
"Va, kenapa nggak panggil Mba Nana buat makan bareng. Ini kita udah masak banyak banget loh" ajak Marsya yang sedang sibuk menata meja makan.
"Mba Nana kan lagi bantu-bantu di rumah Mama, lagian kamu sendiri nggak dipikir dulu. Kita cuma berdua aja, masaknya banyak banget. Besok aku masuk pagi, nanti makanannya di masukin kulkas aja" saran Adiva yang kini sedang duduk bersama Marsya.
Marsya memasak ayam betutu lado hijau, lalu sayur sop ayam dan salad buah tak lupa brownies pudding. Sejak ditugaskan mengelola toko kue orang tuanya Adiva, Marsya jadi bisa masak dan mengolah berbagai makanan.
"Wah Sya, nggak nyangka aku. Kamu bisa masak hidangan seenak ini. Aku yakin sih, si Aman bakal tambah cinta. Btw kapan nih nikah, nunggu apa lagi?" tanya Adiva yang penasaran dengan hubungan sahabatnya itu.
"Alhamdulillah deh kalau kamu suka, do'ain aja ya semoga secepatnya. Aman masih sibuk ngurusin toko bangunan milik orang tuanya. Karena buka cabang daerah Bumiayu" jawab Marsya santai.
"Kalian cocok yah, si Aman bisnis oke. Kamu bisa kelola bisnis juga. Aku kapan yah bisa saling berjuang bareng pacar?" gumam Adiva.
"Itu si Farel sama Axel ada, pilih aja kali Va." Celetuk Marsya sambil tertawa.
"Masih bahas mereka mending pulang deh, sebel" ucap Adiva kesal dan menyendok nasi banyak-banyak.
"yaelah gitu aja marah. Yaudah makan aja dulu. Becanda kali Va" ucap Marsya sambil bergeleng kepala karena tak habis pikir, sifatnya Adiva makin kekanak-kanakan bukannya tambah dewasa, padahal sudah jadi dokter muda, seharusnya tidak perlu bingung terkait urusan cinta.
......................
"Loe yakin? Dia udah berubah?" tanya Nadiv yang terkejut mendengar berita tentang Adiva dari Kana.
Kana yang menghampiri Nadiv di apartemennya yang berada di Jakarta Pusat.
Kana mampir karena baru saja pulang dari Labuhan Bajo.
"Gue harus pulang. Gue pengen ketemu dan minta maaf secara langsung sama dia. Gue udah gila ikut permainan kotor loe" ucap Nadiv yang menyesal akan masa lalu.
"Kita bertiga sama-sama tertarik sama dia. Sejak dia pertama masuk SMA, terutama Farel yang sangat paham tentang Adiva" ungkap Kana sambil mengingat kenangan itu.
"Tapi, tetap aja. Cara gue salah, gue tergiur sama hadiahnya. Jadi gue berlaku kurang ajar sama Adiva. Gue yakin mentalnya rusak, makannya dia pindah ke USA" ucap Nadiv mengira-ngira.
"Di hari yang sama ortunya wafat. Dia sempat hilang ingatan dan seolah-olah dia anak dari keluarga Pratama. Gue juga tahu dari Farel" ucap Kana menjelaskan.
"Malam ini gue pulang ke Purwokerto, gue pengen ketemu dia. Entah diusir atau apapun gue tetap pengen ketemu dia!" ucap Nadiv teguh pendirian.
"Ya terserah loe aja deh Div. Gue saranin loe temuin Axel dulu atau temuin Farel. Secara nggak langsung mereka berdua selalu ada untuk Adiva dan memperhatian gerak-gerik yang mencurigakan disekitar Adiva" saran dari Kana agar temannya itu tidak salah bertindak.
"Ya sepertinya lebih baik begitu" ucap Nadiv dengan tulus.
-Bersambung-