A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 11



“Semua keputusan tetap ada di tangan Yang Mulia Raja. Jika berani membuat keputusan, bukankah sudah siap dengan segala risikonya, bukan begitu Yang Mulia?” kata seorang menteri yang mendukung Rosie dan Victor.


“Benar, aku tidak membuat keputusan-keputusan dengan gegabah. Tapi, untuk sekarang kita selesaikan satu-satu dulu. Bagaimana keputusan akhir dari program pembangunan sekolah? Saranku adalah tetap membangunkan lima puluh sekolah di seluruh wilayah, tapi dengan ukuran yang lebih kecil agar tidak terlalu memakan banyak biaya. Kita ambil suara saja, siapa yang setuju denganku dan siapa yang tidak? Jika yang setuju denganku lebih banyak maka keputusan akan diambil, tapi jika lebih banyak yang tidak setuju, kita akan berdiskusi lagi untuk menemukan jalan terbaik,” jelas Victor.


Semua orang pun sepakat untuk mengambil suara, dan setelah dihitung jumlah yang setuju lebih banyak dari yang tidak setuju. Dengan begitu Victor pun mengesahkan keputusan untuk membangun lima puluh sekolah baru untuk orang-orang kasta bawah yang akan tersebar di semua wilayah di Spanyol.


Meski tidak setuju, tapi sebagian pejabat dan menteri itu mau tak mau harus mengikuti apa yang telah raja mereka putuskan. Karena apa yang sudah disahkan oleh raja adalah keputusan yang tidak bisa diganggu gugat lagi.


“Waktu kita sudah habis. Aku yakin kalian masih punya pekerjaan yang tak kalah penting dari pertemuan ini. Untuk hari ini kita sudahi saja, masalah dan rencana lain yang belum selesai akan kita bahasa minggu depan,” kata Victor menyudahi rapat sore ini.


“Terima kasih untuk yang sudah hadir dan ikut menyuarakan pendapat. Kita semua berusaha melakukan yang terbaik untuk kerajaan kita tercinta ini,” kata Rosie.


Setelah rapat ditutup, Rosie dan Victor bangkit kemudian meninggalkan ruangan itu terlebih dahulu. Barulah setelah raja dan ratu pergi, yang lain pun satu per satu pergi.


Karena hari ini tidak ada kegiatan lain lagi, jadi Rosie dan Victor naik ke lantai dua di mana perpustakaan berada. Victor baru pertama kali melakukan tugasnya sebagai raja Spanyol, jadi Rosie perlu memberitahu banyak hal yang belum Victor tahu.


Sebagai raja, tentunya Victor harus mengetahui lebih jauh tentang sejarah kerajaan Spanyol, sistem politik dan masih banyak lagi hal yang perlu dipelajari.


“Terima kasih sudah mendukung penuh apa yang aku inginkan,” kata Rosie saat mereka berdua tiba di perpustakaan lalu duduk di kursi yang disediakan untuk membaca. Dibandingkan raja dan ratu mereka malah seperti pasangan muda yang sedang berkencan.


Dalam sejarah kerajaan Spanyol, mereka adalah raja dan ratu termuda yang pernah dilantik. Rata-rata raja akan dilantik saat usia tiga puluh tahun bahkan lebih dan tatut biasanya berusia beberapa tahun lebih muda. Tapi, Victor baru saja berusia dua puluh lima tahun dan Rosie dua puluh tahun.


Jika dilihat dari luar mereka adalah pasangan yang sempurna, masih muda, tampan dan cantik, juga merupakan pemimpin dari sebuah kerajaan. Tampaknya tak ada yang kurang dari pasangan itu, mereka hidup di tengah kemewahan dan tak akan kekurangan apa pun. Tapi, yang sebenarnya terjadi tidak seindah kelihatannya, tak satu pun dari keduanya yang merasa bahagia karena bisa saling memiliki sebagai suami dan istri. Apalah artinya pernikahan jika tak pernah ada rasa cinta di antara keduanya.


“Itu sudah tugasku,” balas Victor singkat.


“Mereka selalu seperti itu, sulit untuk menghadapi yang menentang.” Rosie menghela napas mengingat betapa banyak pejabat yang menentang dan tidak setuju dengan rencananya. Mereka seperti tidak peduli pada orang-orang yang berasal dari kasta bawah.


“Selalu ada orang seperti itu. Kau harus lebih tegas! Kau ratunya, jangan mau dijadikan boneka oleh orang-orang seperti itu! Selama kau benar, jangan takut dan tetaplah memiliki prinsip yang kuat!”


Rosie tersenyum karena dia senang Victor memiliki pemikiran yang sama dengannya dan nilai tambahnya Victor jauh lebih berani untuk melawan mereka yang tak setuju.


“Aku mengerti.” Rosie mengangguk kemudian menaruh beberapa buku di atas meja. “Ini buku-buku penting yang harus kau pelajari. Jika ada yang tidak kau mengerti, apa pun itu bisa ditanyai langsung padaku!”


“Baiklah.” Victor mengambil buku itu dan melihat satu per satu sampulnya.


“Aku punya janji untuk latihan dengan Jeon hari ini, aku harus pergi,” kata Rosie sambil berdiri.


“Kemarin juga kau latihan.” Victor menatapnya heran.


“Iya, aku latihan setiap hari mulai sekarang.”


“Ya, terserah kau saja.”


“Aku pergi,” pamit Rosie sambil melangkah meninggalkan perpustakaan.


Victor tidak melihatnya lagi dan hanya fokus pada buku di tangannya. Dia tahu Rosie akan latihan bela diri dengan seorang pria, tapi dia tidak peduli apa pun yang dilakukan istrinya. Dia hanya membiarkan apa yang Rosie inginkan, lagi pula tidak ada perasaan cemburu atau apa pun itu, mereka hanya menjalankan peran masing-masing tanpa melibatkan perasaan.


.


.


.


Langit sudah mulai gelap, namun di halaman belakang istana Rosie masih bertarung melawan Jeon. Hari ini mereka tidak menggunakan senjata, Rosie ingin belajar bertarung dengan tangan kosong dan Jeon dengan senang hati mengajarinya.


“Kita istirahat dulu Yang Mulia, kau sudah latihan cukup lama,” kata Jeon yang melihat Rosie sudah kelelahan dan dipenuhi dengan keringat.


“Baiklah.” Rosie mengangguk kemudian menjatuhkan dirinya di atas rumput yang menutupi taman. Dia mengatur napasnya yang terengah-tengah dan diam tanpa mengatakan apa pun lagi.


“Minumlah dulu, Yang Mulia!” Jeon memberikan botol air yang sudah ia bukaan untuk Rosie.


“Apa kau benar-benar tidak bisa memanggilku Rosie saja?” tanya Rosie sambil menerima botol itu lalu meminum airnya.


“Bagaimana mungkin, Yang Mulia.” Jeon tetap menolak meski Rosie terus memintanya.


Joe tersenyum melihat kotak yang berisi banyak coklat, dia mengambil satu dan langsung memakannya. “Terima kasih,” katanya sambil mengunyah.


Rosie ikut makan dan dia dengan senang memerhatikan bagaimana Jeon makan. Namun, Jeon sama sekali tidak sadar jika Rosie memperhatikannya, dia hanya makan sambil melihat ke depan, menatap sebuah pohon besar yang seingatnya sudah tumbuh di sana sejak dia pertama kali ia masuk ke istana sekitar tiga belas tahun yang lalu, saat itu usianya baru tujuh tahun. Ayunan di pohon itu masih sama, dulu dia melihat Rosie dan Jayden bermain di sana. Itulah pertama kalinya mereka saling mengenal.


“Bagaimana kabar keluargamu” Rosie tiba-tiba bertanya karena penasaran.


“Sangat baik, semuanya sehat,” jawab Jeon.


“Baguslah, sudah lama aku tidak bertemu dengan ibumu.”


“Bagaimana denganmu?”


“Apanya?” Rosie tidak mengerti dengan pertanyaan Jeon.


“Bagaimana kabarmu?”


Jeon sudah mengenal Rosie sangat lama, jadi dia tahu saat Rosie benar-benar baik atau hanya berpura-pura. Meski sekarang Rosie berusaha untuk terlihat tidak apa-apa, tapi matanya masih menyembunyikan kesedihan yang luar biasa.


“Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat,” jawab Rosie.


“Syukurlah kalau begitu.” Jeon mengiyakan saja meski Rosie berbohong.


“Ayo makan lagi, kau habiskan saja! Jika tidak habis kau bawa pulang saja!” seru Rosie yang semakin menyodorkan coklat itu pada Jeon.


“Kau tidak makan lagi?” tanya Jeon yang menyadari Rosie hanya bicara sejak tadi.


“Aku tidak boleh makan banyak coklat, nanti aku jadi gemuk,” kata Rosie beralasan. Dia memang tidak mau makan dan hanya ingin melihat Jeon makan saja.


“Tapi, sekarang kau sangat kurus, tidak apa-apa jika sedikit berisi. Yang Mulia Raja akan suka,” celetuk Jeon.


“Aku akan suka apa?”


“Ah, Yang Mulia.” Jeon terkejut dan langsung berdiri saat dia melihat Victor tiba-tiba datang dan bicara padanya.


“Apa kau membicarakanku di belakang?” tanya Victor sambil melihat Jeon dengan tatapan aneh.


“Oh, tidak. Yang Mulia Ratu khawatir dia akan menjadi gemuk, jadi aku bilang tidak apa-apa, kau akan menyukainya jika dia sedikit berisi,” jelas Jeon.


“Benar, kau terlalu kurus, istriku. Benar-benar kurang nyaman untuk dilihat dan disentuh.”


Rosie langsung melotot saat Victor mengatakannya. Yang benar saja, memangnya Victor pernah menyentuhnya?


“Apa latihannya sudah selesai? Aku ingin Ratu segera kembali, ini sudah malam,” kata Victor pada Jeon.


“Oh, iya. Sudah selesai, sudah cukup untuk hari ini,” jawab Jeon.


“Ya sudah Jeon. Kita lanjutkan besok, kau boleh pulang. Terima kasih,” kata Rosie.


“Kalau begitu aku permisi, Yang Mulia.” Jeon pamit dan segera pergi. Tapi, Rosie kecewa karena Jeon tidak membawa coklat pemberiannya.


Alih-alih dibawa oleh Jeon, coklat itu malah diambil oleh Victor dan dimakannya. “Wah, kau memberi pelatihmu coklat terbaik di istana ini?”


“Kenapa tiba-tiba ke sini?” Rosie tidak menjawab dan malah balik bertanya.


“Aku merindukanmu.”


.


.


.


To be continued