A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 4



"Memangnya apa yang kau butuhkah dari pernikahan ini?" tanya Rosie sambil melanjutkan langkahnya kembali.


"Menjadi raja mendahului kakakku," jawab Victor jujur. "Aku tidak akan berbohong, aku menginginkan kekuasaan."


Rosie menatap Victor, kemudian menghela napas. "Bukankah itu sudah pasti kau dapatkan. Jika kita benar-benar menikah, otomatis kau akan menjadi raja Spanyol."


"Ya, begitulah." Victor mengangkat bahunya kemudian kembali berjalan di samping Rosie. "Jadi, kenapa kau menerimanya begitu saja?"


"Apa itu penting untukmu? Kau sudah mendapat apa yang kau mau," kata Rosie tanpa melihat Victor. "Kau lebih cerewet dari yang kukira, aku lebih suka kau diam."


"Oh, mengejutkan. Kau tidak semanis saat di depan ayahku. Jadi, kau gadis yang seperti itu?"


"Seperti apa?" Akhirnya Rosie menoleh dan menatap Victor aneh.


"Tidak." Victor menggeleng. "Berapa usiamu?"


"Dua puluh."


"Sangat muda, aku dua lima," kata Victor sambil mengembuskan napas pelan. Dia pikir Rosie pasti gadis yang cukup kuat, di usia yang semuda itu dia harus kehilangan keluarganya dan menjadi ratu di kerajaan yang tidak bisa dibilang kecil.


Rosie bahkan lebih muda dari adik perempuan Victor, tapi beban hidupnya sangat besar. Saat ini dia menjadi penguasa wanita satu-satunya dan yang termuda di antara semua kerajaan di daratan Eropa.


"Apa kau keberatan jika kita duduk sebentar?" tanya Rosie saat mereka melewati sebuah kursi kayu di bawah pohon.


"Tentu." Victor tidak menolak. Sebagai bentuk penghormatan, dia mempersilakan Rosie duduk terlebih dahulu, barulah dia menyusul setelahnya.


"Untuk orang seperti kita, pernikahan seperti ini bukan hal yang asing dan mengejutkan,” kata Rosie. Ini bukan yang kuinginkan, tapi aku tidak punya pilihan. Aku hanya akan meminta satu hal darimu, jika kau ingin menjadi raja Spanyol, jadilah raja yang baik dan bijaksana! Rakyatku sedang amat terpukul atas kehilangan raja, ratu dan putra mahkota secara tiba-tiba. Meski tempat ini bukan tempatmu lahir dan dibesarkan, tolong cintai rakyat Spanyol seperti kau mencintai Rakyat Jerman, seperti mendiang ayah dan ibuku mencintai mereka!"


Victor terpaku melihat Rosie. Semua orang tahu jika Rosie adalah orang yang paling kehilangan. Rakyat yang kehilangan raja akan segera mendapatkan penggantinya, tapi seorang anak yang kehilangan orang tuanya artinya kehilangan selamanya dan tidak akan ada gantinya. Tapi, dengan kondisi seperti itu Rosie hanya mencemaskan rakyatnya dan mengesampingkan dirinya sendiri.


"Rakyat Spanyol akan bangga memiliki ratu sepertimu, Yang Mulia," kata Victor


"Aku tidak tahu apa pun untuk menjadi pemimpin. Aku sangat membutuhkan bantuanmu, Pangeran. Jika kau menginginkan kekuasaan, aku akan memberikannya, aku hanya meminta apa yang sudah disebutkan padamu. Meskipun ini bukan tempat asalmu, kumohon jangan pernah mengkhianati dan mengecewakan rakyatku!"


Victor tidak membalas. Entah kenapa permintaan Rosie membuatnya takut. Gadis itu benar, menjadi raja bukan hanya soal kekuasaan, tapi juga memegang tanggung jawab yang amat besar. Sementara tujuan Victor ingin menjadi raja hanya karena dendam dan ingin membuktikan jika dia bisa lebih baik dari Jack.


Tapi, melihat Rosie yang begitu putus asa dan mencemaskan kerajaan serta semua rakyatnya membuat Victor ingin membantunya. Rosie mengingatkan Victor pada Elisa, bagaimana jika kejadian seperti itu menimpa keluarganya dan hanya Elisa yang tersisa untuk menjadi pemimpin? Bagaimana menderita dan kesepiannya, bagaimana sulitnya menghadapi situasi yang sangat berat itu? Seandainya itu terjadi, alangkah bahagianya Elisa jika ada seseorang yang mau membantunya dengan tulus.


"Kita akan menjalin kerja sama yang saling menguntungkan." Victor mengajak Rosie untuk bersalaman sebagai tanda jika mereka sepakat untuk bekerja sama.


"Kau harus menepatinya, Pangeran Victor!"


"Tentu saja, Yang Mulia Ratu. Pria harus bisa memegang kata-katanya."


Rosie akhirnya menerima jabatan tangan Victor dan melemparkan senyum simpul pada pria itu. Dia cukup senang karena Victor mau berjanji untuk menjadi raja yang baik, namun tak bisa dipungkiri Rosie juga sangat sedih karena dia telah benar-benar melepaskan satu mimpinya. Mulai sekarang, dia tidak mengharapkan kisah cinta yang manis lagi dalam hidupnya.


"Kau ingin melanjutkan jalan-jalan?" tanya Rosie pada Victor.


"Sekarang sudah malam, kau pasti lelah, sebaiknya kau istirahat saja! Aku juga akan kembali ke kamarku, besok aku harus bangun pagi untuk bersiap-siap," jawab Victor.


"Baiklah kalau begitu. Kita berpisah di sini saja. Selamat malam dan selamat beristirahat, Pangeran Victor."


"Kau juga, Yang Mulia."


Setelah berpamitan, Rosie langsung pergi meninggalkan Victor yang masih berdiri di dekat kursi di bawah pohon. Victor melihat punggung Rosie yang semakin menjauh. Di satu sisi Rosie adalah seorang ratu, tapi di sisi lain dia hanya gadis muda biasa, dan di sisi yang lainnya lagi Victor mendapati gadis itu akan menjadi istrinya.


.


.


.


Kesibukan membuat Rosie tidak menyadari jika waktu berlalu begitu cepat. Hari-hari ia lewati dengan melakukan pekerjaannya sebagai ratu; menghadiri pertemuan, membahas undang-undang, membuat peraturan baru dan sesekali dia pergi ke luar istana untuk melihat rakyatnya secara langsung.


Hari ini adalah salah satu hari di mana Rosie pergi ke sebuah kota untuk memeriksa keadaan di kota itu, dia pergi saat pagi hari dan kembali setelah sore.


Meski Rosie sangat sibuk dan waktu sudah berlalu cukup lama, bahkan musim sudah berganti. Namun, kesedihannya masih bertahan, melekat sangat kuat di dalam dirinya dan nyaris tidak bisa dihilangkan. Sejak kepergian keluarganya Rosie banyak berubah, sifatnya yang dulu ceria kini tak tampak lagi, dia menjadi jauh lebih dewasa dan pendiam.


Rasa kehilangan, kesepian, beban pekerjaan ditambah lagi dengan pernikahannya yang semakin hari semakin dekat membuat Rosie mendapat tekanan yang tidak sedikit. Terhitung hampir empat bulan sejak lamaran singkat itu terjadi dan kini pernikahan tinggal menghitung hari.


Saat kembali ke istana di sore hari, Rosie disambut dengan Sharon dan Mery yang degan cekatan mengantar Rosie untuk beristirahat di kamarnya, membantunya melepaskan pakaian, menyiapkan air hangat untuk mandi dan memijatnya setelah selesai mandi.


"Yang Mulia semakin kurus, aku khawatir gaun pernikahannya jadi sedikit longgar," kata Mery yang sedang memijat kaki Rosie Sementara Sharon memijat bahunya.


"Bisa dijahit sedikit jika longgar, tidak apa-apa," kata Sharon. "Seharusnya Yang Mulia sudah beristirahat dan jangan pergi ke mana-mana, pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi."


Sharon tampak cemas karena Rosie masih sangat sibuk menjelang hari pernikahannya, padahal Victor dan seluruh keluarga kerajaan Jerman sudah berada di perjalanan dan diperkirakan akan sampai hari ini atau besok.


"Ini hari terakhirku melakukan banyak pekerjaan, mulai besok sampai hari pernikahan aku akan istirahat untuk sementara."


"Itu bagus, Yang Mulia harus banyak istirahat dan tidur yang cukup! Kau akan menjadi pusat perhatian semua orang di hari itu." Mery selalu bersemangat seperti biasa.


Rosie hanya tersenyum tipis lalu memejamkan matanya, mencoba menikmati pijatan dari dua orang pelayan pribadinya itu. Namun, ketenangannya itu tidak bertahan lama saat seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya.


Sharon beranjak untuk membuka pintu dan ternyata seorang penjaga yang datang.


"Ada apa? Kau tidak tahu jika Yang Mulia baru saja pulang dan akan beristirahat?" tanya Sharon sedikit mengomel.


"Tidak apa-apa, Sharon. Biarkan dia masuk!" seru Rosie.


Penjaga itu masuk setelah Rosie menyuruhnya, kemudian memberi hormat sebelum bicara.


"Yang Mulia, Kapal yang ditumpangi keluarga kerajaan Jerman sudah tiba di pelabuhan. Mereka sedang menuju ke sini dan akan sampai dalam tiga puluh menit."


"Apa? Mereka sudah tiba?" Rosie terkejut saat mendengar kabar jika keluarga kerajaan Jerman sudah ada di perjalanan menuju istana.


"Mery siapkan pakaianku!"


Rosie tidak punya waktu untuk istirahat, dia harus bersiap-siap untuk menyambut kedatangan tamunya, atau lebih tepatnya keluarga dari calon suaminya.


Rosie dan Victor memang hanya bertemu satu kali saat Victor datang bersama Raja Eric waktu itu, tapi setelahnya mereka sering berbalas surat untuk mendiskusikan soal pernikahan bahkan sampai menentukan tanggal.


Sekarang untuk pertama kalinya seluruh anggota keluarga kerajaan Jerman datang ke Spanyol untuk acara pernikahan itu dan Rosie sangat gugup. Sebelumnya Rosie tidak pernah bertemu dengan Ratu Victoria dan Pangeran Jack. Jika Putri Elisa pernah datang ke Spanyol beberapa tahun yang lalu dan Rosie sudah mengenalnya.


Dengan cepat Mery membantu Rosie berpakaian, Sharon juga merapikan rambut Rosie dan memberikan sedikit riasan agar sang ratu tidak terlalu pucat.


Setelah selesai bersiap-siap dan sudah berpenampilan rapi, Rosie langsung turun ke bawah, dia menuju halaman depan ditemani oleh kepala pelayan dan kepala penjaga. Tak perlu menunggu lama, gerbang utama istana dibuka saat rombongan kereta kuda mendekat.


Kereta yang memimpin berhenti tepat di depan gerbang, begitu pun dengan kereta-kereta di belakangnya.


Rosie terkejut melihat ada begitu banyak kereta, apa artinya banyak orang yang datang? Dia menjadi gugup dan cemas.


Rosie masih berdiri di depan gerbang saat para pengawal berkuda membuka pintu kereta yang paling depan dan dari sana keluar Raja Eric dan Victor yang disusul oleh Ratu Victoria, Jack dan Elisa.


"Selamat datang kembali Yang Mulia, senang sekali akhirnya kalian tiba di sini dalam kondisi yang sangat baik," kata Rosie sambil memberi hormat kepada Victor dan keluarganya.


"Kami yang lebih senang karena akhirnya bisa bertemu denganmu." Ratu Victoria menghampiri Rosie dan langsung memeluk calon menantunya itu. "Kau secantik yang mereka katakan. Beruntung sekali Victor."


"Kau jauh lebih cantik Yang Mulia, tak heran Pangeran dan Tuan Putri sangat menawan. Oh iya, tidak baik bicara di luar, bagaimana kalau kita masuk saja. Tapi, sepertinya banyak orang yang datang," kata Rosie sambil melihat ke arah kereta-kereta yang berbaris di belakang.


"Oh, hanya kami dan beberapa pelayan serta prajurit yang datang. Kereta-kereta itu tidak mengangkut orang, kami membawa hadiah kecil untuk pernikahanmu dan Victor," jelas Raja Eric.


"Oh, kalian tidak harus melakukan ini."


"Hanya hadiah kecil." Ratu Victoria menggenggam tangan Rosie dengan hangat.


Rosie tersenyum kemudian mengajak semuanya untuk masuk ke ruang tamu dan segala jenis jamuan langsung disajikan.


"Kalian pasti lelah setelah perjalanan, silakan dinikmati makanan yang seadanya ini. Aku tidak tahu apakah makanan ini cocok untuk kalian, tapi semoga kalian suka," jelas Rosie.


"Ini lebih dari cukup, Yang Mulia. Kau tidak berubah sama sekali sejak terakhir kali kita bertemu," kata Elisa ramah. Sementara dua orang pangeran tampaknya memiliki sifat yang tak jauh berbeda, keduanya tidak banyak bicara.


"Apa kau baik-baik saja, Tuan Putri?" tanya Rosie pada Elisa yang walau bagaimanapun telah ditinggalkan oleh calon suaminya.


Elisa tersenyum tipis, namun wajahnya tampak sedih. "Kita tidak bisa mengatur takdir. Kau pasti yang lebih merasa kehilangan."


"Elisa menangis selama berhari-hari saat mengetahui kabar duka itu, dia juga memaksa ingin ikut saat Ayah dan Victor datang ke sini, tapi Ibu melarangnya karena dia sedang sakit." Jack yang sejak tadi diam akhirnya bicara dan membuat Rosie tersenyum kikuk pada calon kakak iparnya itu.


"Dia pasti sangat terpukul," kata Rosie canggung.


"Kau belum memperkenalkan dirimu, Jack!" Ratu Victoria mengingatkan sang putra sulung jika dia tiba-tiba bicara pada Rosie sebelum memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.


Sebenarnya tanpa diperkenalkan pun Rosie sudah tahu siapa Jack, tapi rasanya tidak sopan saja.


"Oh iya, aku Jack kakak Victor. Maaf atas sikap lancangku."


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Rosie mengangguk sambil tersenyum ramah dan obrolan pun terus berlanjut.


.


.


.


Karena lelah setelah perjalanan jauh, Victor, Raja Eric, Ratu Victoria, Jack dan Elisa beristirahat di kamar yang sudah disediakan saat hari beranjak malam. Rosie tidak mengajak mereka makan malam bersama dan menyuruh para pelayan mengantarkan makan malam ke kamar-kamar para tamu agar mereka bisa makan sambil beristirahat dan mendapatkan lebih banyak privasi.


Namun, berbeda dengan keluarganya yang langsung tidur setelah makan malam. Victor justru berkeliaran di luar untuk mencari angin. Victor berjalan menyusuri halaman samping istana yang sangat luas dengan tubuh yang dibalut dengan setelan piama.


Udara awal musim semi terasa cukup hangat, aroma bunga-bunga yang bermekaran di taman pun menyebar hampir ke seluruh penjuru istana.


Victor berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dia menikmati udara malam ini dan pemandangan yang ia lihat cukup menyegarkan mata. Namun, Victor tiba-tiba mendengar suara dari suatu tempat, dia menuju ke tempat di mana suara itu berasal.


Saat sampai di halaman belakang, Victor melihat ada dua orang yang sedang bertarung menggunakan pedang. Suara pedang yang saling beradu itulah yang Victor dengar dan membuatnya datang ke tempat itu. Namun, tampaknya pertarungan itu hanya latihan karena Victor menemukan beberapa orang penjaga yang berdiri di sana.


Salah satu dari dua orang itu adalah Rosie dan yang satunya lagi seorang pria muda.


Menyadari kedatangan Victor, si pria muda berhenti mengayunkan pedangnya lalu segera memberi hormat. "Pangeran," katanya sambil menunduk dalam.


Rosie yang melihat itu pun langsung menoleh. "Kenapa kau belum tidur?"


"Aku butuh udara segar," jawab Victor.


"Ah." Rosie hanya mengangguk kemudian menoleh pada pria muda itu. "Jeon, sudah cukup untuk malam ini. Kita lanjutkan lain kali."


"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang. Berhati-hatilah, jangan melukai tanganmu sendiri lagi!" seru Pria yang dipanggil Jeon itu sambil memasukkan pedangnya ke dalam sarung. Dia mengangguk sopan kemudian pergi.


"Iya, kau juga hati-hati di jalan!" seru Rosie pada Jeon yang sudah berjalan menjauh.


Sementara itu, Victor hanya melihat punggung Jeon kemudian menoleh pada Rosie. "Apa yang kau lakukan? Siapa pria itu?"


.


.


.


To be continued