
"Sayang?, ini mama buatin brownies kesukaan kamu, semoga kamu suka ya sayang" ucap Nyonya Heni dengan tersenyum.
"Suka dong" jawab Adiva girang.
Adiva sedang berkunjung ke rumah Axel, di sana sedang membahas pernikahan Mario dan Jelita. Acaranya dipercepat, karena kondisi ayahnya Jelita sangat mengkhawatirkan. Maka dari itu pernikahan dipercepat 1bulan lagi.
Semua persiapan sudah selesai, karena sejak jauh-jauh hari sudah sering membahas tentang pernikahan.
"Dek, kamu mau jadi bridesmaidnya mba nggak?" tanya Jelita ramah.
"Mau mba, emangnya ada berapa mba yang jadi bridesmaid?" tanya Adiva penasaran.
"Total ada 20 bridesmaid sama kamu dek. Tugasnya dampingi dan buat acara pelepasan, kalau urusan yang lain2 itu ada WO, nanti diarahkan sama WOnya" ucap Jelita tersenyum.
"Wah seru kayaknya nih mba." ucap Adiva dengan girang.
"Nanti kamu ukur gaun di boutique langganan mba ya, minta anter sama Axel aja. Dia juga sekalian ukur jasnya" kata Jelita menimpali.
Tak lama setelah itu, Axel datang membawa seorang anak kecil usia 6 tahun di dalam gendongannya.
"Loh, anak siapa itu Xel?" tanya Nyonya Heni heran.
"Lo punya anak di luar nikah Xel?" tanya Mario kaget.
"Duduk dulu mending, nanti Axel jelasin Mam" ucapnya santai, sambil menurunkan anak laki-laki itu ke sofa.
"Coba jelaskan Xel?" tanya Pak Arga dengan serius.
"Namanya Mahesa, dia anak yatim piatu. Axel menemukannya di toko kue sedang menangis" ucap Axel santai.
"Toko kue Bu Anisa?" tanya Mario.
"Iya benar" jawabnya singkat.
"Sudah sedekat itu mama sama papa, bahkan Axel memanggil mama papa dengan sebutan Mama Papa" gumam Adiva dalam hati.
"Mahesa tinggal di panti kasih bunda dekat dengan toko kue, dia menangis. Katanya teman pantinya mengejek dia. Jadi aku inisiatif untuk mengadopsi Mahesa, karena di rumah aku juga kesepian" ucap Axel dengan mantap.
"Kamu yakin Xel, kamu belum menikah. Sedangkan Mahesa perlu sosok ibu juga" ucap Nyonya Heni mulai aneh dengan keputusan anaknya itu.
"Sudah jadi keputusan Axel, dan juga surat2 adopsi sedang di urus oleh sekertaris Agus" ucapnya dengan tegas.
"Papa hanya bisa menasehati kamu Xel, mengurus anak itu tidak mudah" ucap pak Arga menasehati.
"Axel akan jadi orang tua yang baik untuk Mahesa Pa, dan untuk istri. Axel akan mencari istri yang baik untuk Mahesa. Yang bisa jadi ibu untuk Mahesa" ucap Axel dengan serius.
"Kamu udah punya pacar Xel? kok aku nggak tahu?" tanya Adiva tiba-tiba.
"Sudah, kami sudah berpacaran 2 tahun. Dan dia juga menerima Mahesa sebagai anak angkat" ucap Axel dengan matang.
Membuat semua anggota keluarga menjadi bingung dan terkejut. Karena sejak lama Axel tak pernah jalan atau menjalin hubungan dengan wanita manapun.
"Kamu beneran Xel?" tanya Jelita yang kini tak kalah heran.
"Sejak kapan bro?, kok gue baru tahu?" tanya Mario yang mulai merasa ada yang janggal.
"Iya, namanya Tiara. Dia model dari agensi naungan Axel Mam, Tiara asli orang Bandung. Hanya saja kami ingin merahasiakannya" ucap Axel meyakinkan.
Dan pas sekali, ponsel Adiva berbunyi bahwa ada rumah sakit membutuhkannya.
"Hmm, permisi semuanya. Iva mau ke RS dulu, lanjut saja bicaranya. Assalamu'alaikum" ucapnya dengan segera tanpa berpamitan seperti biasanya.
"Xel, sini ikut gue" ucap Mario langsung.
Mahesa di titipkan ke Jelita.
Kini Axel dan Mario berbicara di balkon lantai dua yang menghadap ke taman rumahnya.
"Dari balkon ini waktu gue SMP, gue lihat loe sama Adiva main bareng di tepi kolam dekat taman itu. Sejenak gue berpikir bahwa, loe dapat menjaga Adiva dengan baik. Jujur sama gue, sejak loe kenal Adiva. Apa loe nggak punya perasaan sama dia?" tanya Mario dengan tegas.
"Nggak, perasaan itu udah lama hilang. Sejak gue yang nggak becus jaga Adiva di pesta itu" ucap Axel sambil menatap taman.
"Jawab sambil tatap mata gue!" ucap Mario tegas.
Namun Axel diam tak bergeming.
"hahaha, loe bisa bohongi orang lain. Tapi loe nggak bisa bohongi perasaan loe. Saran gue, loe tetap berada di sisi Adiva" ucap Mario sambil menepuk pundak Axel dan berlalu pergi.
Di Rumah Sakit, Adiva sedang di tegur oleh dr. April, dikarenakan perihal komandan Farel yang sering mengirimkan makanan ke UGD dan poli dokter anak.
"Apa kamu sadar, tindakan Komandan Farel itu membuat para pasien menilai RS jadi sebagai RS sogokan" ucap dr. April sambil menatap Adiva yang berdiri di hadapannya.
"Saya tidak ada hubungannya dengan para tentara itu dok, saya hanya menangani salah satu tentara itu, karena itu kewajiban saya sebagai dokter umum" ucap Adiva dengan tenang.
"Tapi apa kamu tahu?, satu RS ini membicarakan kamu" ucap dr. April dengan tegas.
"Itu urusan mereka dok, saya hanya menjalankan tugas saya. Lantas mengapa dokter yang merasa terbebani?, toh bukan dokter yang dijadikan bahan omongan mereka. Jika dokter punya hubungan dengan para tentara itu, silakan. Saya permisi!" ucap Adiva pamit.
Ternyata hanya panggilan dari dr. April, bukan panggilan penting tentang pasien.
Malam harinya, Adiva sedang makan malam bersama mba Nana di meja makan. Dengan menu makanan khas Sunda, ada lalapan dan juga ayam goreng laos, tak lupa es melon selasih menjadi andalan hidangan mba Nana.
"Mba Iva sedang ada masalah? tidak seperti biasanya" tanya Mba Nana yang mulai heran dengan sikap Adiva.
"Oh nggak mba, cuma capek aja di RS" jawab Adiva dengan tersenyum singkat.
Adiva tidak nafsu makan, dan langsung ke kamarnya. Sedangkan mba Nana sedang membersihkan piring2 kotor itu.
"Xel, kenapa aku sedih mendengar kamu yang sudah memiliki kekasih?" tanyanya dengan sedih.
"Sebenernya aku ini siapa?, apa aku benar anak papa Arga?" tanyanya lagi.
"Ya Allah, hamba ingin berserah padamu" ucapnya dengan menangis.
......---......
-Bersambung-
Kangen kalian.....
Semoga suka ya sama updatetan yang terbaru.