
Setelah kepulangan keluarga Victor ke Jerman, istana Kerajaan Spanyol kembali terasa sepi.
Di hari kedua setelah pernikahan, Rosie dan Victor masih diharuskan untuk beristirahat dan tidak diperkenankan melakukan pekerjaan apa pun. Hal itu berlaku selama tiga hari ke depan, setelah itu Victor akan mulai mengemban tugas sebagai raja dan pemimpi utama kerajaan, Rosie akan mendampinginya dan tetap melakukan banyak pekerjaan.
Semalam Rosie dan Victor bertengkar lagi perkara tempat tidur, jadi pagi ini mereka secara diam-diam menyuruh pelayan dan penjaga yang bisa dipercaya untuk menambah satu tempat tidur lagi di kamar utama.
Tempat tidur Rosie dari kamar lamanya berhasil dipindahkan dan akan menjadi tempat tidurnya, sementara tempat tidur yang sudah ada sebelumnya menjadi milik Victor.
“Awas saja jika kau berani menyentuh tempat tidurku!” ancam Rosie setelah pelayan pribadinya dan para penjaga keluar dari dalam kamar itu. Dia duduk di tepi ranjang dan menatap tajam ke arah Victor yang juga duduk di tepi ranjang miliknya.
“Sudah kubilang, aku tidak tertarik padamu,” balas Victor santai.
“Oh ya? Kupegang kata-katamu.”
“Silakan saja! Aku sudah bilang sejak awal tujuanku menikah denganmu.”
“Sekarang kau sudah mendapatkannya, kau sudah menjadi raja. Jadi, tepati janjimu untuk menjadi raja yang baik!” seru Rosie penuh penekanan.
“Aku memang tidak mencintaimu, tapi aku bukan penghianat.” Victor mengatakannya dengan serius. Saat penobatannya sebagai raja, dia telah disumpah untuk setia kepada kerajaan dan rakyat Spanyol. Dia mungkin dingin, menyebalkan dan tidak ramah, tapi tak ada sedikit pun niat untuk melakukan kecurangan meski Spanyol bukanlah kampung halamannya. Tujuannya hanya ingin menjadi lebih baik dari Jack, dia ingin membuktikannya jika anak yang selalu dibeda-bedakan itu bisa lebih berhasil dari pada Jack yang selalu dibangga-banggakan. Victor ingin menunjukkan jika dia bukan anak yang tidak berguna.
Rosie tersenyum tipis sambil mengangguk. Dia bangkit kemudian mengambil beberapa buket bunga yang tadi diantarkan oleh Mery padanya.
“Lalukan saja apa pun yang kau mau selama masa istirahat masih berlaku! Aku mau pergi ke makam keluargaku.”
“Baiklah.”
Victor hanya mengiyakan tanpa ada niat untuk menemani Rosie. Victor tahu begitu masa istirahatnya selesai dia tidak akan bisa berleha-leha lagi, jadi selagi masih ada waktu, Victor akan bersantai dan bermalas-malasan, hal yang nyaris tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
“Hati-hati!” kata Victor sebelum Rosie benar-benar pergi.
Rosie hanya mengangguk kemudian berjalan menuju pintu. Victor memperhatikan punggung Rosie, dia melangkah seanggun malaikat, rambut pirangnya jatuh di atas gaun hitam panjang yang sederhana, tapi tetap terlihat elegan.
Victor harus mengakui kecantikan ratu mudanya, namun dia tetap tidak memiliki perasaan apa pun pada wanita itu. Tidak pernah menyukainya, sangat jauh dari kata cinta. Rosie hanya wanita asing yang baru ia kenal, seseorang yang menjalin kerja sama dengannya, pernikahan itu terjadi hanya karena politik dan mereka berusaha untuk menjalin hubungan yang saling menguntungkan.
Bagi Victor Rosie terlalu kekanak-kanakan dan tidak dewasa, sangat jauh dari sosok wanita idamannya. Victor menyukai wanita yang dewasa dan lebih pendiam. Di usianya yang sudah menginjak angka dua puluh lima, sebenarnya Victor sudah menemukan gadis yang ia sukai, gadis yang sesuai dengan yang ia inginkan. Namun, keluarganya tidak merestui karena gadis itu bukan berasal dari keluarga bangsawan. Victor mendapat tekanan dari ayahnya untuk meninggalkan gadis itu, tak lama kabar soal kematian keluarga kerajaan Spanyol sampai di Jerman dan begitulah Victor dipaksa untuk datang dan melamar Rosie di saat dia baru saja patah hati.
Jadi, tak heran jika sikap Victor pada Rosie sangat tidak baik. Meski dia mendapat keuntungan dari pernikahan itu, tapi hatinya benar-benar menolak.
“Jane, apa kau baik-baik saja?” Victor bergumam sambil memegang kalung yang bersembunyi di balik pakaiannya. Itu hanya kalung yang dibuat dengan tangan, tapi begitu berarti karena tangan Jane yang membuatnya. Victor merindukan gadis cantik yang sederhana itu, sangat merindukannya. Dia hanya mengharapkan di mana pun Jane berada, Jane selalu baik-baik saja dan sehat.
Sementara Victor sibuk dengan dunianya sendiri. Rosie yang sudah keluar dari bangunan istana berjalan menuju bukit yang masih merupakan bagian dari istana. Bukit itu terletak di belakang istana dan dijadikan tempat untuk memakamkan anggota keluarga kerajaan yang meninggal. Bukan hanya orang tua dan kakak Rosie, tapi raja, ratu dan anggota keluarga terdahulu juga dimakamkan di sana.
Sesampainya di atas bukit, Rosie langsung menuju tiga makam yang paling baru. Dia duduk di atas tanah kemudian menaruh bunga-bunga itu di batu nisan ketiganya.
“Terima kasih, Jay. Aku tahu aku cantik.” Rosie terkekeh seolah Jayden benar-benar mengajaknya bicara. Meski sering jahil, tapi Jayden selalu memuji kecantikannya adiknya.
“Aku merindukan kalian, Ayah, Ibu. Maaf karena baru sempat datang lagi. Kalian tahu, aku baru saja menikah.”
Rosie tersenyum lebar seolah dia sangat bahagia dengan pernikahannya. Bahkan dia berbohong pada keluarganya yang sudah tidak ada. Dia tidak akan mengeluh jika pernikahannya tidak bahagia dan Victor sangat menyebalkan.
“Dia pria yang tampan dan baik, dia akan menjagaku seperti Ayah menjagaku, jangan cemas!” Rosie bahkan memuji Victor.
“Bu, maaf. Ibu bilang kita tidak boleh menjadi orang yang pendendam, tapi aku tidak akan tinggal diam, aku akan menemukan orang yang telah melakukan ini pada kalian dan aku akan membalaskan rasa sakit kalian. Aku akan menjadikan orang yang pendendam, Bu. Aku tidak bisa memaafkan mereka yang telah melakukan ini.”
Rosie terus berceloteh sendirian, dia menceritakan hal-hal baik dan tidak pernah terlihat sedih. Rasa sakit itu disembunyikan dengan sangat baik dan rapat.
“Yang Mulia, kau di sini rupanya.”
Rosie menoleh saat mendengar suara seorang pria di belakangnya dan dia menemukan Jeon yang berdiri sambil memegang tiga buket bunga di tangannya.
“Jeon?”
Ada kebahagiaan yang menyapu hatinya saat Rosie melihat sosok itu. Jeon yang ia suka ada di sana dan tersenyum padanya.
“Aku datang mewakili ayahku untuk memberikan bunga ini. Beliau sedang sibuk dan tidak sempat datang langsung,” jelas Jeon.
“Ah, mereka pasti senang melihatmu datang.”
“Kehormatan untukku bisa datang seperti ini.” Jeon menaruh ketiga buket bunga itu di masing-masing makam.
“Terima kasih banyak Jeon.”
“Bagaimana keadaanmu, apa kau baik-baik saja?” tanya Jeon yang tahu pasti berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk kembali bangkit setelah kehilangan orang yang dicintai, apa lagi Rosie kehilangan tiga orang keluarganya sekaligus.
“Tentu saja, aku sangat baik.” Rosie mengangguk.
“Baguslah kalau begitu,” kata Jeon meski tak yakin dengan jawaban Rosie.
“Apa besok kau bisa datang untuk mulai latihan lagi?” tanya Rosie tiba-tiba.
“Memangnya tidak apa-apa jika aku melatihmu, Yang Mulia? Sekarang kau sudah menikah, tidak baik wanita yang bersuami dekat-dekat dengan pria lain, apa lagi kau seorang ratu,” jelas Jeon yang sangat cemas dengan pandangan orang-orang terhadapnya Rosie. Bagaimanapun juga sang ratu adalah sahabatnya sejak lama, tentu saja Jeon tidak mau Rosie dipandang buruk.
“Tidak apa-apa jika suaminya mengizinkan. Raja tidak akan keberatan, aku akan bicara padanya, kau tinggal datang saja seperti biasa! Mengerti?”
“Baiklah.” Joe akhirnya mengangguk. “Kalau begitu aku harus pergi dulu.”
“Iya, hati-hati!”
Jeon pun pergi meninggalkan Rosie yang tampaknya belum ada niat untuk pergi. Rosie masih duduk di sana, namun dia tidak bicara lagi dan hanya diam menatap ketiga nisan secara bergantian.
Rosie memiliki keluarga yang sangat hangat dan menyayanginya, tapi mereka pergi begitu cepat meninggalkannya sendirian.
.
.
.
Hari sudah siang dan Victor mulai bosan berada di dalam kamar tanpa melakukan apa-apa. Dia tidak terbiasa duduk diam seperti itu, jadi rasanya malah aneh, padahal tadi dia berniat untuk bermalas-malasan sepanjang hari.
Tak tahan dengan kebosanan itu, Victor pun keluar dari dalam kamar. Para penjaga yang ia lewati langsung memberi hormat, begitu pun kedua pelayan pribadi Rosie yang langsung menyapanya.
“Yang Mulia. Sebentar lagi jam makan siang, apa kau ingin makananmu di antar ke kamar?” tanya Sharon sambil menunduk dan tidak berani melihat wajah Victor.
Aura dingin dan menakutkan sangat kuat di dalam diri Victor sehingga hampir semua pelayan dan penjaga di istana tidak berani menatapnya langsung. Semua orang canggung dan segan pada raja baru mereka.
“Iya, siapkan saja di kamar! Apa Ratu belum kembali?” tanya Victor.
“Yang Mulia Ratu masih berada di bukit, dia akan lama di sana dan tidak suka diganggu,” jelas Mery.
“Kalian tidak akan memanggilnya untuk makan siang?” tanya Victor lagi.
“Yang Mulia menyuruh kami untuk tidak menemuinya, dia akan kembali sendiri jika lapar.”
Victor mengangguk mendengar penjelasan kedua pelayan itu. Masa bodoh, dia juga tidak peduli. Rosie bukan anak kecil lagi, dia tidak harus diarahkan untuk melakukan sesuatu.
“Baiklah,” kata Victor sambil berlalu pergi, dia menuruni tangga kemudian keluar dari dalam bangunan istana untuk mencari udara segar.
Dia berjalan santai dan tidak menemukan sesuatu yang cukup menarik untuk dilihat ataupun dilakukan. Kemudian dia tiba-tiba teringat pada Rosie dan mulai berpikir untuk datang ke makam juga.
Selama berada di Spanyol tak pernah sekali pun Victor mengunjungi makam. Padahal diakui atau tidak itu adalah makam mertua dan kakak iparnya. Apa lagi Victor menjadi raja di sana menggantikan Raja Edward. Di mana sopan santunnya?
Victor pun memantapkan niatnya untuk mengunjungi makam, dia berjalan ke belakang istana dan menaiki bukit. Setibanya di sana dia langsung menemukan tiga makam yang saling berdekatan yang sudah pasti makam Raja Edward, Ratu Annabelle dan Pangeran Jayden.
Victor memberi hormat kemudian duduk sambil melihat ketiga batu nisan secara bergantian. Namun, Victor bingung karena Rosie tidak ada di sana. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tetap tidak menemukan sang istri.
Namun, Victor tiba-tiba mendengar suara dari balik pohon besar yang ada di tengah bukit. Itu jelas suara tangisan, jadi Victor segera bangkit dan diam-diam memeriksanya.
Di balik pohon itu Victor menemukan Rosie yang sedang bersandar sambil menangis. Suaranya terdengar memilukan dan tiga makam di sana sudah bisa membuat semua orang tahu sebesar apa kesedihan yang dirasakan oleh Rosie. Victor bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya kehilangan seluruh anggota keluarga dengan cara yang tragis seperti itu.
“Kita sama, kau sendirian, aku juga sendirian. Ke mana orang tuamu?” Di tengah tangisannya Rosie berbicara pada seekor anak kucing liar yang ia elus-elus di atas pangkuannya. Dia tidak menyadari jika Victor berada di sisi lain pohon itu dan sedang mendengarkannya.
“Orang tuaku pergi, kakakku juga. Mereka pergi untuk selamanya dan tidak akan kembali lagi. Aku tidak suka di sini, aku tidak suka sendirian, aku tidak suka menjadi ratu. Tapi, aku harus melakukannya, aku tidak boleh terlihat sedih di depan orang-orang, aku tidak bisa menyerah karena rakyatku membutuhkanku ....”
Victor masih mendengarkan Rosie secara diam-diam, semua yang dikataka wanita itu terdengar menyakitkan. Dia kehilangan keluarganya dan tidak punya siapa pun untuk bersandar, dia hanya berusaha menghibur dan menguatkan dirinya sendiri. Menjadi ibu untuk semua orang tanpa pernah menunjukkan kesedihannya.
Entah kenapa Victor menyesal telah mengatakan jika Rosie sangat kekanak-kanakan. Siapa yang bisa lebih dewasa dari itu di usia yang masih sangat muda? Rosie lebih memilih untuk menyembunyikan rasa sakitnya karena tidak ingin membuat orang lain cemas. Dia kesepian dan kesakitan, tapi tak seorang pun yang bisa ia jadikan sandaran atau sekedar tempat untuk mencurahkan keluh kesahnya.
Victor masih diam di sana dan tidak berniat untuk menunjukkan dirinya di depan Rosie. Namun, suara Rosie tidak terdengar lagi. Suasana berubah hening dan Victor melihat anak kucing liar itu pergi.
Karena penasaran, akhirnya Victor mengintip dan menemukan Rosie yang tertidur bersandar ke pohon.
Setelah memastikan Rosie benar-benar tertidur, Victor berjalan ke depan Rosie kemudian berjongkok di sana.
Wajah wanita itu sangat polos dengan sisa-sisa air mata di pipi dan ujung matanya. Sepertinya dia lelah karena selalu tidur sangat larut.
Victor menatapnya lekat, wajah itu tampak begitu sendu dan pucat. Meski Victor sering bersikap ketus, tapi hatinya tidak sedingin itu. Dengan hati-hati Victor mengusap sisa air mata di ujung mata Rosie kemudian menyingkirkan dedaunan yang jatuh di rambutnya.
“Kau sudah bekerja keras,” kata Victor dengan suara yang sangat pelan. Dia hanya ingin mengatakannya tanpa ingin didengar oleh Rosie.
Cukup lama Victor diam di sana untuk menemani Rosie yang semakin tertidur lelap. Namun, langit tiba-tiba gelap dan sepertinya akan turun hujan. Mereka harus segera pergi dari sana, tapi Victor tidak tega jika harus membangunkan Rosie.
Tidak ingin ambil pusing, Victor pun menggendong Rosie untuk membawanya kembali. Namun, baru saja beberapa langkah, Rosie tiba-tiba bangun dan matanya langsung bertemu dengan mata abu-abu Victor.
Victor yang mengetahui Rosie bangun pun terkejut, dia menghentikan langkahnya dan tiba-tiba menjatuhkan Rosie begitu saja.
“AKH!” Rosie menjerit, dia baru saja mendapatkan seluruh kesadarannya, namun punggung dan kepalanya tiba-tiba menghantam tanah.
“Kau suah bangunan, jadi bisa berjalan sendiri, bukan?” kata Victor tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
Rosie yang masih terbaring di tanah hanya diam menatap Victor, fokus pandangannya hilang dan matanya perlahan terpejam.
“Yang Mulia?” Victor terkejut dan langsung berjongkok di samping Rosie. “Kau baik-baik saja? Jangan bercanda! Bangun Rosie!”
Victor menepuk pelan pipi Rosie dan memanggilnya, tapi Rosie tidak mau bangun dan tetap seperti orang tidur. Dia pingsan.
.
.
.
To be continued