
Setelah dirawat hampir satu minggu di rumah sakit, Ayah Calvin diperbolehkan pulang ke rumah oleh Dokter Putra. Kini pria separuh baya itu sedang bersiap dibantu oleh Alice dan Elva.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Pintu ruangan terbuka, Ayah Calvin, Alice dan Elva menoleh bersamaan. Seorang pria tua berkacamata, berpakaian kemeja biru navy dilapisi jas putih dan stetoskop menggantung di lehernya tersenyum ke arah mereka.
"Selamat pagi, Tuan Calvin," sapa Dokter Putra.
"Selamat pagi, Dokter," ujar mereka bertiga hampir bersamaan.
"Bagaimana, apakah Anda sudah siap keluar dari rumah sakit?" tanya pria tua itu basa basi.
Seperti biasa, setiap pagi akan ada Dokter dan perawat yang bertugas melakukan visite atau kunjungan ke pasien rawat inap bersama tim dokter atau tenaga medis lainnya.
Meskipun hari ini Ayah Calvin sudah diperbolehkan pulang ke rumah, tapi pihak rumah sakit tetap akan melakukan pemeriksaan untuk terakhir kalinya.
"Tentu saja Dokter. Bahkan, sejak semalam, Ayah udah nggak sabar ingin segera pulang ke rumah. Banyak yang ingin dikerjakan ketika sembuh nanti."
Dokter Putra terkekeh. Pria itu segera memasang stetoskop lalu mulai memeriksa keadaan Ayah Calvin.
"Meskipun Anda sudah diperbolehkan pulang ke rumah, tapi harus tetap mematuhi larangan yang saya berikan kemarin. Jangan lupa, tiga hari kedepan harus check up ke rumah sakit untuk memeriksa luka bekas operasi."
"Dokter tidak perlu cemas, aku pasti akan memperhatikan kesehatan Ayah," ucap Alice yakin, tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Baiklah, jika kamu yang turun tangan memperhatikan kesehatan Ayahmu, saya percaya," ujar Dokter Putra sebelum mengucapkan salam perpisahan pada Ayah Calvin.
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Alice menunggu taxi di lobi rumah sakit. Tiga puluh menit berlalu dan kini mereka tiba di depan rumah, Alice segera membantu Ayahnya turun dari mobil. Sementara supir taxi menurunkan koper dari dalam bagasi.
"Terima kasih, Pak," ucap Alice setelah gadis kecil itu turun dari mobil. Dia mengeluarkan uang lembaran lima puluh ribu rupiah dari dalam dompet, lalu memberikannya pada supir taxi.
Perlahan, Alice, Ayah Calvin dan Elva melangkah maju ke dalam pekarangan rumah kediaman Wijaya. Detik berikutnya mereka sudah berdiri di depan pintu kayu berwarna putih, setinggi dua meter. Jemari lentik gadis kecil itu terulur, memutar benda logam berwarna gold lalu membuka gagang pintu.
"Selamat datang di rumah, Ayah." Gadis kecil itu tersenyum manis, memperlihatkan deretan gigi putih menghiasi wajahnya.
Ayah Calvin mengedarkan pandangan ke sekitar, memperhatikan setiap perabotan, yang ada di dalam rumah. Bersih dan rapi, itulah yang ada dalam pikiran pria berusia sekitar empat puluh satu tahun.
"Ice yang membersihkan rumah ini, Ayah," jawab Alice. Gadis itu seakan mengerti isi kepala ayah tercinta.
Ayah Calvin mengerutkan kening hingga terlihat garis halus di sana. Kemudian memandangi wajah Alice dengan tatapan yang sulit diartikan. Banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan olehnya, tetapi karena kondisi fisik masih lemah akibat operasi cangkok ginjal, membuat pria setengah baya itu enggan memperpanjang urusan dengan putri tercinta.
"Ayo, aku bantu Ayah ke kamar!"
Alice membantu Ayahnya menaiki anak tangga dengan sangat hati-hati. Ketika tiba di dalam kamar, gadis itu membaringkan tubuh sang Ayah di atas ranjang.
"Sebaiknya Ayah istirahat. Aku akan menyiapkan makan siang untukmu." Gadis kecil itu menarik selimut hingga ke dada.
"Memangnya kamu bisa masak?" tanya Ayah Calvin penuh ragu.
Ayah Calvin menatap wajah putrinya. Tangan pria itu terulur, kemudian mengusap lembut rambut hitam legam milik Alice.
"Putri Ayah sudah semakin dewasa dan pandai menenangkan hati orang lain." Tangan pria itu masih mengusap lembut rambut Alice.
"Tentu saja! Aku harus tumbuh menjadi gadis dewasa agar bisa merawat Ayah."
Gadis kecil itu bangkit. Memberikan kecupan di kening ayahnya. "Tidurlah, aku akan mengantarkan makanan sekaligus membawakan obat untuk Ayah," ujar Alice sebelum meninggalkan kamar.
"Sayang, lihatlah, kini Alice tumbuh menjadi gadis cantik dan baik hati. Aku tak menyangka dia akan bersikap dewasa diusianya yang baru mau menginjak enam belas tahun. Dulu kupikir dia akan tetap bersikap manja dan kekanak-kanakan. Namun dengan sikapnya tadi, menunjukan bahwa putri kita telah tumbuh menjadi gadis dewasa bahkan bisa merawatku dengan baik. Sama seperti dulu kamu merawat kami dengan sepenuh cinta," batin Ayah Calvin.
Elva berdiri di ambang pintu, memperhatikan sahabatnya yang tengah bingung dengan peralatan masak yang ada di dapur. Tangan kanan Alice memegang spatula dan tangan kirinya memegang buku resep milik sang Ayah.
"Apa yang sedang loe lakukan dengan spatula dan buku resep itu?" tanya Elva seraya melipat tangan ke dada. Gadis itu berjalan perlahan masuk ke dalam dapur.
"Astaga Elva, loe ngagetin gue aja!" ucap Alice setengah berteriak.
"Gue berdiri di ambang pintu sejak tiga menit yang lalu, memperhatikan loe dengan tangan memegang spatula dan buku resep milik Om Calvin."
Alice mendesah. "Kenapa loe diam aja, bukannya bantuin malah asyik ngelihat gue berdiri seperti orang bego dengan kedua benda ini!" Gadis itu mengangkat spatula dan buku resep secara bergantian.
Elva memutar bola mata malas. Diraihnya sendok pengaduk makanan dengan gagang yang panjang itu ke dalam genggaman. "Rencananya loe mau masak apa untuk Om Calvin? Sini, gue bantuin."
"Kita masak makanan yang mudah diolah aja. Gue khawatir, loe akan ngehancurin dapur ini jika memaksakan diri ngolah makanan yang lezat untuk Ayah," goda Alice seraya meletakan buku resep milik ayahnya di laci.
Elva mengerucutkan bibir, tentu saja dia tahu kemampuan masak yang dimiliki olehnya tidak sebanding dengan kemahiran Ayah Calvin. Namun dia berharap agar sahabatnya itu tidak secara terang-terangan meragukan kemampuanya.
"Setidaknya gue masih lebih pintar ketimbang loe, Ice!" dengus Elva.
Tanpa menunggu sahabatnya membuka mulut, Elva membuka lemari es mencari bahan makanan yang tersedia di sana. Dia mengeluarkan wortel, jagung putren, daging bakso, dan tahu mentah dari lemari es, lalu meletakan semua di atas meja.
"Ice, loe bantuin gue bersihi wortel dan jagung putren ini. Kita akan masak capcay dan tahu goreng."
Alice menganggukan kepala, kemudian dia menuruti perintah sahabatnya. Gadis itu mulai membersihkan wortel dan mengupas kulit jagung hingga tak bersisa. Setelah semua bahan siap, dia memasukan ke dalam wadah berukuran sedang, lalu mencucinya di bawah air mengalir.
Bersambung
.
.
.