Adiva

Adiva
Adiva 11 : Tekad Adiva



Adiva di bawa ke klinik terdekat, Nana memeriksa vital Adiva dan alhamdulillah baik-baik saja.


"Bagaimana kondisi Adiva mba Nana?" tanya Axel cemas.


Karena Nana menghubungi Axel, karena takut nyonya Heni panik.


"Sedang diperiksa dokter mas" jawab Nana tak kalah cemas.


"Bagaimana bisa dia pingsan?" tanya Axel kesal.


"Tadi ada wanita cantik, dia mengucapkan. Kacung Axel, begitu mas. Setelah itu mba Adiva pingsan" jelas Nana sedikit takut, karena Axel sudah marah.


"Ya sudah mba Nana jangan beritahu hal ini sama mama, cukup kita yang tahu" perintah Axel cepat.


"Baik mas, kalau begitu saya mau ke kantin dulu beli makanan. Takut mba Adiva lapar nanti" ucap Nana pamit.


"Yasudah sana" kata Axel tegas.


"Va, maafkan aku yang lalai" ucapnya menyalahkan diri sendiri.


"Dengan keluarga Adiva?" tanya dokter wanita itu.


"Saya sahabatnya dok, Adiva kenapa dok?" tanya Axel cemas.


"Ikut ke ruangan saya pak Axel" ucap dokter itu dan diikuti oleh Axel.


"Sebelumnya apakah nona Adiva pernah mengalami depresi berat?" tanya dokter.


Axel menceritakan kejadian dari awal kenapa Adiva seperti itu. "Memorinya nona Adiva berantakan seperti puzzle. Namun setelah 10 tahun, pemicu memori itu berdatangan yang membuat memori itu kembali terpacu untuk memaksa mengingat kejadian lampau" jelas dokter.


"Lalu bagaimana keadannya saat ini dok?" tanya Axel.


"Nona Adiva belum sadar kan diri saat ini. Tunggu dia sadar terlebih dahulu. Nanti kita lihat reaksinya" ucap dokter itu.


"Terima kasih dokter, atas informasinya" ucap Axel dan lalu pergi ke tempat Adiva, Adiva masih di IGD.


"Sama-sama pak" ucap dokter tersebut.


...---...


"Lo harus lihat gimana si kacung itu tadi Din, sumpah gue ngakak lihat wajahnya tegang." kata Caitlyn sambil tersenyum sinis.


"Emangnya gimana sih, kok lo bisa ketemu dia?" tanya Medina bingung.


"Gue lagi belanja di Moro, terus gue nggak sengaja lihat dia. Bener banget dia sombong, sok nggak kenal gitu. Tapi penampilannya tambah keren sih" ucap Caitlyn.


"Iya sikapnya aneh. Gue masih dendam sama dia karena dia kita jadi nggak tenang, mau kerja juga susah" kata Medina kesal.


"Lo sih, pake acara nurut sama kakak lo. Udah tahu resikonya besar. Apalagi ada Axel, ya tambah runyam masalahnya waktu itu" kata Caitlyn juga kesal.


"Ya gue cuma nurut kakak gue aja bego. Udahlah skip bahas tu kacung. Kata kak Kana dia dokter umum lulusan Stanford." ucap Medina dengan malas.


"Hah Stanford? parah sih, uang dari mana dia bisa kuliah kedokteran Stanford" ucap Caitlyn tak percaya.


"Dia kan jenius oon. Dan pasti keluarga Axel yang bantu itu kacung" kata Medina kesal.


Caitlyn hanya mengangguk saja, dan menatap Medina yang mulai kesal.


...---...


"Eng ehhh, kepala aku sakit" keluh Adiva yang sudah sadar.


"Jangan banyak gerak, istirahat aja" ucap Axel peduli dan sedikit hangat.


"apa dia takut sama aku?" gumam Axel dalam hati.


"Mba Nana lagi ke kantin" ucap Axel singkat.


"Hmm Xel, apa yang terjadi di masa lalu?" tanya Adiva memulai.


"Tidak terjadi apapun, udah istirahat saja" kata Axel tegas.


"Bohong, aku ingat sekarang. Setiap kita jalan berdua, Orang-orang memanggilku kacung Axel. Memangnya aku kacung kamu? dan mereka bilang aku anak pembantu, apa yang sebenarnya terjadi Xel? kenapa aku tidak mengingatnya dengan jelas?" tanya Adiva mulai menangis.


"Tidak terjadi apa-apa itu cuma halusinasi kamu aja Va, udah sekarang kamu istirahat" ucapnya sambil memeluk Adiva.


Adiva memeluk Axel kuat "Ini yang aku rindukan dari kamu Xel, kasih sayang kamu yang tulus" gumamnya dalam hati.


"Aku harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi 10 tahun yang lalu" ucap Adiva bertekad dalam hati.


"Nona Adiva istirahat yang cukup, jangan banyak berpikir keras. Nanti dapat mempengaruhi kesehatan nona Adiva pak Axel" ucap dokter memberikan saran sehat atas kondisi Adiva.


Kini Adiva sedang istirahat, "Terima kasih dokter" ucap Axel.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi" ucapnya sambil berlalu pergi.


Axel menemani Adiva di rumah sakit, sampai imfusnya habis. Ini sudah masuk waktunya sholat magrib. Axel meninggalkan Adiva untuk sholat magrib.


Kesempatan ini Adiva gunakan untuk pulang, karena sedari tadi dia tidak tidur. Dia hanya pura-pura tidur, Adiva melepas infusannya dan menghubungi Nana.


^^^Adiva📞:"Mba Nana mobil dan belanjaan ada dimana?" tanya Adiva cepat. ^^^


Mba Nana 📞 : "Sudah di rumah mba, saya sedang di kantin. Apa mba mau pulang?" tanya Nana cepat.


^^^Adiva📞 : "antar aku pulang mba, tidak perlu hubungi Axel. Aku kabur darinya" kata Adiva mengendap menghindari perawat. ^^^


Mba Nana📞 : "Baik mba" ucap Nana cepat.


^^^Adiva📞 : "Mba sekalian beli hansaplast untuk menutup bekas infus" ucap Adiva. ^^^


mba Nana📞 : "Baik mba"


Adiva menunggu mba Nana di lobi rumah sakit, menutup wajahnya dengan masker.


"Mba Nana sini" panggil Adiva pelan.


"Oh syukurlah mba Adiva baik-baik saja, saya sudah panik tadi. Ini hansaplastnya" ucap Nana lega.


"Huts diam nanti ada yang dengar, ayo kita pulang" ucap Adiva sambil menutup luka infus dengan hansaplast.


Mba Nana memesan taxi online dan langsung menuju rumah Adiva.


"Heran deh sama mba Adiva, bukannya setiap wanita akan pura-pura tidak berdaya agar dikasihani oleh pria, kenapa mba Adiva justru pergi" gumam Nana dalam hati kebingungan.


Tak lama setelah itu ponsel Adiva berdering.


Axel😴 📞 : "Va kamu dimana sih? kenapa infus kamu copot?" tanya Axel kesal dan cemas.


^^^Adiva📞: "Hehe aku pulang Xel sama mba Nana, makasih udah tolong aku. Tapi aku harus jaga jarak kan sama kamu, itu ucapan di kantor kemarin. Udah dulu" kata Adiva memutuskan telpon secara sepihak. ^^^


"Akh kenapa begitu menyiksa!!" ucap Axel kesal lalu berlalu dari IGD. .


-Bersambung-


Gimana nih sama ceritanya? suka nggak?