Alice's Love Story

Alice's Love Story
Aku Ingin Pulang ke Rumah



"Alice..."


Gadis itu menyusut air matanya yang sudah membasahi wajah. Dengan suara serak dia berkata, "halo Kak. Maaf, aku pikir nggak ada orang di lantai atas. Jadi, langsung naik aja."


"A-apa kamu baik-baik aja?" tanya Darren seraya melangkah ke depan. Laki-laki itu memperhatikan wajah gadis di depannya. Sebulir kristal tersisa di sudut mata Alice.


"Hu'um... Aku baik-baik saja." Seulas senyum manis terlukis di wajah cantik gadis itu.


"Ren," panggil Airon. Laki-laki itu terlonjak manakala melihat gadis yang baru saja dia hina, kini berdiri persis di depan kamarnya.


"Apakah gadis itu mendengar semua perkataanku?"


"Argh! Bagaimana jika iya?"


"Tunggu, bukankah itu bagus. Jadi... Dia bisa menyingkir dari hidupku selamanya," batin Airon.


"Aku ke kamar dulu!" Alice bergegas masuk ke dalam kamar tanpa menatap Airon sama sekali.


Terdengar suara dentuman pintu dibanting, membuat kedua laki-laki itu terkejut.


"Dia kenapa?" tanya Airon.


Darren hanya mengangkat bahu. "Manaku tahu!" ucapnya cuek, sembari berjalan ke arah kamar mandi.


Di dalam kamar, Alice merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk. Kemudian membenamkan wajah di bawah bantal. "Alice, loe bodoh banget sih! Udah jelas cowok itu nggak suka tapi kenapa masih loe kejar!" teriak gadis itu.


Akibat terlalu lelah, perlahan-lahan mata Alice terpajam. Detik berikutnya dia sudah berlayar ke alam mimpi.


***


Keesokan paginya, setelah membersihkan diri, Alice menuruni tangga menuju dapur. Hampir setiap hari gadis itu membantu Bi Diah dan Joan menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga.


Sebelum berangkat ke butik, Joan menyempatkan diri melayani suami dan mengurus putra semata wayang. Saat fajar menyingsing, wanita itu bergegas turun ke dapur, menyiapkan sarapan bagi seluruh anggota keluarga. Setelah tugasnya sebagai istri dan ibu selesai, dia akan membersihkan diri lalu melankahkan kaki menuju butik.


"Tante, hari ini libur sekolah, aku ingin membesuk Ayah di rumah sakit. Jadi, mungkin akan pulang malam." Alice sedang mencuci buah-buahan yang baru saja dikeluarkan dari dalam plastik warna putih.


"Kamu akan naik kendaraan apa? Mau diantar Airon atau Darren?" tanya Joan. Jemari lentik wanita itu begitu piawai mengolah masakan mentah menjadi hidangan yang begitu menggugah selera. Tangannya sibuk bermain dengan peralatan masak, sehingga menghasilkan aroma masakan lezat memenuhi seluruh ruangan.


"Aku akan naik busway, Tante. Kebetulan jarak dari selter dan rumah sakit hanya memakan waktu sepuluh menit."


Joan melangkah menghampiri Alice. "Jika naik busway, waktumu habis diperjalanan. Tante akan meminta Ai mengantarkanmu," ucap Joan yang menautkan kedua alisnya.


"Akan merepotkan bila Kak Ai atau Kak Darren mengantarku." Alice menolak dengan halus. Bukan tanpa alasan gadis itu menolak, dia tidak mau menimbulkan masalah baru dan meretakan hubungan keluarga yang terjalin baik di antara Airon dengan sepupu dan orang tuanya.


"Aku nggak ngerasa direpotkan," ujar seseorang dari ambang pintu.


Alice dan Joan menoleh ke sumber suara. Dari jarak dua meter, berdiri seorang laki-laki tampan berbalut kaos casual warna putih dengan rambut cepak disisir ke belakang ditambah senyuman manis memperlihatkan jejeran gigi putih menambah kesan rupawan.


"Darren," ucap Joan.


"Kak Darren," ucap Alice.


Laki-laki itu berjalan dengan gagah. Senyuman manis tersungging di bibir tipis Darren. Dia melangkah maju menghampiri Tante dan adik kelasnya. "Selamat pagi, wahai para makhluk ciptaan Tuhan yang paling cantik di seluruh dunia," sapa Darren.


Joan terkekeh, tangan wanita itu menepuk pundak Darren dengan lembut. "Rasanya tubuh Tante terbang ke udara setelah keponakan tersayang memujiku."


"Tapi kenyataan memang begitu, Tante dan Alice adalah wanita tercantik yang pernah Darren temui. Kecantikan kalian alami, meski tanpa riasan." Darren terus memuji.


"Kamu sudah mulai pandai menggoda lawan jenis. Berapa banyak gadis yang digoda olehmu?" tanya Joan seraya melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Hanya Tante dan juga Alice," jawab Darren lirih.


Seketika wajah Alice merah merona bak udang rebus. Meskipun bukan Airon yang memuji tapi tetap saja, sebagai gadis remaja yang baru beranjak puber dia akan tersentuh oleh pujian dari lawan jenis. Apalagi laki-laki itu memiliki paras tampan tak beda jauh dari Airon, idola sekolah.


"Aduh, Darren. Kamu mencoba merebut calon menantu Tante ya?" Joan berkacak pinggang dengan mengerucutkan bibir ke depan. Wanita itu memasang wajah masam.


Darren mengerutkan kening, terlihat garis halus di sana. "Calon menantu?" tanya laki-laki itu heran.


Belum sempat Joan menjawab, dari ruang makan terdengar suara Airon memangil sang Mami.


"Mi," ucap Airon. Laki-laki itu memasang wajah datar tanpa ekspresi, dengan tatapan mata tajam.


"Eh... Anak Mami sudah bangun. Duduk di sana, Nak. Sebentar lagi makanan siap."


"Kalian berdua, tunggu saja di meja makan," perintah Joan pada Alice dan Darren.


Di ruang makan, anak laki-laki berpakaian kaos warna biru langit dan celana jogger warna putih membalut tubuhnya sedang duduk menatap Alice dengan tatapan yang sulit diartikan.


Darren menarik kursi untuk Alice. Setelah memastikan gadis itu duduk manis, barulah dia duduk di kursi. "Aku akan mengantarmu. Usai sarapan, kami berangkat."


Alice tersenyum kaku. Sejujurnya, dia sedikit risih dengan perhatian yang diberikan Darren padanya, apalagi Airon juga mengarahkan padangan padanya, membuat gadis itu salah tingkah. "Tapi, Kak..."


"Nggak ada penolakan!" tegas Darren.


Alice menaikan kedua tangan ke atas, seraya berkata, "baiklah, aku menyerah. Kakak bisa mengantarku ke rumah sakit."


Kini Alice sudah berada di depan pintu rumah sakit. Usai sarapan dan merapikam kamar tidur, gadis itu bergegas ke rumah sakit diantar Darren menggunakan motor sport. Tidak lupa, dia mengenakan helm dan jaket sebagai alat pelindung diri.


"Terima kasih udah ngantarin aku, Kak," ucap Alice setelah turun dari motor. Dia berpegangan pada pundak Darren untuk menjaga keseimbangan diri agar tidak terjatuh.


"Sama-sama. Jika sudah mau pulang, telepon aku. Dalam waktu tiga puluh menit, akan sampai di depan pintu rumah sakit." Laki-laki itu tersenyum, lalu menyalakan mesin kendaraan dan melajukan motornya di jalanan Ibu Kota.


Alice berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Melangkah maju ke depan, lalu masuk ke dalam lift. Tak perlu memakan waktu lama, gadis itu sudah ada di depan pintu ruang rawat inap.


Gadis itu meraih gagang pintu dan membukanya. Di atas ranjang rumah sakit, Ayah Calvin tengah menonton televisi. Alice berjalan masuk ke dalam.


"Ayah... Aku kangen," ucap gadis cantik itu seraya memeluk tubuh Ayah Calvin.


"Dasar manja! Baru satu hari tidak bertemu, sudah bilang kangen. Ada apa?" tanya pria setengah baya itu. Dia mengusap rambut Alice tanpa melepaskan pelukan.


"Ayah, aku ingin kembali ke rumah." Gadis itu membenamkan wajah di dada bidang sang Ayah.


Pria itu melepaskan pelukan. Memperhatikan wajah putrinya dengan seksama. "Kamu tidak nyaman tinggal di sana? Apa mereka memperlakukanmu dengan buruk?" cecar Ayah Calvin.


"Tidak! Om dan Tante bersikap baik padaku. Hanya saja..." Gadis itu memelintir ujung blouse yang dikenakan olehnya.


"Katakan pada Ayah, ada apa?" tanya pria itu penasaran.


"Akan terasa lebih nyaman jika tinggal di rumah sendiri. Alice nggak mau merepotkan orang lain."


"Nak, sebenarnya Ayah pun merasa tidak nyaman harus merepotkan orang. Namun, akan lebih berbahaya jika membiarkanmu tinggal sendirian di rumah. Untuk sementara waktu, alangkah baiknya kamu mengalah dan tetap tinggal di rumah Om Daniel, sampai Ayah keluar dari rumah sakit."


Pria itu tersenyum, matanya tidak mau lepas dari wajah putri cantik di hadapannya. "Kamu mau 'kan, tetap tinggal di sana?"


Alice mengangguk. Rasanya akan percuma jika dia tetap bersikeras memaksa agar kembali pulang ke rumah. Dengan terpaksa dia menjawab, "baik, aku akan tetap tinggal di sana."


Bersambung


.


.


.