A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 5



"Keluarga kerajaan Jerman sudah di sini, bukankah seharusnya aku tidak datang."


Pria bertubuh kekar itu duduk di kursi yang sama dengan Rosie, namun tetap menjaga jarak. Dia adalah Jeon, sahabat sekaligus pelatih Rosie.


Sejak kepergian keluarganya, Rosie memutuskan untuk belajar ilmu pedang dan bela diri. Jeon adalah anak dari panglima perang Spanyol yang kemampuannya tidak bisa diragukan lagi. Karenanya Rosie meminta pria itu untuk melatihnya secara langsung.


Selain karena kemampuannya, Jeon menjadi pilihan Rosie karena mereka telah saling mengenal dan berteman sejak masih kecil. Mereka seusia dan ibu Jeon adalah sahabat dari mendiang Ratu Annabelle.


Karena kesibukan Rosie, dia meminta Jeon untuk datang saat malam hari dan melatihnya selama beberapa jam.


Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Jeon datang ke istana atas permintaan Rosie. Namun, dia jadi merasa tidak enak karena ternyata Rosie memiliki tamu penting.


"Tidak apa-apa, Jeon. Mereka sedang beristirahat dan aku bisa latihan sekarang. Mungkin ini yang terakhir sebelum aku menikah. Mulai besok aku harus istirahat total," jelas Rosie sambil berdiri lalu mengambil satu dari dua pedang yang dibawa oleh Jeon.


Jeon tidak bisa membantah, dia ikut berdiri dan menghunus pedangnya. "Tetap berhati-hati, Yang Mulia! Ini pedang sungguhan!"


"Aku tahu. Tapi, berapa kali harus kubilang, jangan memanggilku seperti itu! Panggil namaku saja jika hanya ada kita!" seru Rosie yang merasa tidak nyaman dipanggil seperti itu oleh sahabatnya sendiri.


"Kau sudah menjadi ratu, bagaimana mungkin aku bisa memanggil namamu lagi," kata Jeon.


"Jangan keras kepala!"


"Kau yang keras kepala. Sebelum hari sekali malam sebaiknya kita mulai sekarang, Yang Mulia!" Jeon tetap menolak untuk memanggil nama Rosie lagi karena merasa itu sangat tidak sopan. Jeon berasal dari keluarga bangsawan yang terhormat, jadi dia sangat menjaga tata krama dan etikanya. Meski Rosie adalah sahabatnya, tapi gadis itu sekarang sudah menjadi ratu dan sangat tak pantas untuk siapa pun menyebut namanya begitu saja dengan lancang.


Tidak ingin berdebat, Rosie pun tidak melarang Jeon untuk memanggilnya ‘Yang Mulia' lagi, dia mulai latihan dengan serius dan tidak banyak bicara.


"Aku tidak menyangka kau menikah secepat ini." Di tengah-tengah latihan, Jeon tiba-tiba menyinggung soal pernikahan.


Rosie yang terkejut langsung kehilangan fokus dan malah menggores tangannya dengan pedang miliknya sendiri.


"Akh!" Rosie langsung menjatuhkan pedangnya dan meringis kesakitan. Pedang itu tajam dan goresan kecil saja cukup untuk membuat kulit Rosie tersayat.


"Astaga, Yang Mulia. Kau baik-baik saja?" Jeon segera menjatuhkan pedangnya kemudian memeriksa luka di tangan Rosie.


"Aku baik-baik saja, hanya tergores sedikit," kata Rosie seraya mengambil pedangnya lagi.


"Tanganmu berdarah." Jeon merogoh saku celananya dan mengambil kain perban untuk membalut tangan Rosie yang teluka.


Kecemasan kentara di wajah tampan Jeon, siapa pun yang melihatnya akan tahu jika pria itu tengah merasa cemas. Namun, menyadari Jeon mencemaskannya, Rosie justru diam-diam tersenyum. Rosie senang saat Jeon cemas dan perhatian padanya.


Jeon adalah pria yang baik, perhatian, hangat dan humoris. Tipe pria yang persis seperti yang Rosie inginkan dan Rosie memang diam-diam menyukainya. Jeon seorang bangsawan dan tidak akan ada larangan jika suatu saat Rosie menikahinya, setidaknya Rosie masih memikirkan itu hingga lamaran dari Kerajaan Jerman datang.


Sekarang Rosie masih menyukai Jeon, tapi berharap padanya bukan hal yang mungkin lagi. Meski begitu Rosie tetap senang dengan perhatian kecil Jeon padanya.


"Aku tidak apa-apa, ayo kita lanjutkan saja!"


Setelah tangannya selesai diperban, Rosie bangkit dan mengajak Jeon untuk melanjutkan latihan.


"Kau serius?" Jeon ragu, tapi Rosie mengangguk penuh keyakinan.


"Ayo!"


Karena tidak berani menolak perintah ratu, Jeon pun kembali melatih Rosie dan tidak membicarakan apa pun lagi yang bisa mengganggu konsentrasi Rosie.


Namun, Jeon tiba-tiba berhenti saat dia melihat seseorang mendekat. "Pangeran," katanya sambil menunduk dalam.


Rosie yang melihat itu pun langsung menoleh dan menemukan Victor yang berdiri di belakangnya. "Kenapa kau belum tidur?" tanya Rosie.


"Aku butuh udara segar," jawab Victor.


"Ah." Rosie hanya mengangguk kemudian menoleh pada Jeon. "Jeon, sudah cukup untuk malam ini. Kita lanjutkan lain kali."


"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang. Berhati-hatilah, jangan melukai tanganmu sendiri lagi!" seru Jeon sambil memasukkan pedangnya ke dalam sarung. Dia mengangguk sopan kemudian pergi.


"Iya, kau juga hati-hati di jalan!" seru Rosie pada Jeon yang sudah berjalan menjauh.


Sementara itu, Victor hanya melihat punggung Jeon kemudian menoleh pada Rosie. "Apa yang kau lakukan? Siapa pria itu?"


"Pelatihku," jawab Rosie sambil memasukkan pedangnya ke dalam sarung, namun dia baru ingat jika pedang itu milik Jeon.


"Pelatih?" Victor tampak heran.


"Iya, aku belajar bela diri dan menggunakan pedang."


"Untuk apa kau melakukannya? Kau punya ratusan penjaga di istana, mereka akan melindungimu."


"Tidak boleh?" Rosie balik bertanya sambil melihat Victor bingung.


"Bukan begitu, perempuan tidak biasa melakukannya."


"Karena aku perempuan bukan berarti aku hanya harus terlihat anggun dan duduk manis. Jika kau percaya semua penjaga bisa melindungiku, bagaimana kau menjelaskan keluargaku bisa terbunuh? Setidaknya aku tidak akan terlalu merepotkan jika bisa melindunginya dan diri sendiri tanpa selalu mengandalkan orang lain," jelas Rosie.


"Ya, kau benar. Terserah kau saja." Victor tidak ingin berdebat, dia mengiyakan ucapan Rosie tanpa banyak berkomentar.


"Jika kau ingin berjalan-jalan di luar, lanjutkan saja. Maaf aku tidak bisa menemanimu."


"Tidak, aku ingin kembali ke kamarku."


Victor merasa tidak ada hal yang cukup menarik untuk dilihat, jadi dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat.


Akhirnya Rosie dan Victor pun berjalan bersama untuk kembali ke kamar masing-masing. Mereka memasuki gedung istana sambil sesekali mengobrol.


"Apa keadaan menjadi sulit? Kau tampak lebih kurus," kata Victor yang menyadari perubahan pada tubuh Rosie.


"Tidak, aku hanya tidak mau terlihat gemuk di hari pernikahanku, aku berdiet," jawab Rosie berbohong. Meski kenyataannya dia melewati hari-harinya sulit yang menguras tenaga serta pikirannya, tapi Rosie tidak mau terlihat menyedihkan.


"Kau seperti orang yang kekurangan gizi."


"Apa itu caramu merayu calon istrimu?" tanya Rosie sambil memutar matanya. Mereka berjalan menaiki tangga masih dengan posisi yang berdampingan.


"Aku tidak merayumu, bagiku kau hanya rekan kerjaku dan kau memang terlihat seperti orang kurang gizi. Masih ada waktu dua hari sebelum upacara pernikahan, sebaiknya kau makan lebih banyak!"


"Sejak kapan aku harus mengikuti perintahmu?" tanya Rosie malas.


"Kau tidak mau mendengarkan suamimu?" Victor menoleh pada Rosie dan mengangkat sebelah alisnya.


"Kau belum menjadi suamiku."


"Segera."


"Kau bilang aku hanya rekan kerja."


"Ah, benar. Pemimpin yang baik harus mendengarkan apa kata rekan kerjanya!"


Victor tidak mau kalah dan terus memaksa Rosie untuk mendengarkan apa katanya, dia bilang Rosie jelek jika terlalu kurus, bahkan mengatainya seperti akan patah jika disenggol.


"Kau nyaris tidak bicara saat sedang bersama keluargamu, kenapa kau terus mengomentari tubuhku?" tanya Rosie kesal.


Saat bersama keluarganya Victor memang sangat dingin dan pendiam, dia hanya bicara jika diperlukan. Tapi, saat hanya ada Rosie dia bicara cukup banyak dan dia bukan orang yang sangat serius.


"Selain dengan adikku, aku tidak dekat dengan keluarga yang lain," jawab Victor dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah.


Rosie menoleh dan menatap pria itu heran. "Kenapa? Mereka tampaknya baik."


"Aku yang tidak baik. Tidak semua keluarga sehangat keluargamu, Yang Mulia. Kamarku ada di sana, selamat malam." Victor pamit kemudian berjalan menuju lorong yang ada di lantai tiga di mana kamarnya berada.


Sementara itu Rosie masih harus melanjutkan ke lantai empat karena kamar semua anggota keluarga kerajaan ada di lantai empat yang merupakan lantai paling atas. Namun, kini hanya Rosie yang tinggal di sana karena kamar-kamar yang lain sudah tidak bertuan lagi.


"Yang Mulia." Sharon dan Mery langsung menghampiri Rosie begitu dia sampai di lantai empat. Mereka membawa Rosie ke kamarnya, mengambil pedangnya dan segera melepaskan pakaian Rosie yang kotor.


"Apa yang Mulia terluka? Sudah kubilang jangan latihan! Bagaimana ini? Bagaimana jika bekas lukanya tidak hilang dalam dua hari? Kau tidak boleh terlihat memiliki luka di hari pernikahanmu." Mery yang menemukan luka di tangan Rosie langsung ribut. Siapa lagi yang berani mengomeli ratu jika bukan Mery.


Tapi, Rosie tidak menjawab saat kedua pelayan pribadinya itu bicara, dia malah memikirkan ekspresi Victor ketika Rosie bertanya soal keluarganya. Rosie penasaran kenapa Victor tidak dekat dengan mereka, apa terjadi sesuatu di antara mereka?


"Yang Mulia!" Mery memanggil karena Rosie malah sibuk dengan dunianya sendiri. "Tanganmu ...."


"Aku akan memakai sarung tangan, Mer. Jangan cemas!"


.


.


.


Hari yang dinantikan semua orang akhirnya tiba. Hari ini menjadi hari libur untuk semua rakyat Spanyol karena ratu mereka akan menikah. Sejak pagi ratusan pelayan sudah sibuk di dalam istana untuk mempersiapkan semuanya, para penjaga sudah siap di posisi masing-masing.


Istana tidak dibuka untuk umum dan hanya orang-orang tertentu saja yang diundang untuk melihat langsung upacara pernikahan. Tapi, orang-orang yang tidak diundang ke istana tidak perlu sedih karena setelah upacara pernikahan, Rosie dan Victor akan berkeliling kota dengan kereta kuda untuk menyapa semua orang yang ingin melihat.


"Sayang, kau sangat cantik. Aku tidak menyangka kau akhirnya menikah."


Sejak tadi wanita yang sudah cukup berumur itu terus menggenggam tangan Rosie yang sedang duduk di kamarnya ditemani para pelayan.


Rosie sudah memakai gaun pengantinnya, rambut pirangnya ditata dengan rapi dan digulung ke belakang, mahkota ratu menghiasi kepalanya dan wajahnya dipoles dengan riasan tipis yang sangat natural.


"Terima kasih sudah datang, Nenek. Aku senang kau ada di sini," kata Rosie yang balas menggenggam tangan wanita itu.


Dia adalah nenek Rosie dari pihak ibunya yang jauh-jauh datang dari luar ktita untuk menghadiri pernikahan cucunya. Sebenarnya Rosie tidak begitu dekat dengan neneknya itu, tapi Rosie tidak memiliki banyak keluarga dari pihak ayahnya. Raja Edward adalah anak tunggal, kedua orang tuanya juga dudah meninggal. Jadi dari pihak ayahnya Rosie sudah hanya memiliki saudara jauh.


Sementara dari pihak ibunya Rosie lebih dekat dengan kakeknya karena dulu nenek dan kakek Rosie bercerai, ibu Rosie ikut bersama kakek Rosie sementara nenek Rosie pindah ke luar kota.


"Yang Mulia, sudah waktunya. Tuan Smith sudah menunggumu," kata seorang pelayan yang memberitahu Rosie jika upacara pernikahan sebentar lagi akan dimulai.


Tuan Smith adalah kakek Rosie yang hari ini akan mendampinginya menuju altar.


Ini adalah hari yang membahagiakan untuk banyak orang. Pesta pernikahan yang megah, gaun yang mewah dan jamuan yang luar biasa. Semua gadis pasti memimpikan pernikahan yang seperti itu, terlebih lagi pengantin pria adalah seorang pangeran tampan.


Namun, Rosie tidak merasakan kebahagiaan itu. Di hari pernikahannya, dia merasa sangat kesepian. Tidak ada ayah, ibu serta kakaknya di sana. Rosie hanya memilih kakek, nenek, beberapa orang bibi dan saudara jauh dari pihak ayahnya. Selain itu, pria yang menikahinya bukanlah pria yang Rosie cintai, kenyataan jika pernikahan itu hanya untuk kepentingan politik membuat Rosie semakin sedih.


Saat turun ke lantai dua, Rosie mematung sebentar untuk melihat lukisan keluarganya yang terpajang di dinding. Para pelayan yang mengikutinya juga berhenti dan bisa ikut merasakan kesedihannya Rosie. Di balik gaun putih yang sangat mewah itu tersembunyi jiwa yang sakit dan hancur.


"Aku akan menikah, apa kalian melihatnya?" gumam Rosie sambil menatap lukisan itu.


"Mereka pasti melihat dan sangat bangga padamu." Tuan Smith mencoba menghibur Rosie.


Menyadari waktu terus berjalan, Rosie pun melanjutkan langkahnya untuk turun ke lantai satu dan langsung menuju halaman di mana upacara akan berlangsung.


Menjadi perhatian semua orang adalah hal yang tidak mungkin bisa Rosie hindari. Para tamu undangan sudah duduk dengan rapi dan nyaman di kursi yang sudah disediakan. Keluarga Victor duduk di barisan paling depan bersama keluarga Rosie. Di barisan kedua ada para menteri dan pejabat-pejabat penting. Di barisan ketiga Rosie menemukan Jeon yang duduk bersama ayah dan ibunya, mereka tersenyum saat Rosie melihatnya.


Namun, Rosie merasa sangat patah hati saat dia melihat pria yang disukainya. Jeon yang tersenyum senang dan tanpa beban ke arahnya membuat Rosie semakin yakin jika selama ini perasannya hanya bertepuk sebelah tangan. Jeon tidak tampak sedih ataupun kehilangan saat melihat Rosie akhirnya menikah, dia justru terlihat gembira.


Dari pintu utama istana, sebuah karpet terbentang hingga menuju altar yang berada beberapa puluh meter di depan sana. Saat upacara akhirnya dimulai, Rosie yang didampingi oleh sang kakek berjalan di atas karpet itu. Kerudung pernikahan diturunkan hingga menutupi wajahnya, satu tangannya digandeng oleh Tuan Smith dan tangannya yang lain memegang bunga yang senada dengan warna bajunya.


Sementara di ujung sana, Victor tengah berdiri tegap menunggu Rosie yang akan datang padanya. Pakaiannya tak kalah rapi dan mewah. Rambutnya yang agak panjang ditata dengan rapi, namun berbeda dengan Rosie, Victor tidak memiliki mahkota di kepalanya. Tapi, apalah artinya mahkota jika wajah itu lebih menarik perhatian banyak orang dari pada mahkota semewah apa pun. Tidak ada orang yang tidak memuji ketampanan Victor hari ini, dia lebih dari luar biasa, dia adalah pangeran dari semua pangeran.


.


.


.


To be continued