
Saat bel pergantian pelajaran berbunyi, Airon dan Darren bergegas keluar ruang kelas 1B menuju ruang ekskul basket. Di dalam ruangan hanya terdapat satu buah meja kayu panjang berukuran 2 meter, sepuluh kursi kayu, satu set meja komputer lengkap dengan printer dan satu buah lemari kayu tempat menyimpan berkas keanggotaan tim basket sekolah.
Airon saat ini sedang merapikan tumpukan kertas formulir yang baru saja disebar di kelas satu, sementara Darren sibuk memasukan data murid baru yang akan bergabung tim basket ke sebuah komputer.
Dahi Airon berkerut saat membaca nama Alice tertera di salah satu kertas formulir pendaftaran keanggotaan baru ekstrakurikuler basket. Ia langsung menunjukan sikap protes kepada Darren.
"Ren, gue gak setuju kalo Alice masuk tim basket!" Airon melempar selembar kertas putih ke hadapan Darren.
Darren masih fokus dengan komputernya namun saat nama Alice disebut, ia langsung menoleh.
"Gak setuju gimana? Alasan loe apa menolak Alice untuk bergabung tim basket?" Darren menyandarkan punggung dan kepalanya ke belakang.
"Dia gadis bo*oh tidak mungkin memiliki kemampuan melempar bola ke dalam ring atau mampu menguasai teknik dribbling dalam permainan bola basket!" Airon masih mempertahankan alasannya agar Darren mencoret nama Alice.
"Emangnya loe pertama kali gabung tim basket langsung jago?" tanya Darren seraya melipat tangan ke dada.
"Ron, semua murid SMA Merah Putih memiliki hak untuk bergabung tim basket tanpa pandang bulu. Siapapun boleh gabung termasuk Alice. Kalo gadis itu ingin belajar tidak ada salahnya kita memberikan sedikit ilmu untuk dibagikan."
"Gue sebagai ketua ekskul gak setuju kalo Alice dihapus dalam keanggotaan, lagipula kita kekurangan anggota."
"Terserah loe aja deh, tapi gue gak mau bertanggung jawab kalo tuh cewek membuat rusuh tim kita!
Airon terus saja mengomel namun Darren nampak acuh dan memilih melanjutkan tugasnya.
***
Pada Hari Minggu yang cerah, Ayah Calvin mengajak Alice untuk pergi bersama menemui sahabat sang ayah.
Pria itu sengaja memasak makanan khas Cina kesukaan sahabatnya, berupa yu seng dan won ton.
Yu seng berupa salad ikan segar yang ditambah dengan irisan sayuran seperti wortel dan lobak. Ikan yang biasa digunakan adalah ikan tuna atau ikan salem yang diolah dengan cara direndam di dalam campuran minyak goreng, minyak wijen serta merica.
Saus yang biasa digunakan terbuat dari campuran minyak, buah prem, bubuk kayu manis dan gula pasir.
Won ton atau yang biasa dikenal dengan nama pangsit adalah daging cincang yang dibungkus tepung terigu berbentuk lembaran. Untuk bumbunya sendiri yakni kecap asin, saus tiram dan minyak wijen.
Ayah Calvin mempersiapkan semua bahan sehari sebelum mengunjungi temannya. Ia berbelanja di Pasar Petak Sembilan yang tersohor di Jakarta.
Ayah Calvin sudah melajukan kendaraan roda duanya saat cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur mulai menampakan sinarnya. Pria itu sengaja berbelanja setelah fajar menyingsing.
Saat ini, Ayah Calvin berada di dapur dan ia baru saja mengolah semua bahan makanan menjadi makanan yang siap untuk di nikmati.
Ayah Calvin sedang menunggu Alice di meja makan, mereka akan berangkat setelah sarapan.
"Selamat pagi ayah," sapa Alice saat gadis kecil itu tiba di ruang makan.
"Selamat pagi nak," jawab Ayah Calvin.
Hari ini Alice terlihat sangat cantik dalam balutan pakaian casual. Ia mengenakan jumpsuit berwarna navy dengan atasan kaos putih, sepatu kets putih, rambut di ikat ekor kuda dan tas yang sudah tersemat di antara lengan dan ketiak.
Ayah Calvin terkesiap melihat putrinya berdandan rapi dengan penampilan yang sangat berbeda.
"Ice, kamu cantik sekali nak," puji Ayah Calvin.
"Terima kasih ayah," balas Alice sembari tersenyum.
"Sudah, mari kita makan setelah itu segera jalan. Ayah janji pukul sepuluh sudah sampai lokasi."
Kemudian mereka berdua menyantap hidangan di meja makan penuh khidmat.
"Kamu tidak gugup saat diminta maju di depan umum?"
"Awalnya gugup tapi lama kelamaan terbiasa."
"Pak, kita sudah sampai," ujar supir taxi.
"Baik pak."
Ayah Calvin melihat sebuah alat digital berbentuk angka yang biasa dipasang pada taxi berfungsi untuk menentukan besarnya tarif perjalanan penumpang. Pria itu mengeluarkan satu lembar uang beewarna biru dan satu lembar uang berwarna hijau kemudian menyerahkan kepada supir taxi.
"Kembaliannya pak," ucap supir taxi sebelum Ayah Calvin turun dari mobil.
"Ambil saja kembaliannya," ujar Ayah Calvin.
"Terima kasih."
Kemudian Ayah Calvin turun dari mobil dan Alice mengekor di belakang.
Mereka berdua sudah berdiri di depan pintu pagar sebuah rumah dua lantai minimalis. Mengusung konsep rumah minimalis modern dengan unsur kayu dan kaca.
Ayah Calvin dan Alice cukup lama berdiri di depan pintu pagar rumah mewah tersebut.
"Ayah yakin ini rumahnya?" tanya Alice sambil melirik ke arah ayahnya.
"Alamatnya benar disini tapi ayah ragu."
"Bagaimana jika salah alamat?"
"Tidak mungkin, sahabat ayah sendiri mencatatnya di kertas dan memberikan pada ayah kemarin."
"Coba ayah tekan bel dan pastikan apakah benar ini rumahnya, jika salah lebih baik kita pulang ke rumah. Tidak enak jika berlama-lama berdiri di depan rumah orang, nanti disangka kita berniat jahat dan dibawa ke pos satpam."
Tanpa menunggu lama, Ayah Calvin menekan bel dan seorang wanita paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun membukakan pintu pagar.
"Tuan Calvin ya?" tanya wanita itu.
"Benar, apa Tuan Daniel ada?"
"Ada. Tuan dan nyonya sudah menunggu di dalam. Mari silakan masuk," wanita itu mempersilakan Ayah Calvin dan Alice masuk ke dalam rumah.
"Calvin!" sapa pria paruh baya berusia empat puluh tahun, bernama Daniel.
"Daniel, apa kabar?"
Ayah Calvin dan Tuan Daniel saling berpelukan, sementara Alice hanya menyaksikan pemandangan di depannya. Ada rasa haru melihat ayahnya bisa bertemu kembali dengan sahabat lama.
"Mari silakan masuk."
Ayah Calvin dan Alice duduk perlahan-lahan di sebuah sofa di ruang tamu.
Alice memperhatikan sekeliling, ruangan itu terlihat rapi dan mewah. Memang tidak terlalu luas namun cukup nyaman, ruangan itu di dominasi warna hitam dan merah yang diyakini akan membawa keberuntungan dalam aplikasi feng shui.
Seorang wanita cantik berusia tiga puluh tujuh tahun membawa nampan berisi satu set teko lengkap dengan empat gelas cangkir keramik dan meletakannya di atas meja dan ia duduk di samping Tuan Daniel.
to be continued....
Jika ada typo tolong dimaklumi ya Kak. Jangan lupa tinggalkan jejak cinta agar author semakin rajin update. ❤