A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 14



Begitu menyadari tangannya masih mengalung di leher Victor, Rosie pun segera melepaskannya lalu mundur beberapa langkah.


Sebenarnya kejadian barusan membuat mereka canggung dan akhirnya mereka tidak saling bicara lagi selama sisa perjalanan, bahkan setelah mereka kembali ke dalam kamar.


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, jadi mereka pun berniat untuk langsung tidur karena besok masih banyak kegiatan yang harus dilakukan.


Rosie melepaskan jubahnya dan langsung naik ke atas tempat tidur, sementara Victor pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya.


Setelah selesai di kamar mandi, Victor pun segera tidur karena besok pagi dia harus pergi ke markas militer untuk mengecek keadaan di sana sekaligus memperkenalkan diri secara resmi, siang harinya dia juga harus pergi ke luar kota bersama Rosie untuk menghadiri acara peresmian pelabuhan baru yang akan menjadi pelabuhan terbesar di Spanyol.


Di sisi lain, Rosie yang baru saja akan terlelap tiba-tiba terbangun lagi saat dia sadar pakaiannya kotor karena sempat terinjak saat hampir jatuh tadi. Rosie pun turun dari ranjangnya, dia mengambil gaun tidur lain dari dalam lemari kemudian masuk ke kamar mandi untuk ganti baju.


Karena Victor sudah tidur, jadi Rosie tidak menutup pintu kamar mandi dan membiarkannya terbuka sedikit. Namun, saat gaun tidur lamanya sudah jatuh ke lantai sepenuhnya, pintu itu terbuka lebar dan Victor masuk ke dalam.


Victor belum benar-benar tidur saat dia menyadari cincin pernikahannya tertinggal di kamar mandi, jadi dia bangunan untuk mengambilnya. Tapi, kesalahan Victor adalah karena dia tidak melihat ke arah ranjang Rosie untuk memeriksa apakah Rosie ada di sana atau tidak. Sementara itu kesalahan besar Rosie adalah karena dia tidak menutup dan mengunci pintu hingga membuat Victor berpikir jika tidak ada orang di dalam.


Rosie yang berdiri membelakangi pintu tidak tahu jika ada yang datang, dia malah menggulung rambutnya dulu karena bisa tersangkut di baju jika dibiarkan tergerai. Namun, Victor yang melihat punggung Rosie dengan tubuh nyaris telanjang itu pun tidak bergeming, dia hanya diam terpaku melihatnya.


Meski punya cukup banyak pengalaman berkencan dengan para gadis, tapi itu pertama kalinya Victor melihat tubuh seorang perempuan. Biasanya mereka mengenakan rok panjang dan tidak pernah memperlihatkan kaki mereka, paling terbuka mereka memakai gaun tanpa lengan, itu pun terkesan kurang sopan. Untuk wanita bangsawan apa lagi keluarga kerajaan, hampir selalu mengenakan gaun dengan lengan panjang, jika gaunnya memiliki lengan pendek, mereka tetap menutupinya dengan sarung tangan.


Victor menyadari apa yang sedang ia lakukan, dia memalingkan wajahnya dan segera keluar sebelum Rosie mengetahui keberadaannya. Bisa-bisa Rosie marah besar jika tahu Victor melihat tubuhnya.


Dengan langkah-langkah lebar Victor segera kembali ke tempat tidurnya, dia berbaring dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia merasa udara menjadi panas dan detak jantungnya terpacu begitu cepat.


Victor mencoba untuk tidur, tapi bayangan Rosie saat di dalam kamar mandi terus berputar di dalam kepalanya. Dia bahkan sampai memukul kepalanya sendiri untuk membuang pikiran itu. Namun, Victor dibuat terkejut, saat selimut yang menutup wajahnya tiba-tiba disingkap oleh seseorang.


“Kau baik-baik saja?”


Victor melihat Rosie sedang berdiri di samping tempat tidurnya sambil menatapnya bingung.


Rosie yang kembali dari kamar mandi melihat Victor bertingkah aneh dengan seluruh tubuh yang ditutupi selimut. Karena mengira Victor sedang bermimpi buruk, jadi Rosie berniat untuk memeriksanya.


“Kau bermimpi buruk?” tanya Rosie penasaran.


“Iya, mimpi yang sangat buruk,” jawab Victor sambil berbalik memunggungi Rosie dan kembali menutupi kepalanya dengan selimut.


“Dasar orang aneh.” Rosie mencibir sambil meninggalkan Victor dan kembali ke ranjangnya untuk segera tidur. Dia tidak pernah tahu jika Victor telah melihatnya yang sedang ganti baju di kamar mandi.


.


.


.


Pagi ini Victor merasa masih mengantuk karena tidurnya kurang. Tapi, bagaimana pun keadaannya, dia tetap harus melakukan kegiatan yang sudah direncanakan.


Tubuh tegapnya dibalut dengan pakaian militer berwarna hitam yang sangat rapi dan masih baru. Rambutnya yang semula agak panjang juga baru dipotong menjadi lebih pendek dan ditata dengan rapi.


“Kami akan pergi dulu, Yang Mulia. Sarapan sudah siap di ruang makan,” pamit Sharon yang telah selesai membantu Rosie bersiap-siap dan mendandaninya.


“Iya, terima kasih, Sharon, Mer. Kami akan segera turun,” kata Rosie kepada dua pelayan pribadinya.


Sharon dan Mery pun pergi meninggalkan kamar, sementara Rosie menghampiri Victor yang masih berdiri di depan cermin besar.


Bukan hanya Victor yang akan pergi ke luar istana hari ini, Rosie juga harus pergi untuk memeriksa persiapan acara festival musim semi yang akan digelar dalam waktu dekat. Festival itu adalah acara tahun yang akan digelar dan diikuti oleh seluruh rakyat Spanyol dari berbagai kasta, mereka membuat berbagai acara hiburan dan puncaknya akan diadakan pesta dansa di istana. Semua gadis dan pria lajang bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti pesta dansa dan mencari pasangan, tapi nantinya akan diseleksi lagi karena istana tidak cukup untuk menampung semuanya. Acara itu membutuhkan persiapan yang lama dan matang, jadi Rosie akan memeriksa ke beberapa wilayah untuk mengetahui sejauh mana persiapan telah dilakukan.


Dengan gaun merah tua, sarung tangan dan topi berwarna senada, Rosie menghampiri Victor yang terlihat agak gugup. Meski sudah biasa tampil dan bicara di depan umum, tapi Victor tetap merasa gugup karena dia tahu Spanyol sangat berbeda dengan Jerman yang sudah sangat ia kenal. Bahasa yang berbeda, sifat orang-orang yang berbeda dan budaya yang berbeda membuat Victor cemas jika dia takut akan melakukan kesalahan tanpa ia sadari.


“Jangan terlalu cemas! Lakukan saja dengan percaya diri seperti kemarin!” seru Rosie yang sudah berdiri di samping Victor sambil melihat bayangan mereka di cermin.


Rosie sangat percaya diri karena dia memiliki tubuh yang tinggi jika dibandingkan dengan para pelayan di sana, tapi di samping Victor dia tampak pendek.


“Apa aku bisa melakukannya dengan baik?” Victor bertanya, tapi dia tidak berani melihat wajah Rosie.


“Tentu saja, aku percaya padamu.” Rosie yang tidak tahu apa yang sedang Victor pikirkan malah berdiri di depan pria itu lalu menepuk kedua bahunya. “Semoga sukses,” katanya sambil membenarkan lencana yang tersemat di jas hitam sang suami.


Namun, Victor yang akhirnya melihat wajah Rosie malah terpaku menatap wanita itu. Rosie terlihat segar dan cantik dengan lipstik yang senada dengan pakaiannya. Warna itu membuat Rosie tampak begitu elegan dan lebih dewasa dari umurnya.


Entah kenapa, satu malam yang baru saja dilewati telah membuat pikiran Victor begitu banyak terkontaminasi oleh sosok Rosie. Victor bahkan nyaris tidak bisa tidur, setiap kali memejamkan mata, dia teringat bibir Rosie yang benar-benar masih sangat polos dan tidak pernah terjamah sebelumnya. Yang lebih parah adalah saat dia mengingat kejadian di kamar mandi. Tidak bisa diragukan lagi, Victor adalah pria yang sangat normal.


“Kenapa melihatku seperti itu? Apa riasanku berlebihan? Sudah kubilang, aku tidak suka warna ini,” kata Rosie yang menyadari tatapan Victor padanya. Dia berbalik lalu memeriksa riasan wajahnya di cermin.


“Tidak berlebih sama sekali, kau cantik.”


Victor tidak tahu kenapa dia menjadi sangat jujur, mulutnya seperti berbicara sebelum diperintah.


Rosie yang pertama kalinya mendapat pujian dari Victor langsung menunduk dengan pipi yang merona. Dia sudah biasa mendapat pujian dari banyak orang. Tapi, selain mendiang ayah dan kakaknya, tidak pernah ada pria yang secara langsung mengatakan Rosie cantik. Jadi, pujian dari Victor itu membuat Rosie malu dan tersipu.


“Kau juga terlihat tampan dengan rambut barumu,” balas Rosie yang masih menunduk.


“Semoga kegiatanmu lancar juga,” kata Victor.


“Iya, kau juga.”


Setelah keributan yang selalu terjadi di pagi-pagi sebelumnya, mungkin ini pagi pertama mereka tanpa perdebatan dan pertengkaran tidak penting.


“Mau sarapan sekarang?” tanya Rosie.


“Iya, tentu.”


Setelah saling memberi semangat, mereka berdua pun keluar dari dalam kamar untuk pergi menuju ruang makan di lantai satu. Namun, ada yang berbeda, kali ini Rosie tiba-tiba menggandeng tangan Victor terlebih dahulu saat mata para penjaga dan para pelayan tertuju pada mereka.


“Yang Mulia, kau mendapat kiriman surat dari Jerman.” Tiba-tiba seorang penjaga menghampiri mereka dan menyerahkan sebuah amplop pada Victor.


Victor menerimanya, kemudian saat mereka berada di ruang makan, barulah Victor membuka amplop itu.


Sementara para pelayan tengah menyajikan makanan, Victor mulai membaca surat.


‘Yang Mulia, apa kau masih mengingatku?’


Baru membaca kalimat pertama saja Victor langsung bisa mengenali tulisan tangan yang sangat rapi itu.


‘Aku tahu, ini sangat tidak pantas karena kau sudah menikah. Aku hanya sangat merindukanmu dan ingin tahu kabarmu. Apa kau sudah bahagia dengan istrimu? Apa kau pernah mengingatku sekali saja? Aku terus mengingatmu setiap malam, aku sering memimpikanmu. Aku baik-baik saja di sini, sebenarnya tidak begitu baik karena aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu? Kuharap kau selalu sehat dan bahagia. Apa mungkin kita bisa bertemu lagi? Aku berharap bisa melihatmu sekali lagi saja.’


‘Tertanda, Jane.’


Victor tidak bisa menahan senyumannya saat dia membaca surat itu. Rupanya itu dari Jane, gadis yang sangat Victor rindukan dan masih sangat Victor cintai hingga detik ini. Mendapat selembar surat dari Jane membuat Victor amat sangat bahagia, apa lagi karena pengakuan Jane yang katanya merindukan Victor.


“Siapa yang memberimu surat? Kau terlihat bahagia,” kata Rosie yang melihat senyuman Victor dengan jelas.


“Ah, dari adikku,” jawab Victor berbohong.


“Tuan Putri Elisa?”


“Iya.”


.


.


.


To be continued