Alice's Love Story

Alice's Love Story
Tinggal Bersama



"Bukan soal uang, melainkan Alice."


Semua orang dalam ruangan termangu, begitu juga dengan Alice. Gadis itu membelakan mata dengan mulut sedikit terbuka.


"K-kenapa dengan Ice, Yah?" tanya gadis itu tergagap.


"Apa kamu lupa, kemarin Pak Evan datang ke sini dan Ayah merasa bersalah karena selama dirawat di sini, kamu harus bolos sekolah demi merawatku."


"Kita tahu, pendidikan Ayah hanya tamatan SMA saja dan kini bekerja di sebuah restoran yang dulu pernah dibangun oleh keringatku sendiri. Namun karena sebuah alasan, membuatku menjualnya dan untung saja Pak Evan bersedia memperkerjakanku dan mengratiskan sebagian biaya sekolah," ujar Ayah Calvin. "Hanya kamu, satu-satunya harapan Ayah."


Detik berikutnya, Alice sudah berada dalam pelukan Ayah Calvin. Dia memeluk tubuh pria setengah baya itu dengan erat, seakan enggan melepaskannya.


"Ice nggak masalah kalau harus merawat Ayah selamanya. Jika memang mau dikeluarkan dari sekolah, nggak apa-apa. Selama bisa merawat dan menjaga Ayah selamanya, aku ikhlas," ucap Alice di sela isak tangis.


"Namun Ayah tidak ikhlas, bila kamu tidak sampai lulus SMA. Setidaknya, salah satu dari kita ada yang bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi. Bukan untuk masa depanku melainkan demi kebaikanmu, Nak." Ayah Calvin mengusap punggung putrinya dengan lembut.


Joan dan Tuan Daniel terharu menyaksikan pemandangan di hadapan mereka. Kedekatan antara ayah dan anak, hubungan cinta yang terjalin diantara keduanya membuat wanita berparas cantik itu berinisiatif memberikan pertolongan pada sahabat, suaminya.


"Calvin, kalau itu masalahnya, aku bersedia menampung Alice di rumahku. Kebetulan di sana masih ada kamar kosong yang bisa ditempati oleh putrimu. Selain itu, ada Airon dan Darren. Anak-anak kita bisa menjalin persahabatan seperti kamu dan suamiku," tutur Joan lembut.


Tuan Daniel tersenyum. "Itu benar, putrimu bisa tinggal di rumahku. Kami sudah menganggap Alice seperti anak sendiri. Jadi, kamu tidak perlu cemas."


"Terima kasih banyak, Joan, Daniel. Maaf sudah merepotkan kalian. Aku janji, setelah keluar dari rumah sakit, akan segera menjemput Alice kembali."


Tuan Daniel tertawa. Dia duduk di tepi ranjang rumah sakit, menyentuh pundak sahabatnya. "Tidak usah terburu-buru. Yang penting saat ini adalah kesehatanmu."


Hari sudah menjelang siang. Sinar matahari tepat berada di atas cakrawala. Udara panas di luar seolah-olah tidak mengusik kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh Ayah Calvin dan Tuan Daniel. Sedari tadi mereka terlibat perbincangan hangat. Sesekali terdengar tawa dan canda menggema memenuhi ruang rawat inap.


Tepat pukul satu siang, seorang perawat mengantarkan makanan untuk Ayah Calvin. Joan dan Tuan Daniel duduk di sofa menunggu Alice.


Tak berselang lama, Alice keluar kamar mandi. Dia baru selesai mandi dan berganti pakaian. Kemudian merapikan pakaian lalu memasukannya ke dalam tas gendong.


"Vin, aku pamit dulu. Kamu beristirahatlah dengan nyaman," ujar Tuan Daniel.


"Kamu tenang saja, selama tinggal di rumahku, Alice akan aman," ucap Joan seraya tersenyum. "Aku akan merawat putrimu seperti merawat anakku sendiri."


"Terima kasih karena kalian bersedia menolongku."


Alice menarik napas dalam-dalam, lalu dia mendekat dan memeluk tubuh Ayahnya.


"Ayah, apakah nggak masalah kalo Ice tinggal sendirian?" tanyanya.


"Tidak apa-apa. Akan ada perawat yang membantu Ayah di sini. Kamu harus rajin sekolah. Mengerti?" Pria itu mengusap rambut putrinya.


***


Sepanjang perjalanan, Alice terdiam sambil menatap pemandangan dari luar jendela. Sesekali menyusut air mata yang terlanjur jatuh membasahi pipi.


"Alice, kamu masih bisa bertemu Ayahmu setelah pulang sekolah, Sayang," ucap Joan dari kursi depan. Bola matanya melirik ke arah spion yang ada di depan.


"Iya, Tante."


Gadis kecil itu menggelengkan kepala. Dia masih menatap ke luar jendela. "Nggak perlu, Ice cuma mau istirahat. Apakah Ice boleh tidur?" tanyanya sungkan.


"Tentu saja boleh. Tante akan membangunkanmu kalau sudah sampai rumah. Tidurlah, Sayang."


Alice menyenderkan punggung di sandaran mobil. Perlahan-lahan memejamkan mata, menghirup napas panjang dan mencoba menenangkan pikiran. Sedetik kemudian, dia sudah tertidur di dalam mobil mewah milik Tuan Daniel.


Empat puluh menit berlalu, kini mobil berwarna putih itu sudah terparkir di halaman rumah keluarga Tan.


"Alice, bangun, Nak. Kita sudah sampai," ucap Joan lirih. Wanita itu sebisa mungkin mengecilkan volume suara agar tidak mengagetkan gadis kecil yang tengah tertidur pulas di kursi belakang.


Gadis itu mengerjapkan mata, duduk dengan posisi tegap dan mengumpulkan kembali nyawa yang beberapa saat lalu meninggalkan jasadnya.


Setelah nyawanya terkumpul semua, dia turun dari mobil dibantu Joan. Tuan Daniel menarik koper milik gadis kecil itu.


"Bi, mulai hari ini Alice akan tinggal bersama kita. Jadi, tolong siapkan semua kebutuhannya selama di sini," titah Joan pada Bi Diah.


Wanita paruh baya itu menganguk dan membungkuk hormat. Lalu dia mulai menjalankan perintah seusai instruksi majikannya.


"Alice, kamu duduk dulu di sini. Sembari menunggu Bi Diah membersihkan kamar, Tante akan membuatkan makanan untukmu."


"Papi akan meletakan koper ini di kamarmu. Kamu duduk saja. Anggap rumah sendiri," ucap Tuan Daniel sebelum meninggalkan Alice.


Kini, gadis kecil pemilik paras layaknya Boneka Berbie menghempaskan tubuh ke sofa. Dia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Menatap bingkai foto berukuran besar terpasang di dinding.


Lagi-lagi Alice menangis tatkala mengingat kejadian beberapa hari lalu, saat dia berencana meminta maaf pada Airon, tapi pria muda itu malah mengusir dan membentaknya. Dia menyentuh dada yang terasa sesak. Memandangi foto Airon, membuatnya teringat kembali pada peristiwa itu.


"Nona, kamarnya sudah saya siapkan. Anda bisa beristirahat sekarang," ucapan Bi Diah menyadarkannya kembali dari lamunan panjang.


"Ehm, itu..."


"Kamu boleh istrirahat, Alice. Akan membutuhkan waktu cukup lama hingga makanan ini matang," seru Joan dari dalam dapur. Wanita itu masih sibuk dengan peralatan masak.


"Bi, tolong kamu antarkan Alice ke kamar. Setelah itu, buatkan minuman dan bawa ke kamar."


Dengan perasaan campur aduk, Alice menaiki anak tangga satu per satu. Saat tiba di puncak anak tangga, dia berbelok ke kiri terus melangkah hingga tiba di kamar paling ujung. Bi Diah berhenti tepat di depan pintu.


"Ini kamar Anda, Nona. Kamar mandi letaknya di sana." Bi Diah menunjuk sebuah pintu warna putih, di bagian depannya terpasang wallsticker gambar pohon kaktus.


"Terima kasih." Alice mematung. Pandangan matanya terarah pada salah satu daun pintu tepat di sebelah kiri kamarnya.


"Itu kamar, Tuan Airon tapi saat ini sedang tidak ada di rumah. Dia ikut bertamasya bersama orang tua Tuan Darren," jawab Bi Diah. Seolah-olah dia bisa membaca pikiran gadis kecil itu.


Bersambung


.


.


.