Alice's Love Story

Alice's Love Story
Oh Ternyata!



"Halo, Calvin apa kabar?" sapa Joan, istri Tuan Daniel.


"Baik, An. Lama ngak berjumpa."


"Benar, udah hampir dua belas tahun ngak ketemu. Terakhir kali saat putri cantikmu merayakan pesta ulang tahun yang ke empat, setelah itu kamu menghilang bagaikan ditelan bumi."


"Kamu pindah rumah ngak ngabarin kami, bahkan sepucuk surat pun ngak pernah dikirimkan."


"Dari Surabaya, memangnya kamu pindah ke mana?" cerocos Joan.


"Mami, hentikan! Kenapa kamu nanyain pertanyaan begitu banyak kepadanya," protes Tuan Daniel.


Joan terlalu asyik berbincang dengan Calvin hingga melupakan keberadaan seorang gadis kecil yang sedang duduk diantara ayah dan sahabat lamanya.


Alice hanya menjadi penonton menyaksikan bagaimana keseruan ayah dan sahabatnya bercengkrama melepas rindu.


"Kamu, Alice kan?" tanya Joan.


"Benar, Tante. Aku Alice," ucap Alice. Ia beringsut mendekati kursi Joan dan mengulurkan tangan mencium punggung tangan wanita itu.


"Wah, udah besar sekarang dan makin cantik. Wajahnya mirip istrimu Vin," Joan mengusap lembut rambut Alice. Ia mencium pipi Alice secara bergantian.


"Kelas berapa sekarang?"


"Kelas satu SMA, Tante."


"Oh, baru masuk tahun ini ya? SMA mana, sayang?"


"SMA Merah Putih," Alice memberikan senyuman ke arah Joan.


Joan terpesona oleh senyuman Alice, tanpa sadar tangannya membelai kembali rambu gadis kecil itu.


"Astaga, Vin. Andaikan kamu punya dua gadis kecil seperti Alice, aku pasti udah minta satu tinggal di sini dan jadiin dia putri kami. Iya kan Pap?"


"Papi!"


"Papi!" ucap Joan setengah berteriak.


"Ada apa Mami? Kenapa kamu teriak?" Tuan Daniel merubah posisi duduknya. Tuan Daniel merasa kesal karena istrinya mengganggu padahal ia sedang asyik berbincang dengan Calvin.


"Ih, kamu itu kebiasaan deh kalo ketemu teman lama pasti ngelupain aku!"


"Alice, lebih baik kamu ikut Tante ke atas. Di atas sana banyak foto kamu dan Ai sewaktu masih kecil." Joan menggenggam tangan Alice dan membawa gadis itu ke lantai atas. Mereka menaiki anak tangga satu per satu hingga sampailah di puncak.


Joan membuka salah satu pintu kamar, menarik tangan dengan lembut Alice dan membantu mendudukannya di sebuah sofa empuk yang ada di tengah ruangan. Ruangan itu berukuran 3×3 meter, terdapat dua buah rak buku berwarna putih, satu set meja kerja lengkap dengan kursi dan printer.


Joan meraih satu buah album di atas rak, ia berjijit bertumpu pada kakinya. Wanita itu meniup album biru penuh debu dan warnyanya nyaris memudar. Ia membawa album tersebut dan meletakannya dipangkuan.


"Alice, lihat ini foto kamu sewaktu masih kecil." Joan menunjuk foto seorang bayi perempuan mungil dan menggemaskan.


"Foto ini diambil ketika kamu berusia enam bulan."


"Lihatlah, ini foto anak Tante, si Ai, lucu kan!" Joan beralih ke lembaran foto di sebelahnya.


"Lucu sekali, Tante. Ai itu anak Tante?"


"Benar, anak Tante satu-satunya."


"Sebenarnya dulu Tante sempat mengandung anak kedua ketika Ai berusia lima tahun tapi sayang Tuhan berkehendak lain dan akibat keguguran itu hingga sekarang keluarga kami tidak dikarunia keturunan lagi karena...."


"Karena apa Tante?"


"Karena rahim Tante diangkat," ucap Joan dengan bibir gemetar.


Setiap kali Joan mengingat kejadian naas itu membuatnya harus mengorek luka lama yang belum juga sembuh hingga sekarang. Akibat sebuah kecelakaan, menyebabkan ia harus kehilangan calon anak keduanya sekaligus kehilangan mahkota berharga bagi seorang wanita. Bertahun-tahun ia terpuruk dan menyalahkan diri sendiri atas kecerobohan yang menyebabkan keluarga Tan harus kehilangan calon penerus selanjutnya.


"Tante, maafin Ice!" Alice segera memeluk tubuh Joan.


Joan tak kuasa menahan air matanya, butiran bening kristal jatuh diantara kedua pipi. Ia menumpahkan kesedihan dalam pelukan Alice, seorang gadis kecil putri sahabat dari suaminya.


Alice mengusap punggung Joan dengan penuh cinta.


"Sabar Tante, yakinlah semua akan ada hikmahnya," Alice mencoba memberikan kekuatan pada Joan.


Joan melepaskan diri dari pelukan Alice, ia mengusap air matanya dengan selembar tisu yang diberikan gadis itu.


"Maaf ya Ice, Tante malah nangis seperti anak kecil."


"Ngak apa-apa, Tante," ucap Alice.


Joan menghirup napas dalam dan mengembuskan secara perlahan, ia mengumpulkan kembali keberanian untuk melanjutkan ceritanya.


"Ice, ini foto kamu dan Ai saat kalian sedang bermain di taman belakang rumah Tante di Surabaya. Saat itu Tante dan Ibumu baru aja beli kaos couple di pasar karena ngak sabar akhirnya kami segera memakaikan kaos tersebut tanpa mencucinya terlebih dulu."


"Tante, itu celana Ai kenapa basah?" tunjuk Alice pada salah satu foto di dalam album.


"Kamu tahu ngak, si Ai tuh sampai kelas satu SD masih sering ngompol loh. Hampir setiap pagi Tante minta Bibi ngejemur kasur karena bau pesing."


Joan dan Alice tertawa hingga membuat perut wanita paruh baya itu sakit.


"Aduh, Alice! Tante ke toilet sebentar, kamu tunggu di sini dulu," Joan beranjak dan meninggalkan Alice sendirian di ruangan.


Gadis kecil itu membuka lembaran album dan memandanginya.


Sementara itu, Airon baru saja memarkirkan motor sportnya di halaman rumah. Ia berjalan melewati kebun mini dan koleksi bunga milik sang mami.


"Papi!" sapa Airon.


"Ai, kamu baru pulang Nak!"


Airon mencium punggung tangan Daniel namun sebelumnya ia mencuci tangan terlebih dahulu di westafel yang terletak di halaman rumah.


"Ai, kenalkan ini sahabat Papi, namanya Ayah Calvin. Ayo, beri salam."


"Halo Om, apa kabar?" tanya Airon. Ia mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Calvin.


"Baik, Ai. Wah, kamu udah gede dan makin ganteng!" puji Calvin.


"Makasih Om, atas pujianya."


"Oh iya Pi, Mami di mana?"


"Mamimu ada di lantai atas sedang mengajak Ice berkeliling. Temui aja, sana!"


"Ya udah, kalo gitu Ai ke atas dulu. Mari Om!" Ucap Airon membungkuk hormat.


Airon berjalan ke lantai atas dan berpapasan dengan maminya yang baru keluar dari toilet.


"Eh Ai, kamu udah pulang Nak."


Airon mencium punggung tangan dan memberikan kecupan singkat di pipi sebelah kanan maminya.


"Udah Mi, baru aja."


"Ayo masuk, Mami kenalin kamu ke anak sahabat Papimu." Joan menarik tangan putranya ke dalam ruang baca.


"Ice, kenalkan ini Ai anak Tante!"


Tatapan mata Alice masih fokus pada album di hadapannya. Saat mendengar namanya dipanggil Alice langsung menoleh, ia menatap sosok pria menjulang tinggi dengan mata lebar dan kedua alis terangkat. Gadis itu terkesiap melihat sang idola berada di ambang pintu, ia menelan saliva susah payah.


Bentuk tubuh Airon begitu menggoda dalam balutan kaos basket tak berlengan yang mempelihatkan otot bahu milik pria itu. Walaupun anak seusianya belum diperbolehkan melakukan olahraga ekstrim seperti mengangkat beban namun Airon sudah rajin berolahraga untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tulang dan ototnya.


"Kak Airon!" ucap Alice terbata-bata.


"Loe!" ucap Airon lirih namun Joan masih bisa mendengarnya.


"Loh, kalian masih saling kenal!"


"Aduh, kebetulan sekali. Mami ngak perlu repot mengenalkan kalian berdua."


Joan menarik tangan Airon mendekati sofa, ia membantu putranya duduk di samping Alice.


"Mami ngak nyangka setelah dua belas tahun tak ketemu, kalian masih saling ingat satu sama lain."


"Siapa yang ngak inget gadis ceroboh seperti dia!" dengus Airon.


"Ceroboh, maksud kamu apa Ai?"


"Iya Mam, gadis ini udah ngotorin seragam Ai waktu di sekolahan," ucap Airon sinis. Ia menatap tajam ke arah Alice, sementara gadis itu hanya menundukan kepala.


"Oh, jadi gadis aneh yang kamu ceritakan itu adalah Alice!" Joan terkekeh.


"Itu sudah berlalu, ngak perlu diingat lagi."


"Kamu harus baik-baik dengan Alice karena ia anak sahabat Papimu, jangan sampai big boss marah dan rumah ini jadi sasaran kekesalannya!" bisik Joan.


"Jadi gadis ceroboh ini anaknya Om Calvin?"


"Benar!"


Airon hanya menghela napas panjang dan bergumam "sial bener hidup gue ketemu gadis ceroboh itu di sini, apalagi dia anaknya Om Calvin, sahabat Papi. Itu artinya gue bakal sering ketemu dia di rumah dan di sekolah."


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Kak. ❤