
"Yang? kenapa mereka bertiga bersamaan begitu? perasaan aku nggak enak yang!" ucap Marsya was-was.
"Semoga yang terbaik untuk mereka bertiga" ucap Aman sedikit cemas.
"Wah selamat wedding bouquet yang telah ditangkap oleh mba adiva dan 2 laki-laki di sebelahnya"ucap MC itu.
"Ini Va untuk kamu dan Axel saja" ucap Farel sambil melepaskan genggaman di bouquet bunga itu.
...****************...
"Va kamu nggak apa-apa?" tanya Marsya.
"oh, aku santai kok. Cuma heran aja Farel itu siapa? kenapa dia masih bersikap baik padaku? padahal aku sudah menamparnya dan memakinya waktu itu" ucap Adiva bingung.
"Hah? kamu nampar komandan Farel? wah kamu kelewatan Va." ucap Marsya kaget.
"Iya aku kesal dan geram. Sok baik juga tuh cang ijo" ucap Adiva ngedumel.
"heh! jangan gitu dong. Yang bantuin kamu kan selalu si Farel. Udah tajir, ganteng, punya karir yang oke, ibadah rajin, mau kemana lagi coba cari yang kek gitu. Aku yakin sih, Farel ada rasa sama kamu Va" ucapnya Marsya dengan semangat.
"Alah, yang kek dia kebanyakan modus" sangkal Adiva cepat.
"Terus maunya yang kek mana cantik. Yang kek Axel? katanya Axel cuma teman aja" sindiri Marsya secara terang-terangan.
"Ya nggak tau lah, pokoknya aku menyatakan War sama si cang ijo. Belum lagi tuh geng centol-centilnya" ucap Adiva sewot.
"Eh bu dokter, centol-centil siapa? udah deh bagusnya kita masak aja. Nanti mampir ke Ritta, kalau beli di pasar udah sore" saran Marsya.
"Lupa siapa lah pokoknya geng itu" ucapnya kesal.
"Dasar, yaudah sekarang kita ke Ritta. Udah lama juga nggak pergi ke Ritta" ucap Marsya lagi.
"Iya" jawabnya singkat.
......................
Axel yang kini sedang duduk di balkon rumah peninggalan ibu Anisa menatap foto Adiva dan dirinya saat masih SMA.
"Aku yakin Va, Farel juga tertarik sama kamu" gumamnya sambil terus menatap foto Adiva.
Berbeda dengan Farel yang kini sedang berada di rumah kedua orang tuanya.
"Bang? ada apa? acaranya seru kan? Jelita paham kan kalau Ayah sama Bunda nggak bisa datang" ucap Bundanya Farel.
"Oh iya ingat, udah lama banget Bang. Emangnya kenapa Bang?" tanya Bundanya penasaran.
"Abang tahu Bun dimana anak kecil perempuan itu. Dia sudah jadi dokter muda di rumah sakit dekat asrama Abang." jelasnya pada Bundanya.
"Dia tahu kalau Abang temannya kecilnya?" tanya Bundanya mulai serius.
"Sayangnya nggak Bun, kami dulu satu SMA. Dia adik kelas Abang Bun, jarang bertegur sapa juga. Menurut Bunda, Abang harus gimana Bun?" tanya Farel serius.
"Jadi ceritanya Abang sayang sama dia? namanya siapa?" tanya Bundanya.
"Kalau sayang? Abang nggak tahu Bun, namanya Adiva. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal, toko kue itu masih dikelola. Bahkan Adiva sudah diangkat menjadi anak perempuan dari keluarga Pratama Bun." jelas Farel dengan seksama.
"Keluarga Pratama? Tuan Arga rekan kerja Ayah Bang, Abang mau Bunda ke rumah keluarga Pratama? atau bagaimana?" tanya Bundanya langsung to the point.
"Sebenarnya masalahnya rumit Bun, Abang bingung Bun gimana ceritanya. Sudahlah Bun, kalau memang Allah takdir kan kami untuk saling dekat, pasti akan terjadi. Adiva sangat cantik Bun" ucapnya dengan tersenyum.
"Abang harus percaya diri dong. Masa Komandan mlempem sih. Udah dewasa juga, itu adik Faris sebentar lagi lulus kuliah dan akan bekerja di perusahaan Ayah, jadi Abang fokus aja sama karir ya, masalah Adiva banyak-banyak berdoa sama Allah" saran Bundanya sambil mengusap punggung anak pertamanya itu.
......................
Adiva dan Marsya sedang memilih bahan masakan yang sudah habis di rumahnya Adiva.
Mereka membeli buah, bumbu, dan juga beberapa cemilan.
"Va, kalau Farel suka sama kamu gimana? secara dia kan selalu jadi garda terdepan buat kamu." tanya Marsya yang mulai penasaran.
"Sya, aku kan nggak ada rasa sama dia. Lagian males banget kalau harus berhubungan sama cang ijo. Gosip di RS juga banyak, katanya dokter April sama Farel udah tunangan dll nggak paham aku." ucap Adiva acuh.
Karena menurutnya perasaannya hanya untuk Axel. Tapi yasudahlah, perasaan itu hanya bisa dia pendam saja, entah sampai kapan.
"Lebih baik kamu sekarang fokus sama karir aja deh, nggak usah pikirin Axel atau Farel" saran Marsya.
"iya Sya, pusing juga sama kehidupan sendiri. Terus masalah Nadiv juga, aku pengen ketemu dia intinya pengen selesaikam semuanya. Bila perlu bawa ke jalur hukum lagi" ucap Adiva dengan tegas.
"aku dukung kamu Va, tapi ini udah 10 tahun. Kalau bawa jalur hukum bakal susah, lagipula mereka sudah dapat pelajaran yang setimpal" ucap Marsya sambil terus mending Troley.
"Yaudah lanjut yuh" ajak Adiva lagi.
Mereka melanjutkan berbelanja, tak disadari Adiva dan Marsya di awasi oleh seseorang.
-Bersambung-