
Alice melonggarkan pelukannya, menatap wajah Ayah tercinta dengan mata berbinar. "Aku bahagia sekali akhirnya ada orang yang bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Ayah."
"Kupikir, harus menunggu berbulan-bulan hingga ada ginjal yang cocok untuk Ayah," ucap Alice seraya mundur dan duduk di kursi di samping Ayah Calvin.
"Benar. Setahu Ayah, pasien baru akan bisa dioperasi setelah lama menunggu karena sangat sulit menemukan orang dan ginjal yang cocok untuk pasien. Namun, nasib Ayah sangat beruntung. Baru beberapa hari dirawat, sudah dapat pendonor," timpal Ayah Calvin.
"Hu'um, Tuhan sungguh baik pada kita." Alice tersenyum.
"Sebaiknya Ayah istirahat, agar kondisi badan semakin sehat. Aku akan menjagamu, di sini." Gadis mungil itu menarik selimut hingga batas dada.
Ayah Calvin menuruti perintah putrinya. Dia mencari posisi nyaman agar bisa tertidur. Setelah menemukan posisi yang nyaman, perlahan-lahan kedua mata pria itu terpejam lalu detik berikutnya dia tertidur di samping Alice.
"Ayah jangan cemas, karena ada aku yang akan selalu merawat dan menjagamu." Alice mengecup kening pria setengah baya yang sudah terlelap itu.
***
Keesokan harinya, di kediaman keluarga Tan, pagi-pagi sekali Joan sudah terbangun. Dia dibantu seorang ART sedang menyiapkan bubur khusus untuk Ayah Calvin.
Dua hari yang lalu, wanita itu sengaja datang ke restoran tempat sahabat suaminya bekerja. Dia berniat memberikan buah tangan karena orang tua Darren dari Surabaya, baru saja datang mengunjungi putranya dan membawa banyak oleh-oleh seperti almond crispy dan kerupuk.
Flash back on
"Pi, aku akan ke restoran tempat Calvin bekerja memberikan oleh-oleh ini. Jika kita konsumsi sendiri, aku tidak yakin akan habis. Untuk itulah, bagaimana kalau kita berikan pada sahabatmu itu? Kebetulan di restoran banyak rekan kerja Calvin. Jadi, bisa mengurangi stock oleh-oleh ini," ujar Joan beberapa jam sebelum dia pergi ke restoran.
"Terserah kamu. Aku akan setuju saja, asalkan jatah untuk Calvin dan putrinya sudah disisihkan," jawab Tuan Daniel. Pria itu tengah duduk santai di depan sofa televisi seraya menikmati teh hangat dan membaca koran.
"Baiklah, saat jam istirahat aku akan kesana."
Ketika jam istrirahat, Joan sudah tiba di lokasi. Dia berdiri di depan pintu masuk. Situasi restoran cukup ramai, karena lokasi restoran berada di dekat gedung perkantoran dan sekolahan.
Perlahan-lahan, Joan masuk ke dalam restoran. Ruangan itu tidak terlalu luas tapi cukup menampung dua puluh meja untuk para pengunjung. Restoran dengan mengusung konsep ala Negeri Sakura cukup diminati masyarakat, selain tempat cozy, harga relatif terjangkau dan didukung menu bervariatif serta masakan lezat membuat para pengunjung tertarik mencicipi menu andalan restoran tersebut.
"Selamat siang, Nyonya. Ada yang bisa dibantu?" tanya salah satu pelayan wanita berpakaian Kimono.
"Saya ingin bertemu Calvin, apakah dia sedang sibuk?" Joan mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
"Ayah Calvin sudah beberapa hari ini tidak bekerja, Nyonya. Beliau dirawat di rumah sakit akibat penyakit gagal ginjal," jawab pelayan itu ramah.
Bahkan sesekali terlihat dia memberikan senyuman manis ke arah Joan. Meskipun wanita itu tidak berniat makan di restoran tapi perlakuan para pelayan sangat ramah sehingga membuat Joan puas dengan pelayanan yang diberikan.
"Terima kasih atas informasi Anda." Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Joan membalikan tubuh lalu berjalan ke luar restoran.
Flash back off
"Kamu sedang apa, Mi?" tanya Tuan Daniel. Pria itu menuangkan air putih lalu meneguknya.
Joan menghentikan sejenak aktivitasnya. "Aku sedang membuatkan bubur untuk Calvin. Bukankah hari ini kita setuju menjenguknya di rumah sakit? Awas saja kalau kamu lupa!"
Ucapan wanita separuh baya itu sukses membuat Tuan Daniel tersedak. Dia batuk hingga membuat matanya memerah.
"Sudah kuduga, kamu pasti lupa. Setelah sarapan kita akan berangkat. Paham!" Wanita itu mendelik, lalu melanjutkan kembali aktivitasnya.
Tepat pukul delapan pagi, sesuai rencana, Joan dan Tuan Daniel berencana membesuk Calvin di rumah sakit. Hanya mereka berdua yang berangkat karena Airon sedang berada di puncak, anak muda itu pergi bertamasya bersama orang tua Darren.
Matahari mulai menyinari bumi, memberikan kehangatan bagi semua insan di bumi. Sepasang suami istri bermarga Tan sudah berada di dalam mobil. Mereka sudah bersiap membesuk Ayah Calvin di rumah sakit.
"Semua barang yang ingin diberikan kepada Calvin sudah kamu bawa?" tanya Tuan Daniel.
Tanpa menunggu lama, Tuan Daniel segara menyalakan mesin mobil kemudian menginjak pedal gas dan melajukan kendaraan dengan kecepatan 60km/jam.
Empat puluh menit berlalu, kini mereka tiba di parkiran rumah sakit. Dengan sigap, Tuan Daniel membukakan pintu untuk istrinya lalu berjalan bersisiran menyusuri lorong rumah sakit.
Tidak sulit bagi pasangan suami, istri itu menemukan ruang rawat inap Ayah Calvin, karena ada perawat dan tenaga medis lainnya yang sigap menolong dalam kesusahan.
Alice sedang menonton drama Korea favoritnya di laptop. Dia asyik menyaksikan bagaimana keahlian para aktor dan aktris bermain peran. Gadis itu mengapai bungkusan snack dan memasukan ke dalam mulut.
"Om, Tante!" seru Alice setelah mendengar suara ketukan pintu. Dia mempersilakan tamu tersebut untuk masuk ke dalam tak disangka ternyata tamu itu adalah sahabat Ayahnya.
"Alice..." Joan langsung menghambur memeluk tubuh mungil gadis itu.
"Tante dan Om, bagaimana bisa tahu kalau Ayah sedang dirawat di sini?"
"Anak buah Ayahmu. Kemarin Tante ke restoran tempat Calvin bekerja tapi ternyata dia sakit dan dirawat di sini."
"Itulah sebabnya mengapa kami datang dan membawakan ini." Joan dan Tuan Daniel memberikan parcel buah-buahan dan rantang berisi bubur yang dibuat khusus oleh Joan untuk sahabat suaminya.
Alice menerima bingkisan itu, meletakannya ke atas nakal. "Terima kasih, Tante, Om."
"Kalian datang?" Suara serak seorang pria di seberang sana mengagetkan mereka.
"Oh, astaga Vin. Kamu mengagetkan kami saja!" ujar Joan seraya mengelus dadanya.
Ayah Calvin terkekeh lalu dia duduk bersandar di kepala ranjang dibantu putrinya. "Maafkan aku sudah mengagetkanmu."
Tuan Daniel duduk di tepian ranjang. "Mengapa kamu tidak memberitahuku bahwa dirawat di rumah sakit?" Suara pria itu terdengar sedikit panik, membuat Ayah Calvin tersenyum melihat raut wajah sahabatnya berubah.
"Aku hanya tidak ingin membuatmu cemas. Maka dari itu berusaha menutupinya. Eh ternyata, kamu tetap mengetahui kabar ini dari anak buahku."
"Untung Joan datang ke restoran. Kalau tidak, mungkin sampai kapan pun kami tidak akan tahu bahwa kamu dirawat di rumah sakit," ucap Tuan Daniel. Dia memijat lembut kaki sahabatnya.
"Baiklah...Baiklah, aku salah. Lain kali tidak akan menyembunyikan sesuatu darimu."
"Tentu. Kita adalah sahabat bahkan sudah seperti keluarga. Jadi, kalau ada masalah, wajib menceritakan pada yang lain," timpal Joan.
"Vin, aku dengar penyakitmu semakin parah, apakah benar?" tanya Tuan Daniel.
"Ya, seperti yang kamu tahu. Cuci darah saja tidak mampu menyembuhkanku. Untuk itu, Dokter menyarankan melakukan operasi dan untung saja sudah ada donor yang tepat jadi tidak perlu menunggu terlalu lama. Hanya saja..."
Pria itu menghentikan sejenak perkataanya. Dia menarik napas dalam lalu menghembuskannya secara lembut.
"Ada masalah apa, Vin? Cepat katakan! Apakah kamu memerlukan uang dalam nominal besar?" cecar Tuan Daniel.
"Jika itu masalahnya, kami akan membantumu," timpal Joan.
"Bukan soal uang, melainkan..."
Bersambung...
.
.
.