
Seminggu kemudian Adiva, Axel dan Mahesa pergi mengukur baju di boutique langganan Jelita. Adiva yang keluar kamar, membuat mba Nana bingung.
"Masya Allah mba Iva, mba beneran?" tanya mba Nana terheran.
"Iya mba, Iva pengen belajar menutup aurat pelan-pelan" balasnya dengan tersenyum.
"masya Allah mba! alhamdulillah ya Allah" ucap Nana dengan bersyukur.
Karena Adiva menggunakan gamis berwarna biru muda serta jilbab segi empat menutup dada dengan bentuk oval bagian belakangnya. Jibab yang senada serta handsock berwarna cream. Membuat Adiva terlihat anggun dan menawan.
"Semoga istiqomah ya mba," ucap Nana dengan tersenyum.
"Do'ain yah mba, aamiin" ucap Adiva tersenyum.
Lalu keluar dan mengendarai mobilnya menuju boutique. Sepertinya Axel dan Mahesa sudah di boutique.
"Ya Allah bantu hamba, untuk bisa mengontrol hati hamba, agar tidak asal mencintai seseorang, semakin hamba mendekatkan diri padamu, rasa kecewa hamba makin sedikit" gumamnya dengan penuh tekad.
Sekitar 15 menit sampailah Adiva di Marsya Boutique. Di sana sudah terparkir mobil Axel, mereka menunggu di dalam boutique.
Adiva langsung masuk saja, di pintu masuk terpampang poster menggunakan gaun merah menyala. Wajahnya tidak asing membuat Adiva berpikir.
"Permisi mba, ada yang bisa saya bantu?" ucap pegawainya.
"Oh iya, saya Adiva sudah reservasi. Ingin mengukur gaun bridesmaid atas nama bride Jelita" jawab Adiva dengan tersenyum.
"Silakan ikut saya mba, di dalam sudah ada suami mba dan anaknya" ucap pegawai itu dengan tersenyum.
Adiva ingin membantah, namun saat sampai di ruangan. Axel menatap Adiva, mata mereka bertemu.
"Silakan duduk dulu nyonya, karena sekarang anaknya dulu yang sedang di ukur" ucap pegawai lain.
"Maaf mba semuanya, saya belum menikah. Ini Axel dan anaknya Mahesa. Dia single parent" ucap Adiva to the point. Malas berada di situasi seperti itu.
Suasana menjadi canggung, Adiva memainkan ponselnya. Duduk bersebrangan dengan Axel.
Axel yang sedang memainkan ponselnya pun sesekali melirik Adiva yang menurutnya banyak berubah sejak terakhir kali bertemu.
Sampai lah keheningan itu dipecahkan oleh suara Mahesa yang sudah selesai ingin ke toilet.
"Ayah, Mahes pengen poop" ucapnya sambil memegang perutnya.
"Aduh, nak. Ayah lupa membawa perlengkapan bersih2" ucap Axel kebingungan.
"Kamu ngukur jas aja dlu Xel, biar Mahes sama aku. Aku bawa perlengkapan bersih2 kok" ucap Adiva dengan sigap. Karena yang dia takut kan Mahesa akan poop di celana.
Mahesa dan Adiva langsung ke toilet itu, tanpa babibu lagi.
Sedangkan Axel lanjut mengukur baju.
"Bukan mba, Mahesa anak adopsi. Tapi saya sangat menyayangi dia. Dan saya belum menikah mba" jawab Axel dengan dingin.
Membuat pegawai di sana diam dan lanjut mengukur bajunya Axel.
"Kakak, temannya ayah ya?" tanya Mahes saat mereka sudah selesai dari toilet.
"Iya sayang, kakak temannya Ayah Axel. Mahes jadi anak baik yah, jangan bandel kalau tante Tiara sama Ayah Axel nasehati" ucap Adiva dengan tersenyum.
"Mahes nggak kenal tante Tiara kak" ucapnya santai.
Dan mereka dihampiri oleh Axel yang sudah selesai diukur.
Adiva langsung pergi ke ruang pengukuran gaun.
Axel terdiam melihat tingkah Adiva yang pergi tanpa sapaan terhadapnya.
"Ayah, Mahes lapar" ucapnya dengan manja.
"Oke kita pulang sekarang, nanti makan di rumah aja ya" ucap Axel sambil menggandeng tangan Mahesa.
"Kenapa kamu berubah Va? apa kamu tau. Hati ini terlalu sakit mengingat kejadian itu" ucap Axel dalam hatinya.
"Yang, kata pegawai aku. Adiva lagi ngukur baju di boutique aku. Bareng Axel dan Mahesa juga" ucap Marsya girang.
Karena mereka sedang bersantai di rumah orang tua Marsya.
"Kasihan si Adiva, Axel kelewatan membohongi perasaannya. Kita ke sana yah, sudah waktunya Adiva kenal sama kamu yang" ucap Aman dengan tegas.
Menurutnya Axel terlalu takut untuk menceritakan semuanya.
"Mba, coba gunakan gaun yang ini. Sepertinya ini ukurannya mba" ucap pegawai itu dengan tersenyum.
Menyerahkan gaun muslimah berwarna merah maroon itu. Adiva yang setuju langsung mencobanya.
Saat bercermin, sekelebat ingatan berlarian di dalam pikirannya.
Tak lama setelah itu, Adiva limbung dan terjatuh di kamar ganti.
...^^^---^^^...
-Bersambung-