Alice's Love Story

Alice's Love Story
Rantang Cinta Untuk Keluarga Tan



Beberapa hari kemudian, kondisi tubuh Ayah Calvin sudah mulai membaik. Luka bekas operasinya pun sudah mengering dan pria setengah baya itu sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa.


Selama menjalani proses penyembuhan, Alice selalu setia menemani Ayahnya dan dia juga membantu pria setengah baya itu melakukan pekerjaan rumah.


"Ice..." seru Ayah Calvin dari dalam dapur. Pria berpakaian kaos oblong lengkap dengan celana santai selutut tengah sibuk bergulat dengan peralatan masak. Jemarinya begitu piawai menggerakan spatula, pisau dan alat masakan lain, seolah semua peralatan itu bekerjasama menciptakan sebuah mahakarya yang besar dengan harga jual cukup fantastik.


Merasa namanya dipanggil, gadis berkulit putih itu refleks menoleh ke sumber suara.


"Ada apa, Ayah?" tanya gadis itu, tangannya masih sibuk memasukan keripik singkong ke dalam mulut. Dia tengah menonton drama Korea di ponsel miliknya.


"Satu jam lagi kita akan pergi ke rumah Om Daniel. Jadi, tolong bantu Ayah ambilkan rantang di dalam lemari itu."


Dengan malas gadis kecil itu beranjak, lalu dia berjalan menuju lemari yang terletak di dekat dapur. Alice berjinjit seraya meraih lemari tersebut, mencari benda yang dimaksud Ayahnya.


"Ini, Ayah." Gadis kecil itu menyodorkan rantang tiga susun ke depan Ayah Calvin.


Kemudian Alice duduk kembali dan melanjutkan menonton drama Korea hingga jam dinding menunjukan pukul sepuluh pagi.


Setelah menyiapkan makanan untuk Tuan Daniel, Alice dan Ayah Calvin memesan taxi. Mereka berdiri di depan pagar rumah, menanti kedatangan supir taxi.


Tak berselang lama, mobil sedan dengan logo perusahaan taxi terkenal berhenti di depan rumah keluarga Wijaya. Perlahan, Ayah Calvin masuk ke dalam mobil. Disusul Alice yang duduk di kursi belakang sembari memangku rantang makanan khusus untuk Tuan Daniel.


"Tuan, kita sudah sampai," ujar supir taxi. Tangan pria itu menekan tombol argometer yang berada di atas dashboard mobil, lalu di layar tersebut terpampang jumlah rupiah yang harus dibayar.


Alice menatap layar argometer, segera mengeluarkan uang dari dalam dompet. Dia turun dari mobil, lalu menghampiri Ayah Calvin yang berdiri di depan pagar rumah keluarga Tan.


"Ayah yakin mereka ada di dalam rumah?" tanya Alice. Suasana rumah sepi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.


"Sangat yakin. Ini hari libur, jadi semua orang pasti ada di rumah. Jika ternyata mereka tidak ada di rumah, setidaknya kita pulang dengan tangan kosong."


"Baiklah, aku mengerti maksud Ayah," ucap Alice lirih.


Kemudian Bi Diah, asisten rumah tangga keluarga Tan membuka pintu pagar dan mempersilakan Alice serta Ayahnya masuk ke dalam rumah.


"Silakan masuk, Tuan dan Nona Alice," ucap wanita itu seraya membungkuk hormat di hadapan kedua tamu istimewa.


Di dalam rumah, seluruh keluarga Tan yang terdiri dari Daniel, Joan, Darren dan Airon tengah duduk santai di ruang keluarga. Mereka sedang bercengkrama seraya menikmati akhir pekan dengan menyantap brownies yang sengaja dibuat khusus untuk menemani hari libur bersama keluarga.


Joan tersenyum melihat putri sahabat suaminya berdiri di depan pintu. Dalam balutan jumpsuit, dipadu sepatu kets putih dan rambut di kuncir kuda memberikan kesan imut dan menggemaskan.


"Kalian datang!" ujar Joan. Wanita itu beringsut lalu duduk di samping suaminya.


"Maaf, jika kami mengganggu istirahat kalian." Ayah Calvin menggaruk rambutnya yang tak gatal. Sementara Alice berdiri seraya meremas jari.


"Duduklah!"


Kemudian Alice dan Ayah Calvin duduk di sofa. Bi Diah membawa nampan berisi teh hangat untuk kedua tamu istimewa.


"Selamat menikmati," ucap wanita itu.


Setelah meletakan gelas dan cemilan di atas meja, dia undur diri kembali ke dapur melanjutkan pekerjaan rumah tangga yang belum diselesaikan.


Alice tersenyum kaku. Namun gadis itu menuruti permintaan Joan. Dia duduk di ruang kosong di samping wanita itu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Tuan Daniel setelah dia duduk di sofa.


"Sudah mulai membaik. Alice merawatku dengan baik, layaknya seorang perawat profesional. Dia memperhatikan semua kebutuhanku."


Tuan Daniel dan istrinya terkekeh. "Kamu sangat beruntung memiliki putri sebaik dan pengertian seperti Alice." Joan mengusap lembut rambut gadis kecil itu. Tatapan mata wanita itu tak mau beralih dari sosok Alice. "Semoga kelak Alice menjadi bagian keluarga Tan."


Semua orang yang berkumpul di ruang keluarga menoleh bersamaan ke arah Joan. Namun wanita yang memakai dress tanpa lengan itu hanya tersenyum dengan sangat manis, tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Airon.


"Aku akan kembali ke kamar," ujar Airon. Laki-laki itu bangkit, lalu meninggalkan ruang tamu menuju lantai dua.


"Ngomong-ngomong, apakah ada hal mendesak memaksamu datang ke sini?"


"Kedatanganku ke sini ingin memberikan ini." Ayah Calvin menyodorkan rantang makanan tiga susun ke atas meja. "Terima kasih, karena kalian sudah bersedia memberikan tempat tinggal untuk Alice dan membantuku merawatnya selama berada di rumah sakit."


Joan terkekeh. Wanita itu meraih jemari Alice kepangkuan. "Aku merasa bahagia semenjak putrimu tinggal bersama kami. Rumah ini lebih berwarna dari sebelumnya. Meskipun hanya tiga hari, tetapi sangat berkesan bagiku," ucap Joan dengan mata berbinar.


Ayah Calvin mendongak dan menatap Joan dengan raut wajah penuh tanda tanya. Detik berikutnya dia beralih menatap Alice yang tengah menundukan wajah dalam. Pria itu menautkan kedua alis.


Ada apa ini sebenarnya? Bukankah aku di rawat di rumah sakit selama hampir sepuluh hari tapi mengapa Joan berkata Alice tinggal di sini hanya tiga hari!


Sementara itu, Airon baru saja masuk ke dalam kamar. Laki-laki muda bertubuh jangkung itu menghempaskan tubuh di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar tanpa berkedip sedikit pun.


Di saat pikiran Airon menerawang, tiba-tiba suara ketukan kamar membuyarkan lamunannya.


"Gue masuk ya!" Darren memutar gagang pintu dan langsung masuk ke dalam kamar. Dia duduk di kursi belajar yang ada di dalam ruangan.


"Kenapa gadis itu muncul lagi di kehidupan gue?" tanya Airon.


Darren menghela napas berat. Dia mengetuk-ngetukan tangan di atas meja. Laki-laki berwajah rupawan itu melirik sepupunya yang tengah terbaring di ranjang.


"Gue nggak tahu kenapa loe bisa membenci gadis itu. Namun sebaiknya, mulai detik ini jangan terlalu membenci Alice karena gue takut suatu saat rasa itu berubah menjadi cinta."


Airon bangkit dari tidur, lalu duduk di tepian ranjang. Dia mengangkat jari telunjuk ke arahnya.


"Gue, jatuh cinta pada gadis itu?" tanya Airon seraya menunjuk dirinya dengan jari telunjuk. "Nggak akan mungkin!"


Darren memutar bola matanya dan berlalu meninggalkan kamar. Namun sebelum pergi, dia berkata, "jangan sampai loe termakan oleh ucapan sendiri! Jika itu terjadi, maka gue orang pertama yang akan tertawa melihat loe menderita akibat panah asmara yang ditancapkan oleh Alice."


Bersambung


.


.


.