A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 19



Rosie menaruh kembali surat itu di atas meja, kemudian dia kembali ke kamar dengan perasaan kesal. Rosie salah karena berpikir Victor benar-benar serius, dia merasa bodoh karena telah mempercayai pria itu. Pernikahan yang serius, membuka hati, semua itu tak lebih dari kebohongan.


Tak lama setelah Rosie pergi, Victor bangun. Dia duduk sambil mengumpulkan kesadarannya dan tak butuh waktu lama untuk dia menyadari selimut putih yang seingatnya tidak pernah ia pakai.


Seulah senyum terukir indah saat Victor menebak itu perbuatan Rosie. Ratu mudanya yang manis membuat hati keras Victor semakin luluh.


Sambil membawa selimut itu di tangannya, Victor pergi menuju kamar. Sesampainya di sana dia melihat Rosie sedang merapikan gaun biru muda yang kemarin ia kenakan. Gaun cantik itu digantung dan tampaknya sudah kering.


“Kau bangun pagi,” kata Victor sambil menaruh selimut itu di atas tempat tidur. “Kau tidur nyenyak?”


“Lumayan,” jawab Rosie pelan.


“Sebelum pergi, apa kau ingin sarapan di sini? Mau kubuatkan sesuatu?”


“Tidak, aku ingin makan di perjalanan saja. Selagi aku mandi dan bersiap-siap, kenapa kau tidak menulis surat balasan untuk adikmu?” kata Rosie menyindir.


“Aku akan melakukannya di istana saja,” balas Victor yang belum mengira jika Rosie sudah tahu isi surat itu.


“Kenapa? Sekarang saja! Sepertinya adikmu Jane sangat merindukanmu.”


Victor langsung diam saat mendengar Rosie menyebut nama Jane. Dia baru ingat jika surat dari Jane ia taruh di atas meja begitu saja, Rosie pasti bisa melihatnya dengan mudah. Victor merasa sangat bodoh karena telah begitu gegabah dengan sesuatu yang cukup sensitif.


“Kau membaca suratnya?” tanya Victor hati-hati.


“Iya.” Rosie mengangguk.


“Aku dan Jane benar-benar sudah tidak ada hubungan. Kau hanya salah paham, aku tidak berniat membalas surat itu,” jelas Victor.


“Kenapa kau menjelaskannya padaku? Aku tidak apa-apa. Aku tidak peduli kau punya hubungan dengan siapa pun,” kata Rosie ketus.


“Kau marah?”


“Tidak, kenapa aku marah?”


“Rosie, aku benar-benar ....”


“Aku tidak butuh penjelasanmu. Kita harus segera kembali karena masih banyak hal yang harus dilakukan di istana.”


Meski mengatakan tidak apa-apa, sikap dan nada bicara Rosie jelas menunjukkan jika dia kesal dan marah. Bukan marah karena Victor memiliki hubungan dengan wanita lain, tapi dia kecewa karena Victor membohonginya. Rosie termasuk orang yang keras kepala, sekali dia dibohongi, sulit untuk bisa percaya lagi. Memang hanya masalah sepele, tapi kebohongan tetap kebohongan.


“Baiklah.” Victor akhirnya mengangguk, dia bukan orang yang suka ambil pusing dengan apa yang terjadi. Baginya yang penting dia sudah mengatakan yang sebenarnya.


Rosie memutar matanya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, Victor yang berusaha untuk bersikap masa bodoh ternyata merasa tidak nyaman dengan sikap Rosie yang acuh. Sulit untuk mengakuinya, tapi Victor merindukan sikap Rosie yang semalam, sikap hangat dan lembut wanita itu.


.


.


.


Sikap dingin Rosie terhadap Victor rupanya bertahan lama. Saat di perjalanan yang menghabiskan waktu hampir dua jam, dia sama sekali tidak mau bicara pada Victor yang duduk di sampingnya. Saat Victor bertanya pun, Rosie hanya pura-pura tidak dengar.


“Kau cemburu ya?” setelah cukup lama diam, Victor akhirnya bertanya lagi.


“Aku cemburu? Aku tidak menyukaimu, untuk apa cemburu?” Rosie berhasil terpancing.


Victor tersenyum simpul karena Rosie akhirnya mau bicara meski dengan nada ketus.


“Jika tidak cemburu kenapa kau marah?”


“Sudah kubilang, aku tidak marah.”


“Lalu kenapa kau dingin padaku?”


“Perasaanmu saja.”


Victor hanya menghela napas, mungkin dia harus membiarkan Rosie dulu sampai Rosie tidak kesal lagi, barulah Victor bisa membicarakan masalah itu baik-baik.


Tidak terasa perjalanan itu berakhir, mereka sampai di istana. Namun, keadaan di sana tidak seperti biasanya dan membuat Rosie serta Victor bingung.


“Apa ada yang datang? Kenapa gerbangnya terbuka?” tanya Victor pada penjaga yang berdiri di depan gerbang utama.


“Seorang utusan Yang Mulia Raja Eric dari Jerman datang untuk mengunjungi Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu. Beliau juga membawa beberapa pelayan,” jelas penjaga itu.


“Utusan Ayah?” Victor mengernyit heran.


“Sebaiknya kita temui langsung saja!” kata Rosie yang untuk sejenak melupakan kekesalannya pada Victor.


Victor mengangguk dan mereka berdua pun langsung pergi menuju ruang tamu di mana utusan Raja Eric itu menunggu.


“Yang Mulia.” Pria setengah baya itu langsung berdiri dan membungkuk dengan penuh hormat kepada Rosie dan Victor yang baru saja memasuki ruangan megah itu.


“Tuan George?” Victor langsung mengenali pria itu. Dia adalah orang kepercayaan Raja Eric sekaligus penasihat kerajaan.


“Maaf karena kami membiarkanmu menunggu lama. Duduklah!” seru Rosie ramah.


“Terima kasih, Ratuku.”


“Yang Mulia Raja Eric mengutusku untuk membicarakan soal kerja sama dua kerajaan. Beliau ingin menjalin kerja sama dalam hal perdagangan.”


Pembicara serius itu berlangsung cukup lama. George menjelaskan jika pihak Jerman ingin mengimpor barang-barang dari Spanyol untuk dijual di Jerman dan sebaliknya barang-barang dari Jerman akan di kirim ke Spanyol untuk diperdagangkan. Rosie dan Victor tidak keberatan dengan itu, toh akan sama-sama menguntungkan kedua kerajaan dan bisa menambah pemasukan.


“Tuan George, kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Sebaiknya kau beristirahat! Aku harus melakukan pekerjaan siang ini, kita bisa bicara lagi saat makan malam,” jelas Victor yang harus bersiap-siap pergi ke pertemuan untuk membahas undang-undang yang tahun ini akan diperbarui.


“Ah, baiklah, Yang Mulia.” George mengangguk dengan sopan.


“Kalau begitu aku harus pergi sekarang. Ratu akan menemanimu jika kau masih ingin membicarakan sesuatu,” kata Victor sebelum dia pergi.


“Jika kau ingin beristirahat, pelayanku akan mengantarmu. Tapi, jika kau masih ingin di sini, aku akan menemanimu,” kata Rosie tetap bersikap ramah.


“Sepertinya Yang Mulia lebih lelah setelah melakukan perjalanan. Aku akan istirahat saja. Tapi, sebelumnya aku ingin memberitahumu jika Yang Mulia Ratu Victoria mengirimkan beberapa pelayan terbaik untukmu.”


“Kenapa Yang Mulia Ratu selalu seperti itu? Aku jadi tidak enak,” kata Rosie sambil tersenyum tipis.


“Beliau memang seperti itu.”


“Kalau begitu aku akan menemui dan menyapa mereka. Sepertinya aku akan menambah pelayan pribadiku juga. Pelayan dari Jerman pasti bisa lebih membantu suamiku karena sudah tahu kebiasaannya,” kata Rosie.


“Itu ide bagus.”


Rosie menyuruh pelayan untuk mengantarkan George ke kamar tamu dan mengurus semua keperluannya. Setelah itu Rosie pergi untuk melihat dan menyapa para pelayan baru.


.


.


.


“Sharon, Mery. Ini Emma, teman baru kalian. Dia akan menjadi pelayan pribadiku mulai sekarang. Bersikap baiklah padanya dan ajari dia bahasa Spanyol karena dia belum begitu lancar!” seru Rosie kepada Sharon dan Mery.


Dari beberapa pelayan yang dikirimkan untuknya, Rosie memilih satu orang untuk menjadi pelayan pribadinya. Pelayan bernama Emma itu baik dan pintar menjahit, jadi Rosie pikir akan cocok dengan Sharon dan Mery yang memiliki hobi sama.


“Hai Emma. Senang berkenalan denganmu, jangan cemas kami akan membantumu jika kau kesulitan. Yang Mulia Ratu juga sangat baik, jadi kau tidak perlu takut!” kata Mery antusias, dia sangat senang mendapat teman baru.


“Selamat bergabung, Emma. Semoga kau senang dengan pekerjaan barumu,” kata Sharon.


“Terima kasih, Sharon, Mery. Kalian sangat baik.”


“Sekarang Yang Mulia akan mandi. Aku akan memberitahumu pakaian seperti apa yang Ratu suka. Dia tidak suka ditemani saat mandi, jadi kita cukup menyiapkan bak mandi saja untuknya!” jelas Sharon.


“Aku senang kalian bisa akur. Jangan pernah berselisih! Mengerti?” seru Rosie sambil tersenyum kepada pelayan pribadinya yang kini berjumlah tiga orang.


Di tengah pembicaraan Rosie dengan para gadis itu, Victor yang sudah selesai dengan pekerjaannya masuk ke dalam kamar. Rosie yang tadi siang marah pada Victor, kini malah langsung menghambur menghampiri sang suami untuk menunjukkan pelayanan barunya.


“Aku punya pelayan baru dari Jerman sekarang. Jadi dia bisa membantumu juga dan lebih tahu apa yang kau butuhkah,” kata Rosie antusias.


Victor yang melihat Rosie seperti itu merasa senang sekaligus lega karena akhirnya Rosie tidak marah lagi.


“Benarkah? Mana?” tanya Victor sambil melihat ke belakang Rosie dan menemukan tiga orang gadis di sana.


“Itu, namanya Emma. Mungkin kau sudah mengenalnya.” Rosie menunjuk ke arah pelayan barunya, namun Victor tidak mengatakan apa-apa dan hanya melihat pelayan itu dengan tatapan aneh.


“Aku mau mandi dulu,” kata Rosie.


“Baiklah. Bisakah pelayan barumu mengambilkan jasku yang ketinggalan di ruang rapat?” tanya Victor tiba-tiba.


“Hah?” Rosie mengernyit heran. Kemudian dia menoleh pada pelayan barunya. “Emma, kau bisa?” tanyanya karena khawatir Emma belum mengetahui lokasi ruang rapat.


“Aku bisa, Yang Mulia. Akan kuambilkan.”


Rosie mengangguk pelan. “Kalau begitu pergilah! Kalian berdua bantu aku!” seru Rosie sambil masuk ke dalam kamar mandi diikuti oleh Sharon dan Mery.


Sementara itu, Emma keluar dari dalam kamar sambil menunduk dalam saat melewati Victor. Namun, Victor mengikutinya dari belakang.


Kebetulan sedang tidak ada penjaga di lantai empat, jadi Victor berjalan mendahului sang pelayan dan menghentikannya.


“Kenapa kau bisa ada di sini?” Victor bertanya dengan suara pelan dan mata yang tertuju pada mata coklat gadis itu.


“Yang Mulia.”


“Jane, kenapa kau bisa menjadi pelayan?


“Apa kau sudah menerima surat dariku? Aku melakukan hal gila ini karena aku sangat merindukanmu dan ingin melihatmu. Apa kau sudah melupakanku?”


.


.


.


To be continued


Jangan lupa komen ya biar author semangat nulisnya 😅