A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 17



“Tapi, bukankah perempuan itu harus bisa memasak? Aku sangat ingin belajar.” Rosie semakin cemberut, dia benar-benar punya keinginan kuat untuk bisa memasak, tapi tidak ada waktu untuk belajar dan tidak ada yang mengajarinya.


“Aku bisa mengajarimu,” kata Victor membuat Rosie menatapnya tak percaya.


“Mana mungkin kau bisa,” kata Rosie meremehkan.


“Aku benar-benar bisa memasak, bahkan membuat roti,” jawab Victor meyakinkan.


“Jangan berbohong!”


“Aku masuk pelatihan prajurit angkatan laut Jerman saat usiaku tujuh belas tahun, di sana tidak ada yang mengenaliku dan aku tidak pernah mengungkapkan identitasku. Aku belajar melakukan semuanya sendiri, memasak, mencuci pakaian, mencuci piring, dan membereskan kamar.”


“Apa? Kau serius? Kau seorang pangeran, bagaimana bisa ikut latihan seperti itu?” Rosie masih skeptis dengan ucapan Victor.


“Aku anak yang paling bandel dibandingkan kakak dan adikku, jadi Ayah menghukumku dengan cara mengirimku untuk pelatihan militer.”


“Berapa lama?”


“Empat tahun.”


“Wow, itu sangat lama. Apa kakakmu tidak dikirim juga?”


“Hanya aku. Jack sangat penurut, jadi Ayah sangat membanggakannya dan tidak pernah menghukumnya. Jack anak kesayangan Ayah, jika melakukan kesalahan selalu dimaafkan. Elisa anak kesayangan Ibu, apa pun yang dilakukan tidak pernah dianggap salah, dia selalu dipandang sebagai putri yang polos dan semua kesalahannya dianggap tidak ada. Hanya aku yang dipukul dan dicambuk. Kau juga sudah melihatnya, tubuhku sangat menjijikkan dengan semua bekas luka itu.”


Victor tiba-tiba membicarakan itu, hal yang tidak pernah ia katakan pada siapa pun. Tapi, karena Rosie sudah melihat bekas luka di punggungnya dan Victor sudah mengatakannya saat mabuk, jadi tidak ada yang perlu disembunyikan lagi.


“Tidak, itu tidak menjijikkan sama sekali. Tapi, pasti sangat menyakitkan.”


“Kupikir aku mendapatkan itu karena aku sangat nakal dan bandel, tapi sepertinya karena aku anak yang tidak diharapkan. Saat aku di dalam kandungan, ibu dan ayahku menginginkan anak perempuan karena mereka sudah punya satu anak laki-laki. Tapi, lahirlah aku dan mereka tidak begitu bahagia,” jelas Victor dengan wajah sedih yang terlihat jelas oleh Rosie.


“Mungkin cara mereka mendidikmu sedikit berbeda dan keras, tapi tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, mereka pasti menyayangimu juga,” kata Rosie berusaha menghibur Victor. Entah kenapa mendengar cara Victor diperlakukan oleh ayahnya membuat Rosie ikut sedih dan sakit hati.


“Aku selalu berusaha untuk berpikir seperti itu. Tapi, setiap kali aku melakukan kesalahan, Ayah tidak pernah ragu untuk menghajarku tanpa ampun, dia seperti tidak takut dan tidak peduli meski aku mati di tangannya. Sementara Ibu dan Jack tidak pernah melarang Ayah atau mencoba menghalanginya meski aku di pukuli di depan mata mereka. Jujur, aku tidak meminta untuk dilindungi dan dikasihani oleh mereka karena aku tahu mereka tidak bisa melawan ayahku. Aku hanya sering berharap, tidak bisakah sekali saja mereka berusaha menghentikan Ayah? Meksi tidak akan berhasil, tidakkah mereka ingin mencobanya? Hanya Elisa yang berani melarang, tapi Ibu cemas dan menyuruhnya untuk tidak ikut campur.”


Rosie menatap Victor lekat, sekarang dia tidak melihat Victor yang dingin, cuek dan menyebalkan. Yang ada di hadapannya hanya seorang anak laki-laki yang sedang menceritakan keluh kesahnya tentang bagaimana sikap keluarganya.


Rosie sudah meninggalkan makanannya sejak Victor mulai bercerita, namun kini dia bangkit dan pindah ke samping Victor. “Aku tidak tahu seperti apa rasanya, pasti sulit menghadapinya sendirian. Tapi, kau sudah bekerja keras dan melewati semuanya dengan baik.”


Victor hanya tersenyum tipis mendengar Rosie yang lebih muda darinya mengatakan itu. Namun, dia terkejut saat Rosie tiba-tiba memeluknya dan mengelus punggungnya dengan sangat lembut dan hati-hati.


“Jika aku merasa sedih dan gusar, ibuku selalu memelukku seperti ini, rasanya sangat menenangkan. Aku tidak sehangat Ibu dan tanganku tidak selembut tangannya, tapi kuharap kau merasa lebih nyaman dan tenang. Setiap bekas luka di punggungmu ini adalah bukti jika kau orang yang kuat, setiap pukulan dan cambukkan yang kau dapat memberimu kekuatan yang tidak bisa didapatkan oleh kakakmu. Berbanggalah pada dirimu sendiri! Kau tumbuh menjadi pria yang tegas dan hebat.”


“Rosie.” Victor menyebut pelan nama Rosie. Jika tujuan Rosie adalah untuk membuat Victor merasa nyaman dan lebih tenang, itu telah berhasil. Jujur, Victor merasa sangat nyaman dalam pelukan Rosie yang hangat, hal yang baru pertama kalinya dia dapat dari sang istri. Namun, di samping rasa nyaman itu, tampaknya sesuatu di dalam dada Victor sangat jauh dari kata tenang.


“Jika kau merasa tidak pernah ada yang membelamu, aku akan melakukannya mulai sekarang. Aku akan memarahi siapa pun yang menyakitimu dan berbuat jahat padamu.”


Victor tersenyum dan tangannya perlahan membalas pelukan Rosie, dia mendekap tubuh yang lebih kecil darinya itu dengan dangat hati-hati seolah Rosie bisa patah jika dipeluk terlalu erat.


“Apa bocah ini berusaha meniru orang dewasa, hah?” tanya Victor sambil tertawa pelan.


“Aku bukan bocah, aku sudah dewasa,” protes Rosie yang tidak terima dikatai bocah oleh Victor.


“Haha, baiklah. Kau memang sudah besar, kau juga telah bekerja keras. Aku tidak tahu pasti sebesar apa kesedihanmu, tapi kau benar-benar bisa melaluinya dengan sangat baik.”


Rosie tersenyum senang, selama ini orang-orang hanya bertanya tentang keadaannya, tapi tidak pernah ada yang memujinya dan mengatakan jika dia telah bekerja keras untuk menjadi ratu yang baik. Tapi, untuk pertama kalinya dia justru mendengar kata-kata itu dari seseorang yang tidak terduga. Rosie mulai sadar jika pemikiran awalnya tentang Victor yang tidak mungkin bisa jadi lembut, ternyata salah. Victor tidak se-kaku dan sedingin itu.


Tidak satu pun dari keduanya yang menyadari jika apa yang mereka lakukan sekarang akan membuat mereka canggung nantinya. Mereka terbawa suasana dan terlanjur merasa nyaman satu sama lain, terjebak dalam perasaan tanpa nama yang dengan sangat perlahan masuk dan mengisi kehampaan hati.


“Semua hal yang pernah kau lalui harus menjadi contoh dan pembelajaran. Jika suatu saat kau menjadi seorang ayah, jangan pernah melakukan hal yang sama pada anakmu!” seru Rosie yang tanpa sadar malah semakin menikmati dekapan Victor di tengah udara malam yang dingin karena hujan masih turun.


“Anak kita? Maksudmu kau ingin punya anak dariku?”


Victor memutar matanya malas. “Lalu harus dari siapa? Dari istri tetangga? Apa aku harus menikah lagi?”


“Tidak boleh!”


“Kenapa?”


“Um, anu ... itu ....”


“Jangan bilang kau cemburu?” celetuk Victor.


“Apa? Aku cemburu? Yang benar saja.” Rosie langsung tertawa remeh sambil memalingkan wajahnya.


“Aku tahu, kau tidak mungkin cemburu. Tapi, bagaimana jika aku ... ini hanya jika. Bagaimana jika aku menyukaimu?”


Victor menatap Rosie lekat dan menunggu jawaban wanita itu. Tapi, Rosie malah mengalihkan pembicaraan dan tidak pernah menjawab pertanyaan Victor.


“Kau bilang kau mau mengajariku memasak. Ini baru jam tujuh lewat, aku mau belajar memasak sekarang. Ayo!”


Victor mengerti sepertinya Rosie tidak ingin membahas itu. Jadi dia pun setuju untuk mengajari Rosie memasak. Mereka meninggalkan ruang makan dan pergi ke dapur.


Victor menyingkirkan panci gosong dari atas kompor kemudian membuang telur yang sudah tidak bisa dikenali sebagai telur lagi ke dalam tempat sampah.


“Ini hal yang penting meski terlihat sepele. Kau harus memakai celemek agar tidak mengotori pakaianku!” Victor mengambil dua buah celemek dari lemari dapur, satu untuknya dan satu untuk Rosie.


Rosie melihat Victor memakai celemeknya dengan mudah dan cepat, tapi Rosie kesulitan dan tidak tahu cara memakainya.


Melihat Rosie yang lagi-lagi bertingkah aneh, Victor pun mengambil celemek itu dan memakaikannya pada sang istri. Dia sudah tidak heran lagi melihat Rosie seperti itu, menarik ritsleting gaun saja harus dibantu, jadi bukan hal aneh jika masih banyak pekerjaan sederhana yang tidak bisa Rosie lakukan.


“Begini saja tidak bisa,” cibir Victor sambil mengalungkan celemek itu di leher Rosie kemudian mengikat talinya ke belakang pinggang.


Saat Victor melakukannya, Rosie menahan napas karena sangat gugup dengan jarak mereka yang terlalu dekat. Rosie merasa canggung dan dia terus mengomeli dirinya sendiri di dalam hati. Dia menyesal telah memeluk Victor dan membuatnya merasa sangat canggung sekarang.


“Bernapas saja! Kau mau mati?” kata Victor yang menyadari Rosie dengan bodohnya menahan napas.


“Oh, aku sedang latihan pernapasan agar bisa menyelam lama di dalam air,” celetuk Rosie asal.


Victor tertawa pelan karena jawaban Rosie, namun meski dia berusaha bersikap normal, detak jantungnya kembali tidak normal. Dengan jarak yang masih sangat dekat, Victor menatap wajah Rosie yang entah hanya perasannya saja atau Rosie memang lebih cantik dari biasanya.


Wajah wanita itu polos tanpa sedikit pun riasan, tapi kecantikannya bukan main. Bibirnya berwarna kemerahan dan tampaknya dia sedang merasa malu dengan tatapan Victor, semua itu bisa terlihat dari kedua pipinya yang merona.


Rosie masih berusaha untuk menenangkan dirinya dan mengeluarkan semua pemikiran aneh dari dalam kepalanya. Namun, pikiran-pikiran aneh itu sepertinya tidak akan pergi karena Victor tiba-tiba semakin mendekatkan wajahnya dengan kepala yang semakin dimiringkan.


Rosie masih terpaku menatap wajah Victor hingga dia merasakan embusan napas sang suami menggelitik pipi dan ujung hidungnya. Tanpa diperintah kedua mata hazel Rosie tertutup, dan saat itulah dia merasakan sesuatu menyentuh bibirnya dan menyapunya dengan sangat lembut.


Rasanya jauh berbeda dari sebelumnya, apa karena Victor tidak mabuk? Atau karena Rosie sudah tahu itu akan terjadi dan dia sudah siap menerimanya?


.


.


.


To be continued