
"Jadi sekarang Vava sudah jadi dokter umum? kapan rencana mau ambil spesialis sayang?" tanya Ibunya Farel.
"Iya tante, rencananya mau ambil spesialis tahun depan aja tan. Sekarang fokus perkenalan sama rumah sakit ini dulu. Banyak hal yang berbeda waktu di Amerika dulu" ucap Adiva menjelaskan.
"Iya baguslah kalau begitu, adaptasi dulu di sini ya, makin cantik aja kamu sayang. Dulu masih kecil banget" ucap Ibunya Farel dengan ramah.
Adiva risih, namun dia berusaha tenang. Karena Farel menantapnya dengan seksama.
"Bunda udah selesai tadi chekupnya. Nanti obatnya diambil sama abang aja ya, bunda mau pulang duluan" ucap ibunya sambil menepuk lengan Farel.
"Iya Bun, nanti abang aja yang ambil obatnya. Bunda pulang pake gocar aja, sudah abang pesankan" balas Farel.
"Va, bunda pulang dulu ya. Lain kali ke rumah bunda bersama Farel, nanti bunda masakkan makanan yang banyak" ucap ibunya Farel sambil memeluk Adiva.
"Iya tante, Hati-hati di jalan" ucap Adiva sambil mencium tangannya ibunya Farel.
Adiva dan Farel makan siang bersama di kantin rumah sakit, sesekali Farel mengingatkan kenangannya sewaktu kecil dulu. Namun Adiva masih memikirkan Nadiv atas kejadian di rumah sakit kemarin.
"va?"
"Hmm, kenapa?" tanya Adiva malas.
"Kamu mikirin apa Va?" tanya Farel heran.
"Bisa nggak kita jangan ketemu dulu, ingatan aku tentang Farel bukan Farel teman kecil aku dulu. Tapi Farel sahabatnya Nadiv" ucap Adiva *to the point. *
"Baiklah kalau mau kamu begitu, lanjutkan makan siangnya" balas Farel dengan setuju.
...
Di ruangan Dokter April
"Kamu yakin?" tanya dr. April serius
"Yakin Dok, orang tua komandan Farel tadi periksa. Di samping itu, dokter Adiva sangat akrab" ucap perawat itu dengan seksama.
"yaudah, Terima kasih. Saya ingin istirahat" ucap dokter April.
"Baiklah Dok" ucap perawat itu lalu pergi dari ruangannya.
"Sampai kapan kamu selalu mengejar cinta sepihak kamu Rel?" ucap dokter April sedih.
...
Keesokan harinya, Adiva berangkat ke RS menggunakan mobilnya sendiri.
Saat sampai ruangannya, sudah terdapat 1 tangkai mawar merah serta 5 tangkai tulip kuning yang terbungkus indah.
"Ini bunga dari siapa Sis?" tanya Adiva pada perawat Siska.
"Tadi pagi, Mas Nadiv dan Komandan Farel datang bersamaan dan memberikan bouqet itu pada satpam, kebetulan saya sedang ada di sana. Jadi yasudah saya bawa ke ruangan dokter" jawab perawat Siska.
"Oh begitu, yasudah Terima kasih ya Sis" ucap Adiva tersenyum.
"Mawar merah ini, pasti Nadiv. Aku kan benci mawar. Kalau begitu tulip ini dari Farel" ucap Adiva sambil mengambil bunga2 itu.
"Ah sudahlah, hanya bunga" ucapnya santai. Dan langsung menggunakan snelinya melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Sore itu di kantornya Axel sedang membaca laporan perusahaannya, ditemani Sahrul.
"Xel, gimana lo udah ungkapkan perasaan lo ke Adiva?" tanya Sahrul penasaran.
"Fokus, kita lagi di kantor." ucap Axel tegas.
Sekejap Sahrul langsung diam.
"Baiklah suruh Adiva masuk" ucap Axel tegas. Lalu menutup semua laporan yang ada di hadapannya.
"Giliran pujaan hati, langsung meleleh" gumam Sahrul dalam hati.
Tak lama kemudian, datang lah Adiva. Membawa salad buah, es teh manis, bolu keju dan gorengan.
"Assalamu'alaikum, wah ternyata lagi ada Sahrul. Pas banget nih, aku bawa banyak cemilan" ucap Adiva tersenyum dan duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu.
"Waalaikumsalam" ucap mereka bersamaan.
"Va, kamu nggak kerja?" tanya Axel heran lalu menghampiri Adiva dan duduk di sebelahnya.
"Aku baru pulang Xel, oh iya mobil aku mogok tadi depan SMA kita" ucap Adiva.
"Kok bisa? kamu jarang service? kebiasaan anak cewek" ucap Sahrul nyerocos sambil memakan cemilan.
"Hehehe" ucap Adiva tertawa kecil.
"Kenapa nggak langsung pulang aja, kenapa mampir ke kantor? aku masih banyak kerjaan" ucap Axel heran sambil meminum es teh manis itu.
"aku mau bicara soal Nadiv dan Farel, mereka mengusik aku Xel. Dan faktanya Farel emang teman kecil aku, sebelum kita ketemu. Aku nggak sanggup kalau harus ketemu mereka dulu, aku udah memaafkan mereka. Namun, aku bingung aku bersikap seperti apa Xel" ucap Adiva bingung.
"Masalah itu, kamu cuek aja sama semuanya. Farel dan Nadiv nggak akan ganggu kamu lagi Va. Kalau ada apa-apa kabari aku terus ya, nanti pulang bareng aku aja" ucap Axel dengan perhatian.
"Duh, kalian kayak suami istri aja." cerocos Sahrul.
"Pergi sana! ganggu aja lo" ucap Axel kesal sambil melempar gorengan.
"Kasar amat lo! okelah. Selamat bermesraan" ucap Sahrul berlari keluar ruangan.
"Hahaha, ada-ada aja deh. Mereka sama sekali nggak berubah ya Xel" ucap Adiva tertawa kecil.
"Iya begitulah, lalu bouqet dari mana? penggemar baru?" tanya Axel heran.
"Tulip dari Farel, mawar dari Nadiv. Sayang aja kalau aku buang, jadi aku bakal kasih Mba Nana aja" ucap Adiva santai.
"Oalah begitu, hmm Va. Selama di Amerika, apa kamu punya pacar?" Tanya Axel dengan serius.
Mata Adiva menatap Axel dengan seksama.
"Pacar?" tanya Adiva heran.
"Iya pacar" jawab Axel memastikan.
"Dari dulu sampai sekarang cuma 1 nama laki-laki yang aku simpan dalam hati" ucap Adiva sambil tersenyum.
"Siapa? aku kenal orang itu?" tanya Axel heran.
"ntahlah" ucap Adiva singkat.
"oh, yaudah kita pulang sekarang" ucap Axel berdiri dan mengambil jasnya.
Adiva hanya terdiam, dia menatap punggung Axel dengan dalam.
- Bersambung -
Hai!
Maaf banget aku baru bisa update cerita.
Semoga aja kali suka ya sama cerita aku.
See you!