalu memberikan nilai di sudut atas sebelah kanan.


"Anak zaman sekarang, semua jawaban tersedia di buku paket tetapi mengapa masih malas belajar. Bagaimana mau membangun negeri ini jika hal mudah begini saja enggan dikerjakan," ucapnya lirih.


Bersambung


.


.


.