
"Nak, ikhlaslah dalam menjalani hidup. Insya Allah, semua jawaban yang kamu inginkan akan segera kamu ketahui" ucap ibu itu dengan merangkul pundak Adiva.
"Ibu Anisa? kenapa bisa ada di sini?" tanya Adiva bingung.
"Nak, ibu dan ayahmu sudah ikhlas. Kini kamu sudah dewasa ikhlas lah dalam menjalani hidup" ucap Ibu Anisa dengan tenang.
"Tapi, Iva nggak ngerti maksudnya apa?" tanyanya kebingungan.
Tiba-tiba iya terbangun di ranjang rumah sakit, pastinya UGD.
Kepalanya sakit, dan semua memorinya yang hilang kini kembali lagi.
Membuatnya sakit kepala dan segera melepas infusan dan keluar dari UGD mencari taxi untuk pergi ke rumahnya dulu.
Kini ingatan Adiva sudah kembali.
Di rumah sakit, semuanya kehilangan Adiva yang tidak ada di ranjang tempat tidur UGD.
"Lo yakin tadi masih ada?" tanya Axel yang mulai kesal kepada Marsya.
"yakin Xel, gue pergi ke administrasi. Pas kalian semua lagi di luar gue yakin banget, Adiva masih di ranjang ini" ucap Marsya menjelaskan.
Karena saat Marsya sampai di boutique bersama Aman, Adiva sedang pingsan. Dengan sigap oleh Aman digendong lalu dibawa ke rumah sakit.
"Lebih baik kita semua pulang dulu, Axel jaga emosi kamu. Papa yakin Adiva baik-baik aja" ucap Pak Arga sigap.
Di rumahnya dulu, Adiva melihat semuanya masih sama seperti 10 tahun lalu. Bahkan kamarnya masih tertata rapi, disana banyak piala dan piagamnya.
Adiva masuk ke kamar di lantai atas yang sudah di rombak oleh Axel.
Yaitu menjadi kamar Axel, di sana Adiva melihat lukisan dirinya terpampang jelas.
Di meja itu terdapat foto Adiva dan Axel sewaktu Axel lomba renang.
Serta 1 kotak besar berisi surat-surat yang tertata setiap tahunnya.
Selama 5 tahun terakhir, Axel sering menulis surat atau bisa disebut isi hatinya.
Tahun ke 5
Va, hari ini Purwokerto turun hujan. Aku ingat kalau hujan begini kita beli wedang ronde dekat SMP kita dulu. Va gimana kabar kamu?, jika saja malam itu aku ikut menemani kamu ke toilet. Mungkin kejadian malam itu tidak terjadi.
Kamu dan aku akan lulus dari SMA tanpa masalah. Dan andai saja, aku tidak menyuruh kamu mematikan ponsel kamu. Mungkin kamu bisa tau keadaan ibu dan ayah kamu sewaktu pulang kampung. Va, kalau nanti ingatan kamu sudah kembali. Apa aku bisa berterus terang? ah tidak usah begitu. Seandainya kamu kembali ke sini, apa aku bisa bersikap. seperti tidak terjadi apa-apa?. ini surat terakhir Va, aku ingin melupakan kamu Va. Cinta pertamaku.
"Xel segitu merasa bersalahnya kamu ke aku Xel?" tanya Adiva sambil memeluk foto itu.
Lalu Adiva membawa surat itu, dan merapikan barang-barang Axel kembali.
Saat Adiva turun tangga, di sana dia melihat Mahesa dan Mbok Darmi baru saja datang dari toko kue.
"Loh kakak cantik" teriak Mahesa sambil berlari memeluknya.
"Ha ha halo sayang" ucap Adiva terbata-bata.
"Non, temannya tuan Axel ya?. Tidak apa-apa non, saya tahu non bukan orang jahat, atau maling" ucap Mbok Darmi yang tahu Adiva merasa takut.
"Iya mbok, saya hanya main ke sini. dan mencari Axel tapi di atas tidak ada. Kalau begitu saya pergi dulu ya mbok,. Dah Mahes. Assalamu'alaikum" ucap Adiva sambil keluar dari rumah lamanya itu.
"Mba Adiva tidak ada mas, belum pulang dari boutique" ucap Nana yang kini ditanyai oleh Axel di rumah Adiva.
"Kemana ya mba?. Adiva pingsan mba. Dan kabur dari UGD" ucap Axel sambil mengusap kasar rambutnya.
Mba Nana yang mendengar itu langsung terkejut dan berbarengan dengan datangnya Adiva di rumahnya itu dengan wajah pucat.
"Ya Allah mba!" ucap Nana dengan teriak.
"Adiva!!" ucap Axel yang terkejut mendengar mba Nana teriak.
Axel langsung memeluk Adiva. Mba Nana yang mengerti pun langsung melipir ke dapur.
"kamu pintar akademik aja Va, selebihnya bodoh. Apa kamu tahu, kami mencemaskan mu" ucap Axel sambil memeluk Adiva dan ternyata Axel menangis di pelukan Adiva.
Adiva pun membalas pelukannya.
"Yang bodoh itu kamu oon, kata Ayah! aku itu anak terpintar" ucapnya dengan terus memeluk Axel. Dia merindukan pelukan Axel.
Axel yang sadar pun melepaskan pelukannya dan menatap Adiva lekat.
"Iya aku ingat semuanya, kamu nggak salah Xel. Kamu itu penolong aku, Ayah nggak salah ternyata karena sudah sayang sama kamu" ucap Adiva sambil kembali memeluk Axel dengan erat.
Axel yang tersadar, langsung memeluk erat Adiva sambil mencium kepalanya yang tertutup hijab itu.
"Aku sayang sama kamu Va, jangan tinggalin aku lagi Va." ucap Axel sambil memeluknya.
"Aku bakal tebus semua penantian kamu Xel, aku juga mencintai kamu Xel bahkan sebelum atau pun sesudah lupa ingatan. Kamu cinta pertama aku" ucap Adiva dalam hatinya.
Setelah selesai sholat maghrib, Adiva dan Axel pergi ke rumah Axel untuk bertemu dengan semua keluarga. Dan teman-teman Axel serta Marsya.
"Ya Allah nak, kamu baik-baik aja kan?. Masya Allah kamu tambah cantik sayang" ucap Nyonya Heni sambil memeluk Adiva.
Axel menggunakan kemeja cream dan celana bahan hitam. Sedangkan Adiva menggunakan gamis set berwarna hitam.
Semuanya terheran melihat Adiva yang berubah menjadi muslimah.
Setelah berunding dan menceritakan semuanya. Akhirnya keluarga dan teman-teman bisa lega.
Kini Axel yang ketakutan, kalau Adiva akan menjauhinya.
Karena Marsya yang berbicara seolah-olah Axel menghalangi Marsya untuk menceritakan semuanya.
Kini Adiva sedang duduk di tepi kolam renang. Mario menghampirinya.
"Dek, meskipun semuanya sudah kembali seperti biasa. Kamu tetap adeknya kakak" ucap Mario dengan tulus.
"Iya kak, makasih yah" ucap Adiva tersenyum.
---
Keesokan harinya, Marsya dan Adiva janjian di kantin RS untuk berbincang, karena sudah lama tidak. berjumpa.
Adiva Pov
"Selama aku di LN, Axel gimana Sya?" tanyaku pada Marsya.
"Ya gitu deh, lebih banyak diam. Oh iya, kamu tau Farel kan? kakak kelas kita dulu?" ungkap Marsya dengan girang padaku, ntahlah kenapa. tiba-tiba bahas Farel.
"Iya aku tau, pantas saja dia mengirimiku banyak makanan. Ternyata dia mengenalku, tapi gayanya itu loh. Sok kecakepan banget" ucap ku sebal.
"Nah Kak Farel itu yang membantu Axel pas kejadian malam itu Va. Jadi kamu jangan sebel itu sama kak Farel, dia termasuk orang berjasa loh dalam kasus kamu" ungkap Marsya yang membuatku tak habis pikir.
Farel dan Nadiv itu satu geng dengan Arkana, kenapa dia membantu ku?
"Sepertinya dia menghampiriku ingin ucapan terima kasih" ucap ku asal.
"Huts, nggak boleh begitu. Lebih baik ajak Farel ngopi atau makan siang bareng. Jadi kamu bisa tau yang sebenarnya gimana Va" saran Marsya padaku.
"Kenapa harus makan siang sih? tinggal datang ke kodim, ucapkan terima kasih secara formal kan bisa" ucap ku kesal. Saran Marsya terlalu aneh.
"Justru dengan begitu kamu malah makin malu Va, coba deh pikir. Seorang dokter muda, cantik jelita datang ke kodim menemui komandan Farel. Pasti jadi gosip lah oon, kamu gimana sih, lulusan LN kok urusan beginian nggak paham" ucap Marsya mengejekku.
"Lah terus aku harus bertemu dengannya dimana?" tanyaku bingung.
"Toko kue Bunda aja, di atasnya kan ada cafe. Lagian kamu belum ke sana kan. Aku loh yang kelola sama Axel" ucap Marsya dengan bangga.
"Iya-iya cantik makasih yah. Aku juga mau buka toko skincare. Sepertinya ruko samping toko kue belum ada yang beli ya?." tanyaku pada Marsya.
"Iya masih kosong, kamu mau bisnis skincare?. Kalau gitu nanti aku kenalin sama temannya mami aku. Beliau punya bisnis yang jika kita join kita bisa menciptakan produk sendiri. Kamu mau produk sendiri atau join punya orang?" tanya Marsya dengan serius.
"Ya secukupnya aja sih, karena modalku belum cukup. Ini inisiatif aja, mba Nana itu kuliah perawat tapi nggak ngelanjutin. Makanya aku mau bantu dia" ucap ku pada Marsya agar mengerti.
"Nanti aku atur deh, kalau kamu suka sama kerja samanya, tinggal deal aja" ucap Marsya meyakinkan.
Aku hanya mengangguk, di benakku kini aku ingin bertemu dengan Kana dan Nadiv mengapa dia menjadikanku taruhan seperti itu. Apa aku terlihat murahan?.
Ya Allah, bantulah hamba dalam perjalanan hijrah hamba.
Adiva pov end
---
-Bersambung-