
Tidur lelap Victor terganggu saat dia merasakan udara dingin yang menyergap tubuhnya. Dia membuka mata dan baru menyadari jika dirinya tidur di sofa dekat jendela yang terbuka.
Victor bangkit sambil memijat kepalanya yang terasa berat. Dia mengingat-ingat kejadian sebelum ketiduran di sana dan mata mengantuknya langsung terbuka lebar. Victor memang sering melakukan hal-hal aneh saat mabuk, tapi dia tidak pernah sampai lupa.
“Apa yang kulakukan?” Victor menyentuh bibirnya sendiri. Dia ingat pembicaraannya dengan Rosie dan apa yang ia lakukan. “Kenapa aku melakukannya? Astaga!”
Sambil berdiri, Victor hanya bisa mengomeli dirinya sendiri karena telah melakukan hal bodoh, dia menyesal telah minum terlalu banyak hingga mabuk.
“Sial!” Victor mengumpat dengan suara pelan, di menutup jendel dan segera menuju ranjang untuk melanjutkan tidurnya.
Namun, baru saja berbaring, Victor dibuat kaget karena Rosie tiba bangun, duduk dengan napas terengah-tengah dan pelipis yang dipenuhi dengan keringat.
“Rosie?” Victor memanggilnya, tapi Rosie tidak menjawab, wanita itu masih diam dengan tubuh yang gemetar dan terlihat ketakutan.
Melihat ada yang tidak beres dengan Rosie, Victor pun turun dari tempat tidurnya lalu duduk di tepi ranjang Rosie.
“Kau bermimpi buruk?” tanya Victor sambil menatap Rosie yang mulai menangis.
Rosie masih tidak bisa menjawab, dia berusaha untuk berhenti menangis sambil mengusap air matanya.
Victor juga tidak bertanya lagi, dia pergi untuk mengambil air minum dan kembali untuk memberikannya pada Rosie.
“Terima kasih.” Rose menerima gelas air putih itu dan segera meminumnya.
“Kau baik-baik saja?” Victor bertanya lagi untuk memastikan.
“Tidak apa-apa, aku hanya mimpi buruk.” Rosie mengangguk pelan dengan napas yang sudah kembali normal.
“Kau yakin tidak apa-apa?” Victor masih tidak yakin karena Rosie tampak pucat.
Rosie mengangguk, dia turun dari tempat tidur lalu mengambil jubahnya yang tergantung di gantungan pakaian.
“Kau mau ke mana?” tanya Victor sambil mengernyit heran.
“Aku ingin menemui keluargaku di makam,” jawab Rosie sambil memakai sandal.
“Ini tengah malam, kau bisa pergi besok pagi!”
“Aku merindukan mereka.”
Rosie tidak peduli jika sekarang sudah tengah malam. Di hanya ingin melihat makam keluarganya setelah bermimpi buruk. Rosie memimpikan kejadian malam itu dan membuatnya sangat ketakutan. Rosie tidak akan bisa tidur lagi, jadi dia ingin datang ke makam sebentar agar merasa lebih dekat dengan keluarganya.
“Kalau begitu minta pelayanmu untuk menemanimu!” seru Victor.
“Mereka pasti sedang beristirahat, aku akan pergi sendiri.”
“Jangan bercanda! Memang sudah tugas mereka untuk melayanimu, jangan pergi sendiri!”
“Mereka pasti lelah, aku tidak apa-apa.”
Rosie tidak memedulikan perintah Victor dan tetap pergi sendirian. Namun, Victor merasa tidak tega membiarkan Rosie keluar malam-malam tanpa ditemani siapa pun, jadi dia pun mengambil jubahnya dan mengikuti Rosie ke luar.
“Yang Mulia, kau mau pergi ke mana?” tanya seorang penjaga yang berdiri di depan pintu utama.
“Aku akan pergi ke makam,” jawab Rosie.
“Ini tengah malam, Yang Mulia.”
“Aku tahu.”
“Aku pergi bersamanya, jangan cemas!” Victor muncul di belakang Rosie dan langsung mendapat hormat dari para penjaga.
“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Rosie bingung.
Namun, Victor hanya merangkul pinggang Rosie dengan satu tangan dan mengajaknya untuk segera pergi.
“Tetaplah berhati-hati, Yang Mulia. Apa benar kalian tidak perlu ditemani?” tanya salah satu penjaga.
“Ayolah, jangan mengganggu kencan kami!” seru Victor membuat para penjaga itu mengangguk kemudian tersenyum setelah sang raja dan ratu melangkah pergi.
Rosie dan Victor berhasil membuat semua orang yakin jika mereka pasangan yang romantis dan bahagia.
Selama mata para penjaga masih bisa menjangkau mereka, Victor tidak melepaskan tangannya dari pinggang Rosie, begitu pula dengan Rosie yang tidak berusaha melepaskan diri. Namun, Rosie merasa begitu canggung begitu dia mengingat kejadian saat Victor mabuk. Itu pertama kalinya bagi Rosie dan dia masih bisa mengingat bagaimana rasanya, bahkan debaran jantungnya kembali terpacu setiap kali membayangkannya.
Namun, Rosie tidak tahu jika Victor juga sedang memikirkan kejadian itu. Dia merasa bersalah, tapi juga ragu untuk meminta maaf dan tidak tahu harus memulainya dari mana.
Setelah mereka berdua semakin dekat dengan bukit dan tidak ada penjaga lagi, Victor melepaskan pinggang Rosie dan sang ratu sedikit menjauh.
“Kau bermimpi buruk apa sampai terbangun seperti itu?” Victor membuka percakapan saat mereka mulai menaiki bukit.
“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Rosie ketus. Dia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk mengurangi kecanggungan itu.
“Kau masih marah?”
“Kenapa aku marah? Aku tidak marah.” Meski berkata seperti itu, tapi nada bicaranya tetap terdengar kesal.
“Aku minta maaf karena minum di waktu yang dilarang,” kata Victor.
“Kau tahu itu dilarang, kenapa kau melakukannya dan membuat masalah? Benar-benar sulit dipercaya,” Rosie mengomeli Victor dan tidak bisa menahan kekesalannya.
“Aku sudah minta maaf, berhenti mengomel!” seru Victor yang jadi ikut merasa kesal karena mendapat omelan dari wanita yang bahkan lebih muda darinya.
“Apa kau bahkan tahu apa yang kau lakukan saat mabuk?” tanya Rosie masih dengan nada kesal.
Victor mengembuskan napas kasar. “Aku hanya mabuk, bukan pingsan, tentu saja aku ingat.”
Wajah Rosie jadi merah saat mendengar jawaban Victor, dia berharap Victor melupakannya saja, tapi sepertinya harapan itu sia-sia
“Kau pikir itu pantas? Kau melakukannya tanpa izin.”
“Apa suami harus meninta izin untuk mencium istrinya? Lagi pula kau harus berterima kasih, jika bukan karena aku, kau tidak akan pernah merasakannya. Kau sudah menikah, jadi kau tidak bisa melakukannya dengan siapa pun selain aku.”
Victor berusaha melakukan pembelaan dan mencari pembenaran untuk apa yang sudah dia lakukan. Dia malah menyuruh Rosie berterima kasih kepadanya alih-alih meminta maaf pada wanita itu atas sikap lancangnya.
“Diamlah!” seru Rosie.
Rosie masih ingin berdebat dengan Victor, tapi mereka sudah hampir sampai di makam dan Rosie tidak mau keluarganya melihat pertengkaran itu, dia selalu ingin terlihat baik-baik saja di depan keluarganya meski mereka sudah meninggal.
“Ayah, Ibu, Jay. Aku ke sini malam-malam, hehehe.” Rosie menyapa keluarganya lalu tertawa pelan. “Jangan cemas! Aku datang bersama Victor. Dia tidak mungkin membiarkanku pergi sendirian, dia sangat menjagaku dengan baik.”
Victor yang mendengar ucapan Rosie hanya menoleh dan memerhatikan sisi wajah wanita itu. Di bawah temaram lampu yang redup, Victor bisa melihat Rosie tersenyum cerah. Namun, keaslian senyuman itu patut dipertanyakan, Victor tahu Rosie tidak sebahagia itu.
“Aku hanya tidak bisa tidur karena sangat merindukan kalian. Aku tahu kalian baik-baik saja di sana, aku juga baik-baik saja di sini. Menjadi ratu ternyata menyenangkan. Tapi, aku tidak bisa lama-lama, Victor harus bekerja besok pagi, aku tidak boleh membiarkannya kurang tidur. Jadi, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa.”
Rosie mengajak Victor untuk kembali ke istana setelah dia mengatakan beberapa hal kepada keluarganya. Mereka pun berjalan menuruni bukit dan Rosie tidak mengatakan apa-apa lagi pada Victor.
“Kenapa kau berbohong?” tanya Victor yang berjalan di samping Rosie.
“Aku berbohong apa?” Rosie balik bertanya.
“Kau bilang menjadi ratu itu menyenangkan, kau bertingkah seolah kau bahagia dengan pernikahan kita.”
“Apa itu penting untukmu?” tanya Rosie ketus.
“Kau masih marah?”
“Pikirkan saja sendiri!”
“Baiklah, aku minta maaf karena telah melakukan sesuatu yang tidak sopan, aku sangat mabuk dan tidak bisa berpikir jernih. Tapi, kau berlebihan. Itu hanya ciuman dan tidak berarti apa-apa ....”
“’Hanya’ kau bilang? Hanya? Itu ciuman pertamaku dan aku melakukannya denganmu? Mungkin kau sudah terbiasa dan menganggapnya bukan apa-apa, tapi bagiku ....”
“Apa salah jika itu denganku? Memangnya harus dengan siapa dan kau ingin dengan siapa? Saat ini hanya aku satu-satunya pria yang boleh melakukannya,” potong Victor sedikit menyombongkan diri.
“Sudahlah! Aku tidak mau membahas itu!”
“Aku hanya berpikir sampai kapan kita akan seperti ini? Kita terjebak dalam pernikahan yang tidak menyenangkan ini, tapi meski tidak saling mencintai, kita tidak bisa berpisah. Setiap satu hari telah berakhir aku selalu bertanya-tanya apa yang harus kulakukan besok, akankah perasaanku masih sama? Apakah mungkin aku bisa menerimamu? Apakah mungkin untukmu menerimaku? Aku terus merasa penasaran dan mencoba mencari jawaban yang tidak pernah kutemukan,” kata Victor dengan ekspresi yang tampak bingung.
“Kau sudah mendapat apa yang kau inginkan, kau sudah menjadi raja mendahului kakakmu,” kata Rosie.
“Iya, aku mendapatkannya, tapi aku tidak merasa begitu senang dan bahagia. Sesuatu yang kudapat dengan Cuma-cuma terasa bukan milikku.”
“Siapa bilang ini cuma-cuma? Bekerjalah lebih keras untuk membayar apa yang kau dapat ini!” seru Rosie sambil menoleh dan menatap sisi wajah Victor.
“Ha, baiklah, Yang Mulia Ratu Rosie. Kau mulai kejam sekarang.” Victor tertawa pelan.
“Apa ada yang lucu?” tanya Rosie kesal.
“Tidak ada. Apa kau sudah tidak marah?” balas Victor.
“Sebenarnya aku hanya terkejut dan malu,” kata Rosie jujur.
“Tapi, Rose. Apa yang harus kita lakukan dengan pernikahan ini? Maksudku, kita tidak mungkin seperti ini selamanya.” Victor kembali serius. “Kita akan hidup bersama setidaknya sampai salah satu dari kita meninggal. Bahkan cepat atau lambat, mau atau tidak, kita harus punya anak untuk meneruskan kekuasaan.”
“Anak?” Rosie kembali menatap Victor.
“Iya. Kita tidak bisa menghindari yang satu itu suka atau tidak.”
“Tapi, untuk mempunyai anak artinya kita harus ....”
“Aku yakin kau cukup pintar dan terdidik untuk tahu apa yang harus terjadi demi melahirkan keturunan dan pewaris takhta kerajaan ini,” jelas Victor sambil menatap Rosie lekat.
Namun, tiba-tiba saja Rosie mundur sambil memeluk dadanya. “Jangan melihatku seperti itu! Ah, aku tahu sekarang. Apa kau sedang berusaha membujukku untuk tidur bersamamu dengan alasan anak?”
“Apa? Kau kira aku ini pria seperti apa, hah?” Victor langsung marah karena mendapat tuduhan seperti itu dari Rosie. “Aku bukan pria murahan. Rupanya kau berpikir liar ya, dasar mesum.”
“Apa? Kau bilang aku mesum?” Rosie langsung menatap Victor kesal.
“Memang iya,” balas Victor santai.
“Kau yang mesum. Kau selalu mencuri kesempatan untuk menyentuhku setiap kali ada orang yang melihat kita. Kau pasti pura-pura mabuk agar bisa menciumku, iya ‘kan? Mengaku saja!”
“Aku benar-benar mabuk!” Victor membantah tuduhan Rosie.
“Aku tidak percaya,” kata Rosie.
“Sudah kubilang, aku tidak tertarik padamu.” Victor memutar matanya, kenapa Rosie semakin aneh? Pikirnya.
Rosie menatap pria itu curiga. “Yakin?” tanyanya sambil berjalan mundur saat mereka sudah menapaki jalan yang datar dan tidak menurun lagi. Namun, tanpa sengaja Rosie menginjak ujung gaun tidurnya dan membuatnya terjengkang ke belakang. Refleks Rosie berpegangan pada Victor, begitu pun dengan Victor yang langsung menarik pinggang Rosie untuk menahannya.
Keduanya sama-sama diam terpaku, dua pasang mata hazel dan abu-abu itu saling menatap dalam dan saling mengakui jika mata yang mereka tatap itu sangat cantik. Warna hazel yang manis dan hangat serat warna abu-abu yang tegas.
“Lihat! Kau mencuri kesempatan lagi. Lepaskan aku!” seru Rosie begitu dia sadar dengan apa yang terjadi.
Tatapan kagum Victor akan keindahan mata Rosie berubah menjadi tatapan kesal. “Lalu apa yang tanganmu kakukan di leherku, hah?”
.
.
.
To be continued