
Rabu pagi Adiva sedang visit pasien anak bersama dr.Sinta. Pasien bernama Cantika usia 8 tahun sedang menangis karena tangannya yang terinfus.
Adiva yang melihatnya langsung mengambil 3 bungkus cokelat kecil yang selalu tersedia disaku snelinya.
"Hai Cantika! Kenalin, kakak juga Cantika. Nama kita sama. Lihat! kakak bawa 3 bungkus cokelat." ucapnya sambil memperlihatkan cokelat yang ada di tangannya.
Cantika mulai reda menangisnya, namun masih terisak pelan.
"Satu untuk kakak, satu lagi untuk Cantika, dan satu lagi untuk boneka ini" ucap Adiva sambil memberikan cokelat itu.
Cantika mulai tersenyum, dan menerima cokelat itu.
"Bonekanya akan sedih, kalau Cantika menangis. Senyum yah, supaya cepat sembuh dan bisa bermain dengan boneka lagi. Nama bonekanya siapa?" tanya Adiva dengan pelan.
"Tika, namanya Tika" jawabnya dengan gembira.
"Tika yah namanya, nah begitu dong. Harus senyum agar cepat sembuh." ucap Adiva sambil mengelus pipi Cantika.
"Nama bonekanya adalah nama belakangnya dok, yaitu Cantika. Cantika sendiri yang ingin menamainya" ucap ibunya Cantika.
"Begitu ternyata, nah cokelatnya dimakan nanti yah kalau sudah sembuh, jadi sekarang kakak dan ibu dokter mau periksa Cantika boleh?" tanya Adiva pelan.
Cantika mengangguk, dan diperiksa oleh dr.Sinta.
Cantika dirawat karena demam selama 3 hari tidak turun-turun bahkan setelah meminum obat penurut panas.
Dihari ke empat, ibunya membawanya ke UGD.
Adiva pov
"Kasus demam pada anak terkadang banyak disepelekan oleh orang tua. Padahal demam salah satu gerbang menuju pintu-pintu penyakit lainnya." ucapku pada dr.Sinta di ruangan.
Setelah visit 5 pasien anak yang semuanya dirawat karena demam tidak turun-turun. Aku dan dr.Sinta istirahat di ruangan dr.Sinta.
Walaupun aku masih dokter umum belum spesialis, aku banyak membantu dokter Sinta dalam hal visit terkadang di UGD.
Insya Allah tahun depan aku akan lanjut spesialis, karena masih banyak yang perlu aku bereskan terkait masa laluku.
"Maka dari itu, kita sebagai tenaga kesehatan wajib memberikan edukasi kepada keluarga pasien khususnya ibu yang harus mengetahui keadaannya anaknya." ucap dr.Sinta menasehati.
"Oh iya mba, hari ini aku tidak jaga di UGD, besok aku akan jaga di UGD. Sift malam" ucap ku padanya.
"Oke deh, Hati-hati ya. Oh iya katanya kamu mau pergi. Ini sudah jam 1 loh" ucap dr. Sinta padaku.
"Oh iya lupa, aku pulang dulu ya mba. Assalamu'alaikum" ucapku dan keluar ruangan.
Setelah sholat dzuhur tadi, aku seharusnya menemui Komandan Farel untuk meminta penjelasan terkait masa lalu. Aduh kenapa bisa seceroboh ini sih Va.
Adiva Pov end.
"Lapor!, Di pos ada dokter Adiva mencari komandan" ucap Prada Bagus anggotanya komandan Farel.
"Siap laksanakan!" Jawab Bagus.
"Ngapain sih aku ke sini? dilihatin sama para kacang ijo. Aduhhhh" ucap Adiva dalam hati karena risih. Adiva sedang menunggu di depan mobilnya. Tak lama setelah itu, 1 motor dengan 2 tentara muda datang menghampiri Adiva.
"Permisi dokter, kata komandan Farel. Dokter langsung saja keruangannya. Mari saya antar" ucap Prada Bagus.
"Baik" ucap Adiva singkat. Dan masuk ke mobilnya, mengikuti arah motor itu untuk sampai ke ruangannya Farel.
Terparkir lah mobil Adiva dihalaman kantornya Farel.
Saat Adiva keluar dari mobil, banyak tentara yang melihat kearahnya.
Karena baru kali seorang komandan Farel memperbolehkan seorang wanita untuk bertemu dengannya di kantor. Biasanya di luar kantor.
Adiva menggunakan gamis berwarna cream dengan jilbab segi empat senada dengan motif salur-salur, dia datang sebagai Adiva bukan sebagai dokter. Membawa 1 box kue dari toko bundanya dan satu kotak makan siang.
"Assalamu'alaikum" ucap Adiva di dekat pintu lalu masuk.
"Waalaikumsalam, silakan duduk dokter" ucap Farel dengan tersenyum.
Farel yang gagah dengan seragamnya lorengnya itu membuat Adiva heran.
"Tumben nih kacang ijo ganteng" gumamnya dalam hati.
"Adiva saja pak, saya tak ingin basa-basi. Langsung saja, di malam ulang tahun. Kenapa anda membantu Axel? padahal anda adalah teman dari Arkana dan Nadiv" ucap Adiva to the point.
Farel yang belum tahu jika Adiva sudah kembali ingatannya pun, bingung harus bicara apa. Karena Axel tidak mengabarinya.
"Sebelumnya, tanpa membawa jabatan. Saya memang berteman dengan mereka. Tapi saya tidak tega dan tidak terlibat dalam taruhan mereka. Maka dari itu, saya memberitahu Axel" ucap Farel dengan tenang.
"Apa anda sudah tahu tentang rencana mereka dari jauh hari?" tanya Adiva mulai kesal karena mengingat bagaimana kejadian itu dulu.
"Sewaktu di tempat latihan Arkana, Nadiv melihat mu Va. Dari sanalah muncul ide gila itu. Aku sudah memperingati mereka. Namun rencana itu tetap berlanjut, aku terlalu takut untuk memberitahu Axel, namun saat malam pesta. Aku beranikan diri untuk memberitahukannya " ucap Farel mulai tidak formal.
Adiva berdiri dan menampar Farel.
"Seharusnya kamu beritahu aku. Aku sudah salah mengagumi seseorang. Aku mengagumi Nadiv, aku kira dia kakak kelas yang baik. Tapi ternyata dia lebih buruk. Dan untukmu, jangan temui aku di rumah sakit lagi. Berhenti mengirimi ku apa-apa" ucap Adiva dengan kesal.
Farel hanya terdiam.
"Makanan ini sebagai ucapan terima kasih ku. Aku harap kita tidak bertemu atau saling kenal lagi" ucap Adiva lalu meninggalkan ruangan Farel.
Adiva langsung mengendarai mobilnya, di dalam mobil dia menangis.
"Kalau saja aku menuruti kata-kata Axel, aku tidak akan mengalami hal buruk itu. Ya Allah bantu hamba" ucapnya sambil sesegukan.
---
-Bersambung-