
Victor masih berdiri di depan Rosie yang hanya menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah.
“Kau tidak marah?” tanya Victor yang mengira Rosie akan marah setelah kelancangan yang Victor lakukan.
Akhirnya Rosie mendongak menatap Victor, hanya sesaat sebelum dia kembali menunduk karena malu dengan tatapan Victor yang dalam.
“Apa artinya itu? Kenapa kau melakukannya?” tanya Rosie penasaran.
Victor menghela napas dengan tatapan yang masih tertuju pada Rosie, dia berusaha untuk melihat mata wanita itu, tapi Rosie tidak mau mengangkat wajahnya.
“Jika aku mengatakan aku menyukaimu, apa kau akan percaya?” kata Victor pelan dan jelas.
Rosie pelan-pelan mendongak lagi untuk memeriksa ekspresi Victor, dia ingin memastikan apakah Victor sedang bermain-main dengannya atau tidak. Tapi, ekspresi Victor terlalu serius.
“Kau menyukai gadis lain, bukan? Kau tidak mungkin menyukaiku hanya dalam waktu satu malam,” kata Rosie.
“Jadi kau berpikir begitu? Menurutmu ini karena aku terbawa suasana?” tanya Victor.
“Apa yang harus dilakukan selanjutnya?” Rosie tidak ingin membahasnya lebih jauh. Alasan kenapa mereka ada di dapur adalah untuk memasak, tapi Victor tiba-tiba saja melakukannya dan membuat Rosie bingung.
Victor yang tidak ingin membuat Rosie merasa tak nyaman pun memilih untuk tidak membahasnya, dia mengambil bahan makanan dan mulai mengajari Rosie cara memasak makanan yang sederhana.
“Saat tinggal di asrama militer, aku dan teman-temanku paling sering membuat panekuk. Bahan-bahannya sedikit dan tidak membutuhkan banyak alat. Sekarang lihat dan ikuti apa yang aku lakukan! Mengerti?”
Victor menyiapkan dua buah wadah untuk membuat adonan, satu miliknya dan satu milik Rosie.
“Pertama pisahkan dulu putih dan kuning telurnya! Masukkan kuning telur, susu dan pasta vanila ke dalam wadah kemudian diaduk hingga tercampur!” seru Victor sambil memperagakan apa yang dikatakannya.
Rosie melihat semua yang dilakukan Victor dan mengikutinya.
“Seperti ini?” tanya Rosie sambil menunjukkan wadahnya.
“Kocok lebih kuat!”
“Baiklah.”
“Sekarang campurkan putih telur dan gula lalu kocok hingga mengembang! Lebih kuat! Setelah itu masukkan ke dalam wadah itu bersama terigu, masukkan sedikit-sedikit sambil diaduk ....”
Victor menjelaskan sambil memberi contoh agar Rosie bisa melakukannya dengan mudah dan tinggal meniru apa yang Victor lakukan. Tapi, tentu saja tidak selancar yang diharapkan, Rosie tetap membuat banyak kesalahan meski sudah diarahkan oleh Victor, dia menumpahkan tepung, bahkan menjatuhkan telur ke lantai.
Namun, tidak seperti biasanya. Victor mengajari Rosie dengan sabar dan menegurnya tanpa marah-marah seperti biasanya. Victor juga masih bingung dengan dirinya sendiri, dia merasa cukup gila karena mencium Rosie tiba-tiba dalam situasi seperti itu. Victor penasaran apa dia benar-benar telah jatuh hati karena sikap manis dan lembut Rosie serta sifat Rosie yang begitu baik kepada semua orang. Usaha Rosie untuk menghibur dan menenangkannya membuat hati Victor tersentuh.
“Bagaimana jika sudah seperti ini?” Rosie menunjukkan wadah berisi adonan lengkap yang sangat berantakan. Berbeda dengan milik Victor yang rapi dan bersih, wadah milik Rosie belepotan dengan adonan.
“Victor? Apa lagi sekarang?” tanya Rosie lagi karena Victor malah melamun dan tidak mendengarkannya.
“Ah? Kenapa?” Victor tersadar dan langsung menoleh. “Kau mengatakan sesuatu?”
“Adonannya sudah jadi, apa lagi yang harus kulakukan?”
“Harus didiamkan sebentar agar mengembang. Sambil menunggu, kita bisa menyiapkan hiasan dan toping. Panekuk akan enak dimakan dengan buah, kita punya anggur dan kiwi di sini.” Victor mengambil buah dari dalam keranjang kemudian memberikannya pada Rosie.
“Apa yang harus kulakukan pada buah-buahan ini?” tanya Rosie bingung. Dia malah memakan satu anggur dan tersenyum sambil memejamkan mata saat menikmati rasa manis yang memenuhi mulutnya.
Victor yang melihat tingkah Rosie hanya tersenyum. Dia tidak mengerti kenapa dia sangat banyak tersenyum malam ini. Rasanya begitu mudah untuk tersenyum bahkan tertawa, padahal itu bukan yang biasa Victor lakukan.
“Buah kiwinya harus dikupas dan dipotong dulu. Tapi, aku yakin kau tidak bisa melakukannya juga.” Victor mengambil kembali buah kiwi untuk dikupas dan dipotong, sementara Rosie disuruh untuk memisahkan buah anggur dari tangkainya.
Sambil menyiapkan buah-buahan untuk toping dan menunggu adonannya mengembang, mereka duduk dan mulai bicara lagi.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Rosie tiba-tiba.
“Apanya?” Victor balik bertanya.
“Tadi kau melamun. Apa kau memikirkan keluargamu lagi?”
“Tidak, bukan itu.” Victor menggeleng pelan. “Aku minta maaf jika terlalu lancang padamu, kau pasti terkejut dan tidak nyaman.”
“Lalu, apa sebenarnya alasanmu?” tanya Rosie lagi.
“Kau benar, aku menyukai orang lain. Tapi, semua itu sudah berakhir. Aku sadar di mana aku berada dan seperti apa statusku. Kau tidak percaya jika aku mengatakan aku menyukaimu, jadi kuaktakan aku ingin mulai serius dengan pernikahan kita. Aku merasa akan sangat berat jika harus selamanya hidup dengan seseorang yang tidak kucintai, jadi aku ingin berusaha membuka hatiku.”
Rosie menatap Victor lekat, perlu waktu untuk bisa memahami ucapan pria itu. Tapi, dari apa yang berhasil Rosie tangkap, dia berpikir Victor ingin pernikahan itu menjadi normal, bukan hanya sekedar kerja sama untuk mendapatkan keuntungan saja. Victor ingin hubungan mereka tak hanya sebagai rekan kerja, tapi sebagai suami istri yang sebenarnya.
“Bagaimana jika aku tidak bisa menyukaimu? Bagaimana jika aku menyukai pria lain?” tanya Rosie membuat ekspresi Victor yang awalnya tenang berubah menjadi dingin.
“Kau menyukai siapa?” tanya Victor balik.
“Hanya ‘jika’. Jika aku menyukai orang lain, bagaimana?”
“Adonannya pasti sudah mengembang, kita bisa memasaknya sekarang.” Victor bangkit kemudian memeriksa adonan di atas meja.
Tidak ada satu pun pembahasan malam ini yang dibicarakan sampai tuntas. Setiap kali membahas sesuatu yang serius, salah satu dari mereka selalu menyudahinya dan mengganti topik.
“Benarkah?” Rosie ikut bangkit dan segera menghampiri Victor.
Dengan melupakan pembicaraan sebelumnya, Victor kembali mengajari Rosie bagaimana cara memanggang panekuk. Selama proses itu, Victor tak habis-habisnya mengejek dan menggoda Rosie karena bentuk panekuk yang terlalu tebal, terlalu, tipis, kurang matang hingga gosong.
Piring Victor diisi dengan tumpukkan panekuk yang cantik berwarna coklat keemasan dan sangat menggugah. Tapi, piring Rosie berisi berbagai macam bentuk dan warna yang berbeda-beda.
Setelah selesai memanggangnya, mereka membawa piring masing-masing ke ruang makan. Rosie sangat tidak puas dengan hasil kerja kerasnya, dia merasa telah membuat tumpukan sampah yang tidak berguna.
Rosie sangat ragu apakah panekuk itu bisa di makan atau tidak. Tapi, karena penasaran dia pun tetap mengambil.oidau dan garpu lalu mencoba sepotong.
Ekspresi wajah Rosie sudah mewakili semuanya, tampaknya makanan itu tidak baik-baik saja.
“Kurasa ini tidak bisa dimakan. Aku akan mencoba punyamu.” Rosie mengambil panekuk milik Victor. Dia terkejut karena rasanya bisa jauh berbeda, padahal semua bahan dan cara membuatnya sama.
“Bagaimana punyaku?” tanya Victor penasaran.
“Aku tidak melebih-lebihkan, ini lebih enak dari yang juru masak istana buat,” puji Rosie yang mengambil lagi panekuk buatan Victor untuk merasakan kelembutan dan rasa yang begitu pas di lidahnya.
“Habiskan saja jika kau suka!” seru Victor yang senang melihat Rosie makan dengan lahap.
“Aku tidak menyangka kau bisa memasak.”
“Jika aku tidak dikirim untuk pelatihan militer, aku tidak akan bisa melakukan ini. Kau benar, jika aku tidak pernah melalui semua kesulitan itu, mungkin aku tidak akan menjadi aku yang sekarang.
Rosie tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan. “Kita harus tetap bersyukur dengan apa pun.”
“Terima kasih telah menghiburku. Mulai sekarang jangan pernah mengatakan kau tidak punya siapa-siapa lagi, kau punya aku, kita ini keluarga.”
Bicara soal keluarga, Rosie dan Victor sama-sama memiliki hal yang tidak menyenangkan. Rosie memiliki keluarga yang baik dan hangat, tapi keluarganya pergi. Sementara Victor masih memiliki keluarga yang lengkap, namun dia tidak pernah merasakan kehangatan dan kasih sayang yang cukup dari keluarganya.
Sekarang, mereka berdua bersatu. Akankah kedua jiwa yang kesepian itu bisa menjadikan satu sama lain sebagai tempat untuk mendapatkan kehangatan dan menghidupkan keluarga baru yang sesuai dengan harapan mereka?
“Jika kau sudah selesai, sebaiknya kita segera tidur! Besok kita harus kembali ke istana,” kata Victor.
“Ya, aku juga mengantuk. Tapi, bukankah hanya ada satu tempat tidur?” tanya Rosie cemas.
“Benar, rumah ini belum dipersiapkan untuk ditinggali, jadi masih banyak hal yang kurang. Jika kau keberatan untuk tidur bersamaku, kau bisa tidur di sofa ruang tengah!” celetuk Victor.
“Aku tidur di sofa?” Rosie semakin terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Pria seperti apa yang menyuruh istrinya tidur di sofa sementara dia enak-enakan tidur di kasur.
“Tidak, aku bercanda. Aku tidak masalah tidur di sofa.”
Di satu sisi Rosie merasa tidak enak dan tidak tega membiarkan Victor tidur di sofa. Ruang tengah lebih luas dari kamar tidur dan udaranya lebih dingin. Tapi, di sisi lain Rosie juga takut untuk tidur bersama Victor meski mereka sudah menikah. Victor bahkan berani menciumnya begitu saja, Rosie belum siap untuk sesuatu yang lebih dari itu.
“Tidak apa-apa?” tanya Rosie merasa tidak enak.
“Aku sudah biasa tidur di mana saja, jangan cemas! Tidur saja dengan nyenyak seperti yang kau mau!”
“Baiklah kalau begitu.” Rosie berdiri dan melangkah untuk pergi ke kamar. Namun, Victor tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.
“Tunggu!”
“Kenapa?” tanya Rosie yang tiba-tiba salah tingkah karena perbuatan Victor.
“Lepaskan dulu celemeknya!”
“Ah?”
Rupanya Victor hanya ingin memyruurh Rosie untuk melepaskan celemek dan membuat Rosie malu sendiri karena sudah memikirkan yang bukan-bukan.
Rosie pun segera melepaskan celemeknya laku pergi menuju kamar tidur. “Selamat malam,” katanya sebelum benar-benar pergi.
“Iya,” hanya jawaban singkat itu yang keluar dari mulut Victor.
.
.
.
Perasaan gembira membuat Rosie bangun pagi dengan semangat. Dia melihat ke sekeliling kamar dan terkekeh mengingat hal-hal yang semalam ia lakukan. Belajar memasak sangat menyenangkan meski tidak mudah, ciuman keduanya terasa manis dan mendebarkan.
“Apa yang kau pikirkan?” Rosie memukul kepalanya sendiri saat dia menyadari tengah memikirkan hal yang berhubungan dengan Victor.
Saat melihat jam dinding, waktu baru menunjukkan pukul enam. Udara sangat dingin karena hujan turun semalaman.
Mengingat Victor yang tidur di sofa ruang tengah, Rosie mengambil selimut dan berinisiatif untuk memberikannya pada Victor yang pasti keinginan. Rosie keluar dari kamar dan pergi menuju ruang tengah. Di sana dia melihat Victor masih tertidur pulas sambil memeluk sebuah bantal sofa.
Dengan hati-hati Rosie menyelimuti tubuh Victor, dia duduk di tepi sofa itu sambil menatap wajah polos sang suami. Bahkan saat sedang tidur pun Victor masih sangat tampan.
Sadar tengah memerhatikan Victor dengan bodohnya, Rosie segera melihat ke arah lain. Dia melihat meja dan menemukan lembaran-lembaran kertas di sana. Salah satu lembaran tampak berbeda dari yang lain, tapi cukup familier untuk Rosie. Dia masih ingat jika kertas itu mirip dengan surat yang diterima Victor kemarin pagi. Warnanya kuning dengan lambang kerajaan Jerman di bagian belakang kertasnya.
Karena penasaran, Rosie pun mengambil surat itu, dia ingin tahu apa yang ditulis Elisa untuk sang kakak. Namun, setelah membacanya, ternyata itu bukan dari Elisa.
Melihat kata-kata dalam surat itu sudah membuat Rosie tahu siapa Jane. Rosie bisa menebak jika itu dikirim oleh mantan pacar Victor.
Rosie tidak peduli juga, toh dia tidak memiliki perasaan apa pun kada Victor. Lagi pula Victor sudah mengatakan jika dia menyukai gadis lain. Tapi, Victor bilang itu sudah berakhir, kenapa Victor berbohong dan mengatakan jika surat itu dari adiknya?
.
.
.
To be continued