Adiva

Adiva
Adiva 12 : Lingkup Baru



"Mba Nana, Iva berangkat dulu ya. Nanti ada orang yang mau rombak garasi. Tolong suguhkan minuman dan cemilan ya mba Na" ucap Adiva sambil mengikat rambutnya kuncir satu.


Menggunakan kemeja biru muda lengan panjang serta celana bahan berwana putih. Membuatnya sangat cantik. Adiva jarang bermake-up karena dirinya tak suka hal yang ribet.


"Iya mba, Hati-hati di jalan mba. Air minumnya sudah saya masukkan ke dalam tas mukena" ucap Nana lalu berlalu ke dapur.


Adiva hanya mengangguk dia sibuk dengan memasang sepatu pantopel yang berwarna cream itu.


Setelah rapi Adiva langsung mengendarai mobil menuju RS DKT, lalu bertemu pimpinan rumah sakit dan menemui teman Jelita yang menjadi dokter anak di RS itu.


Adiva sudah memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju ruang HRD rumah sakit itu. Banyak mata yang menatapnya heran, karena rambut Adiva memang terlihat seperti orang luar negeri. Cokelat yang di mix dengan blonde membuatnya seperti turis asing. Bahkan karena kelamaan di Amerika gaya bicaranya masih terdengar kebarat-baratan.


"Kayaknya ada yang salah sama aku deh? ada apa yah?" tanyanya dengan dirinya sendiri. Namun tetap melanjutkan ke ruangan HRD.


"Permisi saya dr Adiva Cantika. Saya ingin bertemu bapak Bagus, apakah ada di ruangannya?" tanya Adiva pada receptionist bagian petinggi rumah sakit.


"Bapak bagus sudah menungu anda dokter, silakan langsung masuk saja" ucap pegawai itu ramah.


"Terima kasih mba" ucap Adiva dan langsung pergi.


"Eh kalian lihat dokter muda tadi?, wajahnya sangat cantik. Gue rasa nih, dia bakal jadi saingan berat dokter April." ucap pegawai wanita yang menggunakan hijab itu.


"Iya cantik banget, bahkan tanpa make-up, wajahnya sangat berseri. Gayanya seperti anak orang kaya, katanya itu dokter pindahan dari Amerika. Kenapa mau ya, kerja di sini?" tanya pegawai wanita lainnya.


"Sepertinya dia anak orang berpengaruh di Purwokerto, benar juga kenapa tidak menjadi dokter di rumah sakit besar saja ya." ucap pegawai wanita berhijab itu.


Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Kini Adiva sudah sampai di ruangan HRD.


"Selamat pagi pak Bagus, saya Adiva" ucapnya dengan sopan.


"dokter Adiva, suatu kebanggaan saya bisa berbicara langsung dengan dokter. Bagaimana kabar anda dok?" tanya pak Bagus ramah.


"Alhamdulillah kabar saya baik" ucap Adiva singkat dan tersenyum.


"Baiklah agar anda bisa langsung bekerja, tidak menunggu waktu lama. Melihat CV anda, saya sangat tertarik mengapa anda memilih RS DKT dari pada RS lainnya?, padahal anda lulusan Amerika? bahkan sudah bekerja di sana" tanya pak Bagus heran.


"Bapak terlalu melebih-lebihkan, saya asli orang Purwokerto. Saya ingin mengabdi untuk daerah saya, 10 tahun di negeri orang membuat saya berpikir untuk membangun negeri dengan keahlian saya. Saya memilih studi spesialis di Unsoed karena Unsoed suatu universitas kebanggaan Purwokerto. Intinya saya rindu tanah kelahiran" ucap Adiva dengan mantap.


"Alasan saya memilih RS ini, karena ketika saya seminar kesehatan secara online. Saya pernah bertemu dokter anak, beliau dokter anak dari RS ini. Namanya dokter Amelia, beliau yang memotivasi saya untuk memgambangkan bakat itu tidak harus di rumah sakit besar, di semua tempat bisa menjadi acuan untuk mengembangkan bakat. Maka dari itu, saya ingin meniru jejak dokter Amelia" lanjut Adiva.


"Dokter Amelia merupakan dokter senior, beliau menolak tawaran kerja di RS lain, karena sudah jatuh cinta dengan RS ini. Padahal dokter bisa lihat sendiri, selain anggota TNI. Jarang ada yang berobat kemari, semoga dengan adanya dokter. RS ini bisa berkembang pesat" ucap pak Bagus tersenyum.


"Selamat bergabung dokter semoga betah di sini" lanjut pak Bagus dan menjabat tangan Adiva.


Adiva menerima uluran tangan pak Bagus dan tersenyum.


"Terima kasih pak, saya akan memberikan kontribusi yang baik untuk rumah sakit ini" ucapnya tersenyum.


...---...


"Lapor komandan, salah satu prajurit ada yang terluka." ucap ajudan Bambang yang merupakan orang kepercayaan Farel.


"Laporan diterima, segera bawa ke ruang kesehatan agar mendapatkan pelayanan lebih lanjut" ucapnya tegas.


"Apakah Adiva sudah bekerja di RS DKT?" gumamnya dalam hati.


"Tunggu Bambang, bawa saja ke RS DKT saya akan ikut menemani" ucap Farel.


"Siap laksanakan" ucap Bambang tegas dan segera menyiapkan mobil.


Salah satu anak buahnya ada yang terkena jaringan kawat karena sedang membersihkan tempat latihan.


...---...


Adiva mulai bekerja, rekan kerja lainnya sangat ramah. "Permisi dokter, anda dimintai menemui dokter Sinta di ruangannya" ucap perawat itu.


"Baiklah kak" ucap Adiva mengikuti nya.


Sampai di ruangan Adiva disambut hangat. "Kenalin nama aku Sinta, aku temannya Jelita calon kakak iparmu" ucap Sinta ramah.


"Hai dokter, aku Adiva. Senang berkenalan dengan dokter" ucap Adiva ramah.


"Kalau sedang tidak bekerja panggil mba saja, oh iya kamu penggemar dokter Amelia ya?. Dokter Amelia itu bunda aku" pernyataan ini membuat Adiva senang.


"Bagaimana mba bisa tahu?" tanya Adiva bingung.


"Sudah bukan rahasia lagi Va, jika ada dokter lulusan luar negeri pasti pak Bagus terus bercerita. Belum 24 jam, satu rumah sakit sudah tahu tentang mu Va. Apalagi mereka bergosip tentang keluarga mu yang terpandang itu" ucap Sinta menerawang mengingat bagaimana cepatnya gosip tersebar.


"Hufft kenapa harus bawa-bawa keluarga ya, aku ingin hidup nyaman" gumamnya risih.


"Sudahlah tenang saja, oh iya. Bunda sudah tidak bekerja di RS lagi, bunda buka klinik sendiri di rumah. Sambil bermain dengan anak dari mas ku. Walaupun klinik itu masih aku yang pegang, cuma bunda tidak bisa diam. Jadi selama aku kerja bunda yang pegang klinik" ucap Sinta menjelaskan.


"Kapan-kapan aku pengen ketemu dokter Amelia mba, bantuin ya mba" ucap Adiva senang.


"Iya Va, tenang saja" balas Sinta tersenyum.


...---...


"Loh bukannya itu mobilnya mas Axel?" gumam Nana yang sedang menyiram bunga.


"Assalamu'alaikum mba, Adiva mana?" tanya Axel cepat.


"Waalaikumsalam mas, mba Adiva sudah berangkat dari pagi ke RS. Katanya pulang jam 2 siang" ucap Nana menjelaskan.


"Oh yasudah mba, saya permisi. Assalamu'alaikum" ucap Axel cepat.


"Waalaikumsalam, mas Axel seperti buru-buru. Ada apa yah? apa karena mba Adiva kabur dari UGD" gumamnya bingung.


"Permisi mba, saya dari tukang las. Yang disuruh mba Adiva" Ucap bapak2 itu.


...---...


Adiva belum terlalu aktif bekerja, karena dia masih dokter umum, jadi lebih banyak di UGD. Sekarang Adiva duduk di meja rekam medik. Semua pasien sudah ditangani. Jadi Adiva duduk bersantai, kemudian 3 orang TNI datang dan menghampiri Adiva.


"Dokter rekan saya terkena kawat, tolong diperiksa dokter" ucap TNI bernama Prada-Farid.


"Masnya tunggu di sana, saya akan memeriksa. Yang lainnya bisa urus administrasi" ucap Adiva cepat.


"Namanya siapa mas?" tanya Adiva ramah.


"Adam, dokter" ucapnya singkat karena menahan sakit.


"Tarik napas yang dalam lalu buang ya mas Adam. Saya suntik anti tetanus dulu ya," ucap Adiva ramah menenangkan pasien.


Adiva dibantu oleh perawat yang bernama Siska.


Setelah menyuntikkan anti tetanus, Adiva membersihkan luka yang terlihat cukup dalam karena kawat itu.


Kawat nya sudah dicabut, dilanjutkan pembersihan luka.


Setelah diperban Adiva menyuntikkan obat anti nyeri agar mengurangi rasa nyerinya.


"Mas Adam, selama 3 hari jangan kena air dulu ya. Dan pastikan rajin mengganti perbannya, bisa ganti di UGD juga, jika di rumah susah menggantinya" ucap Adiva ramah.


"Terima kasih dokter" ucapnya singkat.


Adiva membuka tirai, dan terlihat Farel serta kedua anak buahnya berdiri tegap melihat Adiva membuka tirai.


"Yang berseragam kayak gini ganteng banget. Tapi tadi hanya bertiga, kenapa sekarang berempat? ah sudahlah bukan urusanku" uca Adiva dalam hati.


"Saya akan menuliskan resep dan jadwal kembali ke sini" ucap Adiva ramah.


"Farid, biar saya saja yang menemui dokter itu. Kamu urus saja Adam di dalam" ucap Farel tegas.


"Siap laksanakan" ucapnta dan langsung menghampiri Adam. Bambang yang aneh melihat tingkah komandannya pun ingin bertanya namun dia urungkan karena memilih ke tempat Adam.


"Ini resepnya pasien Adam, dan pastikan jangan terkena air dulu. Sehari 2 kali ganti perbannya, jika ada timbul hal yang serius bisa langsung ke UGD, saya sarankan mengganti perbannya di RS saja. Karena langsung dipantau dokter" ucap Adiva ramah.


Namun Farel menatap Adiva dengan lekat.


"Maaf mas, ini resepnya" ucap Adiva sekali lagi.


"Ah iya Terima kasih dokter, perkenalkan nama saya Farel. Bukankah anda Adiva si jenius anak IPA?" tanya Farel memastikan apakah Adiva mengingatnya.


"Hmm apa kita saling mengenal?" tanya Adiva heran.


"Kita memang tidak akrab, tapi kedepannya kita akan akrab" ucap Farel dengan percaya diri.


"Oh iya, senang berkenalan dengan anda. Kalau begitu saya permisi" ucap Adiva langsung pergi.


Farel tersenyum melihat Adiva yang kini jauh lebih cantik. "Sejak dulu aku selalu mengagumi mu Va, lihatlah sekarang impian mu menjadi dokter sudah tercapai" gumam Farel dalam hati.


"Dasar cowok aneh, sabar Iva. Sudah biasa bertemu cowok aneh seperti itu. Jangan takut!" ucapnya dengan tenang.


...---...


"Sayang aku ingin bertemu Adiva, apa dia masih mengingat ku?" tanya Marsya sedih.


"Axel melarangnya, sampai Adiva benar-benar mau bertanya langsung" ucao Aman.


"Sampai kapan sayang?" kata Marsya kesal.


"Sabar sayang, Axel sedang berusaha agar Adiva pulih" ucap aman lalu di mengerti oleh Marsya.


Di kantor Axel uring-uringan karena Adiva masih belum pulih tapi sudah bekerja.


"Mau dia apasih? akhhhkkkk" ucap Axel teriak.


...---...


-Bersambung-


Pengumuman


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Teman setia pembaca cerita Nurmita. Dengan berat hati saya sampaikan, bahwa untuk kedepannya semua cerita karya saya harus berhenti untuk sementara waktu. Tidak tahu kapan mulai menulis lagi, karena sedang fokus menulis proposal penting yang sangat berpengaruh besar terhadap hidup saya yaitu skripsi. Saya janji ketika sudah selesai sidang, saya akan menulis lagi sampai akhir cerita. Sampai waktu itu tiba, semoga pembaca setia menunggunya 😌. Terima kasih untuk waktu beberapa hari ini.


Saya mohon dukungannya 🥰 mohon do'anya juga.


Salam Hangat


Nurmitta


Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Berikut karya saya di Mangatoon, jika ingin membaca karya saya lain bisa kunjungi akun ******* milik saya.


Dengan Judul cerita



The Love Is Blue (Tamat)


Ruang Kosong (Tamat)