A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 2



Rosie meremas kertas itu setelah selesai membacanya. Dia sedang berduka, tapi Kerajaan Jerman masih menginginkan perjodohan.


Sebelumnya Jayden memang sudah dijodohkan dengan Putri Elisa dari Kerajaan Jerman, tapi Rosie tidak menyangka jika Raja Eric masih menginginkan perjodohan meski Jayden sudah tidak ada. Sebagai gantinya dia ingin Rosie menikah dengan Pangerannya Victor.


Rosie masih sangat sedih dan hancur atas kematian keluarganya, tapi dia bahkan tidak dibiarkan untuk mengistirahatkan pikirannya sebentar saja.


Dengan segala kekacauan di dalam kepalanya, Rosie terduduk di lantai bersandar pada sisi ranjangnya dan mulai menangis. Semua itu terjadi begitu tiba-tiba hingga Rosie nyaris tidak bisa membedakan apakah itu nyata atau hanya mimpi buruk. Dia berharap seseorang datang membangunkannya dan mimpi buruk yang panjang itu akan segera berakhir. Tapi, ternyata itu bukan mimpi, semuanya lebih dari nyata, suara tegas sang ayah tak lagi terdengar, sang ibu tak pernah lagi mengetuk pintu kamar Rosie untuk mengajaknya makan, dan tak ada lagi si pangeran biang onar yang selalu mengganggunya.


.


.


.


Memasuki musim gugur udara mulai terasa dingin, begitu pun suasana istana yang berubah sepi sejak dua minggu yang lalu. Rasa dingin bukan hanya menusuk kulit, tapi juga menusuk hati yang sakit dan kesepian.


Sebanyak daun maple yang berguguran di depan jendela kamarnya, sebanyak itu pula hati Rosie terasa disayat. Air matanya selalu jatuh setiap kali dia mengingat ayah, ibu dan kakaknya yang telah pergi terlebih dahulu meninggalkannya. Setiap saat Rosie bertanya, kenapa dia tidak mati juga? Apakah rasanya dicabut nyawa lebih sakit dari pada apa yang tengah Rosie rasakan sekarang? Apalah Tuhan lebih menyayangi ayah, ibu dan kakaknya hingga mereka dipanggil lebih dahulu, sementara Rosie harus melanjutkan kehidupannya yang semakin sulit.


Beban itu terlalu berat untuk dipikul. Tugas yang semula dibagi dan dilakukan bersama-sama, kini harus Rosie kerjakan sendirian. Raja, ratu, pangeran dan putri memiliki tugas dan pekerjaan penting masing-masing. Raja tentu yang bertugas memimpin dan membuat semua keputusan. Ratu bukan hanya berstatus sebagai pendamping raja, seorang ratu adalah ibu untuk semua rakyat, dia berperan penting dalam pengambilan keputusan, juga bertanggung jawab untuk banyak kegiatan. Pangeran seperti wakil raja, meski tidak menduduki kekuasaan tertinggi tapi seorang pangeran—terutama putra mahkota—adalah wajah dari kerajaan itu sendiri, sebagai pewaris takhta seorang pangeran harus memiliki kesan baik di mata semua rakyat. Seorang tuan putri bukanlah seseorang yang bisa bermalas-malasan, dia bertanggung jawab atas keindahan dan kenyamanan istana termasuk mengurus hal-hal paling kecil seperti dekorasi, warna tirai dan sebagainya, dia juga bertanggung jawab untuk semua acara yang diadakan di dalam istana, menerima tamu dan menyiapkan jamuan.


Namun, sekarang Rosie bukan hanya harus melakukan tugasnya sebagai tuan putri, dia adalah ratu yang sekaligus melakukan tugas raja dan juga pangeran. Beberapa hari terakhir terasa sangat melelahkan, dia bangun pagi dan tidur sangat larut


"Yang mulia, tiga puluh menit lagi pertemuan dengan para menteri akan dimulai. Apa tidak sebaiknya kau bersiap-siap dari sekarang?"


Sharon mengingatkan Rosie yang hanya duduk termenung di dekat jendela sambil melihat ke luar.


"Kami akan membantumu berpakaian," kata Mery sambil menghampiri Rosie sambil membawa gaun biru tua lengan panjang.


Rosie tidak menjawab, namun dia mengangguk dan membiarkan kedua pelayan itu membantunya berpakaian. Korset di luar gaunnya dikencangkan hingga lekuk pinggang rampingnya semakin terlihat jelas. Setelah selesai dengan gaunnya, Rosie duduk tegap di depan meja rias dan membiarkan Mery memoles wajahnya dengan riasan tipis, sementara Sharon menata rambutnya.


Rosie tidak suka riasan yang mencolok, tapi karena akhir-akhir ini wajahnya selalu pucat, jadi Mery memberinya lipstik yang lebih cerah untuk menutupi pucatnya.


Tak membutuhkan waktu lama bagi kedua pelayan itu untuk mengubah Rosie yang berantakan menjadi jauh lebih segar. Meski tatapan sedih dan lelahnya tidak bisa disembunyikan, tapi setidaknya riasan itu cukup menyamarkannya. Untuk melengkapi penampilan sang ratu, Sharon memilih sepatu hitam dengan hak pendek yang nyaman.


Pertemuan dengan para menteri untuk membahas kondisi kerajaan adalah agenda rutin yang dilakukan oleh raja dan ratu, tapi mulai sekarang Rosie yang harus melakukannya. Untuk pertama kalinya dia akan memimpin pertemuan dan membuat keputusan dari saran yang diberikan oleh para menteri.


.


.


.


Gerbang utama istana yang tinggi dan mewah itu terbuka lebar menyambut kedatangan Raja Eric dan Pangeran Victor.


Dua orang tamu penting dari kerajaan Jerman itu akhirnya tiba di istana Kerajaan Spanyol setelah melakukan perjalanan selama lebih dari satu minggu. Mereka datang dengan dikawal puluhan prajurit dan juga pelayan yang selalu siap mengurus apa pun yang dibutuhkan oleh sang raja dan pangeran.


Raja Eric turun dari kudanya dan menghela napas sambil memperhatikan halaman depan istana yang tampak sedikit berbeda dari terakhir kali dia melihatnya. Penyerangan malam itu menimbulkan banyak kerusakan dan halaman itu baru saja diperbaiki sehingga jadi berbeda dari sebelumnya.


Dia telah beberapa kali mengunjungi istana itu, tapi kali ini rasanya asing. Suasana tampak sepi, tak ada sambutan dari Raja Edward dan Ratu Annabelle seperti dulu, wajah-wajah para penjaga dan pelayan di sana juga terlihat tidak sebaik biasanya. Raut sedih masih tampak, duka yang mendalam masih tersisa bagi siapa saja yang tinggal di sana. Mereka bukan hanya kehilangan sosok tiga orang terpenting saja, tapi rekan kerja dan sahabat seprofesi mereka juga banyak yang meninggal.


"Yang Mulia Raja, Pangeran, kalian datang lebih cepat dari perkiraan kami. Aku mohon maaf yang sebenar-benarnya karena Yang Mulia Ratu Rosie tidak bisa menyambut secara langsung, beliau sedang berada dalam pertemuan dengan para menteri karena kami mengira kalian akan datang lebih sore. Aku akan segera memberitahu Ratu jika kalian sudah tiba," jelas kepala penjaga yang menyambut kedatangan Raja Eric dan Victor.


"Tidak, perlu. Kami akan menunggu hingga selesai. Beri tahu Ratu Rosie begitu pertemuannya selesai!" kata Raja Eric yang tidak ingin mengganggu pertemuan penting sang ratu bersama para menteri.


"Baiklah kalau begitu, kepala pelayan kami akan mengantarkan Yang Mulia dan Pangeran untuk beristirahat."


Raja Eric mengangguk kemudian kepala pelayan membawa dua orang tamu itu menuju ruangan khusus yang diperuntukkan bagi tamu istimewa dari kerajaan lain. Sementara itu para pelayan dan prajurit yang mengawal dipersilakan untuk beristirahat di ruangan lain yang telah disediakan.


Sambil berjalan melewati halaman istana yang luas, Victor yang berada di samping Raja Eric terus memerhatikan keadaan sekitar, melihat para penjaga berseragam rapi yang menunduk hormat saat mereka lewat. Saat semakin dekat dengan ruangan yang dituju, para pelayan juga berbaris dengan teratur dan langsung memberi hormat.


Setelah Victor berlalu, para pelayan muda itu mulai saling berbisik membicarakannya.


"Jadi itu calon suami Yang Mulia."


"Dia tampan."


"Tentu saja, dia seorang pangeran."


Tak bisa dibantah, sosok Victor yang memesona membuat siapa pun yang melihatnya akan terpana. Tubuhnya tinggi tegap, matanya berwarna abu-abu dengan sorot yang tajam, wajahnya tegas dan terpahat nyaris sempurna, serta rambut hitam yang sedikit bergelombang dibiarkan agak panjang memberi kesan santai tapi tetap rapi.


Sementara itu, Rosie yang baru saja keluar dari ruang rapat langsung diberitahu jika tamunya sudah datang dan sedang menunggu. Gadis itu terkejut dan segera pergi menuju ruang tamu.


"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak tadi?" tanya Rosie kepada seorang penjaga yang mengikutinya.


"Raja Eric sendiri yang meminta untuk tidak mengganggu pertemuan dan memberitahumu setelah selesai," jelas penjaga itu dengan sopan.


Suara entakkan hak dari sepatu Rosie terdengar saat dia berjalan cepat melewati lorong. Bayangannya yang anggun terpantul jelas di atas marmer putih yang menjadi alas dari lorong itu.


Begitu dia sampai di depan pintu, dua orang penjaga langsung membukakan pintu itu. Rosie memperlambat langkahnya dan masuk dengan hati-hati ke dalam ruangan.


Para pelayan di sana langsung memberinya hormat, sementara kedua tamunya juga langsung berdiri menyambut kedatangan sang tuan rumah.


"Yang Mulia, Pangeran. Mohon maaf atas keterlambatanku, tak sepantasnya aku membuat tamuku menunggu seperti ini," kata Rosie yang merasa sangat tidak enak kepada Raja Eric dan Pangeran Victor.


"Oh, tidak apa-apa, Yang Mulia. Kami baru saja datang. Sebenarnya kami yang sangat terlambat, kami benar-benar berduka atas musibah yang menimpa keluargamu."


Rosie tersenyum simpul melihat pria setengah baya yang sebelumnya sudah pernah bertemu dengannya beberapa kali. Namun, pria muda yang ada di samping Raja Eric itu sangat asing meski Rosie sudah bisa menebak siapa pria itu.


"Aku merasa sangat terhormat karena Yang Mulia Raja dan Pangeran menyempatkan diri datang jauh-jauh ke sini. Maaf jika sambutan kami sangat tidak layak."


Raja Eric tersenyum melihat sikap Rosie yang sangat sopan. Gadis itu sangat pintar dan terdidik, meski masih muda tapi dia tahu cara untuk bersikap. Namun, tetap saja, siapa pun yang melihat Rosie akan tahu jika sang ratu hanya seorang gadis yang sangat muda dan masih rapuh. Meski berusaha tersenyum, luka itu tampak jelas di matanya. Dia kehilangan dan kesepian.


"Oh iya. Sepertinya kau belum mengenal pemuda ini. Perkenalan, Victor putra keduaku." Tanpa banyak basa-basi, Raja Eric langsung memperkenalkan Victor pada Rosie.


"Senang bertemu denganmu, Pangeran Victor. Aku yakin kau sudah mendengar tentangku." Rosie bersikap ramah, tersenyum pada Victor dan mengajak pria itu berjabat tangan.


Namun, Victor sama sekali tidak membalas senyuman Rosie. Ekspresi wajahnya datar saat dia menjabat tangan ramping dan halus yang berbanding terbalik dengan tangan kekar miliknya itu.


"Senang bertemu denganmu juga, Yang Mulia," kata Victor singkat.


"Victor memang agak dingin dan cuek, kuharap kau memakluminya. Dia akan menjadi hangat jika sudah mengenalmu lebih dekat."


Rosie hanya tersenyum canggung mendengar penjelasan Raja Eric. Sebenarnya dia tidak yakin jika Victor bisa bersikap lebih hangat. Cara pria itu bicara dan melihat benar-benar jauh dari kata ramah. Rosie tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya jika dia benar-benar menikah dengan Victor.


"Kalian pasti sangat lelah setelah perjalanan jauh. Apa tidak sebaiknya beristirahat dulu, kita bisa melanjutkan pembicaraan saat makan malam nanti," kata Rosie yang menyadari kedua tamunya tampak letih. "Para pelayan akan mengantarkan kalian ke kamar. Jika ada yang dibutuhkan tinggal katakan saja, apa pun itu!"


Raja Eric menerima tawaran Rosie untuk beristirahat, sementara Victor hanya mengikuti keputusan ayahnya saja.


Setelah berpamitan dengan Rosie, mereka berdua pun diantar menuju kamar tamu yang ada di lantai tiga.


"Victor!" panggil Raja Eric pada sang putra yang berjalan dengan pandangan yang mengarah lurus ke depan.


Wajah Victor benar-benar terlihat dingin dan tak senang, rahangnya mengeras dan tatapannya tajam.


"Bersikaplah lebih ramah pada Ratu Rosie! Apa tersenyum saja sulit untukmu? Dia akan menjadi istrimu."


"Ayah memaksaku untuk menikahi gadis yang tidak kukenal. Ayah pikir aku bisa tersenyum?"


"Ini kesempatanmu, Victor. Kau akan menjadi raja jika kau menikah dengan Ratu Rosie. Jadilah berguna kali ini saja!"


Rahang Victor semakin mengeras saat mendengar ucapan Raja Eric. Meski sering mendengarnya, tapi itu tetap menusuk. Se-tidak berguna itukah Victor di mata ayahnya?


Victor memang tidak sehebat kakaknya, tapi apakah pantas seorang ayah mengatakan jika anaknya tidak berguna?


Pangeran Jack, sang putra mahkota, anak sulung yang selalu dibangga-banggakan. Putri Elisa, satu-satunya anak perempuan sekaligus anak bungsu yang sangat dimanja dan diperhatikan. Victor yang berada di tengah tak pernah mendapatkan apa-apa selain dibanding-bandingkan dengan sang kakak dan disalahkan jika terjadi sesuatu pada sang adik.


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Victor langsung memasuki kamar yang ditunjukkan oleh pelayan. Di satu sisi dia muak dengan perjodohan itu. Tapi, itu memang kesempatannya untuk membuktikan jika dia jauh lebih baik dari yang ayahnya katakan selama ini. Dengan menikahi ratu Spanyol maka secara otomatis Victor akan diangkat menjadi raja. Dengan begitu Victor bisa melampaui Jack, mendahului sang kakak yang masih akan berstatus sebagai putra mahkota hingga Raja Eric turun dari singgasananya.


"Kau benar Jack, tidak seharusnya kita menikah dengan seseorang yang tidak kita cintai. Tapi, aku akan melakukannya. Aku harus lebih baik darimu. Aku tidak butuh cinta gadis itu, aku hanya butuh takhtanya."


.


.


.


To be continued