
Rosie tahu Victor hanya berpura-pura karena ada beberapa orang penjaga di sana. Dia memutar matanya malas sambil terus berjalan menjauhi para penjaga.
“Cepat mandi, kau bau!” Victor tiba-tiba mendekat sambil mengendus sekitar leher Rosie.
Mendapat perlakukan seperti itu Rosie sangat terkejut dan langsung melotot pada Victor.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Rosie kesal.
Namun, Victor malah tersenyum sambil merangkul pundak Rosie. “Kau berkeringat,” dia mengusap keringat di pelipis Rosie.
“Victor!”
Rasanya Rosie ingin memukul Victor saat itu juga, tapi dia sadar mereka masih berada di luar.
“Iya, sayang?”
Rosie semakin dibuat terkejut, kesal dan jengkel. Tapi, tiba-tiba dia menyadari ada yang aneh dengan Victor.
“Kau mabuk?” tanya Rosie pelan.
“Tidak.” Victor menggeleng. “Aku hanya minum sedikit.”
“Kau ini ....” Rosie kembali melotot, dia menarik tangan Victor dan segera membawanya masuk.
“Pelan-pelan!” seru Victor sambil berusaha melepaskan diri. Namun, Rosie tatap menyeret Victor naik ke lantai empat.
“Yang Mulia, kau sudah kembali. Kami sudah menyiapkan makan malam, kamar mandi dan pakaian untukmu,” kata Sharon yang selalu berada di dekat kamar Rosie bersama Mery.
“Terima kasih,” balas Rosie singkat.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Mery saat melihat Rosie tampak kesal, sementara Victor terlihat tidak seperti biasanya.
“Tidak apa-apa,” jawab Rosie yang segera membawa Victor masuk ke dalam kamar.
“Lepaskan aku! Kenapa kita ke sini?” tanya Victor sambil menarik tangannya.
Kali ini Rosie pun melepaskannya kemudian menatap Victor tajam.
“Victor!”
“Jangan melihatku seperti itu!” seru Victor kemudian tersenyum. “Kau cantik.”
“Kau minum berapa banyak, hah?”
“Hanya beberapa gelas ... mungkin lebih, aku lupa. Kau mau minum juga?” Victor berjalan ke arah sofa lalu duduk santai di sana.
“Victor!” Rosie menyusulnya dan berdiri di depan sang suami. “Apa kau tidak tahu jika dilarang minum sebelum jam makan malam berakhir? Ini baru setengah tujuh ....”
“Siapa yang membuat peraturan seperti itu?” tanya Victor yang semakin mabuk setelah efek dari alkohol itu mengalir ke dalam darahnya. “Peraturan bodoh. Kenapa minum saja dilarang?”
“Kau boleh minum saat beristirahat setelah makan malam. Lihat, sekarang kau mabuk dan membuat masalah. Kau itu raja, bagaimana jika ada yang tahu kau mabuk sekarang?”
Rosie mulai mengomeli Victor. Tapi, Victor hanya diam, tatapannya kosong dan helaan napasnya terdengar berat.
“Kau mendengarku atau tidak, hah?” Rosie semakin marah, tapi Victor tetap tidak bergeming. “Sudahlah!”
Sadar Victor tidak bisa diajak bicara karena mabuk, Rosie pun membiarkan pria itu dan lebih memilih untuk mandi karena tubuhnya dipenuhi keringat.
Setelah selesai mandi, Rosie langsung memakai bajunya di dalam kamar mandi karena tidak berani untuk ganti baju di depan Victor. Namun, begitu dia keluar kamar mandi, kemarahannya kembali memuncak karena Victor dengan santainya sedang duduk di kursi makan sambil meminum anggur dari dalam gelas.
“Victor!” Rosie langsung merampas gelas itu, dia duduk di depan Victor dan menatapnya marah. “Kau benar-benar tidak bisa diberitahu ya?”
“Kembalikan!”
“Tidak! Kau sudah melewati batas. Kau tidak boleh minum lagi!” seru Rosie tegas.
Victor mengembuskan napas kasar sambil bersandar pada kursi. “Aku lelah, apa kau tidak bisa mengerti sedikit saja?”
“Aku tidak peduli kau mau minum sebanyak apa pun, tapi jangan di waktu yang dilarang!”
“Sttt! Jangan bilang-bilang pada ayahku jika aku minum! Nanti aku dipukul lagi,” kata Victor sambil menaruh telunjuk di depan bibirnya.
“Kau pernah dipukul ayahmu?” Rosie terkejut. Katanya orang akan bicara jujur saat sedang mabuk, apa Victor benar-benar dipukul oleh ayahnya? Jika iya, bukankah itu keterlaluan? Setegas-tegasnya Raja Edward tidak pernah memukul Jayden sebandel apa pun sang pangeran.
“Sering,” jawab Victor lalu menghela napas. “Jika aku tidak menurut, punggungku akan dicambuk.”
“Apa?” Rosie yang awalnya marah kini mulai melunak dan menanggapi ucapan Victor dengan serius. Jadi itu bekas luka cambukkan, pantas saja bentuknya aneh.
“Jangan beri tahu siapa pun! Mengerti? Aku tidak suka dikasihani. Aku merasa tidak punya harga diri jika orang-orang tahu aku selalu dipukul oleh ayahku sendiri. Ini rahasia.”
“Lalu, kenapa kau memberitahuku jika ini rahasia?” tanya Rosie sambil menopang dagunya dengan kedua tangan dan menatap Victor lekat.
“Kenapa ya? Karena kau istriku. Tapi, maaf, aku tidak bisa mencintaimu dan tidak memperlakukanmu dengan lebih baik, aku mencintai orang lain.”
Victor benar-benar jujur dengan ucapannya, dia tidak sadar telah mengungkapkan semua rahasia yang selama ini disembunyikan dari Rosie.
“Kau punya pacar?” Rosie tidak terkejut dan tidak merasa cemburu sama sekali saat Victor mengatakan dia mencintai orang lain.
“Iya, aku punya. Maksudku sebelum ayahku memaksaku meninggalkannya untuk menikahimu.” Victor tersenyum kecut dan bagaimanapun Rosie merasa bersalah.
Karena pernikahan itu, seorang gadis yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban. Tapi, itu bukan salah Rosie, dia tidak menginginkannya juga, semua itu dilakukan karena terpaksa.
“Benarkah? Apa saja yang sudah kau lakukan dengannya?” Rosie tidak ingin menjadi canggung, jadi dia melontarkan pertanyaan yang tidak terlalu serius.
“Apanya yang apa?” tanya Victor bingung.
“Maksudku ... kau pernah berciuman?” Rosie berbisik. Dia hanya penasaran.
“Ya, tak jarang,” jawab Victor.
“Wow, sepertinya kau hebat juga. Bagaimana rasanya berciuman?” Rosie malah semakin penasaran tentang sesuatu yang belum pernah ia lakukan.
“Kenapa kau ingin tahu? Kau belum pernah?” Victor bertanya dan Rosie menggeleng. Kemudian tawa Victor pecah, dia mengolok-olok Rosie dan mengejeknya.
“Jangan tertawa!” seru Rosie kesal.
“Kau sudah dua puluh tahun dan belum pernah melakukannya? Itu lucu, hahahaha.”
“Apanya yang lucu? Aku tidak pernah berkencan dengan siapa pun.” Rosie melipat tangannya kesal sambil menatap Victor tajam.
“Ya, baiklah, aku mengerti. Rasanya hanya luar biasa jika dengan orang yang disukai, jika dengan orang yang tidak disukai akan biasa saja,” jelas Victor. “Kau penasaran?”
Rosie dengan polosnya mengangguk. “Iya, sebenarnya aku sangat penasaran. Tapi ....”
Penjelasan Rosie belum selesai dan tidak pernah selesai karena Victor bangkit sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Rosie dan tanpa pikir panjang Victor tiba-tiba mencium singkat bibir wanita itu.
“Sekarang jangan penasaran lagi! Kau sudah tidak menyedihkan karena sudah melakukannya satu kali. Selamat, Yang Mulia, kau tidak perlu berterima kasih padaku.”
Rosie membeku, matanya terbelalak dan wajahnya merah. Udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi sangat panas hingga membuat Rosie merasa ingin mandi lagi.
Sementara itu, Victor kembali duduk dengan santai dan tertawa sambil menunjuk wajah Rosie. “Hahahaha, kau merah! Sangat menggemaskan, seperti tomat.”
“Kau benar-benar sudah gila, Victor!” Rosie yang mendapatkan kembali kewarasannya langsung berdiri sambil menggebrak meja hingga piring-piring di sana bergeser. “Bagaimana bisa aku memiliki suami seperti ini, ya Tuhan.”
“Katanya kau penasaran.”
“Sudahlah!”
Dengan kesal Rosie langsung pergi menuju tempat tidur, menjatuhkan dirinya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Rasa laparnya hilang, yang ia rasakan hanya debaran kuat jantungnya. Bahkan detak jantungnya sampai terdengar di telinganya sendiri.
Rasanya tidak ‘biasa saja’ seperti yang Victor katakan, padahal Rosie tidak menyukai pria itu. Dia pikir Victor telah membohonginya.
Rosie memejamkan matanya dengan kuat dan mencoba untuk tidur. Tapi, alih-alih terlelap, dia malah terbayang kejadian singkat itu secara berulang-ulang, saat embusan napas Victor menggelitik ujung hidungnya, dan saat bibir yang lembut itu menyentuh bibirnya untuk pertama kali. Rosie merasa akan gila karena tidak bisa melupakannya.
“Rosie!” Tiba-tiba Victor yang masih duduk di kursi makan sambil melanjutkan minumnya memanggil Rosie.
“Jangan memanggilku! Aku mau tidur. Mulai sekarang kita bermusuhan,” kata Rosie yang tiba-tiba saja mendeklarasikan permusuhan karena mendapat sebuah ciuman dari suaminya sendiri.
“Punyamu manis juga,” celetuk Victor yang tidak peduli betapa kacaunya Rosie sekarang.
“Diam!”
“Kenapa aku harus diam? Aku berhak untuk bicara.”
“Diam, Victor!”
.
.
.
To be continued