Adiva

Adiva
Adiva 09 : Rumah Baru



Adiva memutuskan untuk segera masuk kerja, sudah mendapatkan kontrakan yang nyaman dekat RS. Jarak RS dengan rumah keluarga Pratama memang jauh. Bisa dikatakan ini alasan yang jelas untuk pisah rumah.


"Mam, alasan Iva pulang karena mama sakit. Dan sekarang mama kan sudah sehat. Iva mohon doa nya mau kerja dan menuntut ilmu lagi. Tabungan Iva juga sudah cukup untuk lanjut spesialis" ucapnya di ruang keluarga.


Semuanya sedang berkumpul, ada Mario dan Jelita yang akan menjadi tunangan Mario. Tuan Arga dan Nyonya Heni saling menatap.


"Jangan pindah nak, disini saja. Nanti biar supir yang antar jemput kamu kalau capek bolak balik" bujuk tuan Arga tak tega melihat Adiva yang sudah dianggap anak sendiri olehnya.


"Nggak apa-apa pap, Iva mau mandiri seperti kak Julio dan kak Mario" ucap Adiva kuat.


"Dek, kenapa pindah sih. Bentar lagi kakak tunangan, kalau kamu pindah mama sendiri" bujuk Mario.


"Aku bakal sering pulang kok kak, weekend atau kalau rindu mama aku bakal pulang" ucap Adiva kukuh.


Nyonya Heni sudah menangis sedih karena Adiva memilih pindah.


"Kamu pindah bukan karena Axel kan?" tanya Nyonya Heni sekali lagi.


"Nggak lah!, Lagi pula RS jauh dari rumah Mam, papa juga lebih butuh Axel dari pada aku. Aku nggak ngerti sama sekali sama bisnis. Kalau Axel kan lebih paham" ucap Adiva dengan tersenyum.


Adiva kesal karena seluruh anggota keluarga nya tidak ada yang memberitahukan tentang Axel padanya. Padahal dia senang kalau Axel membantu di perusahaan.


"Dek, kamu kerja di RS DKT? mba ada kenalan dokter anak disana. Nanti mba hubungi deh supaya kamu punya teman" ucap Jelita ramah.


"Iya mba, aku jadi dokter umum disana, makasih ya mba udah bantu aku dapat teman" ucap Adiva tersenyum.


Malam itu, Adiva diperbolehkan tinggal di kontrakannya, asal bi Nana ikut bersamanya untuk membantu Adiva di rumah semua itu permintaan dari nyonya Heni.


...---...


"Xel, sorry gue baru selesai apel tadi. Ada apa nih manggil? tumben banget" tanya Farel yang kini sudah datang ke rumah pak Ahmad.


"Sorry ya Rel gue ganggu lo. Ini soal Adiva, dia kayaknya ketemu sama Kana dan Medina deh." ucap Axel lantang.


"Dimana?" tanya Farel memastikan.


"Gue juga nggak tau persisnya. Cuma Adiva nyebut nama mereka. Lo tau kan kondisi Adiva gimana, gue takut aja. Masa lalunya bawa pengaruh buruk untuk memorinya" ucao Axel cemas.


"Gue bakal cari info dimana Kana sekarang. Kalau Nadiv dia sibuk jadi model, lo tahu lah. Nggak mungkin model terkenal kelayapan" ucapnya dengan tertawa.


"Iya bener juga sih, cuma gue heran aja itu" kata Axel bingung.


"Berdoa aja, semoga nggak ada apa-apa. Oh iya, terus Adiva sekarang dimana?" tanya Farel tertarik dengan Adiva.


"RS DKT gue sering kesana untuk kontrol, lo sabar aja. Kondisi Adiva bakal pulih, dan lo juga jangan menyalahkan diri sendiri gini. Lagian Adiva belum sempat tidur sama si Nadiv kan. Berarti dia masih suci, cuma ya gitu. Mentalnya kena" ucap Farel menasehati Axel.


"Gue harap kalau nanti dia paham sama semua uang yang terjadi di masa lalu, gue pengen dia maafin gue yang nggak bisa ngejaga dia. Gue sekarang menjauh dari dia. Gue mohon lo jaga dia ya, gue cukup pantau dia dari jauh aja. Perusahaan lagi butuh gue banget" ucap Axel memohon.


Karena Axel tahu Farel punya rasa terhadap Adiva jadi nggak mungkin akan celakai Adiva. Lagi pula dia seorang TNI dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral.


"Ok Xel, gue bakal jaga, RS DKT itu wilayah gue jadi gue bakal jaga dia" ucap Farel sambil menepuk pundak Axel. Axel hanya tersenyum sambil memikirkan wajah Adiva yang menangis karnanya.


"Maafin aku Va, aku buat kamu menangis. Cuma ini satu-satunya jalan yaitu menghindar. Agar kamu tidak terluka" gumamnya dalam hati.


...---...


Keesokan harinya, Adiva diantar oleh keluarga Pratama ke kontrakan nya untuk pindahan.


Semua barangnya yang penting ia bawa, sedangkan yang lainnya dia tinggalkan di kamar.


"Rumahnya nyaman ya sayang" ucap nyonya Heni melihat sekeliling.


Rumah satu lantai model baru, terdapat 3 kamar. 1 kamar mandi tamu, 2 kamar mandi di kamar utama dan kamar tamu, dapur yang gabung dengan ruang makan, ruang tamu dan ruang tengah. Taman dan garasi serta tempat jemuran di belakang.


Rumah yang nyaman untuk Adiva, "Kamu nggak pake AC dek?" tanya Mario bingung.


"Acnya udah aku pesan, cuma belum datang kak" jawabnya.


Semua barangnya sedang di susun oleh bi Nana selaku bibi yang membantu Adiva nanti.


"Nanti papa bakal pasang CCTV ya nak, biar kamu aman" ucap tuan Arga sambil melihat sekeliling.


"Iya pap, terserah papa aja. Aku manut aja" ucap Adiva pasrah. Dia kesal, keluarga nya seakan tidak setuju dia pindah.


Semuanya sudah tertata rapi, keluarga Pratama pun sudah kembali ke rumah. Mulai besok dia harus bekerja, setiap satu minggu kuliah.


"Huff lelah banget beres-beres" ucapnya sambil merebahkan badannya di sofa depan TV.


"Mba Iva mau dibuatkan makanan apa?" tanya bi Nana.


"Bi makan di luar aja yuh, mumpung hari ini cerah. Sore asik banget buat jalan-jalan. Sambil ke super market beli kebutuhan yang belum ada di rumah. Jangan nolak" ucapnya sambil berlari ke kamar untuk mengganti baju.


Bi Nana hanya bisa geleng-geleng dan mengganti baju juga.


-Bersambung-