
"Yang Mulia, kau pasti sudah tahu tujuan kami datang ke sini."
Kata-kata Raja Eric membuat Rosie tersenyum tipis. Senyum yang amat dipaksakan karena kenyataannya itu bukan hal yang membuatnya senang.
"Aku dan mendiang orang tuamu telah berjanji untuk menjadi besan, tapi takdir telah berkata lain. Elisa sangat terpukul atas kepergian calon suaminya, meski begitu hubungan baik kerajaan kita tidak boleh sampai terputus. Aku tahu ini sedikit aneh karena aku mengatakannya langsung padamu, tapi tidak ada seseorang yang menjadi walimu pada saat ini. Jadi, Yang Mulia, aku, keluargaku dan seluruh rakyat Jerman akan merasa sangat terhormat jika Yang Mulia mau menerima lamaran kami."
Raja Eric mengatakannya dengan sangat jelas, tapi Rosie bingung harus membalas apa. Sebenarnya dia berhak untuk menolak, tapi jika dia menolaknya, pihak kerajaan Jerman akan merasa sangat terhina dan kecewa. Hubungan baik yang telah orang tuanya bangun bisa saja rusak karena keegoisan Rosie. Tapi, Rosie tidak mengenal Victor, bagaimana bisa dia melakukannya. Menikah artinya hidup bersama seumur hidup, apa bisa mereka melakukannya hanya untuk kepentingan politik?
Tapi, mau bagaimana lagi. Rosie tengah berada dalam titik terendah hidupnya. Dia memimpin seorang diri dan bukan tidak mungkin kerajaan Spanyol menjadi mudah digoyahkan. Musuh akan menganggap Rosie sebagai pemimpin yang lemah dan terlalu muda untuk melawan, apa lagi dia memang tidak pernah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin.
Dengan kondisi seperti itu, Kerajaan Spanyol akan sangat membutuhkan bantuan dan kerja sama dengan kerajaan lain dan Jerman yang selama ini menjalin hubungan paling baik dengan Spanyol.
"Kau tampak bingung, Yang Mulia," kata Raja Eric membuat Rosie yang sedang melamun langsung tersadar dan menoleh.
"Ah, bukan begitu. Aku sangat tersanjung karena Yang Mulia menganggapku pantas untuk Pangeran Victor yang luar biasa," kata Rosie sambil tersenyum.
Rosie tidak pernah berpikir jika dirinya akan menjadi orang munafik seperti itu. Semua yang dikatakannya hanya kebohongan. Ucapannya tak lebih dari omong kosong dan senyumannya hanya sandiwara.
Dulu Rosie selalu bingung kenapa orang tuanya selalu bersikap baik dan ramah meski di depan orang yang tidak mereka sukai. Sekarang dia mengerti, tak semua hal bisa ditunjukkan, terkadang ada yang lebih baik disembunyikan demi kebaikan.
"Kau yang luar biasa, Yang Mulia. Sebenarnya aku merasa terlalu lancang dengan lamaran ini. Tapi, meski Victor bukan seorang putra mahkota, dia sudah sangat terlatih dalam hal kepemimpinan," jelas Raja Eric.
"Tentu saja, Pangeran Victor pasti seseorang yang sangat hebat."
Rosie tidak tahu harus mengatakan apa selain kata-kata manis yang semakin terasa seperti kebohongan. Victor tidak sebaik itu di matanya, tapi yang ia katakan tentu saja hanya hal-hal baik.
"Jadi, bagaimana, Yang Mulia. Apa kau bersedia?" tanya Raja Eric langsung ke inti dan tak lagi berbasa-basi.
Rosie diam-diam menghela napas, namun dia segera tersenyum untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
"Apa lagi yang bisa kulakukan? Tidak ada pria yang lebih baik untuk mendampingiku yang tidak tahu apa-apa ini. Aku merasa terhormat untuk menerima lamaran ini." Dengan berat hati Rosie terpaksa menerima lamaran itu.
"Aku sudah menduganya, kau wanita yang sangat pintar dan bijaksana, Yang Mulia. Ini akan menjadi kabar baik untuk keluarga kerajaan Jerman dan seluruh rakyat kami. Dengan ini, kuharap hubungan dua kerajaan menjadi semakin erat, kita akan menjadi keluarga.”
"Iya, benar." Rosie tersenyum tanpa seorang pun tahu betapa sulitnya itu. Hanya menarik kedua sudut bibir ke atas, tapi rasanya begitu berat.
Raja Eric yang mendengar jawaban Rosie tampak sangat puas, sementara Victor entah sedang memikirkan apa karena sejak tadi pria itu hanya menunjukkan ekspresi datar.
"Ini hanya lamaran. Untuk pernikahan tentu saja kita membutuhkan waktu dan persiapan yang matang. Tapi, atas kemurahan hatimu yang mau menerima putraku, ada hadiah kecil untukmu."
Raja Eric menaruh sebuah kotak berwarna merah di atas meja. Rosie mengambil kotak kecil itu lalu membukanya.
"Yang Mulia, ini berlebihan," kata Rosie saat melihat kalung berlian di dalam kotak itu.
"Tidak sama sekali. Victor sendiri yang memilihnya untukmu. Ayo Victor, bantu Yang Mulia untuk memakainya!"
Victor yang duduk di samping Raja Eric langsung menoleh dan melihat sang ayah dengan tatapan bingung.
Raja Eric balas menatapnya, sepasang mata coklat itu seolah memaksa Victor untuk melakukan apa yang telah dikatakan.
Victor pun tidak ingin berdebat, tanpa ambil pusing dia bangkit dan berjalan ke belakang Rosie. Diambilnya kalung itu dan dipakaikan di leher Rosie.
Saat Victor ada di belakangnya, Rosie bisa mencium aroma khas pria itu. Aroma maskulin dan mewah yang tidak pernah Rosie rasakan pada pria mana pun sebelumnya. Setidaknya ada satu hal tentang Victor yang Rosie suka, aromanya yang menenangkan.
.
.
.
Setelah menerima lamaran itu, Rosie nyaris tidak tidur semalaman. Dia merasa kacau dan sedikit menyesal. Tapi, itu sudah terjadi dan yang harus Rosie lakukan adalah menghadapi semuanya.
Satu lagi mimpi Rosie yang pupus dan tidak mungkin terwujud. Sejak dulu Rosie tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang ratu ataupun menikah dengan pangeran. Yang dia inginkan hannyalah kisah cinta biasa yang agak manis, menikah dengan pria biasa yang dicintai dan mencintainya, hidup sebagai orang biasa, menjadi istri dan seorang ibu. Rosie benar-benar benci apa pun yang berbau politik, dia ingin terbebas dari kehidupan istana yang meski mewah tapi mengikat.
Namun, mimpi sederhana itu kini tinggal angan. Mimpi yang selamanya hanya akan menjadi mimpi. Rosie telah menjadi ratu bukan atas keinginannya, tapi karena keadaan yang menuntutnya untuk memimpin. Lalu, pria itu ... Victor yang akan menjadi suaminya adalah pria yang tidak Rosie kenal, seorang pangeran yang tidak ramah.
Rosie menyukai pria baik yang hangat, humoris dan bisa menghiburnya. Tapi, tampaknya hal itu tak satu pun ada di dalam diri Victor yang terkesan pendiam, acuh dan sedingin es.
Tak ada masa depan indah yang bisa Rosie lihat, yang ada di dalam bayangannya hannyalah bekerja dan hidup bersama pria yang tidak dicintainya selama sisa hidup yang ia miliki. Membayangkannya saja sudah membuat Rosie sangat tertekan.
"Yang Mulia." Suara Sharon menyadarkan Rosie dari lamunan panjangnya.
Setelah melakukan kegiatan dari pagi hingga siang, Rosie kemudian menghabiskan waktunya di kamar untuk menyendiri dan memikirkan banyak hal. Raja Eric dan Victor masih ada di istana itu, tapi Rosie hanya menyapa mereka tadi pagi saat sarapan dan saat makan siang, selebihnya Rosie membiarkan tamunya melakukan apa yang mereka mau.
Hingga hari beranjak sore Rosie masih tak keluar dari kamar itu, dia hanya duduk di dekat jendela dan melihat apa pun yang terlihat dari sana.
"Yang Mulia. Pelayan Pangeran Victor datang pada kami dan meminta kami memberikan ini padamu. Katanya ini hadiah dari Pangeran," kata Sharon sambil menaruh sebuah kotak berukuran sekitar tiga puluh kali tiga puluh sentimeter di atas tempat tidur Rosie.
"Apa itu?" tanya Rosie yang bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah tempat tidur untuk melihat apa yang dibawa oleh kedua pelayan pribadinya.
"Hadiah dari calon suamimu. Oh astaga, dia sangat tampan, seperti tidak nyata," kata Mery yang terlalu bersemangat. Namun, Sharon langsung menyikut lengan pelayan yang lebih muda darinya itu.
Mery memang gadis yang ceria dan penuh semangat, tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk bersemangat seperti itu.
"Dia membuatku muak," kata Rosie kesal.
"Tapi, dia tampan," celetuk Mery yang sebenarnya sangat benar.
"Bukan wajahnya yang terpenting, dia sangat menyebalkan dan seperti orang jahat. Tuhan! Haruskah aku membatalkan lamaran ini saja? Ish ...!" Rosie mulai frustrasi dengan situasi itu.
"Iya, bukalah!" seru Rosie malas.
Sharon dan Mery pun langsung menuruti perintah Rosie, mereka membuka kotak itu dan menemukan selembar kertas yang dilipat dan ditaruh di atas pakaian yang juga dilipat dengan rapi.
"Surat cinta untukmu, Yang Mulia." Mery menolak untuk mengerti jika Rosie tidak menyukai Victor. Dia hanya sangat senang karena tuan putri yang selama ini ia layani akan segera menikah. Tidak, Rosie bukan lagi putri, dia ratu.
Mery seusai dengan Rosie dan ibunya juga seorang pelayan istana, jadi mereka sudah berteman sejak kecil hingga menjadi sangat dekat dan tidak terlalu canggung.
Rosie menatap Mery malas kemudian mengambil surat itu untuk dibaca.
'Ini hari terakhirku berada di Spanyol karena besok aku akan kembali ke Jerman. Apa kau keberatan untuk menemaniku jalan-jalan di sekitar istana nanti malam? Jika kau berkenan pakailah gaun ini, aku menunggu di depan rumah kaca pukul delapan setelah makan malam. Aku minta makan malamku diantarkan ke kamar, jadi sampai jumpa.'
'Tertanda, Victor'
Rosie baru selesai membaca pesan dalam surat itu, namun suara ribut Mery kembali terdengar saat pelayan itu mengeluarkan gaun dari dalam kotak.
"Ya ampun ya ampun ya ampun, ini sangat cantik." Mery nyaris melompat-lompat sambil menunjukkan gaun itu pada Rosie.
Harus Rosie akui, itu gaun yang sederhana, tapi sangat anggun. Warnanya biru sangat muda, nyaris putih, di antara serat kainnya terdapat benang-benang berwarna perak yang berkilau dan membuat gaun itu terlihat lebih mewah.
"Apa yang Pangeran katakan, Yang Mulia?" tanya Sharon penasaran.
"Sepertinya aku punya kencan malam ini," kata Rosie setelah helaan napas berat.
"Kencan? Itu bagus," kata Mery bersemangat. "Ayo! Kita akan mendandani Yang Mulia agar menjadi gadis paling cantik. Ah, memang Yang Mulia sudah yang paling cantik. Maksudku agar jauh lebih cantik lagi dan membuat Pangeran jatuh cinta."
Saat mendengar kata 'pangeran' yang ada di benak banyak gadis adalah sosok pria tampan yang gagah dan baik hati. Seperti pangeran dalam buku dongeng anak-anak, pangeran yang menikah dengan putri dan mereka hidup bahagia selamanya. Itu adalah kebohongan terbesar yang pernah Rosie tahu, tidak semua pangeran baik dan tidak ada yang namanya 'hidup bahagia selamanya'.
.
.
.
Udara semakin terasa dingin saat malam tiba, namun sepertinya itu tidak menjadi masalah untuk Victor yang masih mondar-mandir di sekitar rumah kaca, menunggu seseorang yang ia undang untuk datang malam ini.
Victor cukup rapi dengan setelan berwarna hitam, rambutnya diikat ke belakang dan menyisakan beberapa helai yang menjuntai di wajahnya.
Ketampanan Victor tidak akan pernah ditolak oleh mata siapa pun, setiap penjaga atau pelayan yang kebetulan lewat di tempat itu tidak bisa untuk tidak melihatnya. Mery tidak berlebihan saat mengatakan Victor terlihat tidak nyata, pria itu memang terlalu sempurna.
Merasa lelah karena mondar-mandir, Victor akhirnya hanya berdiri di bawah lampu yang malah membuatnya terlihat lebih misterius dan menawan. Cahaya redup lampu itu menyinari kepalanya dan memberikan efek bayangan di wajahnya.
Apa Rosie tidak akan datang? Victor bertanya-tanya karena sekarang sudah lewat pukul delapan dan belum ada tanda-tanda kedatangan Rosie ke tempat itu.
Sebenarnya Victor ragu dengan keputusannya. Ada dua sisi yang bertentangan di dalam dirinya, dendam karena selalu dibanding-bandingkan dan dianggap tidak berguna membuat Victor bertekad untuk menikahi Rosie dan menjadi penguasa Spanyol untuk membuktikan jika dirinya mampu. Tapi, hatinya tak bisa mengelak jika bukan pernikahan seperti itu yang ia inginkan.
Jangankan perasaan suka, mengenal Rosie saja tidak. Gadis yang akan menjadi istrinya adalah gadis yang baru saja bertemu dengannya kemarin.
Victor masih dengan dunianya sendiri, tapi lamunan itu seolah terganggu saat sosok ramping dengan gaun yang tak asing itu muncul, berjalan ke arahnya dengan langkah anggun dan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
"Maaf, aku terlambat," kata Rosie saat dia berhenti tepat di depan Victor.
Namun, Victor tak membalas karena masih terpaku menatap indahnya ciptaan Tuhan. Setidaknya tatapan itu bertahan selama beberapa detik sebelum Victor mengalihkan pandangannya pada hal lain.
"Kau harus tahu jika aku tidak suka menunggu," kata Victor ketus.
"Maaf."
"Sudahlah!"
"Jadi, apa kau ingin berjalan-jalan sekarang?" tanya Rosie mengingat Victor mengatakan ingin berjalan-jalan di sekitar istana.
"Jika kau tak keberatan," jawab Victor.
Rosie mengangguk. "Baiklah, jika kau mau aku bisa menunjukkan seluruh bagian istana ini."
Di malam yang sunyi itu Rosie dan Victor berjalan bersisian melewati taman istana yang sangat luas. Rosie yang sama sekali belum pernah berkencan dengan seseorang sangat kikuk dan tidak mengatakan apa pun selain berjalan di samping Victor.
Hingga akhirnya suara Victor yang dalam memecah keheningan dan membuat Rosie menoleh.
"Kenapa kau menerima lamaran ini?" tanya Victor sambil menghentikan langkahnya dan berdiri menghadap Rosie.
Rosie bingung, tidak tahu harus menjawab jujur atau harus berbohong lagi.
"Tidak mungkin karena kau menyukaiku, jujur saja! Jika kau jujur aku juga akan jujur dengan alasanku," kata Victor lagi.
Dia menatap Rosie dengan lekat dan serius, namun Rosie hanya menunduk dan tidak mengatakan apa pun.
Victor menghela napas. "Aku yakin apa pun alasanmu, itu bukan karena kau tertarik padaku. Aku juga sama sekali tidak tertarik padamu, tapi kita bisa bekerja sama dan membuat kesepakatan. Aku memberi yang kau butuhkah dan kau beri apa yang aku butuhkah. Mudah, bukan?"
.
.
.
To be continued