A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 9



“Rosie, hei Rosie! Yang Mulia, kau baik-baik saja?”


Victor mulai panik, sepertinya dia menjatuhkan Rosie terlalu keras hingga membuat kepalanya terbentur.


Ekspresi cemas dan menyesal tampak sangat jelas di wajah Victor. Sungguh, jika terjadi sesuatu pada Rosie dia tidak bisa menyalahkan orang lain kecuali dirinya sendiri.


“Rosie, bangun!” Sekali lagi Victor mengguncang pelan tubuh Rosie dengan harapan wanita itu akan membuka matanya, tapi nihil, Rosie masih tak merespons.


Namun, saat Victor akan mengangkat tubuhnya untuk dibawa ke istana, Rosie tiba-tiba bangun sambil menghantamkan kepalanya ke wajah Victor.


“YA!” Victor berteriak.


Sampaikan satu detik yang lalu Victor masih percaya jika Rosie pingsan. Namun, kecemasannya berubah menjadi kemarahan begitu tahu wanita itu hanya pura-pura.


“Sepertinya kau cemas,” kata Rosie sambil berdiri dan segera meninggalkan Victor.


Victor yang marah langsung menyusul Rosie dan menarik tangannya dengan kasar. “Kau pikir itu lucu?” tanyanya dengan suara rendahnya yang terdengar dingin dan tatapan yang sangat tajam. Dia sudah sangat cemas dan merasa bersalah, tapi ternyata Rosie hanya mempermainkannya.


“Apa menjatuhkanku seperti itu juga lucu? Kau bisa saja membuatku celaka, bagaimana jika benar-benar terjadi sesuatu padaku?” balas Rosie tak mau kalah.


“Siapa suruh tiba-tiba bangun?”


“Siapa suruh kau menggendongku?”


“Sebentar lagi akan hujan, kau lebih suka aku membiarkanmu kehujanan?”


“Kenapa tidak membangunkanku saja? Kenapa malah menggendongku?”


Pertanyaan terakhir Rosie membuat Victor diam. Pria itu memalingkan wajahnya sambil melepaskan cekalan pada tangan Rosie. Setelah itu dia berjalan terlebih dahulu tanpa mengatakan apa pun lagi.


“Kenapa tidak menjawab?” tanya Rosie penasaran, dia mengikuti Victor menuruni bukit dan rintik hujan mulai turun.


“Apa itu penting?” kata Victor ketus dan karena hujan mulai lebat, dia pun berlari tanpa memedulikan Rosie lagi.


Sementara itu Rosie yang memakai rok dan sepatu dengan hak membuatnya tidak bisa berlari secepat Victor, dia ketinggalan sangat jauh dan akhirnya dia hanya berjalan biasa di tengah hujan karena sudah lelah berlari.


“Astaga, Yang Mulia. Kenapa kau berjalan di tengah hujan?” Sharon berlari menghampiri Rosie sambil membawa payung dan langsung melindungi sang ratu dari hujan.


“Aku tidak apa-apa, balas Rosie yang tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.


“Kau harus segera ganti baju, nanti kau sakit!” Sharon sangat cemas melihat Rosie, tapi yang dicemaskan sepertinya tidak terlalu peduli.


“Yang mulia, astaga. Sudah kubilang, seharusnya aku menemanimu, sekarang kau jadi basah seperti ini.” Mery langsung menghambur pada Rosie begitu Rosie masuk ke dalam istana.


“Mer, cepat siapkan air hangat untuk Yang Mulia mandi!” seru Sharon pada Mery.


“Tapi, Yang Mulia Raja juga baru saja datang dan basah kuyup. Sepertinya dia sedang memakai kamar mandi di kamar utama,” kata Mery.


“Aku mandi di kamar lamaku saja,” kata Rosie.


“Baiklah, Yang Mulia. Aku akan menyiapkan pakaianmu.”


Sharon dan Mery pun membawa Rosie menuju kamar lamanya, kebetulan di sana juga masih banyak pakaian Rosie yang belum sempat dipindahkan.


“Yang, Mulia. Bagaimana kami bisa melayanimu, membantumu berpakaian dan menyiapkan kamar mandimu? Kami sangat canggung dan takut dengan Yang Mulia Raja, kami tidak berani masuk ke kamar utama,” jelas Mery yang sedang mengisi bak dengan air untuk Rosie berendam.


Sharon yang sedang membantu Rosie melepaskan pakaiannya juga mengangguk. “Benar, kami merasa sangat canggung.”


“Coba tanyakan pada pelayanan yang dulu melayani ibuku, apa yang dia lakukan!” Rosie memberi saran.


“Baiklah, aku akan menanyakannya,” kata Sharon.


“Dia dingin, tidak seperti ayahku. Wajar jika kalian merasa takut dan canggung.” Rosie sudah mengerti kenapa para pelayannya merasa seperti itu karena terkadang Rosie sendiri pun sangat canggung pada Victor.


Kedua pelayan itu tidak banyak bertanya lagi, mereka hanya duduk menunggu karena Rosie menolak untuk ditemani dan dibantu saat mandi. Padahal biasanya mereka akan membantu menggosok kaki, tangan dan punggung Rosie. Itu hal yang sudah biasa dilakukan pelayan pribadi kepada perempuan yang merupakan anggota keluarga kerajaan. Namun, semenjak Rosie semakin tumbuh, dia mulai menolak ditemani, katanya canggung jika tubuhnya dipegang oleh orang lain meski itu pelayannya.


Setelah selesai mandi, Sharon segera membantu Rosie memakai gaunnya. Mery dengan sigap mengeringkan rambut Rosie lalu menyisirnya dengan rapi. Mereka juga mengoleskannya krim di wajah, tangan dan kaki Rosie agar tetap lembap dan lembut. Tak lupa beberapa semprotan parfum kesukaan sang ratu.


Sempurna, Rosie yang basah kuyup dan kotor telah disulap menjadi sangat cantik oleh kedua pelayannya.


Rosie mengangguk, sudah beberapa hari dia tidak makan di ruang makan. Toh rasanya sama saja, makan di mana pun hanya ada dia dan Victor. “Baiklah,” katanya sambil berdiri lalu melangkah meninggalkan kamar lamanya diikuti oleh Sharon dan Mery.


“Kami akan menunggu di sini. Panggil saja kami jika Yang Mulia membutuhkan sesuatu!” kata Mery di depan pintu sebelum Rosie masuk ke dalam kamar utama.


“Baiklah, terima kasih.” Rosie pun masuk dan menutup pintu. Namun, dia langsung terpaku saat melihat Victor yang sedang berdiri di depan cermin dengan bertelanjang dada dan membuat Rosie bisa melihat punggung yang kekar. Tapi, bukan itu yang sebenarnya membuat Rosie terdiam.


Victor baru saja selesai mandi, dia telah memakai celananya, namun kemejanya masih terlipat rapi di atas tempat tidur karena Victor tengah memeriksa bekas luka di perutnya.


“Apa kau tidak bisa mengetuk pintu?” tanya Victor saat melihat Rosie dari cermin. Dia mengambil kemejanya dan segera memakainya.


“Ini kamarku, sejak kapan aku harus mengetuk pintu?” balas Rosie sambil berjalan menuju meja makan kecil dekat jendela yang sudah dipenuhi dengan makanan.


Sambil mengancingkan kemejanya, Victor berjalan ke arah Rosie lalu duduk di salah satu dari dua kursi makan. “Lupakan apa yang kau lihat!” serunya sinis.


“Aku tidak melihat apa pun.” Rosie tidak mau menatap mata Victor saat mengatakannya. Sebenarnya dia penasaran dengan bekas-bekas luka yang cukup banyak di punggung Victor, namun melihat reaksi Victor sepertinya pria itu tidak suka membahasnya, bahkan tidak suka karena Rosie dengan tidak sengaja telah melihatnya.


“Bagus.”


“Ayo kita makan saja!” Rosie tidak mau memperpanjang pertengkaran. Meski dia kesal karena Victor telah menjatuhkan ke tanah, tapi itu cukup terbayar saat melihat Victor cemas dan panik. Ternyata pria itu bisa panik juga, Rosie merasa puas bisa mengerjai Victor.


Makan siang pun berlangsung dengan tenang. Selain suara pelan piring sendok, garpu dan pisau, tidak ada suara lain yang terdengar. Raja dan Ratu makan tanpa bicara satu sama lain, mereka hanya fokus dengan makanan masing-masing dan menyelesaikannya dengan cepat.


Setelah selesai, Rosie memanggil Sharon dan Mery untuk membereskan meja dan membawa piring kotor serta sisa makanan.


Kedua pelayan itu pergi dan keadaan kembali hening. Rosie tidak mengajak Victor bicara, begitu pun sebaliknya. Rosie mengambil map dari laci meja rias kemudian duduk sambil membaca dokumen-dokumen yang ada di dalamnya. Itu adalah map yang sama seperti yang selalu Victor lihat di tangan Rosie. Di waktu senggang Rosie selalu membaca apa yang ada di dalam map itu.


Dari sofa Victor memperhatikan Rosie yang duduk dengan tegap dan anggun. Gaun merah muda membalut tubuhnya dengan tali-tali yang mengikat pinggangnya hingga membuat pinggang ramping itu sangat jelas. Rambut pirangnya yang bergelombang terurai menutupi punggung dan sebuah klip rambut perak dengan taburan permata berbentuk daun kecil bertengger indah di kepalanya.


Dari ujung rambut hingga ujung kaki, Rosie bukanlah sosok yang akan membuat jenuh siapa pun yang melihatnya. Wanita cantik itu banyak, tapi Rosie memiliki kecantikan yang berbeda, auranya kuat dan mampu memikat banyak orang. Belum lagi aroma manis dan segar yang selalu melekat pada dirinya akan memberi ketenangan bagi siapa pun yang ada di dekatnya.


Tak terkecuali dengan Victor yang tanpa sadar telah memerhatikan Rosie cukup lama. Dia benar-benar tidak memiliki perasaan pada wanita yang tak bukan adalah istrinya itu. Tapi, ada hal yang tak bisa dibantah, dengan sangat sadar Victor mengakui keindahan ciptaan Tuhan itu.


Perut kenyang dan suara hujan di luar serta tubuh yang nyaman setelah mandi membuat Rosie mengantuk. Dengan punggung yang bersandar pada kursi dan map yang masih berada di pangkuannya Rosie pun ketiduran lagi seperti yang terjadi saat di atas bukit.


Victor yang melihat itu hanya membiarkannya saja selama beberapa saat, namun tiba-tiba Victor menghampiri Rosie dan mengambi map yang sebenarnya telah membuatnya penasaran sejak kemarin.


Victor kembali ke sofa sambil membawa map itu, dia membukanya dan cukup terkejut saat mengetahui jika itu berkas-berkas kasus kematian anggota keluarga kerajaan. Di sana dijelaskan bagaimana raja, ratu dan pangeran meninggal, di mana jasad mereka ditemukan dan luka apa saja yang mereka derita. Semuanya dijelaskan dengan rinci hingga membuat Victor merasa ngilu membayangkannya. Kemudian di lembaran lain Victor membaca banyak penjelasan tentang teori-teori yang melatar belakangi serangan itu, apa motifnya dan siapa yang mungkin melakukannya. Selain membingungkan tulisan-tulisan itu menakutkan di bagian yang menjelaskan bagaimana kondisi korban-korban yang meninggal.


Untuk wanita semanis Rosie, dia membaca sesuatu yang begitu gelap dan kelam. Namun, sepertinya tidak ada pilihan lain jika dia sangat ingin memecahkan kasus itu untuk menegakkan keadilan bagi keluarga dan semua orang yang terbunuh dalam insiden itu.


Victor pernah bertemu dengan Pangeran Jayden yang memiliki sifat usil. Rosie tak jauh berbeda dari kakaknya, dia cukup usil terbukti dari bagaimana dia meniru, mengolok-oloknya ucapan Victor dan saat pura-pura pingsan lalu membenturkan kepalanya pada wajah Victor.


Tapi, Victor mengingat kembali saat Rosie menangis seorang diri dan mengadukan kesulitannya pada seekor anak kucing liar. Dia tampak sangat kesakitan dan tidak memiliki siapa pun lagi untuk mencurahkan semua rasa sakit itu. Dia tidak ingin membebani siapa pun dan lebih memilih menanggung semuanya seorang diri.


Victor tidak ingin membaca lebih banyak, dia menaruh map itu di atas meja rias sambil menatap Rosie yang terlelap. Sempat ragu untuk memindahkannya ke atas tempat tidur, tapi jika dibiarkan seperti itu tubuh Rosie bisa sakit.


Dengan harapan Rosie tidak akan bangun, sangat hati-hati Victor mengangkat tubuh wanita itu dan membaringkannya di atas tempat tidur. Diambilnya selimut kemudian tubuh yang lelah itu ditutup agar hangat.


Namun, Victor dibuat terkejut saat dia menaikkan selimut dan tangannya digenggam oleh Rosie.


“Ayah ....” Rosie mengigau, raut wajahnya berubah, alisnya mengerut dan dari ujung matanya mengalir cairan bening. “Ibu ....”


Dalam tidurnya Rosie menangis. Meski tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun, tapi di bawah alam sadarnya dia sangat merindukan keluarganya. Hatinya menangis sepanjang waktu karena rasa rindu yang tak terbendung itu.


Victor bukan orang yang mudah tersentuh, tapi dia selalu merasa iba saat melihat Rosie. Meski tidak nyaman, dia membiarkan Rosie menggenggam tangannya.


Victor akhirnya duduk di tepi ranjang di samping Rosie dan tangannya yang lain perlahan mengusap cairan di sudut mata dan mengelus kepala wanita itu.


.


.


.


To be continued