Adiva

Adiva
Adiva 10 : Sekelebat Memori



"Bi gimana enak nggak?" tanya Adiva kepada Bi Nana.


Kini mereka sedang menyantap soto Sokaraja yang sangat terkenal.


Ditemani teh tawar hangat dan juga gorengan, membuat menu makan Adiva menjadi terasa nikmat.


"Enak banget mba, saya di Purwokerto baru sebulan. Belum pernah aku nyobain soto seenak ini" ucap bi Nana girang.


"Wah sayang banget kalau nggak nyoba kuliner disini. Kapan-kapan kita makan di luar lagi. Oh iya besok Iva sift pagi, jadi bibi cukup buat sarapan dan makan malam saja ya. Iva makan siang di RS saja" ucapnya dengan tersenyum.


"Baik mba, saya juga besok puasa sunnah" ucap bi Nana.


Perkataan bi Nana, membuat Adiva menatap cepat.


"Bibi sering puasa sunnah yah?" tanya Adiva cepat.


"Alhamdulillah iya mba, sejak saya SMA" jawab bi Nana.


"Oh begitu, terus bi Nana sudah menikah?" tanya Adiva penasaran.


"2 tahun lagi mba, calon suami saya pulang berlayar. Rencana dia akan menikahi saya" jawab bi Nana tersenyum.


"Kalau Iva lihat, bibi baru 30 an ya?" tanya Adiva kembali.


"Iya mba, tahun ini saya 29" jawab bi Nana.


"Wah, nggak terlalu jauh usianya sama aku. Aku manggilnya mba Nana aja yah. Iya mba itu cantik, nggak cocok jadi ART, makanya aku heran pas lihat mba di rumah waktu itu" jelas Adiva.


"Dulu sempat kuliah mba, tapi ya gitu. Nggak punya biaya, cuma anak desa" ucapnya sambil menunduk.


"Sampai semester berapa mba?" tanya Adiva kepo.


"Semester 5, jatuhnya saya ambil cuti. Supaya nanti bisa dilanjutkan ketika sudah menikah." jawab Nana sambil tersenyum.


"Emangnya ambil jurusan apa mba?" tanya Adiva lagi.


"Perawat mba" ucapan Nana membuat Adiva memiliki ide cemerlang.


"Hmm, mba gimana kalau mba lanjutkan kuliah lagi. Kan sayang ilmunya. Pantes aja mama selalu cerita katanya ada ART yang paham kesehatan. Ternyata mba Nana orangnya." jelas Adiva.


"Biayanya mba, saya belum ada" ucap Nana menunduk.


"Aku bisa bilang ke papa kok, kalau nggak hmm mba buka usaha aja. Mau nggak? jualan online. Sekarang kan lagi musimnya skincare nih. Kita buka di garasi rumah aja. Gimana, nanti mba yang mengelola, untungnya bagi dua. Mba bisa lanjut kuliah lagi deh" ucapnya dengan girang.


"Hmm yaudah saya nurut aja sama mba Adiva. Jangan bilang ke tuan Arga mba. Saya tidak enak" ucapnya melas.


"Hmm ok deh, setelah ini kita rancang aja. Mau ngadain skincare dari brand apa. Yuk habisin sotonya, setelah itu belanja keperluan rumah di Moro" ucap Adiva tersenyum tulus.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Adiva dan keluarga Pratama. Ah sudahlah itu urusan mereka, masih untung punya majikan baik" gumam Nana dalam hati.


...---...


Di kantor Axel uring-uringan karena dipikirannya kini hanya Adiva yang sedang menangis kala itu.


"Lo kenapa Xel? kayak cewek lagi PMS aja" ucap Fahrul yang sedang berkunjung ke kantornya Axel.


"Gue tebak, pasti lo mikirin Adiva kan. Muna sih lo, udah tau cinta malah bikin anak orang nangis" ucap Sahrul yang ikut bersama kembarannya itu.


"Nih ya, sepanjang jalan menuju ruangan lo. Karyawan pada ngegosipin lo Xel, katanya lo ngebentak cewek cakep, sampai ngebuang kotak makan siangnya. Itu yang gue dengar dari karyawan lo tadi" ucap Sahrul sambil duduk ongkang-ongkang kaki.


"Gue nggak buang kotak makan siang! Cuma kesenggol terus jatuh oon" ucap Axel kesal dengan Sahrul yang sok tahu.


"Tapi yang lo ngebentak itu fakta kan. Anak orang lo bentak2. Yatim piatu lagi, sarap lo Xel" ucap Fahrul yang ikut kesal melihat tingkah sahabatnya itu.


"Ah udah lah, skip! Ada apa kalian berdua kesini? mau cari ribut?" tanya Axel kesal.


"Marsya ketemu Medina di toko kue ibunya Adiva. Disana juga ada Aman, si Medina ngebacot soal Adiva yang sombong karena nggak kenal sama dia. Kek gitu lah bro" jelas Sahrul menjelaskan.


"Adiva kemarin juga sempat nyebutin Arkana dan Medina, gue juga lagi cari tahu sih. Ternyata Medina ketemu Adiva. Runyam juga kalau sampai tu lampir ngebacot" ucap Axel geram.


"Santai kali bro, Aman sama Marsya udah ancam itu lampir." ucap Fahrul ikut2an kesal.


"Sekarang lo sabar aja dulu bro. Dan ngapain juga sih lo bikin jarak sama Adiva. Keburu digebet Farel, kelabakan lo nanti oon" geram Sahrul yang melihat Axel bertingkah tak sesuai nalar.


"Lo nggak bakal ngerti!! Udah sana gue mau rapat, lo berdua pergi sana" ucap Axel mengusir.


"Sabar dong nyet" ucap Fahrul dan Sahrul bersamaan. Dan langsung pergi ke luar ruangan.


...---...


"Mba Nana, kita beli buah yah. Aku suka banget sama buah nanas." ucap Adiva girang mengambil banyak buah nanas yang sudah di kupas dan yang belum di kupas.


"Mba jangan banyak-banyak nanti sakit perut" ucap Nana memperingati.


"Buat stok mba, buah lainnya terserah mba aja. Semuanya juga udah ke beli kan, yuh bayar." ucap Adiva mendorong 2 troley yang sangat penuh.


Bahkan 2 troley lagi di dorong oleh Nana. Nana geleng-geleng melihat belanjaan Adiva. Padahal tinggal sendiri tapi belanjaannya begitu penuh hingga 4 troley.


Saat Adiva memberikan kartu ATMnya pada Nana, tiba-tiba Adiva di sapa oleh seseorang.


"Lo Adiva kan anak jenius Olimpiade IPA? waw tambah memukau aja lo." kata wanita seksi itu sambil menatap Adiva dari atas hingga bawah.


"Hmm maaf anda siapa ya?" tanya Adiva bingung.


"Oalah ternyata benar apa yang Medina katakan, lo sombong sekarang. Cuma jadi kacung Axel aja, udah belagu banget lo" jawabnya lantang.


Kepala Adiva terasa berat.


'Kacung Axel'


'Kacung Axel'


'Eh lihat tuh Kacung Axel'


'Hahaha cantik-cantik jadi kacung Axel'


"emang gila ni cewek," ucap wanita seksi itu dan langsung pergi.


Tiba-tiba Adiva ambruk dan tak sadarkan diri.


"Tolong-tolong" ucap Nana bingung.


-Bersambung-