
"hmm mam, apakah Axel sering datang ke rumah?" tanya Adiva pada nyonya Heni.
Sudah 2 hari sejak kepulangan Adiva, namun Axel tak kunjung datang bertemu dengannya.
"Axel sibuk nak di kantor, kenapa kamu tidak mengunjunginya di kantor saja?" ucap nyonya Heni sambil tersenyum.
"Hmm emangnya boleh Mam?," tanya Adiva ragu.
"Boleh sayang, nanti bawa bekal makan siang untuknya, lagi pula kamu kan belum aktif kuliah, bekerja juga di mulai bulan depan. Sebulan ini kamu manfaatkan saja waktu bersama Axel dan teman-teman yang lain" uco nyonya Heni sambil mengusap rambut Adiva.
"Yaudah Mam, nanti aku siapin bekal untuk Axel" ucapnya dengan lembut.
...---...
Sudah 1 jam berkutat di dapur demi memasakkan makan siang untuk Axel. Namun menunya hanya nasi goreng.
"1 jam cuma nasi goreng, kok aku oon sih dalam hal memasak huffff" ucapnya kesal.
Lalu menata nasi goreng ayam di kotak bekal, lalu menyeduh kopi susu dimasukkan ke dalam. tumbler. Tanpa dia sadari Mario sedang tertawa melihat Adiva kesusahan seperti itu.
"Bukan dibantuin, malah kamu ketawain" ucap nyonya Heni kesal melihat Mario.
"Lucu mam, dia hanya pintar akademis wkwkwk, dalam. Urusan rumah sama sekali tidak bisa, bahkan di rumah kak Julio, selang air menyiram bunga sampai copot olehnya" ucap Mario tertawa mengingat kejadian itu.
"Dari kecil Adiva difokuskan belajar kak, jadi untuk urusan rumah dia belum terbiasa" bela nyonya Heni.
Peluh Adiva sudah mengalir, rambutnya sudah acak-acakkan. Pekerja di rumah keluarga Pratama, ingin membantu Adiva namun dilarang olehnya.
"Akhirnya selesai juga, tadi enak sih lumayan" gumamnya tersenyum lega.
"Gimana nak sudah selesai?" tanya nyonya Heni tersenyum dan agak risih melihat dapurnya berantakan.
"Kayaknya kamu harus kursus masak deh sama bi Nana, lihat tuh wajan kusus rebus kamu buat untuk goreng aduh" ucap Mario mengejek.
"ih kakak, emang kakak bisa masak? nanti juga aku beresin. Namanya juga belajar" kesal Adiva lalu membawa tas bekal itu ke kamarnya meninggal kan semua orang yang melihatnya.
"Mario, kamu itu. Bi Nana tolong rapikan dapurnya kembali. Saya mau membujuk Adiva. Jangan jahilin Adiva bisa nggak sih kak!!" ucap nyonya Heni penuh penekanan.
"Iya iya mam" jawab Mario takut.
Di kamar Adiva segera mandi lalu berhias, dia menggunakan celana jeans dan baju lengan panjang yang longgar. Lalu membiarkan rambut nya tergerai indah.
"Sayang, kamu sudah siap?" tnya nyonya Heni melihat Adiva sudah rapi.
"Sudah mam, aku pergi dulu yah. Assalamu'alaikum, aku bawa mobil sendiri aja Mam. Aku masih ingat kok kantor papa" ucapnya dengan sumringah.
"Jangan dimasukkan ke hati ya ucapan Mario, yaudah kamu hati-hati yah. waalaikumsalam sayang" ucap nyonya Heni dengan senang.
Adiva mengangguk dan segera berangkat ke kantor.
Di perjalanan, Adiva tidak berhenti untuk tersenyum. "Semoga Axel suka sama masakan aku" ucapnya dengan senang.
Sampailah di lobi kantor, Adiva langsung di sambut dengan ramah. Namun ada yang menatapnya heran, karena mereka belum pernah melihat Adiva.
Adiva bertanya ruangan Axel di receptionist.
"Permisi mba, saya mau tanya ruangan bapak Axel, dimana yah?" tanyanya sopan.
"Maaf sebelumnya mbanya siapa ya? sudah buat janji dengan bapak Axel?" tanyanya balik.
"Saya Adiva temannya bapak Axel, belum buat janji mba" jawabnya sopan.
"Baiklah tunggu sebentar" ucapnya lalu Adiva duduk di salah satu kursi.
Tak lama tuan Arga lewat bersama kolega lainnya karena sudah selesai rapat.
"Papa?" ucap Adiva menghampiri tuan Arga.
"Iva, kamu sedang apa nak disini? kenapa menunggu disini?" tanya tuan Arga heran.
"Mau antar bekal ke Axel Pap, belum buat janji jadi harus nunggu disini" jawabnya sambil tersenyum.
"Gawat kalau Adiva tahu posisi Axel, bagaimana ini. Kantor juga belum tahu tentang Adiva, mereka tahu jika anak ku Axel bukan Adiva" gumam tuan Arga kebingungan.
"Baiklah tuan Samir semoga selamat sampai tujuan, kenalkan ini Adiva anak perempuan saya" ucapnya mengenalkan Adiva.
"Cantiknya, saya kira Axel anak terakhir anda tuan" ucap tuan Samir membuat Adiva bingung.
Ingin bertanya, namun Axel keburu datang.
"Tuan Samir lanjutkan saja bincangnya dengan tuan Arga, saya ada urusan dengan nona ini" ucap Axel dengan dingin, menarik Adiva ke sisi gedung yang sepi.
Hening..
"Hmm Xel? kamu udah papa angkat jadi anak yah?" tanya Adiva memulai pembicaraan. Membuat Axel menoleh.
"Kenapa?" tanya Axel heran.
"Di halaman gedung tadi ada foto kamu besar yang tertera CEO perusahaan ini. Dan kolega papa sebut kamu anaknya papa. Apa benar? selama sepuluh tahun ini kamu jadi anak papa?" tanya Adiva memastikan.
"Gue cuma bantuin bokap lo. Sebenarnya gue males, kenapa lo harus jadi dokter? kenapa harus gue yang nanggung!!!! dan kepergian lo ke Amerika bukan tanpa sebab" ucap Axel dengan lantang.
Membuat Adiva terkejut, "Hah maksudnya ini salah aku?" tanya Adiva bingung.
"Iya ini semua salah lo, harusnya lo sama gue nggak usah dekat. Ini terakhir kalinya gue lihat lo ke kantor, walaupun gue tahu ini kantor bokap lo, cuma gue nggak mau ada gosip tentang lo dan gue. Nggak usah sok peduli sama gue!!!" ucap Axel dengan lantang.
Membuat Adiva bingung dan sakit hati, bahkan sudah lemas.
"Aku nggak ngerti Xel, dan banyak yang ingin tanyakan tentang Arkana serta Medina. Tapi kenapa kamu menjauh dan malah marah ke aku? aku salah?" tanya Adiva mulai menangis.
Axel terkejut mendengar nama Arkana dan Medina bagaimana Adiva mengingat itu.
"Mending lo pulang sekarang" ucap Axel berlalu pergi dan menyenggol bekal makanan itu. Lalu terjatuh ke atas tanah.
Membuat Adiva menangis haru.
"Va, maafin aku. Ini harus aku lakukan agar kamu nggak tersakiti lagi" ucapnya dalam hati.
Axel berlaku pergi ke ruangannya.
...---...
"Gimana sayang, Axel suka sama masakan kamu?" tanya nyonya Heni yang melihat Adiva sudah pulang.
"Mulai hari ini Iva nggak mau ketemu Axel Mam, Iva juga mau tinggal di kontrakan dekat RS aja. Lagian mama sama papa sudah mengangkat Axel jadi bagian keluarga ini" ucap Adiva datar dan berlalu ke kamarnya.
Nyonya Heni kaget dan melihat kotak makan siang itu sudah kotor. "Sepertinya ada masalah di kantor tadi. Apa yang anak itu lakukan sampai Adiva begitu" tanya nyonya Heni kebingungan.
"Kenapa sakit yah di bentak gitu sama cowok, kenapa yah. Awww kepalaku sakit sakali. Apa karena menangis terlalu lama yah" gumamnya sambil merapikan barang-barangnya.
...---...
"Kenapa mama ke kantor? ada apa?" tanya Axel yang bingung melihat mamanya masuk ke ruangannya di temani suaminya yaitu tuan Arga.
"Apa maksud kamu buat Adiva nangis? kamu nolak bekal makan siang?" tanya nyonya Heni sewot.
"Axel begini karena Adiva nggak bahaya kalau dekat-dekat Axel mam, biar dia paham situasi dan jaga diri aja. Lagi pula yang dia tahu Axel anak pak ahmad bukan anak papa mama" ucap Axel santai.
"Terus dia kenapa mau pergi dari rumah? kamu bicara apa sama dia? kalau sakitnya kumat lagi gimana? kamu mau tanggung jawab" balas nyonya Heni makin sewot.
"Lambat laut dia juga harus tahu kebenarannya, agar tidak menyiksa di kemudian hari" jawab Axel yang tidak Terima di marahi mamanya.
"Sudahlah kalian berdua ini bertengkar saja, ikuti saja kemauan Adiva, lagi pula Adiva sudah tahu jika Axel papa angkat jadi anak papa. Karena tidak bisa disembunyikan lagi Mam, Axel anak kandung kita penerus perusahaan papa. Bagaimana mungkin papa berbohong ke kolega papa Mam" ucap tuan Arga tak kalah bingung.
"Tapi kan kita bisa atur dengan matang sebelum berbicara padanya Pap, Adiva hanya perlu waktu untuk terbiasa." ucap nyonya Heni bingung.
Axel dan kedua orang tuanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing, Axel tampak bersalah ketika melihat Adiva yang menangis dihadapannya itu. Namun ini semua resiko yang harus ia hadapi, agar Adiva lambat laun paham.
"Gue harus hubungi Farel, karena Arkana bahkan Medina sudah bertemu Adiva" gumam Axel dalam hati.
-Bersambung-
gimana nih ceritanya ❤