
Kepulangan Nadiv ke Purwokerto membuat teman-temannya bingung. Karena sudah lama Nadiv tidak pernah pulang ke Purwokerto.
"Gimana kabar loe Rel?" tanya Nadiv basa-basi.
Nadiv dan Farel bertemu di coffeeshop dekat dengan rumahnya Farel.
"Gue baik-baik aja. Loe makin sukses aja, baru pulang pemotretan dari USA kan loe?" tanya Farel memastikan.
"Ya gitu, oh iya. Gue pulang karena gue mau minta maaf langsung sama Adiva. Gue tahu dia udah balik kan?" tanya Nadiv to the point.
"Mau ngapain? cari masalah?" tanya Farel mulai emosi.
"Santai dong bro, gue mau minta maaf" ucapnya dengan jelas.
"Kalau loe mau minta maaf sama dia, mending loe izin sama Axel. Gue yakin dia nggak izinin loe. Gue aja nggak sudi buat izinin loe ketemu Adiva" ucap Farel dengan kesal.
"Kita sama-sama tahu lah. Loe naksir kan sama dia, bantu gue lah Rel. Biar hidup gue tenang" bujuk Nadiv.
"Adiva itu cewek yang gue jagain dari jaman SMP. Kita emang beda SMP, tapi saat SMA dia masuk SMA kita. Gue nggak setuju sama taruhan loe. Asal loe tau, gue pengen bunuh loe waktu itu Div. Tapi karena kita udah kenal lama, gue beberkan aja rencana loe ke Axel. Gue harap loe benar-benar sadar" ucap Farel kesal memperingati Nadiv.
"Kita udah teman lama dari SD Rel, emangnya seberapa kenal loe sama Adiva, sampai-sampai loe tega lihat hidup gue hancur beberapa tahun lalu" tanya Nadiv yang bingung. Sespesial apakah Adiva di hidupnya Farel.
"Adiva anak kecil yang ada di foto di kamar gue" ucap Farel dengan tegas.
"Jadi dia anak kecil yang foto bareng loe itu? yang loe selalu ceritain?" tanya Nadiv yang terkejut. Selama ini Farel tidak jujur, terhadap teman-temannya.
"Iya"
"Kenapa loe nggak larang gue?" tanya Nadiv yang bingung.
"Loe temen gue dari kita SD. Gue nggak tega sama loe dan Adiva. Jadi gue minta tolong sama Axel. Gue harap loe nggak usah ketemu sama Adiva. Adiva benci juga sama gue, gue harap loe bisa jagain atau bilang sama komplotan cewek-cewek loe itu untuk nggak ganggu Adiva lagi." saran Farel penuh harap.
"Gue nggak tenang Rel, hubungan loe sama Adiva gimana?"
"Buruk, dia benci sama gue"
"Gue bakal pake cara gue sendiri buat minta maaf sama dia."
"Terserah loe deh, gue nggak ikut campur. Yang penting jangan ganggu Adiva kalau loe nggak mau habis sama gue" ucap Farel memperingati.
Siang itu Adiva yang akan ke ruangannya di rumah sakit untuk menyiapkan laporan akhir bulannya kepada dokter seniornya yaitu dr.Sinta.
"Pagi Dok!" sapa perawat bernama Anis
"Pagi juga Sus!" sapa Adiva dengan ramah.
Adiva dibingungkan dengan keributan di depan ruangannya.
Adiva bergegas menuju ruangannya.
"Hai Va! Gimana kabar kamu?" ucap Nadiv dengan sumringah.
Karena dirinya model terkenal, banyak orang-orang yang mengabadikan moment itu.
Kenangan buruk bersama Nadiv bersliweran di kepalanya. Dan tiba-tiba brukkk, Adiva jatuh pingsan.
......................
Di masa SMA, Adiva sering bercerita tentang pria idamannya yaitu kakak kelas tampan pemain basket. Adiva tidak mengenal wajah bahkan namanya, namun pria idamannya adalah kakak kelas tampan pemain basket.
Namun sikap Axel yang selalu melarang ini itu demi kebaikannya. Rasa tertarik dan kagumnya sirna begitu saja. Dan kejadian di malam itu menjelaskan bahwa Axel memang tidak pernah lalai dalam menjaganya.
"Va? kamu sudah sadar?" tanya Nadiv yang kini menjaganya di ranjang UGD.
Adiva yang sadar langsung menutup wajahnya dengan selimut dan berbalik memunggungi Nadiv.
Dia ingin pergi namun badannya masih lemah dan pusing.
Nadiv yang melihat itu merasa iba.
"Va, aku tahu. Kelakukan ku dulu membuat kamu menjadi hancur, maaf karena aku hampir memperkosa kamu Va. Aku ke sini ingin meminta maaf sama kamu Va. Jika saja aku tidak menuruti ambisi ku, mungkin kita masih berteman sampai saat ini" ucapnya, namun Adiva masih menutup wajahnya. Adiva mendengar semua ucapan Nadiv.
"Aku ke sini ingin kamu tahu bahwa aku juga menderita setelah itu. Aku sadar, aku bajingan. Maafkan aku Va, setelah ini aku tidak akan muncul di hadapan kamu Va. Maaf aku membuka luka lama kembali. Aku harap kamu memaafkan aku Va" ucapnya dan lalu pergi meninggalkan Adiva.
Setelah itu Adiva masih menangis di balik selimut.
dr. April yang berada tak jauh dari sana mendengar semuanya.
"Semua orang punya masa lalu, nggak nyangka aku. Dokter yang katanya sangat berprestasi itu punya masa lalu yang sangat kelam. Hampir diperkosa oleh kakak kelasnya sendiri." gumamnya dalam hati.
Adiva masih menangis di balik selimut.
"Axel aku butuh kamu hiks. hiks. hiks" gumamnya sambil menangis.
......................
Kabar Adiva yang didatangi oleh Nadiv membuat Axel marah. Ia tahu dari dr. Sinta, Axel beegegas langsung menuju RS untuk menemui Adiva.
"dr. Adiva dimana Sus? saya keluarganya" ucap Axel yang buru-buru menanyakan Adiva pada perawat yang bertugas.
"Di tirai nomer 3 Pak" ucap perawat itu.
Axel langsung menuju tempat tidur Adiva, membuka tirai dan terlihat Adiva yang sedang meringkuk menutupi badannya dengan selimut sampai muka.
Axel langsung membuka selimut itu dan memeluk Adiva.
"Xel? aku sekotor itu yah?" tanya Adiva sambil menangis.
"Va kamu nggak kotor, kamu masih suci Va. Dengerin aku Va, kalau kamu menghindar dari masa lalu. Masa depan kamu nggak akan tenang, karena kamu selalu menghindar. Lebih baik kamu hadapi sekarang ya, Nadiv kemari dia tidak izin padaku. Dia sudah izin pada Farel tapi Farel melarangnya. Maafkan masa lalu itu ya Va, kini saatnya kamu bangkit Va" ucap Axel menasehati.
"Siapa yang mau sama aku Xel, aku hampir disetubuhi Xel. Aku kotor!" ucapnya dengan putus asa.
"Kamu tetap suci, kamu berharga Va. Siapa yang nggak tertarik sama kamu. Kamu itu menarik Va, apalagi sekarang kamu sudah memutuskan untuk menutup Aurat. Aku, Farel bahkan seluruh keluarga menjaga kamu Va" ucap Axel menenangkan Adiva.
"Hari ini kamu nggak usah kerja, kita jalan-jalan aja yuk. Kalau capek kita nonton aja. Bisa istirahat di bioskop" saran Axel asal.
"Ngawur, aku lagi lemes Xel. Aku nggak mau ketemu siapa-siapa. Kita pulang ke rumah aku aja, kamu temenin aku ya Xel. Aku takut!" ucapnya dengan memohon.
"Iya gitu aja."
Adiva pulang bersama Axel ke rumahnya Adiva.
Nyatanya Nadiv tidak sungguh-sungguh menyesal atas perbuatannya di masa lalu.
Nadiv diam-diam meminta alamat Adiva pada perawat jaga dengan ketenarannya itu. Alamat Adiva dia dapatkan.
-Bersambung-