Adiva

Adiva
Adiva 06 : Kebingungan Adiva



"Maaf nih mas, saya tidak mengenal mas siapa. Dan terkait Axel, saya ini sahabatnya bukan kacungnya. Jadi tolong kembalikan koper saya!!" ucap Adiva menegaskan.


Tiba-tiba pria itu menarik name tag dari kopernya Adiva. "Oh lo sekarang dr umum, keren juga lo. Anak pembantu lulusan Stanford keren" ucap pria itu mengejek.


"Dasar tidak tau sopan santun, kembalikan. Petugas! tolong ini ada orang aneh. Tolong!!!" ucap Adiva mengambil name tagnya dan meminta tolong.


Tak lama 2 petugas datang dan menanyakan apa yang terjadi. "Ada apa mba?" tanya petugas wanita itu.


"Gini mba, masnya ini tidak sopan sama saya, asal ambil koper, dan asal tarik name tag saya. Terus sok kenal dengan saya mba" kata Adiva menjelaskan.


"Maaf mas, sebaiknya mas segera keluar dari tempat ini. Karena masnya sudah menganggu ketenangan penumpang lain" ucap bapak petugas dengan tegas.


Pria itu dengan name tag Arkana Dwipangga langsung pergi diantar oleh bapak petugas. Sedangkan Adiva dibantu sampai menemukan mobil jemputannya oleh mba petugas.


"Arkana? kacung Axel? anak pembantu? maksudnya apa?" tanya Adiva dalam hati.


"Terima kasih mba karena sudah mencarikan saya mobil dan hotel. Insya Allah besok pagi saya pulang ke Purwokerto, hari ini menginap di Jakarta dulu" ucap Adiva sambil tersenyum dan memberikan tip kepada mba petugas itu.


"Sama-sama mba, tidak perlu mba. Ini sudah tugas saya, berikan saja tipnya pada porter yang nanti membantu barang mba" ucap mba petugas itu.


Lalu Adiva hanya tersenyum dan memberikan tip tersebut kepada porter. Saat porter itu memasukkan barang-barangnya ke mobil. Sekelebat ingatan tentang bapak Ahmad yang sedang menyambut keluarga besar Pratama.


"Kenapa aku mengingat pak Ahmad?" gumamnya kebingungan dan masuk ke dalam mobil.


Tak lama ponselnya berdering ternyata nyonya Heni menelponnya.


Nyonya Heni 📞 : "Hallo assalamu'alaikum sayang? kamu sudah di hotel?"


^^^Adiva📞 : "Waalaikumsalam Mam, Iva sudah di mobil mau OTW hotel yang dekat stasiun, besok jam 8 Iva otw Purwokerto. Udah booking tiket kok"^^^


Nyonya Heni 📞 : "Yaudah sayang kalau begitu, kamu hati-hati yah. Pintu kamar hotelnya di tutup rapat ya. Dan juga jangan lupa makan. Mama tunggu di rumah, nanti kalau sudah sampai Axel yang menjemput di stasiun"


^^^Adiva📞 : " Iya Mam"^^^


Adiva lelah karena perdebatan dengan orang asing bernama Arkana itu.


Karena malas memikirkannya Adiva tertidur di mobil yang menuju hotel.


...---...


Rumah Pak Ahmad, Purwokerto Barat


Axel dan ke tiga temannya sedang bersantai di rooftop rumahnya pak Ahmad yang sudah di renovasi. Karena demi menjaga Adiva, Axel rela pindah ke rumahnya mendiang pak Ahmad.


Toko kue milik Bu Annisa pun sudah berkembang pesat di bawah naungan Marsya yang membantu pemasaran.


Sudah 1 tahun Marsya dan Aman menjalin kasih, hal ini dikarenakan mereka sering bersama, karena kejadian beberapa tahun lalu yang menyangkut Adiva.


"Gimana lo udah tahu, perasaan lo sama Adiva?" tanya Sahrul penasaran.


"Gue akui gue cinta sama dia, tapi biarlah begini. Lagi pula kesehatan dan ingatannya belum pulih" jawab Axel pasrah.


"Kemarin gue ketemu Farel di RS, dia udah jadi Kapten. Salut gue sama dia" ucap Aman yang kini berprofesi sebagai direktur di perusahaan ayahnya.


"Farel yang dulu bantu kita?" Tanya Sahrul membeo.


"iya, gue tahu, Dia gue undang di acara peresmian kantor entertainment kemarin" ucap Axel acuh.


"Terus lo jawab apa?" tanya Fahrul mulai kepo.


"Gue jawab aja, nggak tau. Gue mikirin perasaan Axel lah. Nih Xel, mending lo jujur aja sama Adiva. Dari pada diambil orang, pelan-pelan Adiva bakal ngerti kok. Kita kasih tau aja keadaan yang sebenarnya" saran Aman.


"Gue nggak mau dia terluka karena meninggalnya kedua orang tuanya itu" ucap Axel menerawang.


Ketiga sahabatnya hanya terdiam.


...---...


Adiva kini sudah selesai mandi, dan akan makan siang di resto hotel. Menggunakan dress semata kaki dengan lengan pendek. Lalu rambutnya yang di kepang 1. Membuatnya tampil cantik dan fresh.


Adiva duduk di salah satu bangku resto yang menghadap ke arah kolam renang, banyak turis dan keluarga yang sedang menikmati makan siangnya.


Adiva memesan nasi goreng ayam dan lemon tea hangat. Tak lupa salad buah yang extra keju.


"Bukannya lo Adiva? apa kabar lo. Gue lihat lo baik-baik aja" ucap wanita berambut pendek itu.


Tiba-tiba wanita itu duduk di hadapan Adiva. Membuat Adiva membulatkan matanya.


"Maksudnya? iya saya Adiva" ucapnya dengan santai.


"Gue Medina, teman angkatan lo. Gue cuma mau bilang maaf untuk semua kesalahan gue waktu itu. Bahkan anak-anak lain juga mau minta maaf sama lo. Tapi lo keburu pergi" ucapnya dengan memelas.


"Sorry saya tidak ingat, Saya memang pernah sekolah di SMA Purwokerto, tapi saya tidak ingat anda dan yang lainnya. Kecuali Axel dan teman dekat saya" ucap Adiva meyakinkan.


"Gue dengar dari dokter kenalan Daddy gue, lo depresi. Mungkin lo nggak ingat, tapi gue harus minta maaf, karena sebentar lagi gue nikah. Gue nggak mau punya masalah di masa lalu yang nantinya bakal merusak rumah tangga gue. Jadi gue minta maaf, kalau lo mau tau masalahnya. Lo tanya sama Axel" kata Medina menjelaskan.


"Oh ok." ucapnya acuh.


Medina pun pergi tanpa pamitan, karena Medina masih kesal terhadap Adiva. Karena masalah itu, Medina susah untuk kuliah.


"Arkana? Medina? besok siapa lagi. Kenapa aku tidak mengingat mereka?" tanya Adiva kebingungan.


Di lobby hotel itu, Medina menelpon seseorang dengan sangat serius.


"Lo bener kak, gue udah lihat dia. Dia nginap di hotel yang sama dengan gue." ucapnya dengan serius kepada seseorang di telpon itu.


-Bersambung-


Siapa yang dihubungi oleh Medina?


Gimana suka nggak sama ceritanya?.


Semoga suka yah.


Selamat datang untuk yang baru bergabung.


Jangan lupa vote, like dan jadikan favorit yah.


Thanks yah.


❤❤❤❤