
Hai Terima kasih yang sudah dukung cerita ini.
Semoga kedepannya akan berjalan lancar.
Masih banyak typo.
Adiva Pov
Akhirnya aku sudah duduk manis di kereta, perjalanan yang melelahkan memang kira-kira berapa jam lagi yah sampai ke Purwokerto.
Tadi malam aku tidak bisa tidur, sosok Arkana dan Medina membuatku berpikir keras. Siapa mereka? apa mau mereka?.
Mama menelpon.
Mama❤📞: "Saya kamu sudah di kereta nak?"
^^^Aku📞 : "Iya nih Mam, sudah sarapan juga. Mungkin siang nanti sampai Purwokerto Mam"^^^
Mama❤📞 : "Ya sudah nanti mama suruh Axel jemput kamu. Hati-hati ya nak"
^^^Aku📞 : "Iya Mam"^^^
Telpon singkat dari Mama yang sudah terlalu khawatir padaku. Axel, aku harus banyak bertanya padanya, memangnya apa yang terjadi di masa lalu?
Axel masih suka renang tidak ya? Marsya aku dengar-dengar dia pacaran sama kak Aman.
10 tahun meninggalkan Indonesia membuatku rindu masakan Mama, masakan bu Annisa pastinya. Namun, beliau sudah tenang di sisi mu Ya Allah.
Adiva pov end
Adiva menikmati perjalanannya menuju Purwokerto, kota terpelajar, yang menyimpan kenangan untuknya.
Adiva ingin melanjutkan spesialisnya di Kedokteran Unsoed, dan dia sudah di terima di RS DKT, karena lulusan universitas luar negeri yang sangat terkenal, membuatnya mudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan prestasinya lumayan banyak, membuatnya mudah dalam segala urusan.
Siang itu Axel sedang menikmati pemandangan hujan dari jendela kamar nya yang menghadap jelas ke luar. Kamarnya di rumah Pak Ahmad tertata sangat rapi seperti di rumahnya dulu.
Barang-barang yang berhubungan dengan keluarga aslinya di sembunyikan terlebih dahulu. Bahkan foto keluarga pun yang dipajang yang bersama Adiva saat pernikahan Julio dan Stefani. Semuanya sudah diatur serapi mungkin.
Di rumah Pak Ahmad, Axel di temani oleh bu Asih dan juga Pak Mamat sebagia penanggung jawab rumh tersebut. Pak Mamat dan bu Asih sudah menikah 5 tahun yang lalu dan sudah dikaruniai seorang putera, terkadang suka menemani Axel berenang di rumah keluarga Pratama.
"Permisi tuan muda, sudah siang. Nona Adiva sepertinya sudah sampai di stasiun" ucap bu Asih dari luar pintu.
"Bu jangan tuan muda, cukup Mas Axel saja, dan mba Adiva. Itu lebih baik dari pada tuan dan nona" ucap Axel tegas.
"Baik mas Axel. Ibu suka kebablasan kalau bicara" ucap bu Asih meminta maaf dan permisi ke bawah.
"Adiva, seperti apa dirimu sekarang" gumam Axel sambil menatap hujan.
...---...
Hujan sudah mulai reda, kini Adiva sudah sampai di stasiun Purwokerto. Menunggu di salah satu bangku kedatangan.
"Yang jemput aku Axel?. Tapi mana yah dia, kok nggak kelihatan sih" ucapnya kesal sambil terus mengecek ponselnya. Ponselnya lowbat, membuatnya kebingungan.
Tiba-tiba Adiva di kejutkan oleh seorang pria yang berdiri persis di hadapannya. Menggunakan kemeja kotak-kotak biru muda dengan celana jeans pendek dan sepatu converse abu-abu.
"Axel? hah? ini beneran kamu.. Aaaaa aku kangen banget" ucap Adiva teriak dan segera memeluk Axel.
"Iya ini aku, kenapa nggak nelpon? aku nunggu kamu di sana 2 jam" ucapnya dingin dan tak membalas pelukan Adiva.
Adiva yang merasa sosok Axel berubah langsung melepas pelukannya dan menatap Axel dalam. Tidak ada tatapan kasih sayang ataupun tatapan kerinduan.
"Kenapa Axel berubah yah?" ucap Adiva dalam hati.
"Maaf ponsel aku lowbat, yaudah yuk langsung pulang. Maaf aku lancang meluk kamu" ucap Adiva terus terang.
Axel hanya mengangguk dan langsung membawa koper Adiva menuju parkiran.
Di mobil suaranya hening, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan.
"Hmm Xel, kamu apa kabar?" tanya Adiva memulai.
"Baik" balasnya singkat dan fokus menyetir.
"Kamu kerja diperusahaan Papa ya, sebagai apa?" tanya Adiva yang memang tidak tahu posisi Axel di sana.
"Staff marketing" ucapnya berbohong.
"Oh gitu, kak Mario dan Kak Julio ngak bisa terusin bisnis papa, aku masuk kedokteran. Sukurlah kamu ada di kantor jadi bisa bantu-bantu papa" ucap Adiva senang.
Suasana menjadi canggung, sampailah mereka di kediaman keluarga Pratama.
"Assalamu'alaikum Mama, Papa. Iva pulang" ucapnya dengan girang.
"Waalaikumsalam Nak" jawab kedua orang tuanya.
Mereka berhambur peluk, Mario menatap Axel yang langsung keluar begitu saja. Diikuti oleh Mario, "Xel, lo kenapa nggak makan siang di sini aja. Kenapa harus pergi, ini juga rumah lo" ucap Mario menahan Axel.
"Udahlah kak, gue cuma pengen Adiva punya waktu sama keluarga. Lagian Adiva taunya gue anak mendiang Pak Ahmad, bukan anak Papa dan Mama" ucap Axel dengan santai.
"Ya setidaknya lo sama papa. Papa dah lama nggak ketemu sama lo Xel" bujuk Mario lagi.
"Di kantor juga ketemu kok, gue bahagia kalau Adiva nggak kesusahan. Karena Adiva kayak begini juga karena gue lalai" ucap Axel pasrah dan berlalu pergi.
Mario paham bagaimana perasaan adiknya itu. Namun mau bagaimana lagi, situasinya sudah berbeda.
-Bersambung-
Jangan lupa likenya yah.
Oh iya mampir ke cerita aku yang baru dong❤
Jodoh Ku Satu Profesi. Dijamin bakal suka😍😍🥰🥰