Alice's Love Story

Alice's Love Story
Mencintai Airon Selamanya



Happy reading 🤗


Keesokan harinya, Alice menyambut sang surya dengan penuh semangat. Sejak pulang dari rumah Tante Joan, bibir mungil gadis kecil itu tak henti menebarkan senyuman, kedua mata berbinar ceria, ia merasakan seluruh tubuhnya tumbuh bunga-bunga bermekaran menebarkan harum yang menggoda.


Hati Alice begitu bahagia karena bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama Airon, seorang murid laki-laki yang tengah menjadi incarannya di sekolah. Gadis kecil itu tak menyangka bahwa Tuhan begitu baik padanya hingga ia diberikan kesempatan untuk berdekatan dan memandangi wajah tampan Airon dari jarak dekat.


"Hari ini, gue bahagia banget karena semalam bisa berdekatan dengan Kak Airon. Tuhan, makasih udah ngabulin do'a Ice," ucap Alice seraya menangkup kedua tangan di depan dada.


"Gue unggul satu langkah dibanding murid perempuan lain di sekolah dan punya nilai plus di mata kedua orang tua Kak Airon, itu artinya peluang mendapatkan hati sang idola semakin terbuka lebar," gumam gadis itu.


Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan diri di sana "Bunda, pasti bahagia juga kan di sana! Ice akan semakin giat mengejar cinta Kak Airon, do'akan dari atas sana ya," Alice melirik ke arah foto sang bunda yang diletakan di atas nakas samping ranjang.


"Sebaiknya gue turun dan membantu Ayah menyiapkan sarapan."


Alice memasukan semua peralatan sekolah ke dalam tas dan berjalan menuruni anak tangga. Ia menghampiri ayahnya yang sedang sibuk menyiapkan menu sarapan.


"Ayah!" sapa Alice. Ia memberikan kecupan singkat di pipi kanan sang ayah.


"Kamu, udah bangun?"


"Udah dong, Ice kan anak rajin!" gadis itu menepuk dadanya dengan bangga.


"Semenjak masuk sekolah kamu semakin rajin, ada apa?" tanya Ayah Calvin curiga.


"Ada murid laki-laki mengejarmu?"


"Kelas berapa? Anak siapa?"


Ayah Calvin terus menghujani putrinya dengan bermacam-macam pertanyaan hingga membuat Alice kewalahan me jawab semua pertanyaan sang ayah.


"Ayah, hentikan! Ice harus ngejawab pertanyaan mana dulu?" Kini Alice mendudukan tubuhnya di kursi makan, menaruh tas ransel di sebelah kursi.


"Jawab semuanya, agar Ayah bisa tahu siapa pria yang sedang ngedekatin putriku."


"Nggak ada Ayah! Ice lapar, apa makanannya udah siap?"


"Baru aja matang. Ini, dimakan dulu." Ayah Calvin meletakan dua buah piring nasi goreng telur mata sapi lengkap beserta alat makan lain seperti sendok dan garpu.


Setelah sarapan, Alice mengayuh sepedanya menuju sekolah. Jarak antara rumah dan sekolah tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Ia memarkirkan sepeda di parkiran khusus murid SMA Merah Putih.


"Halo, Mang selamat pagi!" sapa Alice pada salah satu tukang parkir.


"Pagi juga Neng Ice, nggak diantar Ayah?"


"Nggak Mang, Ice lagi pingin pakai sepeda ke sekolah."


"Walah, malah sehat Neng sekalian olahraga," timpal tukang parkir.


"Ya udah Mang, Ice masuk dulu. Bye Mamang!" Alice melambaikan tangan dan berjalan setengah berlari memasuki kawasan sekolah.


Gadis kecil itu bersenandung menyanyikan sebuah lagu dari girlband Korea idolanya yaitu Blackpink. Ia menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Alice!"


Alice tersentak kaget dan menoleh kebelakang, ternyata yang menjailinya adalah Elva, teman sebangku gadis itu.


Elva hanya cengar cengir karena sukses mengerjai temannya.


"Loe bikin kaget aja! Untung jantung gue nggak copot!" Alice mengusap dadanya.


Elva terkekeh melihat ekspresi wajah temannya. Ia mencubit pipi Alice dan berlari meninggalkan gadis itu yang masih mematung di tempat.


"Aw! Elva, sialan loe!" teriak Alice setelah kesadarannya kembali. Ia mengejar Elva, melewati sekelompok kakak kelas yang duduk di kursi depan ruang kelas. Mereka sedang menunggu bel sekolah berbunyi.


"Dasar anak baru, nggak punya sopan santun!"


"Tuh murid baru bukannya nge fans ya ke Airon?"


"Idola kita nggak mungkin akan jatuh cinta ke cewek seperti itu, gue berani taruhan!" ucap salah satu murid perempuan berambut panjang.


Dari jarak sepuluh langkah, Alice mendengar jelas sindiran dan cacian untuk dirinya namun ia sengaja menutup mata dan telinga rapat-rapat. Gadis itu tahu resiko yang akan diterima jika ia nekad mengejar cinta Airon, pasti seluruh murid perempuan di SMA Merah Putih akan mencibir.


"Kalian pikir, gue akan nyerah!"


"Sorry ya, gue malah semakin bersemangat mengejar cinta Kak Airon!" ucap Alice sembari berlari ke depan menuju ruang kelas 1B.


"Elva, loe jahat! Pagi-pagi ngejailin gue!" dengus Alice kesal.


"Loe tuh baru gue ajak maraton lari sejauh lima puluh meter udah loyo, katanya mau masuk tim basket. Tan bersaudara pasti nyesel nerima loe masuk di tim mereka!" cibir Elva.


"Loe!" Alice mengangkat jari telunjuk ke arah Elva.


"Udah, nggak usah nunjuk gue pakai jemari lentik loe!"


"Mending duduk, sebentar lagi guru killer masuk. Loe mau disuruh keluar kelas dan jadi bahan candaan semua murid!"


Tanpa menunggu perintah kedua kali, Alice langsung duduk di bangku di samping Elva. Tak lama kemudian, bel sekolah berbunyi.


***


"Loe mau pesan apa?" tanya Elva saat mereka berada di kantin.


"Gue mau mie rebus campur telur dan bakso dua butir!"


"Mang, mie rebus dua mangkok pake telur dan bakso!" ucap Elva kepada pemilik warung.


"Siap Neng, ditunggu ya!" Kemudian pemilik warung segera membuatkan pesanan Elva dan Alice.


"El, kemarin gue berkunjung ke rumah sahabat lama bokap dan loe tahu nggak itu rumah siapa?"


Alice menarik pundak Elva dan berbisik "rumah orang tuanya Kak Airon!"


"What!" teriak Elva membuat beberapa murid menatap kesal ke arah mereka.


Alice menutup mulut Elva dengan tangannya.


"Sst! Jangan teriak!"


"Iya, sorry. Lanjut dong ceritanya."


"Tante Joan ngeceritain masa kecil gue, Kak Airon dan ada satu rahasia yang nggak boleh orang lain tahu."


"Apa?" tanya Elva penasaran.


"Loe janji jangan sampai orang lain tahu."


"Janji, gue nggak akan ingkar!" Elva mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.


"Kak Airon tuh ternyata sampai kelas satu SD masih ngompol!" bisik Alice.


Kedua mata Elva melebar dan alisnya tertaut.


"Jadi, idola sekolah kita tukang ngompol!" tanya Elva tak percaya.


Alice menganggukan kepala, sembari meneguk es kelapa muda yang ia pesan sebelumnya.


"Gue nggak nyangka, dia punya kebiasaan aneh," ucap Elva setengah berbisik.


"Gue juga!"


"Loe tetap cinta Kak Airon setelah dengar aib masa kecilnya?"


"Why not! Setiap manusia punya masa lalu, begitu pun dengan Kak Airon. Gue akan tetap mencintai dia selamanya."


Elva hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat ketulusan cinta Alice kepada Airon.


Mereka terlalu sibuk berbincang hingga tidak menyadari ada sepasang mata sedang menajamkan indera pendengarannya.


"Bagus, bisa gue jadiin bahan untuk menjatuhkan mental anak itu!"


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Kak. ❤